Amira membawa Lista masuk ke hidupnya sebagai sepupu dan sahabat. Namun, Lista justru keluar sebagai pencuri suaminya.
Diceraikan saat hamil dengan mahar yang menghina, Amira dipaksa pergi dengan tangan hampa. Tapi mereka lupa satu hal: Amira adalah pemilik takhta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: RAHASIA DUA GARIS MERAH
RAHASIA DUA GARIS MERAH
Sinar matahari sore yang menembus kaca taksi online terasa membakar kulit, namun tubuh Amira justru menggigil kedinginan. Di dalam genggaman tangan kanannya yang berkeringat dingin, batangan plastik putih berukuran kecil itu terasa begitu berat. Dua garis merah di sana seolah menatapnya balik, memberikan sebuah kepastian yang selama tiga tahun ini paling ia dambakan, sekaligus menjadi sebuah teror yang paling ia takuti saat ini.
Ia hamil. Rahim yang pagi tadi dituduh cacat dan kering oleh ibu mertuanya, rahim yang siang tadi dihina tumpul oleh suaminya sendiri di depan belasan karyawan kantor, ternyata sedang mendekap sebuah kehidupan baru.
Amira menyandarkan kepalanya pada kaca mobil yang bergetar. Air matanya sudah mengering, menyisakan jalur putih samar di pipinya yang sawo matang. Sopir taksi sesekali meliriknya dari spion tengah dengan pandangan iba, namun Amira terlalu lelah untuk peduli. Pikirannya berputar liar, menyusun kembali kepingan-kepingan ingatan tentang senyuman puas Lista di ruang rapat tadi.
“Kalau aku beri tahu Mas Aris sekarang, apa dia akan percaya?” batin Amira, jemarinya perlahan bergerak mengusap perutnya yang masih rata di balik tunik pudar. “Atau dia akan mengira ini bagian dari kelicikanku, seperti dokumen palsu yang ditaruh Lista di mobilnya?”
Aris yang sekarang bukan lagi Aris yang dulu. Suaminya telah menjelma menjadi pria asing yang matanya telah dibutakan oleh pesona dan manipulasi sang sekretaris baru. Jika Amira membuka rahasia ini sekarang, Lista pasti tidak akan tinggal diam. Ular itu akan mencari cara untuk memutarbalikkan fakta, atau yang lebih mengerikan, mencelakai janin yang bahkan belum sempat mendengar detak jantung ibunya sendiri.
"Mbak, sudah sampai," suara sopir taksi membuyarkan lamunan Amira.
Amira tersentak. Ia melihat ke luar jendela. Pagar besi hitam tinggi kediaman Pratama berdiri kukuh di hadapannya, tampak seperti gerbang sebuah penjara mewah yang siap menelan sisa-sisa kewarasannya. Dengan tangan gemetar, Amira memasukkan alat tes kehamilan itu ke dalam dompet kecilnya, menyelipkannya di bagian paling dalam, lalu turun dari mobil.
Suasana rumah sore itu tampak sunyi. Namun, begitu Amira mendorong pintu depan yang berat, aroma masakan yang gurih dan wangi semerbak langsung menyapa indra penciumannya. Rasa mual mendadak naik ke hulu kerongkongannya. Amira membekap mulutnya sekuat tenaga, memaksa lambungnya yang bergejolak untuk tenang.
"Eh, menantu malang sudah pulang?"
Suara sindiran itu berasal dari ruang tengah. Ibu Ratna sedang duduk santai di sofa beludru, kakinya selonjoran di atas meja kopi sambil menikmati teh hangat. Di sampingnya, Lista sedang memijat lembut bahu wanita tua itu dengan gerakan yang sangat telaten.
"Dari mana saja kamu, Amira? Jam segini baru pulang. Rumah ditinggal berantakan, untung ada Lista yang pulang cepat dari kantor untuk masak makan malam buat Aris," ucap Ibu Ratna tanpa menoleh, nadanya penuh dengan racun penghinaan.
Amira melangkah masuk dengan kepala menunduk. "Amira tadi dari... dari luar sebentar, Bu."
Lista menghentikan pijatannya sejenak, menatap Amira dengan wajah yang mendadak berubah penuh kecemasan tiruan. "Mbak Amira... Mbak tidak apa-apa? Maafkan Lista ya soal kejadian di kantor tadi. Lista beneran tidak enak sama Mbak. Mas Aris cuma lagi stres karena urusan tender, Mbak jangan ambil hati ya..."
Amira menatap sepupunya itu. Wajah Lista tampak begitu suci, begitu polos di bawah pendar lampu kristal ruang tengah. Sulit dipercaya bahwa perempuan yang kini bicara dengan nada selembut sutra ini adalah orang yang sama yang beberapa jam lalu tersenyum licik di balik punggung Aris.
"Tidak apa-apa, Lis. Aku ke kamar dulu," jawab Amira pendek, suaranya terdengar serak dan habis.
"Heh, Amira! Jangan tidak sopan ya!" bentak Ibu Ratna, menepuk meja kopi dengan keras hingga cangkir tehnya berdenting. "Orang diajak bicara baik-baik malah melengos! Ingat ya, gara-gara kelakuan gila kamu di kantor tadi, Aris jadi malu di depan bawahannya! Beruntung Lista bisa menenangkan suasana setelah kamu pergi. Kalau tidak, entah mau ditaruh di mana muka suamimu itu!"
Amira menghentikan langkahnya di ambang tangga menuju lantai bawah—menuju kamar pelayan tempat ia sekarang tidur. Ia meremas tali tasnya kuat-kuat. "Ibu... Amira tidak melakukan apa-apa di kantor. Amira hanya—"
"Sudah, tidak usah banyak alasan! Masuk ke kamarmu sana! Bau badanmu itu bau jalanan, bikin mual saja. Jangan sampai bau kusammu itu mengganggu selera makan Aris nanti malam," usir Ibu Ratna dengan kibasan tangan yang mengusir lalat.
Amira menelan semua harga dirinya bulat-bulat. Ia melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga menuju lantai bawah yang temaram dan dingin. Kamar berukuran tiga kali tiga meter itu menyambutnya dengan kesunyian yang akrab. Amira mengunci pintu, lalu ambruk di atas kasur busa yang tipis.
Ia mengeluarkan test pack dari dompetnya lagi. Menatap dua garis merah itu di bawah lampu kamar yang redup. Air matanya kembali menetes, namun kali ini bukan karena sedih, melainkan karena rasa pelindung yang mendadak tumbuh raksasa di dalam dadanya.
"Ibu akan jagamu, Nak. Apapun yang terjadi, Ibu tidak akan biarkan mereka tahu sampai kamu cukup kuat di dalam sini," bisik Amira sambil memeluk perutnya sendiri. Ia memutuskan untuk menyembunyikan kehamilan ini dengan rapat. Ia harus bersikap sekaku mungkin, seolah-olah ia telah menyerah pada keadaan, agar Lista dan Ibu Ratna menurunkan kewaspadaan mereka.
Malam harinya, pukul sembilan, deru mobil Aris terdengar. Amira yang sedang menyetrika baju di kamar bawah tidak berniat naik untuk menyambutnya. Ia tahu, tugas itu sudah diambil alih oleh orang lain.
Melalui celah pintu kamarnya yang sedikit terbuka, Amira bisa mendengar suara riuh di lantai atas. Suara Ibu Ratna yang menyambut anaknya, suara manja Lista yang menawarkan jus jeruk dingin, dan suara berat Aris yang terdengar kelelahan namun tetap menanggapi dengan lembut. Mereka bertiga terdengar seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia, sementara Amira adalah orang asing yang menumpang di ruang bawah tanah.
Namun, ketenangan malam itu tidak berlangsung lama.
Pukul sebelas malam, saat seluruh rumah sudah mulai menggelap, Amira berniat naik ke dapur atas untuk mengambil segelas air putih hangat demi meredakan rasa mualnya yang kembali menyerang. Dengan langkah super pelan agar tidak menimbulkan suara di atas lantai marmer, Amira melangkah naik.
Lampu ruang tengah sudah dimatikan, hanya menyisakan lampu temaram di lorong dapur. Saat Amira hendak membelok ke arah dispenser, langkah kakinya mendadak terkunci.
Dari arah meja makan yang gelap, ia mendengar suara bisikan dua orang.
"Mas... jangan di sini. Nanti kalau Mbak Amira atau Bude Ratna lihat bagaimana?" Itu suara Lista, nadanya terdengar panik yang tertahan namun penuh dengan nada menggoda.
"Ibu sudah tidur di kamarnya, Lis. Dan Amira... dia tidak akan berani naik dari kamar bawah," suara berat itu milik Aris. Ada nada serak yang penuh dengan gairah terlarang di dalamnya.
Amira mengintip dari balik pilar marmer besar yang membatasi ruang tengah dan dapur. Di bawah pendar cahaya bulan yang menerobos masuk dari jendela besar halaman belakang, Amira bisa melihat dengan jelas siluet dua orang yang sedang berdiri sangat dekat di dekat meja makan.
Aris sedang mendekap pinggang Lista dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu kemeja tidur satin milik Lista yang tipis. Sementara tangan Lista meraba lengan tegap Aris, menahannya namun tidak benar-benar menjauhkan tubuh pria itu.
"Tapi Mas... aku merasa bersalah pada Mbak Amira. Tadi di kantor, Mas membentaknya keras sekali demi membelaku. Aku takut Mbak Amira benci padaku," bisik Lista, kepalanya sedikit mendongak, membuat leher putihnya terekspos langsung di hadapan wajah Aris.
"Jangan pikirkan dia, Lista. Dia yang tidak tahu diri," Aris mengecup tengkuk Lista dengan lembut, membuat wanita itu mendesah pelan. "Dia sudah berubah menjadi wanita yang penuh kedengkian dan kecurigaan. Aku lelah menghadapinya. Bersamamu... aku merasa dihargai. Kamu pintar, kamu segar, kamu mengerti apa yang aku butuhkan di kantor maupun di sini."
Lista berbalik, kini menghadap langsung ke arah Aris. Tangannya bergelayut manja di leher suaminya Amira. "Mas Aris janji ya... tidak akan tinggalkan Lista? Lista takut kalau suatu hari nanti Mbak Amira hamil, Mas Aris akan kembali padanya..."
Aris tertawa sinis, sebuah tawa yang merobek seluruh sisa-sisa cinta di hati Amira yang sedang menonton dari balik kegelapan. "Hamil? Rahimnya itu cacat, Lis. Ibu benar, dia tidak akan pernah bisa memberiku keturunan. Hubungan kami sudah mati. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menyelesaikannya secara hukum. Sekarang, fokus saja pada proyek Jawa Timur kita, oke?"
Aris kembali merengkuh tubuh Lista ke dalam pelukannya, mencium bibir wanita itu dengan penuh nafsu di tengah kegelapan rumah mereka.
Amira mundur satu langkah, punggungnya membentur dinding semen dengan keras namun tanpa suara. Seluruh sendi tubuhnya terasa lemas, jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging. Rasa sakitnya kali ini begitu dahsyat hingga ia bahkan tidak bisa mengeluarkan air mata. Cintanya pada Aris selama tiga tahun ini, pengorbanannya yang merelakan seluruh tabungan masa mudanya untuk modal awal pria itu, malam ini resmi mati di sudut dapur yang gelap.
Namun, di tengah rasa hancur itu, Amira meremas perutnya sendiri. Sebuah keberanian baru yang dingin dan pekat mendadak meluap dari dalam jiwanya.
"Kalian pikir aku mandul? Kalian pikir hubunganku sudah mati dan kalian bisa merebut semuanya dariku?" batin Amira, matanya menatap tajam ke arah dua siluet yang sedang saling memeluk itu dengan pandangan yang belum pernah ia miliki sebelumnya—tatapan penuh dendam yang terencana.
Amira berbalik, melangkah kembali menuruni anak tangga menuju kamar bawah tanahnya tanpa mengambil air minum. Di dalam kegelapan kamarnya, ia duduk di tepi ranjang. Ia mengeluarkan ponsel lamanya yang layarnya sudah retak di sudut bawah.
Ia membuka daftar kontak, mencari sebuah nama yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia hubungi sejak ia memutuskan menjadi ibu rumah tangga seutuhnya.
Pak Sanusi (Pengacara Hukum Almarhum Ayah).
Amira menatap nomor itu selama beberapa detik. Jarinya melayang di atas layar, bersiap untuk menekan tombol panggil. Ia tahu, begitu ia menghubungi pria tua itu, maka perang besar yang sesungguhnya akan segera dimulai, dan ia tidak akan pernah menoleh ke belakang lagi demi melindungi anak di dalam kandungannya.
Jari Amira sudah sangat dekat dengan layar ponselnya di tengah kegelapan malam, bersiap membuka kotak pandora masa lalu yang selama ini disembunyikan Aris dari publik.