Siapa sangka, Playboy yang paling ditakuti di sekolah itu ternyata hanyalah pria patah hati. Pria yang menyimpan dendam selama tujuh tahun karena ditinggal pergi oleh sahabat masa kecilnya bernama Melody.
Selama bertahun-tahun ia sangat membenci wanita, dan menjadikan mereka hanya sebagai pelampiasan.
Hingga takdir mempertemukannya kembali dengan gadis yang selama ini ia benci sekaligus rindukan. Gadis itu kembali dengan membawa cerita pahit dari panti asuhan dan kehidupan jalanan.
Dan sialnya ... gadis itu ternyata saudara tiri dari sahabatnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kita Tak Lagi Sama
Gadis itu mengangkat tangan pelan. Adden melihat jaket yang dikenakannya sudah lusuh dan pudar, ada noda di bagian lengan.
Matanya turun melihat sepasang sepatu Converse tua yang sudah terlihat sangat tua. Tali sepatunya kotor, dan kaus kakinya terlihat sudah sering dicuci sampai warnanya pucat.
"Ih, jijik," celetuk Luccy di sebelahnya dengan suara keras. "Itu siapa sih?"
Messy langsung menyurut di kursinya mendengar komentar itu.
"Ada," jawab gadis itu. Suaranya lembut, tapi entah kenapa langsung membuat darah Adden berdesir cepat.
"Kalian berdua saudaraan ya?" tanya Bu Rirris pada Messy, lalu kembali menatap gadis itu. "Nak, tolong buka hoodienya di kelas saya. Saya ingin tahu dengan siapa saya bicara."
Jari-jemari gadis itu menarik turun penutup kepalanya. Rambut pirang gelap itu terurai, sama seperti yang Adden ingat di masa kecil dulu, hanya sekarang dikepang dengan ujung yang diselipkan ke dalam jaket sehingga tak terlihat panjangnya.
Wajahnya masih sama. Kulit sawo matang, hidung mungil, dan bibir merah alami. Dia tak akan pernah lupa warna bibir itu. Merah, tidak terlalu gelap, tidak terlalu mencolok, benar-benar sempurna.
Warna yang cewek lain harus pakai lipstik lalu tepuk-tepuk dengan tisu berkali-kali untuk mendapatkannya. Tapi pada Melody, itu semua tidak perlu repot repot.
"Gitu kan lebih enak. Makasih, Melody. Aku tadi nanya, kamu sama Messy itu saudara?"
Melody tetap menatap lurus ke depan, tapi semua mata di kelas kini tertuju padanya. Mereka penasaran dan menunggu jawaban. Para tukang gosip sudah siap menyebarkan berita kalau salah satu cowok populer punya saudara yang kumel.
"Nggak."
Semua perhatian langsung beralih ke Messy.
"Nggak," ulangnya lagi. "Kita bukan saudara. Cuma kebetulan nama belakangnya sama."
"Oh, gitu ya. Maaf ya." Mata Bu Rirris kembali menatap Melody. "Melody, tolong mulai tulis ya? Ibu lihat meja kamu kosong, nggak ada kertas sama pulpen."
Beberapa orang terkikik, termasuk Jojo, Luccy, dan Mihoy.
Messy membuka tasnya agak kasar, lalu mengambil selembar kertas dan pulpen dengan wajah kesal. Dia berdiri, berjalan ke meja Melody, dan meletakkan barang-barang itu di sana.
"Jangan bikin malu aku. Besok-besok siapin sendiri," bisiknya pelan.
Mata Melody menatap tajam ke arah Messy. Adden bisa melihat sudut bibir cewek itu mengeras menahan emosi, seakan mau menggeram.
Luccy tertawa. "Ah elah, Messy. Sepatu dia aja udah cukup bikin malu satu kelas, kali. Itu sepatu apaan sih?"
Semua orang tertawa mendengar ledekan itu. "Emang dia banyak banget hal yang harus ditutup-tutupi, jadi bukan urusan kamu juga," celetuk Luccy lagi.
"Yaudah, udah jangan diganggu," Bu Rirris menengahi. Adden sama sekali tak merasa bersalah. Cewek itu emang pantas dapat perlakuan begini. "Adden Sinawan."
Mendengar namanya dipanggil, Melody langsung menoleh dengan mata terbelalak. Itu saja sudah cukup buat Adden.
Pengakuan.
Cewek itu ingat padanya.
Mata mereka bertemu, dan Adden menatapnya datar. Reaksi Melody tampak kaget, bibirnya sedikit terbuka, alisnya berkerut halus.
"Sini," seru Adden tanpa mengalihkan pandangan sedetik pun. Tatapannya bukan tatapan ramah, tapi penuh amarah.
Dia sama sekali tak senang Melody ada di sini, dan cewek itu harus cepat sadar kalau mereka harus pura-pura tak kenal.
Adden akan pastikan hal itu. Hidup Melody di sini tak akan mudah.
Sosok sahabat terbaik sudah dia buang jauh-jauh sejak Melody meninggalkan surat bodoh itu waktu mereka kecil. Saat Adden cerita semua rahasia dan mimpi yang tak pernah dia ceritakan ke siapa pun.
Adden bodoh karena percaya, mengira persahabatan itu nyata. Padahal saat itu Melody adalah segalanya buat dia. Syukurlah Adden tak pernah mengungkapkan perasaan yang sebenarnya. Cuma pernah bilang kalau Melody cantik dan spesial.
Sepuluh menit kemudian, Bu Rirris berdeham. "Baiklah, dua puluh menit ke depan Ibu akan panggil beberapa orang buat bacain tulisan kalian. Ini masuk nilai keaktifan."
"Tugas mingguan sudah Ibu tulis di papan. Dikumpulin hari Jumat, nggak ada toleransi."
Bu Rirris mulai memanggil nama satu per satu. Adden yakin sebentar lagi giliran Melody, soalnya dia murid baru. Adden jadi penasaran ingin tahu cewek itu kemana saja liburan kemarin. Sebenarnya tak penting sih, tapi entah kenapa dia ingin tahu kabar Melody belakangan ini.
"Mungkin liburannya nyari makan di tong sampah," gumam Mihoy ke Luccy. Adden tahu mereka mengejek penampilan Melody yang pakai sweater lusuh dan sepatu kotor, berbeda sekali sama seragam baru yang dipakai orang lain.
Adden melirik diam-diam. Matanya tanpa sengaja tertuju pada bagian paha cewek itu, dan tiba-tiba dia membayangkan bagaimana tekstur kulitnya. Dia juga sadar kalau Melody sering menjilat bibirnya sesekali.
Satu hal yang harus diakui Adden, walaupun baju dan sepatunya jelek, Melody tetap kelihatan seksi. Pandangan itu membuat Adden bertanya-tanya bagaimana bentuk tubuh aslinya di balik sweater besar yang dia pakai.
"Melody, tolong bacain apa yang kamu tulis tentang liburanmu."
Adden mengangkat alis melihat Messy yang tiba-tiba terlihat gelisah di kursinya. Cowok itu bahkan mengusap hidungnya dengan jari, kelihatan bingung atau kesal sendiri. Adden bertanya-tanya ada apa dengan dia.
Melody terdiam. Kagetnya mungkin sudah berlalu, kenyataan kalau mereka sekarang berada di ruangan yang sama setelah bertahun-tahun hilang tanpa kabar.
Gombalan maut yang dulu Adden berikan waktu mereka main di dekat pagar rumah ... janji-janji yang mereka ucapkan ... ternyata semua bohong. Adden benci karena diperlakukan seperti sampah tanpa alasan jelas.
Mungkin orang lain menganggapnya berlebihan, cuma soal surat kecil. Tapi buat Adden, lebih dari itu. Melody adalah satu-satunya hal berharga yang dia punya di masa lalu.
Seluruh kelas menunggu. Melody mengangkat wajah, menatap lurus ke depan tapi tetap diam.
"Kamu budek apa gimana?" celetuk Adden dengan nada ketus, membuat Melody langsung menatapnya tajam. Adden menunjuk ke arah Bu Rirris. "Guru nyuruh maju. Kamu pikir kamu siapa? Kalau orang lain harus ngerjain, kamu juga harus."
Melody menggigit bibirnya. Kakinya terlihat menendang-nendang kursi di bawah meja, jelas dia kesal ditanya begitu. Adden malah mengangkat alis menantang.
Dengan mendengus, Melody berdiri dan berjalan ke depan menyodorkan kertasnya. Bu Rirris membaca, sementara Melody kembali ke tempat duduk, sempat bersitatap dengan Barbarra si cowok sok asik di bangku depan. Adden memperhatikan cara Barbarra menatap Melody dari atas sampai bawah.
Melody duduk lagi. Saat Bu Rirris mengangkat wajah dari kertas itu, Adden melihat mata guru itu terlihat kaget dan terfokus tajam. Rasa penasaran Adden makin memuncak.
Dia ingin tahu apa yang ditulis cewek itu. Ingin lihat gaya bahasanya berubah atau tidak dibanding surat yang dia terima bertahun lalu. Adden sadar pikirannya agak nyeleneh, tapi memang begini adanya. Dingin dan kepo.
Tapi seperti biasa, momen yang pas tak pernah ada buat dia. Tepat saat itu juga, bel sekolah berbunyi nyaring.
Sialan.