NovelToon NovelToon
The Predator’S Possession

The Predator’S Possession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Callalily

Benedict Franklin, pemilik Equinox Ventures dan pemimpin organisasi Veto, adalah pria yang hanya percaya pada angka dan kekuasaan. Baginya, emosi adalah kelemahan, dan tatapan matanya mampu meruntuhkan siapapun dalam hitungan detik. Namun, hidupnya yang penuh kendali berubah saat ia bertemu dengan Zara Clarance Harrison. Bagi Zara, hidupnya sudah cukup indah hanya dengan aroma tepung dan manisnya gula di toko kue kecil miliknya. Namun, dunianya yang tenang, hancur dalam semalam ketika ayahnya, David Harrison, menggunakan dirinya sebagai jaminan hutang kepada Benedict Franklin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Callalily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11

Setelah percakapan panjang dengan Edda, dengan langkah berat, Zara kembali ke kamar Benedict. Zara duduk di tepi ranjang, menatap wajah Benedict yang masih terlelap karena pengaruh morfin dan obat pereda nyeri.

“Tidak….jangan……” erangan rendah itu memecah keheningan.

Zara tersentak dari lamunannya. Ia melihat Benedict meronta kecil. Keringat dingin membasahi pelipisnya, membuat rambut hitamnya menempel di dahi. Wajahnya mengkerut kesakitan, mulutnya komat-kamit menggumamkan kata-kata yang tidak jelas.

“Papa….mama….hentikan!” suaranya baik satu oktav, penuh dengan keputusasaan.

Zara meraih tangan Benedict, hatinya mencelos. Ia mencoba menenangkannya.

“David…..kenapa? Jawab aku!” Benedict mengigau, suaranya serak dan penuh amarah yang bercampur dengan tangisan yang tertahan.

Mendengar nama ayahnya disebut dengan nada semenyayat itu, tangah Zara gemetar.

“Tuan, bangun! Itu hanya mimpi!” Zara berbisik, mencoba mengguncang bahu Benedict dengan lembut.

Tiba-tiba, mata Benedict terbuka lebar. Namun ia tidak benar-benar melihat Zara disampingnya. Matanya liar, pupilnya mengecil. Dengan gerakan kilat yang tak terduga, Benedict menyambar pergelangan tangan Zara.

“Akh!” Zara memekik kecil saat tubuhnya ditarik paksa hingga terjatuh ke atas dada Benedict.

Cengkeraman tangan Benedict di lengan Zara begitu kuat. Ia mendekap Zara, membenamkan wajahnya di leher Zara sambil terengah-engah. Tubuhnya gemetar hebat.

“Jangan pergi….kumohon…..gelap sekali…..” bisik Benedict, suaranya pecah, terdengar seperti anak kecil yang tersesat di tengah badai.

Zara membeku. Detak jantung Benedict yang berpacu liar terasa langsung di dadanya. Untuk pertama kalinya, Zara tidak melihat Benedict sebagai pria yang kejam. Di pelukannya sekarang hanya ada seorang anak laki-laki yang dunianya hancur dalam satu malam.

Perlahan, Zara melingkarkan tangannya di leher Benedict. Ia mulai mengusap rambut pria itu dengan gerakan lembut, gerakan yang sama yang dulu sering ibunya lakukan saat Zara terbangun ketakutan di tengah malam.

“Sshh…. tidak apa-apa. Kau sudah aman…. Kau ada di rumahmu…… dan ada aku disini” bisik Zara dengan nada paling lembut yang bisa ia keluarkan.

“Aku tidak akan kemana-mana. Bernapaslah….. ikuti napasku.”

Perlahan, ketegangan di otot-otot besar Benedict mulai mengendur. Napasnya mulai melambat, mengikuti irama napas Zara yang teratur. Cengkeramannya di tangan Zara mulai melonggar, berubah menjadi sebuah pelukan.

Benedict melenguh pelan, sebuah suara yang terdengar seperti rasa lega. Zara terus mengusap kepala Benedict. Satu tetes air matanya jatuh dan menghilang di rambut pria itu.

Kantuk mulai menyerangnya. Zara ikut berbaring, menyusup ke dalam selimut yang hangat di samping benedict. Kepala benedict masih bersandar di ceruk lehernya, sementara lengan pria itu melingkar di pinggang Zara. Zara akhirnya jatuh tertidur lelap.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Sinar matahari pagi yang keemasan mulai merangkak naik, menyusup melalui celah celah gorden dan jatuh tepat di atas tempat tidur.

Benedict terbangun lebih dulu. Ia merasakan sensasi asing yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Ia merasa hangat. Ada tubuh yang berbaring disampingnya, memeluknya.

Benedict tidak bergerak sedikitpun. Ia merasa benci pada dirinya sendiri karena merasa begitu nyaman, namun ia juga tidak sanggup untuk bergeser barang sedikit pun.

Tiba-tiba, kelopak mata Zara bergerak kecil. Ia melenguh pelan, sebelum akhirnya perlahan membuka matanya.

Zara mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya pagi yanh terang. Hal pertama yang ia sadari adalah posisi tubuhnya yang kini benar-benar berbaring bersisian dengan Benedict.

Saat Zara sedikit menoleh, ia langsung bersitatap dengan mata Benedict. Jantungnya mencelos sejenak. Ia menyadari betapa intimnya posisi mereka sama ini.

“Tuan…..” suara Zara serak khas bangun tidur. “Kau….kau sudah bangu?”.

Melihat Benedict yang hanya diam terpaku dengan sorot mata yang sulit dibaca, Zara secara refleks mengulurkan tangannya. Ia menyisir helai-helai rambut Benedict yang berantakan dengan jemarinya.

“Apa lukamu terasa sakit lagi?” tanya Zara, jemarinya masih bermain di sela rambut Benedict.

Benedict terdiam sejenak. Sentuhan jemari Zara terasa begitu menenangkan hingga Benedict hampir saja memejamkan matanya kembali.

“Hanya sedikit perih,” jawab Benedict. “Tapi tidak seburuk tadi malam.”

Mata Benedict tidak beralih dari wajah Zara. Ia memperhatikan bagaimana raut wajah gadis itu berubah menjadi lebih tenang setelah mendengar jawabannya.

“Tadi malam kau mimpi buruk lagi?” bisik Zara, suaranya nyaris seperti embusan angin.

Rahang Benedict mengeras seketika. Ingatan tentang mimpi buruk itu kembali menghantamnya.

“Mimpi itu selalu datang selama sembilan tahun terakhir” jawab Benedict kaku.

Saat ia hendak menarik diri, ia merasakan sentuhan Zara di pipinya. Hangat dan lembut.

“Edda sudah menceritakan semuanya padaku,” ucap Zara pelan, matanya mulai berkaca-kaca. “Tentang apa yang terjadi di pesawat itu. Tentang….. ibumu.”

Benedict memejamkan matanya rapat-rapat. Mendengar hal itu disebut oleh bibir Zara rasanya seperti menyiramkan cuka ke luka yang masih basah.

“Edda terlalu banyak bicara,” desis Benedict, ia tidak menepis tangan Zara di pipinya.

Sebaliknya, ia justru memiringkan wajahnya, tanpa sadar menekan pipinya ke telapak tangan Zara.

“Dia melakukannya karena dia peduli padamu. Dan sekarang aku tahu kenapa kau begitu terluka,” Zara menelan ludah, mencoba menahan isaknya.

“Aku tidak bisa mengubah apa yang dilakukan ayahku. Aku juga tidak bisa mengembalikan apa yang hilang darimu. Tapi…..biarkan aku tetap disampingmu. Biarkan aku membantu mencabut duri itu, meski hanya satu per satu.”

Benedict membuka matanya kembali. Tatapannya yang tadi sayu kini berubah menjadi tajam. Ia menatap Zara dengan intens, membuat napas gadis itu tertahan.

“Kau tahu risiko dari apa yang kau tawarkan, Zara?” tanya Benedict.

“Berada disampingku sama saja dengan berjalan ke dalam api. Aku mungkin akan menghancurkan mu sebelum kau sempat menyembuhkanku.”

Zara tidak gentar. Is justru mengulas senyum tipis. Ia mendekatkan wajahnya, hingga dahi mereka bersentuhan, membiarkan napas mereka menyatu dalam satu irama.

“Aku sudah hancur sejak lama, Tuan” bisik Zara telat di depan bibir pria itu.

“Sekarang aku tidak punya apa-apa untuk ditakutkan. Jadi, biarkan aku mencoba.”

Benedict tidak menjawab, ia langsung melingkarkan tangannya ke pinggang Zara. Menarik gadis itu lebih rapat ke dalam pelukannya.

1
rurry Irianty
novel dark romance favorit kuuu
Bude Yanti
aku suka lajut kan
Nanda
novel ini bagus, cocok dibaca sama orang yang suka genre dark romance
Nanda
KAK SEMANGAT UP NYAAA
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!