NovelToon NovelToon
Dihina Pengangguran Oleh Keluarga Suami, Aku Wanita Kaya Raya!

Dihina Pengangguran Oleh Keluarga Suami, Aku Wanita Kaya Raya!

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi
Popularitas:49k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Rumah tangga Kartika dan Deva sudah 10 tahun dan berjalan baik, walau sering mendapatkan banyak rongrongan dari keluarga Deva, entah itu orang tuanya atau adik-adiknya yang suka bergantung kepadanya.

“Kartika, mulai sekarang kebutuhan rumah tangga kita bagi dua. Karena ibu ingin membeli rumah baru untuk Gavin, setoran tiap bulannya tiga juta setengah,” kata Deva di tengah-tengah kumpulan keluarganya.

Mendengar itu Kartika menahan amarah dan kesal. Gaji Deva sebanyak 25 juta sebagian besar digunakan untuk keluarganya.

“Makanya kamu harus bekerja, jangan cuma mengandalkan uang anakku saja!” ucap Bu Hania, mertuanya.

Karena rasa cinta Kartika yang begitu besar kepada Deva, dia sampai meninggalkan rumah dan harta kekayaannya. Dia memilih menjadi ibu rumah tangga agar bisa mengurus suami, anak, dan rumah.

“Oke! Kalau begitu, maka mulai sekarang aku pun akan minta bayaran untuk semua hal yang aku kerjakan di rumah,” balas Kartika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Di luar, Deva terlihat ragu. Pria itu duduk sambil menunduk beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan, “Aku rasa Kartika enggak bakal setuju, Bu.”

Nada suaranya hati-hati. Seolah Deva sendiri tahu permintaan itu keterlaluan. 

Lalu, tanpa sengaja pandangan Deva jatuh ke kedua tangan ibunya. Di pergelangan tangan kanan dan kiri Bu Hania melingkar gelang emas cukup besar. Kilau emasnya bahkan terlihat jelas terkena cahaya lampu teras. Deva menatap gelang itu beberapa saat sebelum akhirnya menarik napas panjang.

“Kalau gitu kenapa enggak jual aja satu gelang Ibu?”

Bu Hania langsung tersentak. Refleks kedua tangannya bergerak cepat bersembunyi di belakang tubuh seperti takut ada yang benar-benar akan mengambil gelangnya saat itu juga.

“Enggak bisa!” tolaknya cepat.

Nada suaranya langsung meninggi. “Ibu susah payah ikut arisan buat beli gelang ini!”

Kartika yang mendengar dari balik pintu langsung tersenyum kecut.

“Ikut arisan? Bukankah uang arisan itu juga dari Deva?”

Setiap bulan Bu Hania menerima enam juta dari anaknya. Tiga juta dipakai untuk cicilan rumah. Tiga juta lagi untuk kebutuhan pribadinya. Entah itu buat belanja kebutuhan pribadi, bayar arisan, atau jalan-jalan. Karena kebutuhan rumah tangga sehari-hari masih ditanggung Pak Dimas dari gajinya sendiri.

Artinya gelang emas itu sebenarnya juga dibeli dari hasil kerja keras Deva. Namun, lucunya saat diminta membantu menyelesaikan masalah, Bu Hania langsung keberatan.

“Kalau dijual belum tentu bisa kebeli lagi,” lanjut Bu Hania sambil menggeleng cepat. Tangannya bahkan masih mengelus gelang itu pelan seperti sedang menjaga barang paling berharga miliknya.

Deva langsung memejamkan mata sebentar. Rahangnya tampak mengeras. Ada emosi yang mulai naik dalam dirinya.

“Aku juga udah enggak punya uang lagi, Bu,” kata Deva kali ini lebih dingin, tidak sehalus tadi. 

Karena untuk pertama kalinya, Deva mulai merasa semuanya tidak adil. Saat menyangkut milik Kartika, ibunya bisa bicara santai seolah tidak masalah. Namun, begitu menyangkut miliknya sendiri langsung ditolak mentah-mentah.

Bu Hania tetap tidak peduli. Wanita itu malah kembali mendesak.

“Kalau begitu pinjam ke kantor!”

Deva langsung diam. Tubuhnya terasa makin berat.

“Kalau enggak bisa, pinjam ke bank!” lanjut Bu Hania cepat seolah itu hal biasa.

Mulut Deva sampai terbuka tanpa suara. Dadanya mendadak sesak. Kenapa dirinya yang malah disuruh buat ngutang ke yang lain. Padahal tabungan yang dikumpulkannya bertahun-tahun sudah habis diberikan kepadanya.

Deva mengusap wajahnya kasar lalu memijat pelipis kuat-kuat. Kepalanya mulai nyut-nyutan. Ia lelah, benar-benar lelah.

Selama ini semua orang hanya datang padanya saat butuh bantuan. Tidak ada yang pernah bertanya apakah dirinya sanggup atau tidak. Tidak ada yang peduli kalau dirinya juga punya beban hidup sendiri. Deva benar-benar merasa lelah menjadi tulang punggung semua orang.

Deva merasa dadanya mendadak terasa makin sesak. Selama ini ia bekerja mati-matian supaya hidupnya tenang. Bukan untuk dikejar utang sana-sini.

“Bu, Aku juga punya keluarga.” Suara Deva terdengar berat sekali

Namun, Bu Hania langsung mendecak tidak suka. “Ya masa kamu tega lihat adik kamu malu orang lain. Bagaimana kalau utang itu disebarluaskan sama WO?”

Kalimat itu membuat Deva memejamkan mata. Dia ingin meluapkan kemarahannya, namun teringat kalau wanita dihadapannya itu adalah orang yang sudah mengandung, melahirkan, menyusui, dan membesarkannya.

Di balik pintu dapur, Kartika menggigit bibir bawahnya keras. Tangannya masih memegang kalung di lehernya. Kini ia benar-benar sadar satu hal. Selama ini bukan karena keluarga Deva tidak mampu. Mereka hanya terlalu terbiasa menjadikan Deva tempat bergantung.

Dan yang paling menyakitkan, mereka melakukan itu tanpa pernah memikirkan bagaimana keadaan rumah tangga anaknya sendiri.

Malam itu rumah terasa sangat sunyi. Bukan sunyi yang menenangkan. Melainkan sunyi yang membuat dada terasa sesak.

Televisi menyala di ruang tengah, menampilkan acara kartun favorit Kaivan. Namun, suara dari televisi terdengar kecil karena volume sengaja dikecilkan.

Kalingga dan Kaivan duduk anteng di karpet. Biasanya dua anak itu ribut berebut remote atau saling mengejar sambil tertawa. Namun, malam ini mereka hanya diam menonton. Seolah ikut merasakan suasana hati kedua orang tuanya yang sedang tidak baik-baik saja.

Sementara itu Kartika duduk di sofa dekat jendela sambil menjahit daster rumahnya yang sobek di bagian samping. Kain daster itu sudah terlihat kusam karena terlalu sering dicuci. Beberapa jahitannya bahkan mulai lepas di sana-sini. Namun, Kartika tetap telaten memasukkan benang ke lubang jarum sambil menjahit perlahan.

Deva yang sejak tadi memperhatikan istrinya merasa dadanya makin tidak nyaman. Entah kenapa akhir-akhir ini rumah terasa berbeda.

Kartika memang masih bicara padanya. Masih melakukan tugasnya sebagai ibu. Namun, kehangatan yang biasanya selalu ada perlahan terasa berkurang. Dan itu membuat Deva gelisah. Pria itu akhirnya mendekat lalu duduk di samping istrinya.

“Sayang ...,” panggil Deva pelan.

Kartika tidak menoleh. Jarumnya masih bergerak naik turun memperbaiki jahitan yang terbuka.

“Kita jalan-jalan keluar, yuk,” ajak Deva mencoba mencairkan suasana. “Biar enggak bosan di rumah terus.”

Kartika tersenyum tipis tanpa benar-benar terlihat senang. “Enggak, ah, Mas! Aku lagi jahit bajuku yang udah sobek-sobek.”

Kalimat itu terdengar biasa. Namun, entah kenapa terasa seperti sindiran halus yang menusuk dada Deva. Pria itu menatap daster yang dipakai Kartika. Baru sekarang ia sadar kalau pakaian rumah istrinya memang sudah lama. Warnanya sudah memudar dan kainnya tipis karena terlalu sering dipakai. Di beberapa bagian mulai terlihat rusak.

Deva langsung berkata cepat, “Kalau udah rusak beli baru aja lagi.”

Kartika akhirnya berhenti menjahit. Wanita itu mengangkat wajah perlahan, lalu menatap lurus suaminya. Tatapannya tenang, namun justru itu yang membuat Deva makin tidak nyaman.

“Beli baju baru itu pakai uang apa, Mas?” tanya Kartika pelan tetapi tajam.

Deva langsung diam.

Kartika kembali melanjutkan jahitannya sambil berkata lirih, “Sedangkan uang bulanan yang Mas kasih aja kadang masih kurang.”

Kalimat itu langsung membuat suasana makin terasa sesak. Deva menelan ludah pelan. Ia tahu Kartika tidak berbohong. Selama ini istrinya memang tidak pernah banyak menuntut. 

Kalau uang kurang, Kartika lebih sering diam. Mengurangi pengeluaran sendiri. Menahan keinginan pribadi. Bahkan, diam-diam memakai uang tabungan pribadinya untuk menutupi kebutuhan rumah tangga.

Kartika tidak pernah mengeluh. Tidak pernah meminta tambahan uang. Karena ia tahu bagaimana keluarganya Deva. Kalau sampai mereka tahu Kartika punya simpanan uang sendiri, mereka pasti akan mulai bergantung juga padanya. Persis seperti yang mereka lakukan kepada Deva. Dan memikirkan itu membuat dada Kartika terasa lelah.

Deva menunduk pelan. Ada rasa sakit yang perlahan merambat di dadanya. Ia bekerja setiap hari, pulang menjelang malam. Kadang suka lembur hampir tiap minggunya. Namun ternyata, membelikan baju untuk istrinya sendiri saja ia tidak mampu.

“Maafin aku ya, Yang,” kata Deva terdengar lirih sekali. “Nanti kalau aku punya uang yang pertama aku beli itu daster buat kamu.”

Gerakan tangan Kartika langsung berhenti. Jarum di tangannya menggantung beberapa detik. Ia perlahan menoleh menatap suaminya. 

Biasanya Deva memang membelikannya pakaian setahun sekali. Itu pun sambil berkata, “Bajumu, kan, masih bagus.”

Kartika tidak pernah protes. Karena baginya kebutuhan anak-anak lebih penting. Namun, entah kenapa malam ini mendengar ucapan Deva justru membuat hatinya terasa nyeri.

Sebelum Kartika sempat bicara, tiba-tiba suara kecil Kalingga terdengar dari arah karpet.

“Mama ....”

Kartika dan Deva langsung menoleh bersamaan.

Anak laki-laki itu bangkit lalu berjalan mendekati ibunya sambil memeluk celengan kecil berbentuk robot. “Kakak punya uang tabungan di celengan. Pakai aja buat beli baju Mama,” ucap Kalingga, polos.

Seketika tenggorokan Kartika terasa tercekat. Anak itu lalu menyerahkan celengan berbentuk ayam jago dengan wajah sungguh-sungguh.

“Mama jangan pakai baju sobek terus,” lanjut Kalingga pelan.

Air mata Kartika langsung jatuh tanpa bisa ditahan. Dadanya terasa hangat sekaligus nyeri. Anaknya yang masih kecil saja memikirkan dirinya. Sementara, selama ini ia terlalu sibuk mengalah demi semua orang. Kartika langsung menarik Kalingga ke dalam pelukannya erat-erat.

“Enggak usah, Kak. Tabungan Kakak buat sekolah nanti,” ucap Kartika dengan suara bergetar.

Namun, Kalingga malah menggeleng kuat. “Gapapa, Ma. Pakai saja.”

Anak itu mengusap air mata ibunya dengan tangan kecilnya. “Aku enggak suka lihat Mama nangis.”

Kalimat sederhana itu, tapi berhasil menghancurkan pertahanan hati Kartika malam itu.

Sementara di sisi lain, Deva hanya bisa diam. Dadanya seperti dihantam sesuatu dengan keras. Ia yang bekerja. Ia yang punya penghasilan besar. Namun, justru anak kecil mereka yang ingin membelikan baju untuk ibunya. Deva benar-benar merasa dirinya gagal sebagai suami.

1
Nar Sih
waah ..lucu yaa ,ank kecil jamn sekarang udah pinter main cium,,dan pasti kalingga jdi idola☺️
Ma Em
Kalingga meren msh kecil sdh banyak cewe yg suka apalagi nanti kalau sdh remaja wah bisa ngantri tuh cewe mau jadi pacar Kalingga eh Kaivan ikut juga mau dicium 😄😄😄.
Ita rahmawati
gpp loh kan dicium bkn dipukul 🤦🤣
Baekhyuneeisti
semangat thor💪
Mardiana
wahhh calon bintang sekolah nih 😀😀
Kar Genjreng
Hahah Keren Kalingga di hari pertama masuk sekolah baru teman baru semua serba baru,,, sekarang menjadi pria tampan dan dapat ciuman dari gadis cantik,,,anak anak ya duhhh,,,kalingga lain kali kasih tau saja Kalingga ga mau di cium masih kecil terkecuali Mama Om dan Tante nya,,, kalau sama gadis kecil ga mau nah kalau masih ganggu lapor guru jangan dorong 👍👍
Nar Sih: pasti jadi idola kalingga nya ya kak
total 3 replies
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Lingga baru masuk juga sudah punya fans🤣🤣
Hary Nengsih
ada 2 aja masi kecil dh ada ratu sklah
𝑸𝒖𝒊𝒏𝒂
plot twis nya ank perempuan yg nyium kalingga trnyata ank dri mantan'y kartika🤣🤣
Aisyah Virendra
bisa jadi kisah selanjutnya nih 🤣🤣🤣🤣Kalingga dan Arunaaa 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
cerita baru yg lebih baik dan menarik drpd kisah orang tuanya 🤝
Noor hidayati
anak SD sudah berani mencium lawan jenisnya,ini yang nyosor cewek lagi
Marlina
wow kelakuan anak jaman now 🤣🤣
carenina
syukurlah tdk di bully cuma dicium 🤣🤣...semoga kalingga kerasan ya tinggal sama mama dr pd tinggal dit4 papa byk lintah...nanti papa nya diajak tinggal bersama kalau sdh pintar🤣
Rahma Inayah
woww amazing ank sd cewek pula SDH berani cium pria dpn org umum ..gak ada malunya .bnr Kalingga hrs. BS bela diri.hr pertma sekolah Kalingga SDH ada penggemar SDH berani cium...cium pula ..Mash kecil SDH JD idola gmn besar nnt pasti JD rebutan cewek2 secara bibit nya unggul Deva ganteng dan Kartika cantik ya jls ngasilin ank yg ganteng
Eka Haslinda
gue kira napa thor.. ternyata Kalingga dah punya fans.. ratu sekolah pula 🤣🤣🤣
Fa Yun
🤣🤣 Kalingga
Dartihuti
🤣🤣🤭🤭🤭main cium aja sapa yg gk kesel ya Ngga...duuuh anak sekarang bener deh🤗
Oma Gavin
wkwkwk baru pertama masuk sekolah sudah jadi primadona gimana Kalingga harusnya bangga fing dicium ratu sekolah 😂
🌸 Sunshine 🌸: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
tinimawon
ayo deva cepat sadar jangan lembek jadi laki²
Perempuan
nich orang masih punya perasaan gak yaa? heran dech
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!