NovelToon NovelToon
GUS DINGIN DAN GADIS BAR BAR

GUS DINGIN DAN GADIS BAR BAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: RISMA AYINI SAFITRI

seorang gadis bernama hazia ayini que'en namyesa yang merupakan seorang gadis bar bar, nakal, jahil, dan juga bermulut pedas yang susah di atur oleh orang tua nya sehingga iya dan juga kakak sepupu laki laki nya yang bernama kevin di kirim ke sebuah pondok pesantren yang merupakan milik sahabat keluarga hazian.

apakah ayini si gadis bar bar bisa berbuat baik dan memperbaiki akhlak serta adab nya di pondok pesantren itu?
atau apakah ayini akan berbuat jahil dan mengacaukan pondok itu?
apa yang akan ayini lakukan ketika iya bertemu dengan anak kyai yang bernama Alvaro!
atau kerap di panggil gus alvaro? seorang Gus yang memiliki sifat dingin dengan wajah datar yang ternyata akan menjadi CALON SUAMI nya karena masalah yang iya lakukan sendiri...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RISMA AYINI SAFITRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1. GERBANG YANG TERKUNCI

Kabupaten Barito Utara siang itu terasa begitu terik. Matahari seolah berada tepat di atas kepala, menyengat aspal jalanan Muara Teweh yang berdebu.

Di dalam sebuah mobil mewah yang melaju membelah jalanan menuju pinggiran kota, suasana justru terasa lebih panas daripada suhu di luar.

Hazia Ayini Que'en Namyesa, atau yang akrab dipanggil Ayini, menyandarkan kepalanya di kaca mobil dengan wajah cemberut yang amat ditekuk.

Gadis berusia 16 tahun itu melirik ke samping, di mana kakak sepupunya, Hazian Alkevin, juga menunjukkan ekspresi yang sama: lesu, kesal, dan seolah tidak punya harapan hidup.

"Pah, beneran nih? Ayini mau ditaruh di tempat beginian? Ini mah penjara suci, Pah! Mana ada mal, mana ada kafe!" celetuk Ayini dengan nada tinggi.

Mulutnya yang pedas mulai beraksi.

Hazian Alqin, sang ayah, menghela napas panjang sambil terus fokus menyetir.

Di sampingnya, Namyesa, sang ibu, hanya bisa mengelus dada. "Ayini, Papah sama Mamah sudah nggak tahu lagi harus gimana sama kamu. Bolos sekolah, berantem sama anak tetangga, sampai motor Pak RT kamu kempesin. Di tempat sahabat Papah ini, kamu bakal belajar jadi perempuan yang bener."

"Iya, Tante Nam. Tapi kenapa Kevin juga harus ikut?" keluh Kevin dengan suara serak.

"Kevin kan cuma nemenin Ayini pas kabur kemarin, masa Kevin kena juga?"

Hazian Alpin, ayah Kevin yang duduk di kursi tengah bersama istrinya Delia, menyahut tegas.

"Kamu itu sama saja, Vin! Kamu bukannya jagain adik sepupumu, malah jadi provokator. Di Ponpes Abi Vero nanti, kalian berdua nggak bisa lagi macam-macam."

Ayini memutar bola matanya malas. "Halah, palingan isinya cuma orang-orang yang kerjaannya baca kitab terus mukanya pucat karena kurang piknik," gumamnya pelan, namun cukup terdengar oleh seisi mobil.

Mobil akhirnya memasuki sebuah gerbang besar bertuliskan "Pondok Pesantren Al-Hidayah".

Bangunan-bangunan kayu khas Kalimantan berpadu dengan beton modern terlihat rapi.

Suasana sangat asri, namun bagi Ayini, ini adalah awal dari kiamat kecil dalam hidupnya.

Setelah memarkirkan mobil, mereka disambut dengan hangat di teras sebuah rumah besar yang dikenal sebagai Ndalem.

Seorang pria paruh baya berwajah teduh dan seorang wanita anggun berjilbab lebar sudah menunggu di sana.

Mereka adalah Muhammad Al Vero dan istrinya, Umi Ayisah.

"Assalamualaikum, Sahabatku Alqin! Akhirnya sampai juga di Barito Utara," sambut Abi Vero dengan pelukan hangat kepada ayah Ayini.

"Waalaikumsalam, Vero. Maaf ya, membawa 'paket kiriman' yang agak berat ini," balas Alqin sambil melirik Ayini dan Kevin yang turun dari mobil dengan ogah-ogahan.

Ayini dan Kevin berjalan di belakang orang tua mereka. Ayini bahkan tidak berniat mencium tangan kedua orang tua pemilik ponpes itu sampai ibunya menyenggol lengannya dengan keras.

Dengan wajah terpaksa, Ayini menyalami Umi Ayisah, sementara Kevin menyalami Abi Vero.

"Ayo, silakan masuk. Kita bicarakan di dalam," ajak Umi Ayisah dengan senyum yang sangat tulus.

Mereka duduk di ruang tamu yang luas dan beralaskan karpet tebal. Ayini dan Kevin duduk berdampingan di sudut ruangan.

Ayini mulai bosan. Ia melihat ke sekeliling, mencari celah untuk menghina tempat ini di dalam kepalanya.

Orang tua mereka mulai asyik bernostalgia dan membicarakan prosedur pendaftaran.

"Jadi, Vero, aku titip Ayini. Dia ini anaknya sebenarnya pintar, baca Al-Qur'an-nya juga lancar kalau mau, tapi sifatnya itu... ya Allah, bar-bar sekali. Susah diatur," keluh Alqin.

"Astagfirullah alazim, Papah! Nggak usah buka kartu di depan orang lain juga kali!" potong Ayini tiba-tiba, membuat suasana sempat hening.

"Ayini! Jaga lisanmu!" tegur Mamah Namyesa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!