"Bismillah… percaya sama Mas.”
Kalimat itu membawa Aira pada pernikahan yang tak pernah ia bayangkan. Hamil enam bulan membuatnya harus menikah dengan Dika, pria yang ia cintai selama tiga tahun. Namun bagi Aira, pernikahan itu terasa seperti tanggung jawab, bukan cinta.
Belum sempat bahagia, Aira harus menghadapi penolakan keluarga Dika, ibu mertua yang syok hingga pingsan, dan rahasia besar yang belum diketahui ayahnya.
Di tengah tekanan keluarga dan hadirnya masa lalu Dika, Aira mulai bertanya… apakah ia benar-benar dicintai, atau hanya diperjuangkan demi anak dalam kandungannya?
Satu rahasia, sejuta luka. Dan menjadi istri Dika mungkin adalah luka terbesar bagi Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon biru🩵, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Rintik hujan masih menyisa saat motor Mas Dika memasuki halaman rumah. Gemericik air dari talang seolah menyambut kepulangan kami dengan nada yang suram. Mas Dika mematikan mesin, lalu segera turun untuk mengambil kantong-kantong belanjaan yang dibungkus plastik rapat agar tidak basah.
"Kamu masuk duluan, Ra. Mas bawa belanjaannya pelan-pelan," bisiknya sambil mengusap pundakku yang masih terasa dingin.
Aku melangkah masuk dengan perasaan yang kembali menciut. Lampu ruang tengah menyala terang, dan di sana, seolah sudah menunggu, Ibu Mertua sedang duduk bersama Mbak Diana yang ternyata belum pulang. Mereka berdua menatap ke arah pintu dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Baru pulang?" suara Mbak Diana memecah keheningan, nadanya sarkastik. "Enak ya, yang lain pusing mikirin omongan orang, yang bersangkutan malah asyik belanja sampai malam."
Aku hanya menunduk, tidak berani menyahut. Mas Dika masuk menyusulku dengan tangan penuh bungkusan. Ia meletakkan kantong-kantong itu di atas meja ruang tamu sebentar untuk membetulkan jaketnya yang basah.
"Dika, apa itu?" tanya Ibu Mertua, matanya tertuju pada logo toko perlengkapan bayi yang tercetak di plastik transparan.
"Baju-baju bayi, Bu. Sama beberapa keperluan Aira," jawab Mas Dika tenang.
Mbak Diana berdiri, menghampiri meja dan mengintip isinya. Ia mendengus keras. "Luar biasa. Belum juga seminggu sah, sudah foya-foya. Dika, kamu sadar nggak sih? Uang kamu itu harusnya ditabung buat biaya persalinan nanti, bukan buat beli barang-barang branded begini. Kamu tahu nggak kalau Ibu tadi sore sampai nggak mau keluar rumah gara-gara tetangga nanya soal pernikahan kalian yang mendadak?"
"Dika pakai uang Dika sendiri, Mbak. Lagipula ini kebutuhan dasar, bukan foya-foya," Mas Dika mulai terlihat tidak sabar.
Ibu Mertua berdiri dari kursinya, wajahnya tampak sangat lelah namun penuh amarah yang terpendam. "Bukan soal uangnya, Dika! Tapi soal kepantasan! Kalian itu menikah karena aib! Harusnya kalian tahu diri, diam di rumah, tunjukkan rasa penyesalan. Bukannya malah pamer belanjaan seolah-olah ini adalah pernikahan yang membanggakan!"
Kalimat Ibu Mertua seperti petir yang menyambar di dalam ruangan. Aku merasa seluruh tubuhku membeku. Pamer? Kami bahkan hanya pergi ke satu toko dan satu warung tenda di pinggir jalan.
"Aira, masuk ke kamar!" perintah Mas Dika tanpa menoleh padaku. Suaranya rendah tapi bergetar, pertanda ia sedang berusaha menahan ledakan emosinya di depan sang Ibu.
Aku segera meraih salah satu tas kecil berisi vitamin dan melangkah cepat menuju tangga. Namun, kalimat Mbak Diana kembali mengejarku.
"Lihat itu, Dik. Belum apa-apa sudah pinter banget bikin kamu jauh dari Ibu. Besok-besok mungkin dia bakal minta kamu buat beli rumah sendiri biar bisa bebas dari kita."
Aku menutup pintu kamar dengan rapat, menyandarkan punggungku di sana. Di luar, suara perdebatan antara Mas Dika, Ibu, dan Mbak Diana terdengar sayup-sayup namun tetap menyakitkan. Aku merosot duduk di lantai, memeluk bantal ibu hamil yang tadi kami beli dengan penuh suka cita.
Barang yang tadi terasa sangat istimewa, kini seolah berubah menjadi saksi bisu betapa tidak diinginkannya kehadiranku di sini. Aku mengusap perutku yang mulai bergerak aktif. "Maafin Ibu ya, Nak... Ibu belum bisa kasih kamu rumah yang tenang," bisikku sesenggukan.
Malam itu, di kamar yang mewah ini, aku kembali menyadari satu hal: meskipun aku sudah memiliki status sebagai istri, di mata keluarga ini, aku tetaplah noda yang mereka harap bisa segera dihapuskan.
"CUKUP, MBAK! DIAM!"
Suara Mas Dika menggelegar, menghantam dinding-dinding rumah yang sunyi. Aku yang berada di balik pintu tersentak, jantungku seolah berhenti berdetak mendengar nada setinggi itu keluar dari mulut Mas Dika yang biasanya lembut.
"Dika! Jaga bicaramu! Kamu berani membentak Mbakmu sendiri demi perempuan itu?" Suara Ibu Mertua menyambar, melengking karena emosi yang tidak menyangka anak laki-lakinya akan bertindak sejauh itu.
"Dika tidak akan membentak kalau Mbak Diana tidak keterlaluan!" sahut Mas Dika, suaranya kini bergetar karena menahan amarah yang sudah di ubun-ubun. "Kenapa setiap hal kecil yang kami lakukan selalu dianggap salah? Kami hanya membeli baju untuk anak kami. Apa hak Mbak menghina kebutuhan anak Dika?!"
"Hak Mbak adalah menjaga nama baik keluarga ini!" Mbak Diana membalas, suaranya tak kalah tinggi. "Keluarga kita sedang jadi omongan, Dika! Ibu sampai malu mau keluar rumah gara-gara pernikahan kalian yang mendadak. Harusnya kalian itu tahu diri, prihatin! Bukannya malah asyik belanja seolah-olah kalian bangga sudah melakukan dosa besar itu!"
"Dika sudah tanggung jawab! Aira sudah jadi istri sah Dika!" bentak Mas Dika lagi. "Apapun yang terjadi di masa lalu, Dika sudah menebusnya dengan akad. Kalau Mbak Diana dan Ibu terus-terusan menguliti kesalahan kami, kapan rumah ini bisa tenang?"
"Ketenangan?" Ibu Mertua tertawa hambar, suara tawanya terdengar sangat menyakitkan bahkan dari balik dinding. "Kamu bicara soal ketenangan setelah kamu menyeret Ibu ke dalam lubang kehinaan? Kamu lebih memilih membela dia daripada menghargai perasaan Ibu yang membesarkan kamu?"
"Dika tetap sayang sama Ibu, tapi Dika tidak bisa membiarkan Aira dihina terus-menerus. Dia sedang hamil, Bu! Kalau Ibu dan Mbak Diana tidak bisa menerima kehadirannya, tolong... setidaknya jangan siksa batinnya terus!"
"Oalah... jadi sekarang Mbak yang dibilang menyiksa?" Mbak Diana menyela dengan nada sinis. "Lihat saja, Dik. Sebentar lagi dia pasti akan minta kamu mengusir kami satu per satu dari sini supaya dia bisa berkuasa!"
"Mbak Diana kalau cuma datang untuk meracuni pikiran Ibu, lebih baik Mbak pulang sekarang!" usir Mas Dika telak.
Hening. Sunyi yang sangat panjang menyergap ruang tamu itu.
"Bagus... bagus sekali, Dika," suara Ibu Mertua terdengar lirih, penuh dengan nada kecewa yang mendalam. "Kamu mengusir Mbakmu sendiri... Ingat, Dika, surga kamu masih ada di telapak kaki Ibu, bukan di bawah kaki perempuan yang sudah merusak moralmu itu."
Suara langkah kaki yang tergesa menjauh terdengar, disusul suara pintu depan yang dibanting keras.
Rumah megah itu kembali ditelan kesunyian yang mencekam. Tak lama, aku mendengar langkah kaki berat menaiki tangga. Pintu kamarku terbuka, menampakkan Mas Dika dengan wajah yang sangat layu dan berantakan.
Ia menatapku yang masih bersimpuh di lantai, lalu segera menghampiri dan memelukku tanpa kata. Tubuhnya gemetar. Di tengah keheningan kamar, aku menyadari bahwa kemenangan Mas Dika dalam perdebatan tadi adalah kemenangan yang pahit. Ia berhasil membelaku, tapi ia baru saja memperlebar jurang antara dirinya dan keluarganya sendiri.