Di Pesantren Al-Ihsaniyyah, cinta, ilmu, dan takdir keluarga Ihsani bersatu. Warisan Abah Muzzamil diuji, pilihan Inayah mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar di Balik Pintu: Misteri di Kamar Ketua Asrama
Pukul 03.00, bel di asrama putri tahfidz berbunyi. Para santri tahfidz putri dibangunkan oleh para Kang dan Mbak pengurus untuk melaksanakan sholat malam dan subuh berjamaah di masjid. Asrama tahfidz dekat dengan masjid, ndalem, dan sekolah, namun agak jauh dari asrama santri putra.
Para Kang keamanan asrama tahfidz masuk ke dalam asrama dan mengetuk semua pintu kamar.
Tibalah mereka di pintu kamar Ning Hana. Karena ia adalah ketua kamar, Ning Hana menempati kamar sendirian yang berada di area kamar pengurus.
- (Empat Kang keamanan berusaha mengetuk pintu kamar Ning Hana.)
- Kang 1 (mengetuk pintu): "Ning Hana, Ning Hana, bangun Ning. Sudah waktunya sholat malam."
(Namun, tak ada jawaban dari dalam.)
- Kang 2 (mengetuk lebih keras): "Ning Hana, ayo bangun Ning. Nanti ketinggalan sholat jamaah."
(Tetap tidak ada jawaban.)
Dua Mbak Ndalem pun datang, namun tetap tidak ada jawaban dari dalam kamar Ning Hana.
- Mbak Ndalem 1 (dengan nada khawatir): "Kok Ning Hana belum bangun ya? Biasanya jam segini sudah siap."
- Mbak Ndalem 2 (mengetuk pintu): "Ning Hana, ini Mbak. Ayo bangun, Ning."
(Tidak lama kemudian, Gus Wildan, kakak kedua Ning Hana, datang menghampiri.)
- Gus Wildan (dengan nada penasaran): "Ada apa ini? Kok rame-rame di depan kamar Hana?"
- Kang 3 (dengan nada sopan): "Maaf, Gus. Ini Ning Hana belum bangun. Dari tadi kami ketuk-ketuk nggak ada jawaban."
Para Mbak Ndalem langsung menuju ke masjid untuk mempersiapkan sholat berjamaah. Gus Wildan dan para Kang keamanan terus berusaha membangunkan Ning Hana.
- Gus Wildan (dengan nada khawatir): "Kok aneh ya? Biasanya Hana nggak kayak gini. Coba ketuk lagi yang keras."
(Setelah 30 menit berlalu dan tidak ada jawaban, Gus Wildan semakin cemas.)
- Gus Wildan (dengan nada panik): "Ini nggak beres. Saya dobrak aja pintunya."
(Gus Wildan mendobrak pintu kamar Ning Hana. Saat pintu terbuka, Gus Wildan terkejut.)
- Gus Wildan (dengan nada terkejut): "Hana!"
(Di dalam kamar, Ning Hana terlihat dengan mata sembab, kamar berantakan seperti habis diacak-acak. Ning Hana entah tertidur atau pingsan di atas sajadah, sepertinya habis sholat.)
Para Kang keamanan yang tadi juga ikut terkejut melihat kondisi Ning Hana. Dua Kang yang lain segera memanggil Mbak pengurus keamanan dan memberitahukan kondisi Ning Hana.
- Kang 4 (dengan nada khawatir): "Mbak, Mbak! Cepat ke sini! Ning Hana kayaknya pingsan di kamarnya!"
(Para Mbak Ndalem datang dan ikut terkejut melihat kondisi Ning Hana.)
- Mbak Ndalem 3 (dengan nada khawatir): "Ya Allah, Ning Hana! Kenapa bisa begini?"
(Gus Wildan sudah berada di dalam kamar Ning Hana. Para Mbak Ndalem pun masuk dan membantu Gus Wildan.)
Setelah Ning Hana dipindahkan ke kasurnya oleh Gus Wildan, para Mbak Ndalem memberikan minyak kayu putih, namun belum kunjung sadar. Mereka yang menjaga kemudian melaksanakan sholat, dengan Gus Wildan menjadi imam.
- (Setelah sholat, Gus Wildan kembali ke asrama tahfidz untuk mengecek kondisi adiknya.)
Subuh hampir selesai, dan tak lama setelah sholat subuh, Gus Wildan kembali ke asrama tahfidz dan merasa lega karena adiknya sudah sadar. Ia masuk ke kamar adiknya.
- (Gus Wildan masuk ke kamar dan menghampiri Ning Hana yang masih berbaring di tempat tidur.)
- Gus Wildan (dengan nada lembut): "Hana, udah enakan?"
- Ning Hana (dengan suara lemah): "Udah, Gus. Maaf ya, Gus Wildan jadi repot."
- Gus Wildan (dengan nada khawatir): "Nggak apa-apa, Dek. Yang penting kamu baik-baik aja. Sebenarnya kamu kenapa sih? Cerita sama Gus."
- Ning Hana (menggeleng): "Nggak ada apa-apa kok, Gus. Hana cuma kecapekan aja."
Para santri yang berlalu lalang sedang beraktivitas mempersiapkan diri untuk sekolah. Jam sudah menunjukkan pukul 06.00. Ada yang mau mandi, piket asrama, atau mengambil sarapan. Mereka kaget melihat Gus Wildan baru saja keluar dari kamar Ning Hana dan melewati lorong asrama dengan menundukkan pandangannya.
- (Para santri yang melihat Gus Wildan keluar dari kamar Ning Hana terkejut dan saling berbisik.)
- Santriwati 1 (berbisik): "Eh, itu Gus Wildan kan?"
- Santriwati 2 (berbisik): "Iya, bener. Ngapain ya Gus Wildan di sini pagi-pagi?"
- Santriwati 3 (berbisik): "Jangan-jangan..." (lalu tertawa kecil)
- Santriwati 4 (menegur): "Hus, nggak boleh gitu. Mungkin aja Gus Wildan lagi ngecek kondisi Ning Hana."
Ning Hana yang kondisinya belum benar-benar fit memaksa untuk tetap sekolah. Mbak Ndalem sudah melarang, tetapi Ning Hana beralasan ada tugas yang harus dikerjakan.
- (Di kamar, Ning Hana bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Mbak Ndalem berusaha membujuknya untuk istirahat.)
- Mbak Ndalem (dengan nada khawatir): "Ning, beneran mau sekolah? Badan Ning kan masih lemes. Mending istirahat aja di asrama."
- Ning Hana (dengan nada memaksa): "Nggak apa-apa, Mbak. Hana udah enakan kok. Lagian ada tugas yang harus dikerjain hari ini."
- Mbak Ndalem: "Ya udah deh, terserah Ning aja. Tapi janji ya, kalau nanti nggak kuat, langsung izin pulang ke asrama."
- Ning Hana (tersenyum): "Iya, Mbak. Janji."
Setelah Mbak Ndalem keluar dari kamar, Ning Hana mengumpulkan tenaga. Ia antri mengambil makanan di dapur ndalem bersama para santri lainnya.
- (Di perjalanan menuju dapur ndalem, Ning Hana dan rombongannya berpapasan dengan para santri putra. Para santri putra ada yang salting, malu, menutup wajah, atau mengobrol sambil piringnya menutupi wajah.)
- Santri Putra 1 (berbisik): "Eh, itu Ning Hana kan?" (langsung menunduk)
- Santri Putra 2 (berbisik): "Iya, bener. Aduh, grogi banget." (menutup wajah dengan piring)
- Santri Putra 3 (mencuri pandang): "Subhanallah, cantik banget." (langsung beristighfar)
- Santri Putra 4 (berusaha bersikap biasa): "Assalamualaikum, Ning." (dengan nada gugup)
- Ning Hana (menunduk): "Waalaikumsalam." (berjalan terus)
Sampai di dapur ndalem, Ning Hana antri terakhir. Saat akan mengambil makanan, Abi Haikal, Gus Rama, Gus Wildan, dan Uti menghampirinya.
- Nyai (Uti) (dengan nada lembut): "Hana, nggak mau sarapan di ndalem aja, Nak?"
- Ning Hana (menunduk): "Mboten, Uti. Hana sarapan di asrama mawon."
Ning Hana tetap menundukkan pandangannya seperti para santri putra lainnya. Hanya tinggal Hana-lah santri putri yang tersisa. Para santri putri lainnya selesai mengambil makanan dan langsung pergi. Sekarang hanya sisa santri putra, empat Kang pengurus, Gus Rama, dan Gus Wildan yang mengambil alih urusan makanan santri putra karena menunggu Ning Hana terlalu lama. Mereka semua melihat Uti memberikan obat untuk Ning Hana.
- Nyai (dengan nada lembut): "Hana, obatnya diminum ya. Ojo telat mangan (Jangan telat makan), nek enek masalah cerito (kalau ada masalah cerita), Ojo dipendem Dewe (jangan dipendam sendiri)."
- Ning Hana (mengangguk): "Inggih, Uti."
- Ning Hana (dengan nada sopan): "Uti, Hana balik ke asrama riyen."
- Nyai: "Iya, hati-hati. Nek awak e rasane nggk enak (Kalau badanmu rasanya nggak enak), pulang nak ndalem ae (pulang ke ndalem aja), nggk usah nak asrama."
- Ning Hana (menunduk): "Mboten penak kalih santri liane (Nggak enak sama santri yang lain), Uti."
(Ning Hana masih menundukkan pandangan tanpa melihat sang Uti. Ia berjalan mundur beberapa langkah dan langsung berjalan lagi menuju ke asramanya.)