Satu komentar mengubah hidup Dr. Briella Zamora dalam semalam.
Berniat menghancurkan reputasi mantan kekasihnya, Lexington Valerio—Briella justru terjebak dalam skandal yang mengancam Dirinya Sendiri.
"Kau tahu apa yang paling lucu, Lex? Aku menghabiskan waktu untuk memperbaiki wajah orang lain agar terlihat sempurna, hanya agar aku bisa melupakan betapa hancurnya aku karena pria sepertimu."
"Rupanya waktu belum juga merubah kecerobohanmu, Briella Zamora."—Lexington Valerio.
Happy reading 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#33
Matahari pagi menyinari ruang makan penthouse Valerio dengan lembut, namun suasana di sana terasa jauh lebih hangat dari biasanya.
Lexington duduk menyesap kopi hitamnya, sementara matanya tidak lepas dari sosok Briella yang sedang menghabiskan sereal gandumnya dengan senyum yang tidak luntur sejak tadi.
Ada yang beda. Lexington, dengan ketajaman insting seorang profesor, merasakannya. Briella tampak terlalu... bercahaya? Untuk pertama kalinya, setelah sarapan, ia tidak mengeluh tentang mual pagi hari.
Sebaliknya, ia menghampiri Lexington dan mencium pelipis suaminya dengan lembut, lalu beralih merapikan kerah kemeja suaminya yang sebenarnya sudah sempurna.
Hadiyan, yang sudah berdiri di dekat pintu masuk untuk menjemput Lexington ke kampus, hanya bisa mengerjapkan mata. Ia merasa seperti melihat drama romantis pagi hari yang tidak ada habisnya.
"Ada yang ingin kamu mau, Honey?" tanya Lexington akhirnya, tidak tahan dengan sikap manis istrinya yang penuh rahasia. "Es batu lagi? Keju? Stroberi? Atau sesuatu yang lebih spesifik?"
Briella tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru berdiri, menjauh sedikit, lalu memutar kecil tubuhnya. Ia mengenakan dress sopan berwarna pastel yang membuatnya tampak seperti remaja usia 20 tahun yang segar dan ceria.
"Coba tebak apa yang ingin aku mau hari ini," ucapnya manja.
Lexington bangkit dari kursinya, berjalan mendekat, lalu memeluk pinggang istrinya dengan protektif. Ia memberikan satu kecupan lembut di bibir Briella.
"Katakan, Sayang. Aku tidak pernah tahu isi hatimu sepenuhnya. Aku ingin menebak, namun aku takut salah tebak dan mengecewakanmu."
"Baiklah..." jawab Briella, matanya berbinar nakal. Ia memberikan satu kecupan singkat di bibir Lexington. "Karena kamu sudah Berhasil menebak... aku ingin ikut ke kampus, boleh?"
Di sudut ruangan, Hadiyan bergumam pelan, "Memangnya apa yang ditebak tadi? Ini benar-benar gila."
Lexington sedikit terkejut. "Hanya ke kampus? Tidak ingin ke tempat lain?"
"Aku juga ingin ke kantin kampus. Aku teringat kita sering sarapan bersama dulu saat masih kuliah. Boleh?"
Lexington tersenyum lebar. "Boleh. Tentu saja boleh."
"Tapi Lex..." Hadiyan tiba-tiba menyela, "Jadwal kita pagi ini..."
Lexington menoleh dengan tatapan tajam yang dingin. "Aku tuanmu, Hadiyan."
Hadiyan terdiam seketika. Ia tersenyum kecut, mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Sialan kau, Lex," umpatnya dalam hati sambil berbalik menuju mobil.
Perjalanan menuju kampus terasa lebih menyenangkan bagi Lexington karena ada Briella di sampingnya.
Siang nanti, ia memang harus mengunjungi perusahaan otomotif miliknya, dan Briella sama sekali tidak keberatan asal bisa terus bersama suaminya.
Begitu mobil memasuki area parkir khusus dosen, Lexington dan Hadiyan dikejutkan oleh pemandangan di koridor.
Late Vera, asisten yang baru saja mengundurkan diri itu, tampak berjalan cepat dari arah berlawanan. Namun, begitu ia melihat Lexington dan Hadiyan, langkahnya yang angkuh mendadak goyah. Ia tampak sengaja menghindari kontak mata dan langsung berbelok ke arah tangga darurat dengan langkah yang masih dipaksakan sombong.
"Kenapa dia?" gumam Lexington heran. Sejak pertemuan terakhir di mana Kensington tiba-tiba muncul dan email pengunduran diri Vera menyusul, Lexington merasa ada sesuatu yang terjadi di balik layar. Namun, ia bersyukur bibit perusak itu segera menghindar dari radarnya.
"Apa itu Vera yang pernah jadi asistenmu?" tanya Briella dengan nada yang sangat manis—terlalu manis hingga membuat bulu kuduk Hadiyan berdiri.
Lexington segera menggandeng tangan istrinya, membimbingnya menuju lift. "Hmm... lupakan dia. Ayo ke ruanganku saja, Sayang. Hadiyan, pesankan makanan yang aman untuk ibu hamil di kantin. Dan jangan lupa susu hamil yang ada di mobil, bawa ke atas."
"Baik, Tuan..." ucap Hadiyan dengan nada pasrah yang dibuat-buat. Briella hanya terkekeh melihat tingkah asisten suaminya itu.
Begitu pintu ruangan tertutup dan kunci otomatis berbunyi klik, Lexington baru saja hendak melepas jasnya saat Briella tiba-tiba berjalan mendekatinya dengan tatapan yang sangat berbeda.
"Aku datang ke sini hanya untuk bercinta, Honey," ucap Briella tanpa basa-basi.
"Hah?" Lexington melongo. "Apa kau bilang?"
"Aku sudah memikirkan ini sejak semalam, Lex. Dan sepertinya berbaring di meja kerja yang keras ini... rasanya akan luar biasa," bisik Briella sambil mengusap permukaan meja jati besar milik Lexington.
"Sayang... apa ini termasuk mengidammu?" tanya Lexington, suaranya mulai serak. "Aku takut asistenku... Jack, atau Hadiyan tiba-tiba masuk..."
"Hadiyan sedang memesan makanan, Lex. Jack sedang cuti. Kau mau kan?" goda Briella. Ia sudah duduk di atas meja kerja, lalu menarik kerah kemeja Lexington hingga suaminya itu berdiri di antara kedua kakinya. "Aku saja yang pimpin hari ini."
Lexington, yang awalnya menolak karena merasa tempat kerja adalah area suci, tiba-tiba merasa pertahanannya runtuh melihat keberanian istrinya. Ia menatap Briella dengan tatapan lapar.
"Kau nakal. Kau benar-benar ingin bercinta di sini?" tanya Lexington memastikan.
"Hmm," jawab Briella dengan gumaman menggoda.
Lexington tiba-tiba mendekatkan bibirnya ke telinga Briella, berbisik dengan suara yang sangat rendah. "Aku pastikan kita selesai dalam sepuluh menit."
Kegilaan itu benar-benar terjadi. Lexington seolah kehilangan akal sehatnya, membiarkan nalurinya mengambil alih. Meskipun ini di ruang kerja, gairah yang meledak-ledak membuat suasana terasa sangat intens.
"Jangan bersuara, Honey... aku khawatir Hadiyan mendengar di luar," bisiknya serak di tengah aktivitas mereka yang panas.
Tepat sepuluh menit kemudian, semuanya berakhir dengan ledakan kepuasan yang luar biasa. Lexington baru saja selesai merapikan diri dan memperbaiki gaun istrinya saat pintu ruangan tiba-tiba terbuka tanpa ketukan.
Itu Kensington, saudara kembarnya.
Kensington berdiri di ambang pintu, menatap mereka berdua dengan tatapan dingin namun penuh arti. "Kau gila... di ruangan suci ini?" tanyanya datar. "Apa kamar di rumah kalian tidak cukup?"
Ini adalah pertemuan pertama Briella dengan Kensington secara langsung. Selama ini, ia hanya mendengar nama Kensington sebagai "berandalan" keluarga Valerio.
Di sekolah menengah hingga kuliah, mereka tidak pernah berada di radar yang sama—Briella adalah anak rumahan, sementara Kensington adalah penguasa jalanan.
"Hey, Brother... kau masuk tepat sepuluh menit," ucap Briella sambil merapikan rambutnya dengan santai.
"Hah?" Kensington melongo, menatap Lexington dengan tatapan tidak percaya. "Kau menghitungnya?"
Lexington berdehem, mencoba mengembalikan wibawanya yang sedikit tercecer. "Untuk apa kau kemari?"
"Apa Late Vera masih mengganggumu?"Tanya Kensington.
"Late Vera? Ulahmu?" tanya Lexington lagi, menyadari sesuatu.
Kensington mengangguk dan memberikan senyum smirk khasnya.
Ternyata, dialah yang membuat Vera ketakutan hingga mengundurkan diri dan menghindar pagi tadi.
"Jangan sampai ada debu di pernikahanmu, Lex. Aku tidak ingin kau gagal sepertiku."
Tanpa menunggu jawaban, Kensington langsung berbalik dan keluar, menutup pintu dengan bunyi dentuman pelan.
"Dia kenapa?" tanya Briella bingung.
Lexington menghela napas, menarik Briella kembali ke dalam pelukannya. "Dia rumit. Abaikan saja dia. Kenapa kau malah perhatian pada kembaranku setelah apa yang kita lakukan tadi?"
Briella tertawa manja, memeluk leher suaminya. "Hanya bertanya, Profesor Posesif. Ayo, mana makananku? Aku lapar."
mana aku bacanya pake nada...
ditambah berada ikut kedalam alurnya