Nadinta mengira hidupnya berakhir dalam keputusasaan, terkapar tak berdaya akibat pengkhianatan suami dan sahabat yang paling ia percaya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlempar kembali ke masa lalu, di saat tubuhnya masih sehat, hartanya masih utuh, dan pernikahan neraka itu belum terjadi.
Kali ini, tidak ada lagi Nadinta yang naif. Ia bangkit untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya dan memastikan mereka yang pernah menghancurkannya membayar harga yang setimpal.
"Selamat, karena telah memungut sampahku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Krisis Finansial Arga
Selasa pagi di Lantai 15 Gedung Lumina terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin itu hanya perasaan Arga saja.
Arga duduk termenung di kubikelnya, tubuhnya merosot di kursi ergonomis yang seharusnya nyaman, namun pagi ini terasa seperti kursi penyiksaan. Layar komputernya menyala menampilkan spreadsheet pekerjaan, namun matanya tidak melihat angka-angka penjualan. Matanya terpaku pada layar ponsel yang dia genggam di bawah meja.
Aplikasi mobile banking-nya terbuka, menampilkan angka saldo yang statis dan menyedihkan.
Arga menelan ludah yang terasa pahit. Dia mencoba me-refresh halaman itu, berharap ada keajaiban—mungkin transferan nyasar atau dividen yang lupa dia cairkan—tapi angka itu tetap sama.
Hanya itu yang tersisa dari gaji bulanannya.
Semalam, dia baru saja menghabiskan sisa uangnya untuk membayar "gengsi" di depan Maya saat makan malam di SKYE. Dia bahkan berhutang 1,6 juta pada Maya karena kartu kredit dan debitnya ditolak.
Otak Arga mulai berputar liar, melakukan kalkulasi horor yang membuatnya mual.
Hutang ke Maya: 1,6 juta (harus dibayar segera sebelum dia ngamuk).
Cicilan Mobil Pajero: 12 juta (jatuh tempo lusa).
Pelunasan Katering (sesuai tagihan Nadinta): 25 juta (jatuh tempo minggu ini).
"Gila..." desis Arga, menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi. "Aku harus cari uang di mana?"
Keringat dingin sebesar biji jagung mulai bermunculan di pelipisnya. Arga melirik ke sekeliling kantor. Rekan-rekannya terlihat sibuk bekerja, tertawa, atau mengobrol santai. Mereka tidak tahu bahwa "Senior Supervisor" yang kemarin pamer mobil baru ini sekarang bahkan tidak mampu membeli paket nasi padang untuk makan siang.
Arga merasa tercekik. Dia terbiasa hidup nyaman, terbiasa memegang kendali. Tapi sekarang, kendali itu lepas. Dia seperti sedang menyetir mobil mewah dengan rem blong di jalan menurun.
Tiba-tiba, aroma parfum rose yang lembut dan familiar tercium. Arga mendongak.
Nadinta berdiri di samping mejanya.
Wanita itu terlihat sangat rapi dan profesional dengan blazer cream dan rok pensil hitam. Di tangannya, dia memegang sebuah map tebal berwarna biru tua. Wajahnya tampak serius, namun ada ketenangan yang kontras dengan kepanikan di wajah Arga.
"Mas Arga," panggil Nadinta.
Arga buru-buru mematikan layar ponselnya dan menegakkan punggung. "Eh, Din. Kenapa?"
"Mas sibuk?" tanya Nadinta basa-basi, meski dia tahu Arga hanya melamun sejak tadi.
"Lumayan. Biasa, cek email dari vendor," bohong Arga, berusaha terdengar sibuk.
Nadinta meletakkan map tebal itu di atas meja Arga. Bunyi kertas yang beradu dengan meja terdengar berat.
"Ini proposal strategi pemasaran kuartal depan yang diminta Pak Rudi minggu lalu. Ingat kan?" ujar Nadinta. "Aku udah selesai menyusunnya semalam. Grafiknya, analisis pasarnya, semua udah aku masukin sesuai arahan Pak Rudi yang minta 'agresif'."
Arga menatap map itu dengan pandangan kosong. "Oh, udah jadi? Cepat juga."
"Iya, Mas. Soalnya Pak Rudi dari tadi pagi udah chat aku terus, dia uring-uringan di grup manajer. Katanya kalau siang ini materinya belum ada di meja dia, kita semua bakal kena SP," jelas Nadinta dengan nada mendesak yang halus.
"Dia panik banget karena besok Pak Mahendra mau review langsung."
Nadinta mendorong map itu lebih dekat ke arah Arga.
"Mas tolong review sebentar ya? Cek angka-angkanya. Terutama di bagian proyeksi keuntungan. Kalau Mas udah oke, tolong tanda tangan di lembar pengesahan supervisor di halaman depan. Biar aku langsung bawa ke ruangan Pak Rudi."
Arga menatap map itu. Tugasnya sebagai supervisor adalah memeriksa pekerjaan bawahannya, meski sebenarnya secara teknis Nadinta-lah yang bekerja. Dia seharusnya membuka map itu, membaca halaman demi halaman, memverifikasi data, dan memastikan tidak ada kesalahan fatal.
Tapi kepala Arga sedang penuh dengan angka 25 juta.
Dia tidak punya ruang mental untuk memikirkan strategi pemasaran atau rasio pertumbuhan. Dia pusing. Dia lapar. Dan dia takut.
Dengan malas, Arga membuka map itu. Dia membolak-balik halaman dengan cepat, sekadar agar terlihat sedang memeriksa. Matanya melihat grafik batang yang berwarna-warni, tulisan-tulisan tebal tentang "Ekspansi Digital", dan tabel angka yang rumit.
Huruf-huruf itu seolah menari-nari mengejeknya. Dia tidak paham. Atau lebih tepatnya, dia tidak peduli.
"Kayaknya oke," gumam Arga, membalik halaman lagi dengan asal. Dia langsung melompat ke halaman paling belakang, melewatkan bagian krusial di tengah yang berisi data jebakan.
Nadinta mengamati gerakan tangan Arga dengan cermat. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena antisipasi.
"Mas nggak mau dicek dulu detailnya? Halaman 15 sampai 20 itu krusial lho," pancing Nadinta, memberikan peringatan terakhir—sebuah alibi bahwa dia sudah mengingatkan.
"Angkanya agak berani. Mas yakin Pak Rudi bakal setuju?"
Arga menghentikan tangannya. Dia menatap Nadinta. Wajah Nadinta terlihat polos dan tulus.
Nadinta itu pintar, pikir Arga. Dia lulusan terbaik. Dia nggak mungkin bikin kesalahan konyol. Lagipula, Pak Rudi yang minta agresif.
Arga malas berpikir. Dia ingin masalah kantor ini cepat selesai supaya dia bisa kembali memikirkan cara mencari uang.
"Nggak usah lah, Din. Aku percaya sama kamu," kata Arga, menutup map itu.
"Kamu kan lebih jago soal data ginian daripada aku. Kalau kamu bilang oke, ya pasti oke."
Bagus.
Arga mengambil pulpen dari saku kemejanya. Dia membuka halaman pengesahan.
"Yakin, Mas?" tanya Nadinta sekali lagi. "Tanda tangan ini artinya Mas menyetujui isinya lho."
"Iya, Sayang. Yakin," jawab Arga, sedikit kesal karena diragukan. "Udah, biar cepet. Pak Rudi kan lagi bad mood."
Dengan gerakan cepat, Arga membubuhkan tanda tangannya di atas kolom Mengetahui: Senior Supervisor.
Tinta hitam itu menggores kertas putih, menyegel nasib karir Arga.
"Nih," Arga menyerahkan map itu kembali ke Nadinta. "Kasih ke Pak Rudi. Bilang aja sudah aku periksa dan revisi."
Nadinta menerima map itu. Dia menatap tanda tangan Arga sekilas, lalu tersenyum tipis.
"Baik, Mas. Makasih ya kepercayaannya," ucap Nadinta.
"Sama-sama. Udah ya, aku mau lanjut... kerja," Arga kembali menatap ponselnya, mengabaikan Nadinta.
Nadinta berbalik badan, memeluk map itu di dada.
Kerja apanya? batinnya sinis.
Nadinta berjalan menuju ruangan Rudi Hartono di ujung lorong. Dia mengetuk pintu kayu itu dua kali.
"Masuk!" teriakan cempreng Rudi terdengar dari dalam.
Nadinta masuk. Ruangan Rudi berantakan seperti biasa. Asbak penuh puntung rokok, jas yang disampirkan sembarangan, dan tumpukan kertas di mana-mana. Rudi sedang duduk dengan wajah tegang, memijat keningnya.
"Ini materinya, Pak. Sesuai permintaan Bapak," kata Nadinta, meletakkan map biru itu di meja Rudi yang penuh barang.
Rudi langsung menyambar map itu. Dia membukanya dengan kasar.
"Sudah dicek sama Arga?" tanya Rudi tanpa melihat Nadinta.
"Sudah, Pak. Mas Arga sudah tanda tangan persetujuan di halaman depan," jawab Nadinta sopan.
Rudi melihat tanda tangan Arga, lalu membalik halaman ke bagian grafik. Matanya berbinar saat melihat grafik yang menanjak tajam dan layout yang rapi dan berwarna-warni.
"Nah! Ini baru bagus!" seru Rudi, menunjuk grafik itu. "Visualnya dapet. Angkanya juga kelihatan meyakinkan. Arga memang paham selera saya."
Rudi, sama seperti Arga, adalah tipe atasan yang malas membaca detail. Dia hanya peduli pada tampilan luar. Jika grafiknya bagus dan Arga sudah setuju, berarti aman.
"Bagus, Nadinta. Kamu emang bisa diandalkan buat hal-hal teknis begini," puji Rudi pelit. Dia menutup map itu. "Oke. Kamu boleh keluar. Saya mau pelajari ini buat bahan ngomong besok di depan Pak Mahendra."
"Terima kasih, Pak. Semoga sukses presentasinya," ucap Nadinta.
Nadinta keluar dari ruangan Rudi dengan perasaan ringan yang luar biasa. Tahap pertama dari rencananya telah berhasil sempurna. Dua pria yang paling bertanggung jawab atas penderitaannya di masa lalu, baru saja menggali lubang kubur karir mereka sendiri karena kemalasan dan ego.
Nadinta berjalan kembali ke area kerja. Namun, langkahnya terhenti saat melewati deretan kubikel staf admin.
"Nadin!"
Panggilan itu membuatnya menoleh. Maya sedang berdiri di samping mesin fotokopi, memegang tumpukan kertas dengan wajah masam.
Maya terlihat lelah. Rambutnya yang biasanya badai kini diikat asal-asalan. Make-up-nya mulai luntur karena minyak wajah. Sejak Nadinta memberinya tugas arsip manual kemarin, Maya memang terlihat menderita.
Maya berjalan menghampiri Nadinta, meninggalkan mesin fotokopi yang masih bekerja.
"Eh, May. Kenapa? Ada masalah sama arsipnya?" tanya Nadinta ramah, namun matanya mengkilat dingin.
"Bukan masalah arsip," keluh Maya, memegang lengannya.
"Aduh, Nad. Pegel banget tangan aku. Kamu beneran tega ya nyuruh aku ngerjain ginian sendirian? Liat nih, kuku aku ada yang patah satu."
Maya menunjukkan jari kelingkingnya yang kuteksnya tergores sedikit.
Nadinta menahan tawa. "Ya ampun, kasihan banget sahabat aku. Nanti ku temenin manicure lagi aja."
"Gampang ngomong," cibir Maya, bibirnya mengecurut. Dia melirik map di tangan Nadinta. "Itu apa? Proposal lagi?"
"Oh, iya. Baru beres nih," jawab Nadinta. "By the way, aku mau ke kantin, cari minum. Haus banget habis ngadepin Pak Rudi."
Mata Maya berbinar licik. Dia melihat peluang untuk kabur dari pekerjaannya.
"Eh, aku ikut dong!" seru Maya cepat.
Nadinta mengerutkan kening, pura-pura bingung. "Lho? Emang kerjaan kamu udah selesai? Itu mesin fotokopi masih jalan lho, May. Nanti kalau kertasnya macet gimana?"
"Bodo amat. Biarin aja anak magang yang urus nanti," kata Maya enteng, mengibaskan tangan. "Aku butuh refreshing, Nad. Otak aku mau meledak liat angka-angka tahun jebot itu. Aku butuh es kopi. Traktir ya?"
Nadinta menatap Maya. Wanita ini benar-benar tidak punya etos kerja.
"Tapi May, kalau Pak Rudi liat kamu keluyuran pas jam kerja..."
"Ah, Pak Rudi kan lagi sibuk baca proposal kamu. Dia nggak bakal keluar ruangan," potong Maya. Dia langsung menggandeng lengan Nadinta, menariknya.
"Ayo ah, sebentar doang kok. 15 menit."
Nadinta menghela napas, seolah menyerah pada desakan sahabatnya. Padahal, dia memang ingin membawa Maya menjauh agar dia bisa melihat Arga menderita sendirian.
"Yaudah, ayo!" tanggap Nadinta.
Mereka berjalan beriringan menuju lift, meninggalkan area kerja. Maya merangkul lengan Nadinta, seolah melupakan bahwa kemarin malam dia baru kencan dengan tunangan sahabatnya itu.
Sementara itu, di kubikelnya yang sepi, Arga kembali ditinggalkan sendirian. Nadinta pergi, Maya pergi. Tidak ada distraksi. Hanya ada dia dan masalahnya.
Arga menatap layar ponselnya lagi. Dia membuka mesin pencari Google.
Jari-jemarinya yang berkeringat mengetik kata kunci yang selama ini dia hindari karena dia tahu betapa bahayanya hal itu.
"Pinjaman Online Cepat Cair Tanpa BI Checking"
Hasil pencarian muncul dalam hitungan detik. Ribuan situs dan aplikasi ilegal menawarkan uang instan dengan syarat mudah: KTP dan Foto Diri.
Arga menelan ludah. Dia tahu ini jalan setan. Dia tahu bunganya bisa mencapai 40% per bulan. Dia tahu cara penagihannya brutal.
Tapi dia butuh uang. Dia harus bayar hutang ke Maya. Dia harus bayar katering. Dia harus bayar cicilan mobil.
"Cuma buat sementara," bisik Arga, mencoba meredam suara hati nuraninya yang berteriak JANGAN!.
"Begitu bonus proyek cair, aku lunasin semua."
Tangan Arga gemetar saat dia mengklik salah satu link aplikasi ilegal itu. Dia mulai mengisi data dirinya. Nama. NIK. Nomor Telepon. Foto KTP.
Dia sedang menandatangani kontrak dengan iblis yang sesungguhnya. Dan kali ini, tidak ada Nadinta yang akan menyelamatkannya.