Dikira hoki dapet kontrakan 500rb. Ternyata isinya kuntilanak nagih utang nyawa.
Bima kuli miskin terpaksa "kawin" sama Sumi demi nyawanya. Kirain lunas?
SEASON 2 DIMULAI: Bakri penghuni baru masuk. Nyawa jadi DP kontrakan.
Berani baca jam 12 malam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maulana Alhaeri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: 4 Pembunuh Asli
Hujan deras mengguyur Jakarta malam itu. Bima duduk bersila di lantai kamar kosnya yang sempit. Di depannya, 4 lembar foto tersebar di atas koran bekas. Spidol merah melingkari wajah Pak RT, Rina, Dimas, dan Om Harto.
"Bukan cuma 1 pembunuh," gumam Bima sambil nyeruput kopi yang udah dingin. Jarinya ngetuk-ngetuk foto Pak RT. "Ada 4. Dan mereka kerja sama."
Jendela kamarnya tiba-tiba digedor keras dari luar. Bima kaget. Suara serak Pak RT terdengar di balik pintu, "Bima... Bapak tau kamu udah nemuin semuanya. Buka pintunya, Nak. Kita ngobrol baik-baik."
Tangan Bima gemeter meraih cutter di meja. Malam ini, nyawanya yang jadi taruhan.Bima mundur 2 langkah dari pintu. Napasnya memburu. Otaknya muter cepet nginget-nginget semua bukti yang dia kumpulin seminggu terakhir.
Pertama: Om Harto. Tukang kebon korban yang mukanya selalu nunduk tiap lewat. Semua orang ngira dia cupu. Padahal 3 tahun lalu, anak gadis Om Harto mati tenggelam pas banjir. Banjir yang harusnya bisa dicegah kalo dana normalisasi sungai gak dikorupsi korban.
Bima nemuin bungkus racun tikus kosong di tong sampah belakang rumah Om Harto. Jenisnya sama kayak hasil lab forensik dari sisa kopi korban. "Air kopi dicampur racun," bisik Bima. "Diminum korban pas sore, matinya malem. Alibi Om Harto kuat karena dia udah pulang jam 5."
Gedorku di pintu makin kencang. "Bima! Bapak hitung sampe 3!" Gedorku di pintu makin kencang. "Bima! Bapak hitung sampe 3!"
Keringat dingin netes di pelipis Bima. Dia gak peduliin Pak RT. Otaknya lanjut muter ke foto kedua.
Kedua: Rina. Istri muda korban yang nikahnya baru 6 bulan. Umur 24, selisih 30 tahun sama korban. Cantik, modis, tapi tatapan matanya kosong tiap difoto bareng suaminya.
"Duit," desis Bima. "Motifnya cuma duit."
Seminggu sebelum korban mati, polis asuransi jiwa 2M atas nama Rina baru aja aktif. Belum lagi warisan rumah, mobil, sama deposito. Tapi Rina gak sebodoh itu buat ngeracun langsung. Dia main cantik.
Bima dapet rekaman CCTV parkiran mall. Malem sebelum korban kecelakaan, Rina ke bengkel langganan. Bukan servis rutin. Dia minta mekanik "cek rem" mobil korban yang besoknya bakal dipake ke kantor. Besoknya, mobil itu nyungsep ke jurang karena rem blong.
"Dia ngelepas selang rem," Bima ngepal tangan. "Dan dia punya alibi. Dia lagi arisan pas kejadian."Gedorku di pintu makin kencang. "Bima! Bapak hitung sampe 3!""BRAK!"
Pintu kos Bima jebol diterjang tendangan. Pak RT masuk dengan senyum mengerikan, linggis tergenggam erat di tangan kanannya.
Otak Bima masih muter. Foto ketiga: Dimas. Sekretaris korban yang diam-diam cinta mati ke Rina. Ditolak Rina karena Rina pilih harta. Cemburu buta bikin Dimas nekat. Dia nusuk korban di kantor, jam 9 malam pas sepi. Cutter dengan sidik jarinya jadi saksi.
"Satu lagi, Nak," Pak RT udah di depan Bima. Linggis diangkat tinggi. "Siapa dalangnya?"
Jantung Bima berhenti sedetik. Dia natap foto keempat. Foto Pak RT sendiri. "Bapak..." suara Bima bergetar. "Bapak yang bisikin Om Harto buat balas dendam. Bapak yang kasih ide Rina buat rusakin rem. Bapak yang manfaatin cintanya Dimas. Tanah korban... bapak mau buat apartemen kan?"
Pak RT ketawa. Dingin. "Pintar. Sayangnya orang pintar umurnya pendek."takut takut takut takut takut takut takut takut