Aku terbangun di tubuh anak perempuan yang beusia 5 tahun, merupakan anak kandung Lucas Alexandro yang mengalami hidup yang teragis sebagai anak yang tidak di inginkan. Sang ayah memilih anak angkat untuk di jadikan putri dan aku malah di bunuh dengan tangan ayah ku sendiri karena hasutan sang pembantu anak angkatnya.
Bagaimana kelanjutan cerita ku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere Lumiere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shopia Sadar
Mata Shopia mulai mengerjap menyesuaikan dengan cahaya yang masuk kedalam retina. Gadis kecil itu mencoba fokus pada cahaya yang masih menyilaukan matanya. Shopia celingak-celinguk mencoba memastikan dimana dirinya sekarang.
'Apakah aku sudah mati? Dan sekarang ada di surga?' pikir Shopia dalam hati.
Gadis kecil itu mencoba menajamkan penglihatannya lagi. Shopia merasakan dia tidur di atas ranjang empuk dengan sekeliling dipenuhi dekorasi yang cukup mewah dan tentu saja bersih serta tidak ada black mod di langit-langi kamar itu.
Shopia mengangkat tangan cukup tinggi sebab tangan terasa berat dan sebuah selang infus menggantung di udara serta jarum infus yang tertancap di tangannya.
Tidak berselang lama, saat Shopia masih memperhatikan selang infus itu, sebuah wajah menutup penglihatan. Mata itu memperhatikan dengan seksama, "Nona, Anda sudah bangun,"
Tenyata wanita yang menganggu penglihatannya itu Lisa, bawahan Lucas, ayah kandunganya, 'Apakah Lisa yang membawa ku kesini? Kenapa? Bukannya pria itu membenci ku?' gumam Shopia dalam hati, mempertanyakan isi pikiran Lucas.
Lisa lalu menoleh kearah pintu menuju kearah luar ruangan, dia kemudian berteriak, "Tuan, Nona sudah bangun,"
Shopia kaget mendengarnya, kini ikut menoleh kearah pintu keluar ruangan itu. Memastikan pria dingin itu masuk ke kamar itu atau tidak, Shopia berharap dia tidak datang kesana, Shopia belum siap menerima penolakan.
Tidak berselang lama, Lucas tiba-tiba datang seolah telah menunggu di luar. Ini tidak sesuai dengan ekspektasi Shopia, "Bagaiman keadaan anak itu?" tanya Lucas memegangi pinggang mendekat kearah Lisa dan Shopia layak seorang pria yang mencari barang koleksi saja.
"Tuan, Nona baru saja bangun, tubuhnya masih terasa hangat, tapi sudah mulai menurun," jelasnya pada Lucas dengan sedikit membungkuk.
"Baguslah kalau begitu, dia tidak akan merepotkan ku lagi," balas Lucas dengan sedikit sarkas.
Shopia hanya bisa meneguk air liur kasar, seperti perkataan Lucas adalah belati yang menusuk hatinya hingga kedalam. Seolah dia tidak memiliki hak untuk mendapatkan perhatian.
"Maafkan saya Tuan, merepotkan Anda," mohon Shopia dengan mata yang mengerjap beberapa kali.
"Baguslah kalau tau diri," ketus Lucas kemudian meninggalkan Shopia dan Lisa yang masih di dalam ruangan itu dengan perasaan yang cukup sedih.
Shopia lalu memandang kearah Lisa dengan wajah yang sendu, "Kak Lisa?"
Shopia seolah mempertanyakan apakah Lucas sangat benci itu pada nya. Namun, Lisa hanya tersenyum getir kemudian mengelus surai Shopia yang masih berbaring di ranjang. Shopia memalingkan wajahnya meskipun dia tau keadaannya, tetapi tetap saja dia ingin mengatakannya untuk mengungkapkan rasa sedihnya.
"Tidak Nona, Tuan sangat perduli pada Anda, Tuan bahkan tidak tidur selama dua hari demi mengurusi Anda,"
Lisa mencoba menjelaskan bahwa salah paham ini harus di luruskan, yang entah Shopia mengerti atau tidak dari maksudnya. Shopia tidak menggubris perkataan Lisa den terus memalingkan wajahnya kearah lain. Lisa hanya menghela nafas dan berharap keadaan Nona dan Tuannya akan membaik selayaknya keluarga sungguhan.
*
Beberapa hari kemudian akhirnya Shopia lepas kekangan infusnya meskipun terkadang masih sedikit lemah dengan mimisan dan tubuh yang tiba-tiba demam ringan. Tapi, Shopia sudah bisa berjalan keluar dan bermain di taman rumah utama.
Saat ini Lisa sedang memasangkan gaun sederhana berwarna biru dengan beberapa boneka sebagai motif nya, kemudian menyisir rambut gadis kecil itu dan menjalinnya dengan rapi. Setelah semua selesai, Shopia berbalik kearah Lisa.
Shopia kemudian menyentuh rambutnya dengan perlahan dan tersenyum, "Wah, Lisa sangat mahir bermain rambut," ucap Shopia terkekeh.
"Menjalin Nona, Ya, aku dulu melakukan pekerjaan ini untuk mendapatkan sedikit makanan di jalan kalau uang mengemis sedang kurang banyak," bebernya dengan percaya diri.
"Oh begitu ya Lisa," balas Shopia dengan sebuah senyuman.
Hati Lisa terasa tersentuh selepas melihat senyuman Nona mereka, rasa dia ingin menyentuh dadanya agar menghentikan degupan kencang yang sekarang mengguncang dirinya. Tapi, dia begitu malu sebab ingin menjaga imagenya sebagai wanita dingin dan kasar.
"Kak Lisa boleh kah Shopia bermain keluar?" tanya Shopia dengan sedikit memohon dengan mengoyangkan tangan Lisa lembut.
"Boleh saja Nona, tetapi Anda tidak boleh lama-lama bermainnya termasuk ke kediaman sisi selatan. Sebab, Tuan tidak mengizinkan siapapun mendatanginya," nasihat Lisa.
Shopia menyentuh dagunya dengan telunjuk, dia sering mendengarkan nasihat itu namun dia tidak tau maksud dari Lisa, 'Mungkinkah ada monster di dalam sana,' fikir Shopia dalam hati menjadi penasaran dengan perkataan dari bawahan ayahnya itu.
"Kenapa Kak Lisa?" tanya Shopia tidak bisa menahan gejolak rasa penasarannya.
"Pokoknya Anda tidak boleh kesana, ayo turun Tuan pasti sudah menunggu Anda," tolak Lisa kemudian mengandeng tangan Shopia dengan erat.
'Huh, tidak seru Kak Lisa tidak mau bergosip dengan ku, lagipula mengapa juga itu menunggu ku terus bukankah dia tidak menginginkan ku,' gerutu Shopia dalam hati.
Tidak berselang lama dengan tangan yang masih di gandeng oleh Lisa. Mereka akhirnya sampai di meja makan dan benar saja Lucas ada disana sembari membaca para dokumen nya yang tidak ada habisnya itu.
Dia kemudian melirik sedikit dikala Lisa membantu Shopia duduk di atas kursi makannya. Beberapa pelayan lalu meletakkan beberapa makanan di atas meja itu yang tentu saja membuat Shopia begitu terpukau.
Karena semua tersaji dari mulai karbohidrat, protein dan para vitaminnya, sayuran serta buah-buahan. Sangat sesuai dengan definisi empat sehat lima sempurna. Lisa terlihat telaten meletakkan nasi dan beberapa lauk di atas piring Shopia.
Sedangkan gadis itu melirik pada Lucas yang hanya fokus pada pekerjaan seolah tak ada Shopia disana, 'Lalu, untuk apa dia disini,' gumam Shopia kesal. Shopia lalu menoleh pada Lisa dengan wajahnya yang ikut datar karena kesal.
Namun, dia sangat menginginkan sesuatu saat ini, lalu berkata, "Kak Lisa, apakah tidak ada basreng atau mi kremes kak," pinta Shopia dengan mata berbinar.
"Nona, Anda sudah di berikan itu kemarin, Anda tidak boleh banyak makan itu nanti sakit perut dan gigi sakit," bisik Lisa sambil menoleh pada Lucas.
Wanita itu takut kalau tuannya marah sebab pria itu suka keteraturan dan tidak menyebabkan hal bodoh seperti sengaja membuat diri sendiri dalam keadaan terancam atau sakit. Dan benar saja Lucas meletakkan dokumennya dan menatap nyalang pada Shopia, membuat kedua makhluk yang bernama perempuan itu sedikit ketakutan.
"Kau jangan membuat ku repot," sarkas nya meskipun dengan suara yang nyaring seperti menyudutkan seperti yang lalu.
Shopia hanya bisa memanyunkan bibirnya kemudian dengan perlahan memakan-makanannya dan terkadang memandangi Lucas dengan sinis meskipun pria itu masih tetap fokus pada dokumennya yang menumpuk.