NovelToon NovelToon
Hasrat Majikan

Hasrat Majikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Percintaan Konglomerat / Selingkuh / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Demi tagihan rumah sakit ibunya yang membengkak, Almira terpaksa menjual kebebasannya kepada Alexander Eduardo. Bagi Alex, Almira hanyalah alat pelampiasan—bayang-bayang untuk mengalihkan rasa sakitnya atas perlakuan Elara, wanita yang dicintainya namun menolak berkomitmen.

Namun, permainan kekuasaan ini berubah menjadi obsesi gelap. Saat Almira mulai mengandung benih sang tuan, Elara kembali untuk merebut posisinya. Alex harus memilih: tetap mengejar cinta masa lalunya yang semu, atau menyelamatkan wanita yang tanpa sadar telah menjadi detak jantungnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Vonis yang Mengguncang

Matahari pagi itu tidak memberikan kehangatan sedikit pun bagi Almira. Baginya, cahaya yang menerobos celah jendela penthouse adalah lampu sorot yang siap menguliti rahasianya. Sejak subuh, perutnya terus berontak, namun ia menahannya dengan cara menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Ia tidak boleh muntah. Tidak pagi ini. Tidak di depan Alex.

Namun, Alexander Eduardo bukan pria yang mudah dikelabui. Pria itu sudah duduk di ruang tengah sejak pukul enam pagi, bukan dengan koran atau kopi, melainkan dengan keheningan yang mematikan. Matanya yang kelam mengawasi Almira yang sedang menata piring dengan tangan yang bergetar hebat.

"Duduk," perintah Alex singkat. Suaranya tidak keras, namun mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah.

Almira tertegun. "Tuan, saya harus mencuci—"

"Duduk, Almira. Sekarang."

Almira menarik kursi dengan perlahan, duduk di ujung kursi seolah siap untuk melarikan diri kapan saja. Alex bangkit, berjalan mendekatinya dengan langkah yang tenang namun mengancam. Ia meletakkan sebuah map di depan Almira.

"Aku sudah membatalkan semua rapatku pagi ini," ucap Alex sambil menyandarkan pinggulnya di tepi meja, melipat tangan di dada. "Dokter Bastian akan sampai di sini dalam sepuluh menit. Dia bukan sekadar dokter umum, dia adalah dokter kepercayaan keluarga Eduardo selama dua dekade. Dia tidak bisa disuap, dan dia tidak bisa dibohongi."

Wajah Almira seketika kehilangan sisa-sisa warnanya. "Tuan, saya benar-benar hanya butuh istirahat..."

"Kau sudah mengatakan itu selama empat hari, dan setiap hari kau terlihat semakin menyerupai mayat!" bentak Alex, arogansinya meledak seketika. "Aku tidak suka ada sesuatu di rumahku yang berada di luar kendaliku. Kau adalah milikku, Almira. Itu artinya kesehatanmu, tubuhmu, dan setiap sel di dalam dirimu adalah urusanku!"

Bel penthouse berbunyi. Bi Inah membukakan pintu untuk seorang pria paruh baya dengan tas medis yang tampak berat. Dokter Bastian masuk dengan ekspresi profesional yang dingin, sangat serasi dengan atmosfer rumah milik Alex.

"Periksa dia," titah Alex tanpa basa-basi. "Cari tahu kenapa dia selalu mual dan kenapa wajahnya tampak seperti orang yang sedang menunggu eksekusi mati."

"Tuan, bolehkah saya meminta privasi?" tanya Dokter Bastian lembut namun tegas.

Alex mendengus, tampak tidak suka karena otoritasnya diganggu. "Lakukan di sini. Aku tidak punya waktu untuk rahasia-rahasianya lagi."

Dokter Bastian menghela napas, lalu menatap Almira dengan pandangan iba yang justru membuat Almira ingin menangis. Pemeriksaan dimulai. Tekanan darah yang rendah, detak jantung yang terlalu cepat karena kecemasan, dan serangkaian pertanyaan tentang siklus bulanan yang hanya dijawab Almira dengan anggukan kecil yang nyaris tak terlihat.

"Nona Almira, saya butuh sampel urine Anda," ujar dokter itu akhirnya.

Almira berdiri dengan kaki yang terasa seperti jeli. Ia masuk ke kamar mandi dengan diawasi oleh tatapan tajam Alex dari luar pintu. Di dalam sana, Almira bersandar pada pintu, menahan isak tangisnya. Ia tahu ini adalah akhirnya. Penjara emas ini akan berubah menjadi neraka yang sesungguhnya.

Sepuluh menit kemudian, Dokter Bastian meletakkan sebuah strip tes di atas meja marmer. Ia menatap strip itu, lalu menatap Alex yang mulai tidak sabar.

"Bagaimana?" tanya Alex ketus. "Apa dia sakit maag kronis? Atau dia sengaja memakan sesuatu agar terlihat sakit?"

Dokter Bastian melepaskan kacamatanya, membersihkannya perlahan, seolah sedang menyusun kata-kata untuk menyampaikan berita besar. "Tuan Eduardo... Nona Almira tidak sakit. Secara medis, kondisinya sangat wajar bagi wanita di posisinya."

"Maksudmu?" rahang Alex mengeras.

"Nona Almira sedang mengandung. Usia kehamilannya diperkirakan sudah memasuki minggu keenam."

Hening.

Keheningan yang terjadi begitu pekat hingga suara detak jam di dinding terdengar seperti dentuman meriam. Alex membeku. Matanya yang tajam perlahan beralih ke arah Almira yang kini sudah menunduk dalam, air mata jatuh tanpa suara membasahi pakaian rumahnya yang sederhana.

"Keluar."

Suara Alex sangat rendah, hampir seperti bisikan, namun Dokter Bastian tahu itu adalah peringatan badai. Setelah sang dokter pergi dan Bi Inah ditarik masuk ke dapur dengan ketakutan, Alex meledak.

Ia menyambar vas bunga kristal di atas meja dan melemparkannya ke dinding. Prang! Serpihan kaca berserakan, salah satunya mengenai punggung tangan Almira hingga berdarah, namun gadis itu tidak bergeming. Rasa sakit di tangannya tidak sebanding dengan hancurnya dunianya.

"KAU!" Alex menerjang maju, mencengkeram bahu Almira dan mengguncangnya dengan kasar. "Apa yang kukatakan padamu di malam pertama?! APA YANG KUKATAKAN?!"

"Tuan... maafkan saya..." ratap Almira.

"AKU BILANG JANGAN BERANI HAMIL! AKU BILANG AKU TIDAK SUDI DARAHKU MENGALIR DI RAHIM WANITA SEPERTIMU!" teriak Alex tepat di wajah Almira. Napasnya memburu, penuh dengan kebencian dan penghinaan. "Kau sengaja, kan? Kau merencanakannya! Kau ingin menjebakku agar aku tidak bisa melepaskanmu? Kau ingin menjadi nyonya Eduardo dengan cara murahan ini?!"

Almira mendongak, matanya yang basah menatap Alex dengan keberanian yang lahir dari keputusasaan. "Saya tidak pernah merencanakan ini, Tuan! Anda sendiri yang melakukannya tanpa pengaman saat Anda mabuk! Saya hanyalah korban dari hasrat Anda yang tidak terkendali!"

Plak!

Satu tamparan mendarat di pipi Almira. Tidak terlalu keras, namun cukup untuk membuat wajah gadis itu tertoleh ke samping. Alex terengah-engah, tangannya gemetar. Ia sendiri terkejut dengan apa yang baru saja ia lakukan. Ia belum pernah memukul wanita seumur hidupnya, namun Almira... gadis ini berhasil menembus lapisan pertahanannya dan memicu kegilaan di dalam dirinya.

"Kau pikir aku akan luluh?" desis Alex, matanya berkilat kejam. "Dengar baik-baik, Almira. Janin itu... aku tidak akan membiarkannya lahir. Besok pagi, aku akan mengatur jadwal untuk—"

"TIDAK!" Almira berlutut di depan kaki Alex, memeluk kaki pria itu dengan erat. "Jangan, Tuan! Saya mohon! Jangan bunuh anak ini! Dia tidak berdosa! Anda bisa mengusir saya, Anda bisa menghentikan biaya rumah sakit ibu saya, saya akan pergi jauh dan tidak akan pernah mengganggu hidup Anda lagi! Tapi tolong, biarkan dia hidup!"

Alex menatap gadis yang bersimpuh di kakinya dengan pandangan muak. "Kau pikir kau punya posisi untuk menawar? Ibumu sedang menunggu jadwal fisioterapi. Satu telepon dariku, dan dia akan dibuang ke jalanan dalam waktu satu jam. Pilihanmu hanya dua: singkirkan anak itu dan tetap di sini sebagai pelayan ranjangku, atau lahirkan anak itu di jalanan sambil melihat ibumu mati tanpa pengobatan."

Penderitaan batin Almira mencapai puncaknya. Ia merasa seperti sedang berada di persimpangan jalan menuju kematian. Di satu sisi, ada nyawa ibunya yang sangat ia cintai. Di sisi lain, ada nyawa anaknya—darah dagingnya sendiri yang kini ia rasakan denyutnya meski masih sangat samar.

Alex menarik kakinya dari pelukan Almira, membuat gadis itu tersungkur di lantai. "Aku beri waktu sampai besok pagi. Jika kau tetap keras kepala, jangan salahkan aku jika besok sore ibumu kehilangan ranjang rumah sakitnya."

Alex melangkah pergi, membanting pintu utama dengan sangat keras. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan gila, pikirannya kacau. Di satu sisi, ada kemarahan besar karena rencananya untuk bebas dari komitmen terancam. Namun di sudut kecil hatinya yang paling gelap, ada rasa asing yang menyergap saat mendengar kata "mengandung". Ada bagian dari dirinya yang tersentuh, namun segera ia tekan dengan ego dan bayang-bayang Elara.

Di penthouse, Almira merangkak menuju pojok ruangan, meringkuk di sana sambil memeluk perutnya. Ia menangis sejadi-jadinya, suara tangisannya memenuhi ruangan yang sunyi itu.

"Maafkan Ibu, Nak... Maafkan Ibu karena ayahmu tidak menginginkanmu," bisiknya lirih.

Bi Inah datang menghampiri, memeluk Almira dengan air mata yang ikut mengalir. "Neng... yang sabar. Tuan Alex sedang gelap mata. Dia tidak benar-benar bermaksud begitu."

Namun Almira tahu. Alex adalah pria yang selalu menepati ancamannya. Arogansi pria itu tidak mengenal batas, dan cintanya pada Elara telah mengubahnya menjadi monster yang tidak memiliki belas kasihan.

Malam itu, Almira mengambil sebuah keputusan besar. Ia tidak akan membiarkan Alex membunuh anaknya, tapi ia juga tidak bisa membiarkan ibunya mati. Ia harus menemukan cara ketiga—cara yang mungkin akan menghancurkan hidupnya lebih dalam lagi, namun setidaknya ia tidak akan menjadi pembunuh darah dagingnya sendiri.

Ia tidak tahu, bahwa di kantornya, Alex sedang menatap foto Elara, namun pikirannya justru terus melayang pada wajah pucat Almira yang tadi bersimpuh di kakinya. Konflik batin mulai menggerogoti sang tuan, sebuah awal dari kehancuran yang akan memakan waktu lagi untuk benar-benar pulih.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!