NovelToon NovelToon
KEMBANG DESA SANG CEO

KEMBANG DESA SANG CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Persaingan Mafia / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Rumah Tangga
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lada Jingga

Kemuning selalu tahu hidupnya murah di mata keluarga sendiri. Sejak kedua orang tuanya meninggal, ia hanya dianggap beban—dipaksa menjadi pembantu di rumah bibinya, tidur di lantai dingin, dan menahan sakit demi membesarkan adik kecilnya seorang diri.

Suatu malam, bibinya menyerahkan Kemuning kepada seorang tuan tanah untuk melunasi hutang judi. Tanpa persetujuan. Tanpa belas kasihan.

Semua orang mengira nasib Kemuning selesai saat mobil hitam itu membawanya pergi dari desa. Tapi mereka salah, karena pria yang menunggunya di kota jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan; dingin, kaya, tampan, dan memandang Kemuning seolah gadis desa itu adalah miliknya.

Kemuning membenci cara pria itu mendekat terlalu dekat, cara tatapannya selalu membuat napasnya kacau… dan cara tubuhnya gemetar setiap kali pria itu menyentuhnya hanya untuk hal-hal kecil yang seharusnya biasa saja.

Namun yang paling menakutkan bukanlah ketertarikan itu.
Melainkan rahasia besar tentang alasan Kemuning sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lada Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 - Milik Siapa

Arkana berdiri tepat di depan Kemuning di pantry kantor yang sempit dan sunyi. Tatapan pria itu begitu tajam sampai membuat udara terasa lebih berat. Kemuning masih kesulitan mengatur napas setelah menangis diam-diam tadi. Dan untuk pertama kalinya, ia melihat kemarahan nyata di mata Arkana Mahendra.

Kemuning buru-buru mengusap matanya panik. “Aku tidak apa-apa...” Suaranya terdengar kecil dan tidak meyakinkan.

Namun Arkana langsung tahu gadis itu berbohong. “Matamu merah.” Suara Arkana rendah dan dingin. “Aku tidak buta.” Kalimat itu langsung membuat Kemuning menunduk lagi.

Suasana pantry mendadak terasa terlalu sempit sekarang. Aura Arkana memenuhi ruangan sampai Kemuning sulit bernapas normal. Pria itu berdiri terlalu dekat dan terlalu serius saat menatapnya.

Membuat jantung Kemuning kembali berdebar kacau.

“Aku cuma...” Kemuning menggigit bibir pelan sambil meremas ujung dressnya gugup. “Tadi aku dengar beberapa orang bicara...” Ia berhenti sebelum kalimatnya selesai.

Arkana tetap diam menunggu. Tatapan matanya tidak lepas sedikit pun dari wajah Kemuning. Dan itu justru membuat gadis tersebut semakin gugup. Ia selalu merasa kecil di depan pria itu.

“Mereka tidak salah...” Kemuning akhirnya berbisik lirih. “Aku memang tidak pantas berada di sini.” Kalimat itu membuat ekspresi Arkana langsung berubah lebih gelap.

Rahang pria itu menegang keras. Ada sesuatu dalam dirinya yang langsung terusik mendengar ucapan tersebut. Arkana mulai membenci siapa pun yang membuat Kemuning terus merasa rendah. Terutama karena gadis itu selalu menyalahkan dirinya sendiri.

Padahal sejak awal, Kemuning tidak pernah meminta apa pun. Ia hanya terus mencoba bertahan di dunia yang terasa asing baginya. Dan anehnya, Arkana tidak tahan melihat Kemuning terluka seperti ini. Perasaan itu semakin sulit diabaikan sekarang.

Arkana melangkah mendekat perlahan.

Kemuning refleks menahan napas saat pria itu berhenti sangat dekat di depannya. Tatapan mata mereka bertemu dalam jarak yang terlalu intim. Dan jantung Kemuning langsung kehilangan ritme lagi.

“Mulai sekarang...” Suara Arkana terdengar rendah dan dalam. “Jangan dengarkan ucapan siapa pun selain aku.” Nada possessive dalam kalimat itu membuat tubuh Kemuning membeku. Cara Arkana menatapnya terlalu serius. Seolah pria itu benar-benar tidak memberi ruang bagi pendapat orang lain tentang dirinya.

Dan untuk sesaat, Kemuning merasa seluruh dunia di sekitarnya menghilang. Yang tersisa hanya Arkana dan tatapan tajamnya. Kemuning bahkan lupa cara bernapas normal. Jantungnya berdetak sangat keras sampai terasa menyakitkan.

Ia tidak mengerti kenapa ucapan sederhana itu terasa begitu berbahaya baginya. Dan itu justru membuatnya takut. Tepat ketika suasana mulai terlalu dekat, pintu pantry terbuka tiba-tiba.

Selvina Adriani berdiri di ambang pintu sambil memegang beberapa dokumen kerja. Tatapan wanita itu langsung berhenti pada posisi Arkana dan Kemuning yang terlalu dekat. Dan udara langsung berubah tegang.

Selvina tetap mempertahankan senyum profesional di wajah cantiknya. Namun matanya jelas berubah dingin saat melihat Kemuning.

“Maaf mengganggu momen pribadi kalian.” Nada suaranya terdengar manis tetapi menusuk.

Kemuning langsung mundur panik beberapa langkah. Wajahnya memerah karena malu dan salah tingkah.

“A-aku bukan...” Namun kata-katanya langsung hilang sendiri. Sedangkan Arkana bahkan tidak bergerak sedikit pun.

Pria itu hanya menoleh sekilas ke arah Selvina dengan ekspresi datar. “Ada perlu?” Jawaban singkat itu justru membuat wajah Selvina berubah tipis. Karena Arkana sama sekali tidak menjelaskan apa pun tentang Kemuning. Tidak menyangkal kedekatan mereka. Dan yang paling mengganggu, pria itu terlihat tidak peduli pada penilaian orang lain. Hal yang sangat jarang terjadi pada Arkana Mahendra.

Selvina menggenggam dokumen di tangannya sedikit lebih erat. “Ada laporan meeting yang harus Anda tanda tangani.” Nada suaranya tetap profesional meski rahangnya menegang samar. Tatapannya kembali melirik Kemuning sebentar.

Kemuning langsung menunduk tidak nyaman.

Ia bisa merasakan bahwa kehadirannya mulai menjadi bahan gosip di kantor ini. Dan semua itu membuatnya semakin merasa bersalah. Mungkin dirinya memang hanya membawa masalah bagi Arkana.

Beberapa jam setelah kejadian di pantry, suasana kantor terasa berubah. Beberapa pegawai mulai menunduk gugup setiap kali Arkana lewat. Bisikan-bisikan kecil terdengar di berbagai sudut kantor. Semua orang sadar ada sesuatu yang berbeda pada sikap Arkana terhadap Kemuning.

Kemuning sendiri jadi makin tidak tenang. Ia terus merasa semua orang sedang memperhatikannya diam-diam. Setiap tatapan membuat dadanya sesak dan malu. Dan itu tidak luput dari perhatian Arkana.

Menjelang sore, Arkana akhirnya menutup laptopnya dengan wajah dingin.“Kita pulang.”

Kemuning langsung mengangkat kepala kaget. “Sekarang?”

“Aku sudah selesai.” Jawaban Arkana singkat tanpa penjelasan lebih jauh. Namun sebenarnya pria itu sudah muak melihat Kemuning terus gelisah di kantor. Dan itu membuat suasana hatinya semakin buruk.

Perjalanan menuju parkiran basement berlangsung sunyi. Arkana berjalan sangat dekat di samping Kemuning sepanjang lorong kantor. Beberapa kali pria itu refleks menahan siku Kemuning saat ada orang lewat terlalu cepat. Gerakan protektif yang kini terasa begitu natural darinya.

Kemuning diam-diam memperhatikan semua itu. Arkana selalu melindunginya tanpa sadar. Mulai dari menarik kursi, membela dirinya, sampai memastikan ia tidak terluka. Dan semua perhatian kecil itu perlahan menghancurkan pertahanannya.

Kenapa Arkana begitu baik padanya? Pertanyaan itu terus muncul di kepala Kemuning sejak tadi. Namun semakin ia memikirkannya, semakin takut dirinya pada jawabannya sendiri. Karena ia mulai terlalu berharap pada pria itu.

Hujan deras kembali turun di luar gedung saat mereka tiba di basement. Suara rintiknya menggema samar di area parkir yang luas dan dingin.

Arkana membuka pintu mobil lebih dulu untuk Kemuning tanpa banyak bicara. Hal kecil yang lagi-lagi membuat jantung Kemuning tidak tenang.

Kemuning buru-buru melangkah mendekati kursi penumpang. Namun heels kecil yang dipakainya sedikit tergelincir karena lantai basah. Tubuhnya langsung kehilangan keseimbangan ke depan. Dan napasnya tercekat panik.

Arkana refleks bergerak cepat menangkap pinggang Kemuning sebelum jatuh. Tubuh gadis itu langsung tertarik kuat ke dada bidang pria tersebut. Jarak wajah mereka kembali terlalu dekat sampai napas keduanya saling bertabrakan. Dan jantung Kemuning langsung kacau lagi.

Tangan Arkana masih melingkar erat di pinggang kecil Kemuning. Tatapan matanya turun perlahan ke wajah gadis itu yang memerah gugup. Rambut panjang Kemuning sedikit basah oleh udara lembap hujan. Dan Arkana mendadak sulit mengalihkan pandangan. Namun kali ini mereka tidak sendirian.

Beberapa meter dari sana, Selvina berdiri membeku di dekat mobilnya sendiri. Tatapan wanita itu penuh ketidakpercayaan sekaligus cemburu yang mulai jelas terlihat. Ia belum pernah melihat Arkana menatap perempuan seperti itu sebelumnya.

Selvina mulai sadar sesuatu yang mengganggu. Arkana benar-benar berubah karena Kemuning. Dan kesadaran itu langsung membuat perasaannya dipenuhi ancaman samar. Tatapan wanita itu perlahan berubah semakin dingin.

Sementara itu, Kemuning masih terlalu gugup untuk menyadari keberadaan Selvina. Ia hanya sadar tubuhnya masih berada dalam pelukan Arkana sekarang. Dan pria itu belum juga melepaskannya. Membuat napasnya semakin tidak stabil.

Arkana menunduk sedikit lebih dekat. Wajahnya berhenti tepat di depan bibir Kemuning yang sedikit terbuka gugup. Lalu suara rendah pria itu terdengar pelan di antara suara hujan. “Berapa kali lagi aku harus menangkapmu, hm?”

Kemuning langsung membeku sepenuhnya. Jantungnya terasa nyaris melompat keluar dari dada. Sementara di kejauhan, tatapan Selvina pada mereka mulai berubah menjadi ancaman nyata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!