Di antara suami dan keluarga, Maira terjebak dalam dilema yang tak pernah ia pilih. Sejak ibu, ayah tiri yang menganggur, dan adik tiri yang belum bekerja datang bukan sekadar bertamu, melainkan menetap, rumah tangganya perlahan retak. Dengan dalih bakti pada orang tua dan ancaman cap anak durhaka, Maira terpaksa mengalah. Sejak saat itu, konflik demi konflik bermunculan, batas dilanggar, kehangatan hilang—hingga celah itu dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Apa yang dulu disebut rumah, kini menjadi awal kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERBAIKAN
“Maira!” Seru Farid, suaranya menggema di halaman rumah saat melihat istrinya terus berjalan masuk tanpa menoleh sedikit pun.
Maira memutuskan untuk pulang ke rumah setelah kejadian panas di rumah mertuanya. Namun belum sempat ia membuka pintu sepenuhnya, langkah berat Farid sudah menyusul dari belakang dan langsung menarik pergelangan tangannya.
“Aw… sakit, Mas!” Ringisnya, tubuhnya sedikit tertarik ke belakang saat Farid mencekal pergelangan tangannya dengan cukup keras.
Farid menatapnya dengan tatapan penuh emosi. Napasnya memburu, dadanya naik turun tak beraturan.
“Kenapa kamu ngomong kayak gitu ke Ibu!" Bentaknya yang tak terima dengan Maira yang menegur ia dan juga Ibunya.
Maira menatap tangan suaminya yang masih menggenggam erat pergelangannya, matanya mulai berair. Bukan karena takut, tapi karena kecewa.
“Lepasin, Mas… tanganku sakit." Ucapnya lagi dengan suara yang jauh lebih pelan.
Segera Farid mengendurkan cekalannya pada tangan Maira. Wajahnya berubah menegang karena rasa bersalah yang tiba-tiba saja menyergapnya. Tangannya menggantung kaku di sisi tubuh, sementara Maira membuka pintu rumah perlahan.
Rumah itu meski tidak bertingkat, namun cukup luas. Tapi sore itu, keheningannya jelas begitu terasa daripada biasanya. Tak terdengar suara Bu Susi ataupun Pak Bowo, entah ke mana keduanya pergi tapi Maira tak peduli.
Langkahnya terus membawanya masuk, lalu ke kamar tanpa menoleh ke belakang. Sementara Farid menyusul dari arah belakang.
Saat Maira membuka pintu kamar dan masuk, Farid mengikutinya. Ia berdiri di ambang pintu ketika suara Maira akhirnya terdengar—pelan, namun tajam.
“Kamu berubah, Mas!” Ucapnya, kali ini dengan suara yang mulai bergetar dan mata yang mulai berkaca-kaca,
Sejenak, Farid terdiam. Matanya menatap ke lantai, kemudian beralih ke arah istrinya yang berdiri beberapa langkah darinya.
“Kamu yang buat Mas berubah!” Ujar Farid akhirnya dengan suara meninggi. “Dari dulu Mas bilang, Mas nggak mau orang tua kamu tinggal di sini sama kita! Kamu yang buat hubungan kita jadi seperti ini!”
Kalimat itu seperti cambuk yang menghantam hati Maira. Ia mundur selangkah, menatap Farid dengan tatapan kosong. “Jadi… semua ini salahku?” Suaranya nyaris tak terdengar.
“Kamu tahu kan, Mas…” Ucap Maira pelan, nadanya mulai bergetar, ”…aku udah nolak. Bahkan aku udah ngasih pilihan ke Ibu. Aku tawarin buat bayarin kontrakan mereka. Tapi Ibu nggak mau… bahkan sampai bilang ke semua orang kalau aku anak durhaka karena nolak nampung orangtua sendiri.”
Tangannya mengepal di sisi tubuh. Matanya mulai basah. “Ibu sampai tiap hari datang ke sini, Mas. Duduk di teras, nungguin aku pulang. Ngejar aku di sampai ke restoranku cuma untuk ngerengek minta buat tinggal disini. Kamu pikir aku tega buat ngusir dan bentak dia Mas?"
Farid masih diam. Napasnya mulai melambat. Tapi matanya tetap keras.
“Kamu aja, Mas..." Lanjut Maira, kini air matanya jatuh satu per satu, “kamu aja nggak bisa terima waktu aku bilangin hal kecil soal Ibu kamu. Kamu langsung marah, langsung nunjuk wajahku. Terus… kamu harap aku tega ngelakuin lebih buruk dari itu ke ibu aku sendiri?”
Ucapan Maira barusan menyentak Farid dengan keras. Perlahan, langkah kakinya bergerak mendekati istrinya. Sosok wanita yang kini menangis di depannya itu—Maira, wanita yang sudah menemaninya hampir lima tahun terakhir dalam suka dan duka.
Dan detik itu juga, Farid seketika tersadar. Bahwa semua yang terjadi… bukan sepenuhnya salah Maira.
Jika dirinya berada di posisi Maira—dalam tekanan antara rasa hormat dan luka masa lalu, dihadapkan pada ibu kandung yang tiba-tiba saja datang kembali mungkinkah ia bisa bersikap lebih tegas?
Farid menunduk. Egonya perlahan mulai runtuh “Maafin Mas ya…” Lirihnya akhirnya, dengan suara berat, hampir berbisik. Ia membuka tangannya dan memeluk Maira, membiarkan wanita itu bersandar di dadanya sambil terus terisak.
Pelukan itu menenangkan, namun tak menghapus seluruh luka. “Tapi…” Farid menarik napas dalam. “Mas masih tetap tidak bisa menerima keluarga kamu tinggal dengan kita.”
Maira diam. Pelukan itu masih terasa hangat, tapi kata-kata Farid menancap dalam.
“Kamu lihat sendiri, Mai...” Lanjut Farid pelan, suaranya kini lebih jujur, bukan lagi marah. “Setiap kita pulang rumah selalu dalam keadaan berantakan. Barang-barang kadang hilang entah ke mana. Kita jadi tidak punya ruang buat berdua, tidak ada privasi.”
Maira mengangguk perlahan, tangannya naik menghapus air mata di pipinya. “Aku tahu, Mas… Aku tahu.” ucapnya lirih. “Aku juga udah nggak bolehin Danu tinggal di sini lagi.”
“Danu? Kenapa dia?" Farid terkejut, matanya menyipit.
Maira menarik napas pelan, menatap suaminya lurus. Ia pun mulai menceritakan akar dari semua permasalahan mengenai barang-barang mereka yang hilang beberapa hari terakhir.
"Nanti kalau ada waktu yang tepat, aku bakal ngomong baik-baik lagi ke Ibu. Aku bakal bujuk mereka supaya mau tinggal di rumah yang aku sediain. Rumah itu cukup buat mereka tinggal nyaman, tanpa ganggu rumah tangga kita.”
Farid mengangguk. Keduanya duduk berdua di tepi ranjang, dalam diam yang tenang dan dalam pelukan yang kini lebih erat dari sebelumnya.
Hati mereka mungkin masih menyimpan bekas luka dari pertengkaran tadi, tapi malam itu mereka memilih untuk saling menggenggam… bukan saling menjauh.
Sesaat kemudian, Maira mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya yang masih menyimpan raut lelah tapi mulai melunak. Matanya menelisik penuh arti.
“Kamu nggak lupa hari ini hari apa, kan Mas?” Tanyanya lembut.
Farid terdiam sebentar. Wajahnya tampak menimbang, seperti sedang berusaha mengingat—atau memang sengaja membuat Maira menunggu. Tapi sebelum Maira sempat merajuk, bibir Farid akhirnya terbuka.
“Selamat untuk pernikahan kita yang kelima tahun, ya sayang.” Ucapnya sambil menatap mata istrinya dalam-dalam.
Senyum Maira mengembang lebar. Matanya berbinar. Tangannya menepuk dada Farid pelan. “Kirain lupa.”
“Mana mungkin Mas lupain hari penting kita sayang...” Goda Farid sambil menarik pelan jemari istrinya, menggenggam erat seolah tak mau lepas.
Maira tersipu. “Kamu nggak ada rencana mau ajak aku dinner di luar, Mas?” Tanyanya menggoda, alisnya naik turun manja.
Farid tersenyum miring, matanya menyipit penuh makna. “Daripada dinner, gimana kalau kita mengulang kembali momen malam pertama?”
Belum sempat Maira merespon, tawa kecilnya terputus oleh sentuhan Farid yang tiba-tiba menariknya lebih dekat. Dalam sekejap, Farid telah mendaratkan ciuman lembut di keningnya, lalu pada pipinya, sebelum akhirnya membenamkan wajahnya di leher Maira.
Maira terkejut, tertawa pelan sambil mendorong pelan dada suaminya.
“Mas! Belum mandi, bau tau!” Protesnya sambil terus tertawa geli.
“Yaudah, ikut mandi sekalian yuk.” Goda Farid sambil memeluknya erat.
Keduanya pun larut dalam kebahagiaan yang selama ini mereka cari. Setelah gelombang pertengkaran dan badai ego, mereka kembali ke pelukan satu sama lain.
Namun baik Farid maupun Maira tak ada yang tahu apa yang akan mereka hadapi esok ataupun kedepannya…