NovelToon NovelToon
Teratai Di Atas Abu

Teratai Di Atas Abu

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Akademi Sihir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Teratai Di Atas Abu

Setelah Klan Teratai Suci dihancurkan oleh Menara Darah Hitam, Lian Hua menjadi satu-satunya yang selamat dari malam penuh darah itu. Dengan meridian rusak dan bakat yang dianggap rendah, ia tumbuh di tengah hinaan dunia persilatan.

Namun di balik liontin teratai peninggalan klannya, tersembunyi kekuatan kuno yang mampu mengguncang dunia kultivasi.

Di antara dendam, pengkhianatan, dan perang antar sekte, Lian Hua menapaki jalan kultivasi demi mengungkap kebenaran kehancuran klannya—dan membalas semua darah yang telah tertumpah.

Karena bahkan di atas abu kehancuran… teratai tetap bisa mekar kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23

Teratai Mekar di Arena

Bab 23 — Teratai Mekar di Arena

Setelah mengalahkan Wang Chen, nama Lian Hua mengguncang seluruh sekte. Tak ada lagi tawa atau cemoohan, digantikan oleh rasa hormat bercampur rasa ingin tahu yang mendalam. Namun perjalanan belum selesai. Di babak semifinal, lawan yang menantangnya adalah Li Xuan — murid yang memiliki bakat luar biasa, menguasai teknik angin cepat, dan dikenal sebagai orang terkuat kedua setelah Wang Chen. Kekuatannya sudah menyentuh ambang tingkat Dasar Penyempurnaan Akhir, jauh di atas murid-murid biasa.

Panggung batu itu kembali dipenuhi ribuan penonton, suasana tegang dan hening. Semua mata tertuju pada sosok di tengah: Lian Hua yang tetap tenang dengan jubah lusuh dan pedang kayu, melawan Li Xuan yang gagah dengan jubah perak dan pedang panjang berkilau. Di tribun kehormatan, para tetua duduk tegak, wajah mereka serius, menyadari bahwa pertarungan ini bukan sekadar adu kemampuan murid, melainkan pembuktian sesuatu yang jauh lebih besar.

"Kau hebat, aku akui itu," ucap Li Xuan dengan suara lantang, matanya tajam menatap Lian Hua. "Tapi sampai di sini saja perjalananmu. Aku bukan Wang Chen yang sombong dan lengah. Aku akan membuatmu melihat perbedaan nyata antara kekuatan kasar dan seni bela diri yang sesungguhnya."

Li Xuan tak membuang waktu. Ia mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, aura berwarna hijau muda menyelimuti tubuhnya, berputar kencang bagai angin puyuh. Ia menggunakan teknik andalan tertinggi — Ribuan Potongan Angin. Gerakannya secepat kilat, meninggalkan puluhan bayangan di udara, dan dari segala arah menyambar serangan tajam yang mampu membelah batu karang.

Di bawah serangan bertubi-tubi itu, Lian Hua terdesak mundur terus. Kali ini lawannya berbeda. Kecepatan Li Xuan hampir menyamai Langkah Bayangan Teratai, dan kekuatan serangannya jauh lebih padat serta tajam. Jubah Lian Hua terrobek di sana-sini, darah mulai menetes dari luka gores di bahu dan lengan. Penonton menahan napas, khawatir pemuda itu akhirnya akan tumbang.

Namun semakin terdesak, semakin tajam sorot mata Lian Hua. Di dalam dadanya, pola teratai yang tersembunyi itu berdenyut kencang, merespons bahaya yang mendekat. Selama ini ia selalu menahan diri, menyembunyikan kekuatan aslinya agar asal-usulnya tak tercium musuh. Tapi sekarang, serangan Li Xuan semakin ganas, menekan hingga ke batas kemampuannya. Jika ia terus menahan, ia akan kalah, dan peluang menjadi murid inti — jalan menuju kekuatan lebih besar — akan hilang.

Cukup disembunyikan. Hari ini... aku akan membiarkan dunia melihat sedikit saja jejak kebesaran klanku.

Lian Hua berhenti mundur. Ia menancapkan kaki kanannya kuat-kuat ke batu panggung, hingga retakan halus menjalar keluar. Ia mengangkat kedua tangan, memegang gagang pedang kayu di depannya, dan perlahan memejamkan mata.

"Kau menyerang dengan angin dan kecepatan..." gumamnya pelan namun jelas terdengar di tengah riuh udara. "Tapi kau lupa, bahwa segala angin dan air... semuanya berpusat pada tanah, pada akar, pada keseimbangan."

Li Xuan mengaum, mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk serangan pamungkas. "Mati saja kau!"

Saat puluhan bayangan pedang menyambar bersamaan, tepat saat semua orang yakin Lian Hua akan hancur seketika, perubahan dahsyat terjadi.

Dari dalam tubuh Lian Hua, menyembur keluar aura berwarna putih bersih dan hitam pekat yang berputar saling mengelilingi. Cahaya itu makin terang, makin luas, hingga menyelimuti seluruh panggung batu, mendorong balik semua serangan angin itu seolah menepis debu ringan. Di atas kepalanya, perlahan terbentuk bayangan raksasa: sebuah bunga teratai raksasa dengan kelopak putih dan hitam, mekar perlahan dengan keagungan yang tak terlukiskan. Cahayanya lembut namun berkuasa, memancarkan hawa kuno yang sakral, berat, dan menekan jiwa siapa saja yang melihatnya.

Teratai Mekar Menahan Langit!

Teknik tertinggi dasar Klan Teratai Suci, yang tak pernah dilihat dunia selama ratusan tahun, kini muncul kembali di arena Sekte Gunung Awan Putih.

Serangan Li Xuan lenyap seketika begitu menyentuh cahaya itu. Tubuhnya terlempar mundur belasan meter, jatuh terguling ke tanah, terpaku diam karena rasa takut dan keterkejutan. Ia merasakan hawa itu — bukan sekadar tenaga dalam biasa, melainkan kekuatan alam yang murni, kuno, dan agung, seolah sedang berdiri di hadapan leluhur yang berkuasa atas kehidupan dan kematian.

Di tengah cahaya dan bayangan teratai itu, Lian Hua berdiri tegak. Matanya bersinar tajam, wajahnya tenang namun berwibawa bagai seorang raja purba. Pedang kayunya kini berkilau dengan cahaya yang sama, seolah berubah menjadi senjata suci. Seluruh energi spiritual di gunung itu bergolak hebat, mengalir deras berkumpul di sekitar panggung, menunduk hormat pada kekuatan kuno yang sedang bangkit itu.

Di tribun kehormatan, keheningan mutlak terjadi.

Lima tetua utama yang biasanya duduk tenang dan angkuh, kini berdiri serentak dari kursi mereka. Mata mereka terbelalak lebar, mulut mereka terbuka sedikit, dan wajah mereka penuh campuran rasa tak percaya, kagum, dan hormat yang mendalam. Tangan Tetua Utama bergetar hebat saat ia menunjuk ke arah bayangan teratai itu.

"Itu... itu lambang... kekuatan itu..." suaranya bergetar hingga hampir tak terdengar. "Teratai Putih Hitam... Klan Teratai Suci yang telah musnah ribuan tahun lalu... Itu adalah teknik sejati klan legendaris itu!"

Tetua Bai menatap sosok pemuda di bawah dengan air mata berlinang. Ia tahu ia menemukan permata, tapi ia tak menyangka permata itu ternyata adalah warisan dari kebesaran yang hilang itu sendiri.

"Kekuatan itu... bukan milik aliran mana pun di dunia ini," gumam tetua lainnya dengan napas tertahan. "Hawa itu kuno, murni, dan sangat dalam. Ia tidak belajar dari siapa pun di sini... ia membawa warisan darah dan ilmu leluhur tertinggi."

Mereka berdiri diam, terpaku, merasakan getaran hawa yang menembus tulang itu. Di hadapan kekuatan teratai yang mekar penuh itu, ilmu Sekte Gunung Awan Putih yang mereka banggakan selama hidup mereka, terasa kecil dan biasa saja.

Di pinggir lapangan, Gu Qing Cheng menutup mulutnya dengan tangan, air mata bahagia menetes di pipinya. Ia tahu asal-usul Lian Hua luar biasa, tapi ia tak menyangka sebesar ini, seagung ini.

Lian Hua perlahan menurunkan tangannya. Cahaya dan bayangan teratai itu perlahan memudar dan masuk kembali ke dalam tubuhnya, seolah tak pernah ada. Ia menatap Li Xuan yang masih gemetar di tanah, lalu menatap ke arah para tetua yang masih berdiri kaku di atas.

Ia membungkuk sedikit, sopan namun penuh jati diri yang kuat.

"Maafkan saya karena memperlihatkan hal aneh ini," ucapnya tenang, suaranya terdengar ke segenap penjuru yang masih hening. "Itu hanyalah sedikit dari apa yang saya pelajari sejak kecil. Sekarang... bolehkah kita lanjutkan pertarungan?"

Namun tak ada yang menjawab. Seluruh arena masih terhanyut oleh pemandangan agung tadi. Dan di hati para tetua, satu kesadaran besar kini tertanam kuat: pemuda bernama Lian Hua ini bukan sekadar murid inti potensial. Ia adalah sosok yang akan mengubah sejarah Sekte Gunung Awan Putih, dan mungkin... mengubah arah seluruh dunia persilatan.

Teratai telah mekar di arena. Dan kali ini, tak ada kekuatan apa pun yang bisa menutupi cahayanya lagi.

1
Devilgirl
Thor, kebanyakan bahasa modern ya..suara cempreng bisa diganti Suara yang melengking tajam karena vibesnya wuxia lho
Devilgirl: udah bagus,cuma kata yang modern ganti ke versi kuno biar lebih bagus gitu
total 2 replies
Devilgirl
Thor ,kalau bikin genre wuxia kata kompleks bangunan gak sesuai...bisa diganti tempat sekte Qing Yun berada...kompleks bangunan terlihat modern ,kak
wiwi: terimakasih🤭
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!