NovelToon NovelToon
Amore E Caos: Tertukar Di Sarang Singa

Amore E Caos: Tertukar Di Sarang Singa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Bianca, seorang gadis asal Indonesia yang hidup dengan prinsip "hidup santai, otak agak miring," tidak pernah menyangka liburan murahannya ke Italia akan berakhir dengan bencana kosmik. Saat sedang asyik memakan gelato di depan gereja kuno, Bianca tersandung kaki sendiri dan menabrak Lorenzo De Luca, sulung dari tiga raja mafia kembar yang paling ditakuti di Eropa.
​Sebuah kutukan kuno dari artefak yang mereka bawa aktif, mengakibatkan jiwa Bianca tertukar ke dalam tubuh Lorenzo yang kekar dan bertato. Bianca yang "semprul" kini harus memimpin organisasi kriminal kelas kakap, sementara Lorenzo yang dingin harus belajar memakai skincare dan menghadapi drama teman-teman kos Bianca.
​Kekacauan semakin memuncak ketika dua kembar lainnya—Valerio yang gila senjata dan Dante yang manipulatif—mulai mencurigai "kakak" mereka yang tiba-tiba suka joget TikTok di tengah rapat strategi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ledakan di Dermaga Sisilia

Panasnya aspal Palmerah dan omelan Ibu Sukeni tentang martabak keju mendadak terasa seperti kenangan dari kehidupan lain. Baru tiga hari klan De Luca bersembunyi di Jakarta, sebuah pesan terenkripsi dari Antonio—yang kini bersembunyi di bawah perlindungan faksi Vatikan yang setia—memaksa mereka terbang kembali ke Eropa. Isinya singkat namun mematikan: Isabella tidak mati. Dia berada di Sisilia, merakit armada udara tak berawak untuk meratakan sisa-sisa Palazzo.

​Dante berhasil meretas satelit cuaca untuk menyamarkan penerbangan mereka. Malam ini, bukan lagi gang sempit Jakarta yang mereka hadapi, melainkan angin laut Mediterania yang menggigit di Dermaga Kuno Syracuse, Sisilia. Tempat ini adalah urat nadi penyelundupan minyak dan senjata milik klan Rosanera. Di sinilah Isabella menimbun fragmen kristal hitam yang tersisa.

Di dalam sebuah kabin kapal nelayan yang bergoyang pelan tidak jauh dari dermaga, empat orang berkumpul di bawah temaram lampu badai. Bianca (dalam tubuh Lorenzo) mengenakan jaket pelampung besar di atas jas hitamnya yang mulai lusuh. Di sampingnya, Lorenzo (dalam tubuh Bianca) sedang fokus mengisi amunisi ke dalam magasin Beretta Nano hasil tawaran Bianca di Ostia.

​"Dante, jelaskan lagi strukturnya," perintah Lorenzo (tubuh Bianca), suaranya yang lembut terdengar sangat kontras dengan ketegangan di wajah aslinya.

​Dante membuka peta holografik tiga dimensi di tabletnya. "Dermaga ini dilindungi oleh tiga menara penjaga dengan senapan mesin berat. Di tengah dermaga, terdapat gudang nomor empat. Di situlah Isabella menyimpan tiga puluh drone militer yang sudah dimodifikasi dengan hulu ledak energi kristal. Jika drone itu lepas landas, kita tidak akan bisa menghentikannya."

​"Aku akan mengambil menara barat dan utara," sela Valerio sambil memeriksa laras senapan runduknya. "Tapi menara timur terlalu dekat dengan gudang utama. Jika aku menembak penjaganya, alarm otomatis akan berbunyi."

​Bianca (tubuh Lorenzo) mengangkat tangannya pelan. "A-anu, Mas... kalau soal menara timur, gimana kalau saya yang masuk lewat jalur air? Saya kan pakai badan Mas Lorenzo yang kekar ini. Kuat lah kalau cuma buat berenang gaya katak sedikit."

​Lorenzo menatap tubuhnya sendiri. "Kau tidak tahu cara melakukan infiltrasi senyap, Bianca. Langkah kakimu terlalu bising, dan kau sering lupa mematikan nada dering ponselmu."

​"Ih, meremehkan! Di Jakarta kemarin saya kan udah belajar taktik 'mengendap-endap menghindari Ibu Kos' pas pulang jam satu malam. Itu lebih susah daripada menghindari penjaga mafia, tahu! Salah dikit langsung dilempar sandal bakiak," bela Bianca.

​Lorenzo terdiam sejenak. Melalui koneksi batin mereka, ia bisa merasakan desakan adrenalin yang kuat dari Bianca. Gadis itu tidak lagi sekadar takut; ia ingin membantu menyelesaikan perang ini agar mereka bisa segera bertukar tubuh kembali.

​"Baiklah," ucap Lorenzo akhirnya. "Kau masuk bersama Valerio. Aku dan Dante akan mengamankan ruang kendali utama di dermaga. Dan ingat, Bianca... jangan sentuh apa pun yang bersinar ungu."

Air laut Sisilia malam itu sangat dingin. Bianca (tubuh Lorenzo) merayap keluar dari air di balik pilar beton dermaga timur. Tubuh berotot Lorenzo memang luar biasa; dinginnya air hampir tidak memengaruhi otot-ototnya yang terlatih. Namun, mental Bianca tetaplah mental mahasiswa biasa yang kedinginan.

​"Dingin banget, buset... berasa berenang di kolam es batu," bisik Bianca dalam hati, berharap Lorenzo tidak mendengarnya melalui koneksi batin.

​“Fokus, Bianca. Ada dua penjaga di atas tangga menuju menara timur,” suara Lorenzo tiba-tiba bergema di dalam kepala Bianca, membuat Bianca tersentak.

​"Lho, Mas Lorenzo bisa denger pikiran saya?"

​“Tentu saja. Koneksi kita semakin parah sejak kita mengonsumsi makanan pedas di Jakarta itu. Sekarang, bergeraklah ke kiri. Gunakan pisau komando di pinggangmu untuk memotong tali jangkar kapal di sampingmu. Biarkan kapalnya bergeser untuk mengalihkan perhatian mereka.”

​Bianca mengikuti instruksi itu. Dengan satu gerakan kuat dari lengan Lorenzo, tali nilon tebal itu putus. Sebuah kapal sekoci besar perlahan hanyut menghantam pilar dermaga dengan suara dentuman yang cukup keras.

​"Eh, ada apa itu di bawah?" tanya salah satu penjaga dalam bahasa Italia. Kedua penjaga di menara timur langsung berjalan ke tepi pagar, menengok ke bawah.

​Di saat itulah, Valerio yang berada di menara barat melepaskan dua tembakan senyap dengan peredam suara.

​Phut! Phut!

​Kedua penjaga itu langsung jatuh tanpa sempat mengeluarkan suara. Bianca segera memanjat tangga monyet dengan cepat dan mengamankan posisi menara timur. "Aman, Mas Val! Menara timur sudah dikuasai!" seru Bianca melalui mikrofon kecil di telinganya.

Sementara itu, Lorenzo (tubuh Bianca) dan Dante berhasil menyusup ke ruang kendali melalui saluran ventilasi. Namun, saat Dante sedang mencoba meretas sistem peluncuran drone, lampu merah di seluruh dermaga tiba-tiba berputar.

​WIUUU! WIUUU! WIUUU!

​"Sial, Isabella mengubah kode enkripsinya secara real-time dari dalam gudang!" kutuk Dante. "Dia tahu kita di sini!"

​Pintu gudang nomor empat terbuka perlahan. Dari dalam kegelapan, Isabella Moretti melangkah keluar. Penampilannya malam ini terlihat sangat mengerikan; sebagian wajah sebelah kirinya ditutupi oleh perban hitam akibat luka bakar dari ledakan saus jamur berlistrik di Tuscany, dan matanya memancarkan kegilaan yang mutlak. Di tangannya, ia memegang sebuah detonator jarak jauh yang terhubung dengan tangki penyimpanan energi kristal cair.

​"Lorenzo! Aku tahu kau bersembunyi di dalam tubuh jalang kecil itu!" teriak Isabella, pandangannya langsung tertuju pada Lorenzo yang berada di tubuh Bianca. "Lihatlah dirimu! Sang penguasa Roma sekarang harus menggunakan gaun dan bersembunyi di balik punggung adiknya! Sungguh pemandangan yang menyedihkan!"

​Lorenzo (tubuh Bianca) melangkah maju ke area terbuka dermaga, mengabaikan peringatan Dante. "Isabella, semua ini sudah berakhir. Pasukan Vatikan yang mendukungmu sudah ditangkap. Kau tidak punya tempat lagi untuk lari."

​"Lari? Siapa yang bilang aku mau lari?" Isabella tertawa histeris. Ia menunjuk ke arah barisan drone di dalam gudang yang mulai menyalakan mesinnya dengan suara berdengung tinggi seperti tawon raksasa. "Malam ini, dermaga ini akan menjadi kuburan kita semua. Aku akan meledakkan seluruh pasokan kristal cair ini. Energi ledakannya akan merobek jiwa kalian dari wadahnya dan menghancurkannya berkeping-keping di udara!"

​Bianca (tubuh Lorenzo) yang melihat hal itu dari menara timur langsung panik. "Mas Lorenzo! Dia mau bunuh diri massal! Itu tombolnya mau dipencet!"

​“Valerio, tembak tangannya!” perintah Lorenzo dalam hati.

​Valerio melepaskan tembakan, namun Isabella telah mengaktifkan pelindung portabel dari energi kristal di sekeliling tubuhnya. Peluru senapan runduk Valerio hancur menjadi serpihan saat menyentuh medan energi ungu tersebut.

​"Tidak ada yang bisa menghentikanku!" pekik Isabella, jarinya mulai bergerak menekan tombol merah pada detonator.

Dalam hitungan detik yang krusial itu, Bianca (dalam tubuh Lorenzo) melakukan sesuatu yang benar-benar di luar nalar taktik mafia mana pun. Ia melompat dari menara timur yang setinggi sepuluh meter, langsung menuju ke arah tumpukan kontainer minyak di bawahnya, lalu meluncur menggunakan selembar terpal plastik sisa penutup kapal.

​"YAAAH! MAAFKAN SAYA MAAAK!" teriak Bianca dengan suara bariton Lorenzo yang membahana di seluruh dermaga.

​Tubuh kekar Lorenzo meluncur secepat peluru, menghantam salah satu pilar penyangga tangki kristal cair yang berada tepat di atas posisi Isabella. Hantaman keras dari berat tubuh Lorenzo yang dipadukan dengan kecepatan luncuran membuat pilar besi yang sudah berkarat itu patah.

​KRAAAK!

​Tangki besar berisi cairan ungu itu tumbang, menumpahkan isinya langsung ke arah mesin-mesin drone yang sedang menyala.

​"Apa yang kau lakukan, Bodoh?!" teriak Isabella saat melihat cairan kimia itu mulai memicu reaksi berantai yang tidak stabil pada drone-dronenya.

​Bianca (tubuh Lorenzo) bangkit berdiri dengan tertatih-tatih, lalu berlari sekencang mungkin ke arah Lorenzo (tubuh Bianca). "Mas Lorenzo! Lari, Mas! Itu tankinya mau meledak kayak tabung gas tiga kiloan!"

​Lorenzo tidak lari. Ia justru berlari mendekati Bianca. Di tengah kekacauan warna ungu yang mulai berpijar hebat, koneksi batin mereka mencapai titik didihnya kembali. Rasa takut Bianca yang murni dan keinginan kuat Lorenzo untuk melindungi bersatu, menciptakan pusaran energi spiritual di sekitar mereka.

​Isabella menekan tombol detonatornya. "MATILAH KAU, DE LUCA!"

​BOOOOOOM!!!

​Ledakan dahsyat mengguncang Dermaga Sisilia. Gelombang kejutnya menghancurkan gudang nomor empat, menerbangkan kontainer-kontainer besi seberat belasan ton ke udara, dan menciptakan bola api ungu raksasa yang membubung tinggi ke langit malam. Air laut di sekitar dermaga tersedot ke dalam lalu terhempas kembali menjadi gelombang pasang kecil.

Asap hitam tebal membubung tinggi, menutupi cahaya bulan. Dante dan Valerio yang berhasil berlindung di balik dinding beton ruang kendali segera berlari keluar dengan panik, mengabaikan sisa-sisa api yang masih menyala.

​"Lorenzo! Bianca!" teriak Valerio, matanya mencari-cari di antara puing-puing dermaga yang hancur.

​Di dekat tepi dermaga yang runtuh masuk ke dalam laut, terlihat dua sosok tergeletak telungkup di bawah serpihan terpal yang terbakar. Dante segera mengangkat reruntuhan besi yang menimpa mereka.

​Sosok pria bertubuh kekar itu perlahan membuka matanya. Ia terbatuk, mengeluarkan asap dari tenggorokannya. Ia melihat tangannya yang besar, lalu menyentuh dadanya yang bidang. Tatapan matanya yang tajam kembali seutuhnya. Ia menoleh ke samping.

​Di sampingnya, sosok gadis cantik berpakaian jaket kedodoran juga mulai terbangun. Gadis itu meraba wajahnya, merasakan rambut panjangnya, dan... langsung memeriksa bagian dalam jaketnya.

​"Hah... Hah... Mas Lorenzo?" suara cempreng Bianca keluar dengan nada sangat tinggi. "Saya... saya kecil lagi? SAYA BISA LIHAT KAKI SAYA SENDIRI!"

​Lorenzo De Luca—yang kini telah kembali ke dalam tubuh aslinya yang kekar—berdiri dengan perlahan. Ia meregangkan otot-otot lehernya, merasakan kekuatan militernya yang telah kembali seratus persen. Ia menatap Bianca yang sedang menangis haru sambil memeluk tubuhnya sendiri.

​"Kita kembali, Bianca," ucap Lorenzo dengan suara baritonnya yang asli, dalam dan penuh otoritas. "Ledakan energi kristal tadi... rupanya memutus 'solderan' Dante dan memaksa jiwa kita terlempar kembali ke wadah yang benar akibat syok fisik yang ekstrem."

​Dante memeriksa mereka berdua dengan tabletnya yang berkedip-kedip. "Luar biasa. Frekuensi spiritual kalian kembali normal. Struktur seluler kalian stabil. Efek samping pertukaran jiwa ini resmi hilang."

​Isabella Moretti sendiri telah lenyap bersama ledakan itu; tidak ada yang tersisa dari kegilaannya selain detonator yang hangus di atas tanah. Klan Rosanera di Sisilia malam itu resmi hancur total bersama hancurnya dermaga logistik mereka.

​Bianca segera bangkit berdiri, meskipun kakinya yang kecil terasa agak lemas setelah menanggung beban ketegangan spiritual yang begitu besar. Ia menatap Lorenzo yang kini berdiri menjulang di depannya sebagai seorang Capo dei Capi yang sesungguhnya.

​"Mas Lorenzo..." Bianca mendongak, matanya berkaca-kaca. "Berarti petualangan kita udah selesai ya? Saya... saya udah bisa pulang ke Jakarta dengan tenang?"

​Lorenzo menatap Bianca dengan tatapan mata elang yang kali ini tidak lagi dingin, melainkan dipenuhi oleh kehangatan yang mendalam. Ia melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka, lalu meletakkan tangan besarnya di kepala Bianca, mengacak-acak rambutnya dengan lembut.

​"Kau boleh pulang ke Jakartamu, Bianca," ucap Lorenzo pelan namun tegas. "Tapi jangan harap kau bisa lepas dari klan De Luca begitu saja. Aku sudah mengirimkan tim untuk melunasi seluruh utang kosanmu pada Ibu Sukeni untuk sepuluh tahun ke depan. Dan aku sudah membeli ruko di Palmerah itu untuk dijadikan markas baru kita di Asia."

​Bianca melongo. "Hah? Ruko Palmerah jadi markas mafia?!"

​"Bukan markas mafia," Lorenzo tersenyum tipis—senyuman yang membuat jantung Bianca berdegup lebih kencang daripada saat ledakan dermaga tadi. "Itu akan menjadi markas tim esport milik klan kita, Aegis. Dan kau... kau akan menjadi manajer utamanya di sana. Di bawah pengawasanku langsung."

​Valerio mendengus sambil tersenyum, sementara Dante mulai mengetik rencana anggaran baru untuk ruko di Palmerah. Malam itu, di atas runtuhnya Dermaga Sisilia, skandal besar keluarga De Luca resmi ditutup dengan kemenangan manis. Mereka tidak hanya berhasil mengalahkan musuh terbesar mereka dan mendapatkan kembali tubuh mereka, tapi mereka juga menyadari bahwa takdir yang tertukar telah menuntun mereka pada sebuah ikatan baru yang tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh ledakan mana pun di dunia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!