Real cerita asli
No Jiplak!!!!
Yang jiplak gue gaplak
Ivana, wanita berusia 26 tahun harus merasakan pahit yang lebih dalam setelah kakaknya meninggal. Ia di haruskan menggantikan sang kakak untuk menikahi Saga, calon kakak iparnya setelah Olivia meninggal. Namun rupanya, Saga pun tak melepaskan Ivana, karena tahu bahwa jantung yang ada di dalam dirinya adalah milik Olivia.
"Tolong, izinkan aku pergi!" Rintihan itu terus Ivana ucapkan dari balik pintu kamar berinterior mewah.
Di depan kamar itu, terdapat beberapa orang yang mengawasinya.
"Kau mau kemana Ivana? Kau harus tetap di sini, Olivia tidak akan pernah membangkang padaku. Kau harus menurut, atau aku akan mengambil jantungmu dan memberikannya pada wanita lain sebagai Olivia" ucap Saga dari balik pintu kamar Ivana.
"Kau sudah gila Saga, lepaskan aku! Aku tidak ingin di sini! Aku ingin pergi! "
Ivana, apakah kamu benar-benar akan bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
“Nyonya, sadar nyonya, kita harus pulang!” Grace berusaha membawa Emalia kembali, namun wanita itu terus memberontak dan enggan untuk kembali ke rumah.
“Lepaskan aku Grace, aku yakin ini ulahnya, aku yakin kau yang menyembunyikan Ivana, kembalikan dia padaku Saga, kembalikan putriku!”
“Saga, ikut mama sebentar.” Aretha menarik lengan putranya.
“Ada apa ma?”
“Kau menyembunyikan Ivana? apa itu benar?” Aretha bukan tak percaya pada anaknya sendiri, ia hanya ingin bertanya soal fakta dan kebenaran yang ada.
“Tidak, untuk apa juga aku menyembunyikan dia, bukankah sudah aku bilang. Aku tak akan melakukan hal gila seperti itu mama.” Aretha menghembuskan napasnya lega, “benar juga, untuk apa kau melakukan ini Saga. Ayo pergi temui bibi Ema dan minta maaf padanya.”
Saga pun menurut, ia kemudian kembali menemui Ema. "Kenapa Saga, kau pasti sudah ingat kan, DI MANA IVANA. KEMBALIKAN DIA PADAKU!."
"Kembalikan dia padaku Saga, aku sudah tak punya siapa pun selain dia. Grace, beritahu pada Ivana bahwa aku bersalah padanya. Bawa dia kembali untukku," Grace benar-benar sudah tak tahu lagi harus bagaimana.
"Bibi, aku benar-benar minta maaf soal yang terakhir kalinya. Namun aku benar-benar tidak tahu keberadaan Ivana. Aku bahkan baru tahu jika Ivana pergi darimu saat ini. Sungguh bibi, percayalah padaku."
"SAGA, KAU JANGAN BOHONG PADAKU. AKU TAHU KAU LICIK, ARETHA, BILANG PADA ANAKMU UNTUK MEMULANGKAN PUTRIKU."
Nyonya Aretha hanya terdiam, ia menatap sahabatnya dengan tatapan penuh kesedihan.
"Nyonya Howard, tolong bantu aku. Nyonya Ema benar-benar sudah sulit di kendalikan. Dia benar-benar mati rasa, jika seperti ini terus aku takut BPDnya akan semakin parah. Jika itu terjadi, ruangan itu akan kembali menjadi tempat untuknya." Grace menatap Emalia dengan tatapan yang penuh rasa khawatir. Bagaimana pun, Ema selalu memperlakukannya dengan baik.
Aretha pun kini membantu Grace, membawa Emalia, keluar dari rumahnya. "Ema, maafkan aku, bukan maksud aku ingin mengusirmu. Namun kau benar-benar dalam kondisi yang tidak stabil sekarang" Mereka membawa Emalia pergi, meninggalkan Saga yang tengah menatapnya kepergian Emalia.
Saga menatap pergian Emalia dan memberikan senyuman hangat padanya, "SAGA AKU TAHU KEBOHONGANMU. AKU TAHU NIATMU, KEMARI KAU SAGA, KEMARI!"
Setelah Emalia pergi, senyum Saga berubah, menjadi senyuman yang tampak mengerikan. "Tenang saja bibi Ema, aku akan menjaga Ivana, dengan sangat baik, sangat-sangat baik."
*****
Danuel kini telah berada di ruang CCTV bersama dengan Martin, Martin kini memegang kendali pada komputer itu, Martin memang jago jika soal komputer. Pria itu sangat pandang dalam meretas, bisa di anggap. Pria ini adalah kunci sistem tersembunyi milik Eagle Eye.
“Aku menemukannya, ini tempat yang sama saat kita mencari Jane tadi.”
Danuel yang mendengar hal itu pun langsung memperhatikan rekaman layar CCTV dengan cermat. “Benar ini Jane, aku sudah memeriksa kamar itu, bagaimana dia bisa lolos.” Danuel benar-benar tak percaya dengan apa yang ia lihat, Jane benar-benar adalah tipikal gadis yang ia cari selama ini, suka memberontak namun benar-benar penuh akan kejutan.
“Jane, apa kau benar-benar sedang mengujiku sekarang.” Danuel tertawa tipis melihat Jane, dan Martin yang melihat hal itu, benar-benar merasakan hawa merinding datang.
“Ini benar-benar sangat mengerikan.” Ucap Martin dalam hati.
Martin kini mengecek lorong lain, dan di sana. Ia menemukan Rei yang sedang kebingungan mencari Jane. “Jadi di sini rupanya.”
“Martin, fokus, aku tahu kau suka pada Rei. Namun bukan ini saatnya untuk kau bucin pada gadis baru itu.”
Martin yang mendengar hal itu langsung tak terima, padahal saat ini pipinya telah merah merona setelah Danuel mengucapkan hal itu. “Aku tahulah, jangan menyinggungku seperti itu.”
Danuel seketika menatap datar, padahal jelas ia terlihat sangat suka pada Rei, dan kedua orang ini sebenarnya sama saja. “Oh tunggu, ini bukankah tempat yang tadi, bukankah ini Jane.”
Danuel langsung mendorong Martin, “ini kamar Ivana, jadi dia bersembunyi saat kita datang. Benar-benar gadis menyebalkan itu.” Martin kemudian menaruh earphone kecil pada telinganya.
“Martin, kau pandu arah. Aku akan menangkap mereka.”
“Kau yakin hanya sendiri?”
“Ya, memang dengan siapa lagi.”
Martin mengangguk dan menuruti Danuel, “Ya baiklah, jika itu yang kau inginkan. Maka aku juga akan menurut.” Martin pun kini menggunakan earphone. Ia mencoba memandu jalan kepada Danuel.
Di sisi lain, Jane telah bersama Ivana, Jane memapahnya. Mencoba membantu Ivana yang sudah sangat kelelahan.
Jane kini terkejut, melihat ada seseorang berada di lorong itu. Ia kemudian membawa Ivana untuk bersembunyi darinya. “Jane, kau di mana” ucapan itu lirih, namun dapat terdengar jelas oleh Jane dan Ivana.
“Jane, itu Rei.”
“Kau benar.” Jane sempat mengira bahwa tadinya Rei itu adalah seorang pelayan. Sebab itulah, mengapa ia bersembunyi.
“Rei.” Jane memanggil nama Rei, membuat Rei pun tertoleh. Ia yang sebelumnya lontang-lantung ke sana kemari. Kini akhirnya menemukan titik terang. Ia akhirnya bertemu dengan Jane.
Rei pun langsung lari ke arahnya, saat itu juga. “Jane,” Rei memeluk Jane dengan erat.
“Dari mana saja kau, kau tahu seberapa takutnya aku di sini. Aku bahkan tak bisa membela diriku sendiri jika bertemu dengan mereka.”
“Iya aku tahu, namun lihatlah, sekarang aku ada di sini. Dan coba kau tebak Rei, aku membawa siapa di sini.”
Jane membuka pintu ruang kebersihan, ia menemukan Ivana yang sedang terduduk di lantai, tersenyum menatap Ivana dan Rei. Hal itu pun langsung membuat Rei sangat senang, ia pun langsung berlari dan memeluk Ivana. “Bagaimana kabarmu Rei.”
“Seharusnya aku yang bertanya padamu, bagaimana kondisimu. Kau tampak pucat, kau pasti merasakan sakit. Ia kan.” Ivana menggeleng.
“Tenang, aku baik-baik saja teman-teman.”
Jane bersedekap, ia menatap sekitar. “Namun, sekarang bagaimana cara kita kabur dari sini. Tanpa mereka bisa menemukan kita, ini benar-benar akan sulit, mereka pasti sedang mencari kita, dan Ivana. Apakah kau tak sadar.”
“Soal apa?”
“Kamera pengawas yang berada di kamar yang kau tempati tadi.” Ivana yang mendengar hal itu langsung terkejut. Ia kemudian menyilangkan tangannya, dan memeluk dadanya. “Saga, dia mengawasiku.”
Jane rupanya telah sadar akan kamera CCTV di ruangan Ivana, “Saga pasti mengawasimu Ivana.”
Rei yang mendengar itu langsung mengepalkan tangannya kesal, “ternyata tuan Saga itu benar-benar sangat brengsek, dia benar-benar jauh lebih gila dari apa yang aku bayangkan selama ini. Namun, jika seperti itu. Itu artinya kita tak bisa sembarangan pergi dari sini. Lantas kita harus bagaimana.”
Ivana tampak ketakutan, tangannya masih gemetaran. Ia menangis tanpa suara, namun meneteskan air mata. “Kak Ivana, jangan menangis. Aku dan Jane di sini bersamamu.” Rei memeluknya, mengelus punggung Ivana dengan maksud agar wanita itu dapat lebih tenang.
“Maaf telah membuat kalian sejauh ini, ini semua salahku. Seharusnya aku tetap di rumah, setidaknya kita tidak akan terkurung di sini.”
Jane yang mendengar perkataan Ivana itu tak setuju dengannya, ia langsung menghampirinya. “Kau payah, yang memintamu untuk keluar dari tempat itu adalah aku. Jadi itu bukanlah salahmu.”
“Sudah, jangan saling menyalahkan. Lebih baik, kita cari cara untuk Ivana.”
Jane heran dengan perkataan dan maksud dari Rei, “cari cara?” tanya Jane sebari menaikkan satu alisnya ke atas.
“Kak Ivana butuh minum, kau lihat wajahnya sekarang. Dia seperti mayat hidup.” Jane pun mengangguk.
“Kau benar Rei, Saga yang bodoh itu rupanya hanya tampangnya saja yang payah. Namun memberi Ivana makan hanya dengan seonggok Roti. Benar-benar pria yang pantas di bunuh. Aku jadi semakin muak padanya.”
Namun Jane khawatir, jika ia meninggalkan Ivana sendiri di sini. Ia takut mereka akan menangkapnya dan itu juga jauh lebih cepat membuat mereka tertangkap. “Bagaimana jika seperti ini saja, aku akan keluar, mereka pasti punya makanan di dapur yang bisa kita makan. Dan tugasmu Rei, tolong kau jaga Ivana. Aku tak akan lama, dan hanya sebentar.” Rei pun menggangguk paham.
“Namun, apa kau yakin, akan melakukannya sendiri?” Pertanyaan Rei itu membuat Jane tertawa kecil.
“Oh ayolah, ini adalah Jane. Kau paham maksudku kan.” Jane mematahkan tongkat sapu, ia kemudian pergi dengan membawa tongkat itu.
“Apa maksudnya dia?”
Jane kemudian kembali lagi, ia kemudian kembali mematahkan satu tongkat lagi dan setelahnya langsung menarik lengan Rei keluar dari ruangan itu. “Tunggu, bukankah kau bilang bahwa aku tak usah ikut. Lantas mengapa kau juga menarikku pergi Jane?”
“Sudahlah ikuti saja aku sebentar.” Jane kini membawa Rei ke sudut lorong. Jane kemudian mengarahkan tongkat patahan sapu itu dan melemparkannya. Tongkat itu terbang, tepat mengenai CCTV.
CCTV itu langsung rusak, Martin yang berada di ruang CCTV itu langsung di buat terkejut akan ulah Jane. “Apa, bagaimana bisa. Jane kau gila.” Ujar Martin, dari ruang CCTV.
Jane kini menyuruh Rei, untuk merusak CCTV di sudut lorong-lorong lain, sedangkan Jane. Dia akan pergi untuk mengambil makanan. “Kau paham kan Rei?”
“Hem, aku benar-benar mengerti sekarang.”
“Ingatlah, setelah itu kau harus temani Ivana, jangan sampai membiarkannya sendirian. Jika bukan aku, jangan pernah kau buka pintu ruangan itu, kau mengerti.”
Rei yang paham pun langsung mengangguk, kini mereka berbagi tugas. Mereka berjalan ke arah yang berbeda.
Di mobil, kini Saga juga tengah mengawasi mereka, ia tak membawa mobil itu sendiri. Ia membawa sopir agar dirinya dapat jauh lebih tenang. Namun siapa sangka, Saga bahkan juga terkecoh oleh Rei dan juga Jane.
“Sial, mereka merusak CCTVnya, Martin. Kau bahkan belum bertindak.” Saga membuang tablet miliknya, ia benar-benar merasa kesal karena merasa telah di bodohi oleh mereka.
“Tunggu sampai aku tiba di sana, kalian tak akan bisa lolos dari tanganku. Awas kalian semua, jangan pikir bisa lari dariku.”
Thor