"Jika dunia menginginkanku mati, maka aku akan memastikan dunia hancur bersamaku!"
Terlahir dengan energi sihir yang disegel, Han-Seol dibuang dan dianggap sebagai aib keluarga. Demi bertahan hidup, ia kabur bersama Seol-Ah, seorang pemindah jiwa yang menjadi buronan paling dicari.
Di bawah bimbingan Master Lee yang legendaris, segel kekuatan kuno dalam tubuh Han-Seol mulai bangkit. Satu per satu rahasia kejam sang ayah terungkap, memicu perang besar yang akan melanda Cheon-gi Won.
Di tengah kepungan bahaya dan takdir yang rumit, mampukah Han-Seol melindungi wanita yang dicintainya dan menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Benih Pengkhianatan di Bawah Matahari Niskala
"Seol-Ah!" teriak Han-Seol, suaranya pecah memenuhi ruangan sempit itu.
Di tengah ruangan yang hanya diterangi satu obor redup, Seol-Ah masih tergantung dengan kedua tangan terikat rantai ke langit-langit.
Tubuh kecilnya tampak begitu rapuh, terkulai lemas dengan kepala tertunduk. Darah di pelipis dan sudut bibirnya sudah mengering, meninggalkan jejak merah kehitaman di wajahnya yang pucat. Baju pelayannya yang tipis robek di bagian punggung, memperlihatkan bekas cambukan energi yang membiru dan membengkak.
Penyihir Do benar-benar melakukan interogasi yang kejam. Ia meninggalkan gadis itu begitu saja dalam keadaan mengenaskan, tanpa air, tanpa pengobatan, membiarkannya membusuk di dalam kegelapan.
Dengan gerakan panik, Han-Seol menyambar belati dari pinggang salah satu pengawal dan memotong tali serta rantai yang mengikat tangan Seol-Ah.
BRAK!
Tubuh Seol-Ah merosot jatuh jika Han-Seol tidak segera menangkapnya. Han-Seol perlahan menurunkan tubuh gadis itu ke lantai yang dingin, membiarkan kepala Seol-Ah bersandar di lengannya.
"Apa Paman Do yang melakukan semua ini padamu?" tanya Han-Seol dengan nada yang bergetar karena amarah dan keprihatinan yang mendalam. Rahangnya mengeras, matanya menatap nanar luka-luka di sekujur tubuh Seol-Ah.
Ia merasa sangat tidak berdaya; meskipun ia adalah putra Han-Gyeol, di tempat ini ia tidak punya kuasa apa pun untuk melawan para penyihir tingkat tinggi itu.
Seol-Ah tidak langsung menjawab. Kelopak matanya bergerak perlahan, seolah setiap gerakan adalah beban yang sangat berat. Saat matanya terbuka sedikit, ia melihat wajah Han-Seol yang cemas.
Bukannya mengeluh atau menangis, sebuah senyum tipis—sangat tipis hingga hampir tak terlihat—muncul di sudut bibirnya yang pecah.
"Syukurlah... kamu selamat, Seol," bisiknya parau. Suaranya terdengar seperti gesekan kertas kering.
Han-Seol tertegun. Di tengah luka-luka yang bisa merenggut nyawanya, hal pertama yang dipikirkan gadis ini masihlah keselamatannya. Rasa miris menghujam dada Han-Seol.
"Kau ini benar-benar bodoh," ucap Han-Seol kesal, meski matanya mulai berkaca-kaca.
"Dalam kondisi seperti ini, kau malah mencemaskan keadaanku? Lihatlah dirimu! Kau terluka parah, raga ini bisa saja hancur jika kau menerima satu cambukan lagi!"
Seol-Ah mengabaikan omelan itu. Ia mencoba menggerakkan tangannya yang gemetar untuk menyentuh dada Han-Seol, tempat di mana energi sihir itu kini berdenyut pelan.
"Tapi berkat racun itu... segelnya retak, bukan?" tanya Seol-Ah dengan nada bangga yang samar. "Kamu berhasil mendapatkan energi sihirmu kembali. Kamu tidak lagi... orang lemah yang bisa dihina."
Seol-Ah menatap mata Han-Seol dengan tatapan yang dalam, tatapan seorang guru yang puas melihat muridnya melampaui ujian yang mustahil.
Senyumnya melebar sedikit lagi, memperlihatkan gigi yang ternoda darah, sebelum akhirnya kekuatannya habis total.
Matanya terpejam, dan tubuhnya menjadi sangat berat di pelukan Han-Seol. Ia pingsan dalam dekapan pria yang baru saja ia selamatkan masa depannya.
Han-Seol mendekap tubuh Seol-Ah dengan sangat erat, seolah-olah ia bisa mentransfer kehangatan dan daya hidupnya sendiri kepada gadis itu. Ia menyembunyikan wajahnya di bahu Seol-Ah yang dingin dan basah.
"Dasar kau... guruku yang gila dan nekat," gumam Han-Seol lirih.
"Kau mempertaruhkan nyawamu demi kekuatanku. Jika kau sampai mati, energi sihir ini tidak akan ada gunanya bagiku."
Han-Seol menarik napas dalam, mencoba menenangkan badai emosi di dadanya. Ia menyadari bahwa sejak saat ini, hubungan mereka telah berubah selamanya.
Seol-Ah bukan lagi sekadar pelayan atau gadis yang ia temukan di pasar. Dia adalah Nara, sang pendekar agung yang kini menjadi satu-satunya orang yang memercayainya saat ayahnya sendiri menguncinya.
Dengan tekad yang baru, Han-Seol mengangkat tubuh Seol-Ah dalam gendongannya. Kali ini, ia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh gadis ini.
"Minggir!" teriak Han-Seol kepada para pengawal yang berdiri di pintu. Suaranya kini memiliki wibawa yang berbeda, seolah ada kekuatan raksasa yang baru saja terbangun di dalam dirinya.
"Tuan Muda, Anda tidak boleh membawa tahanan ini keluar tanpa izin Master Do—"
"Aku tidak butuh izin dari siapa pun untuk menyelamatkan guruku!" potong Han-Seol dengan tatapan mata yang mendadak berkilat tajam—kilatan yang sama dengan energi air milik Master Baek, namun terasa lebih liar dan panas.
Para pengawal itu mundur dengan ngeri. Mereka merasakan aura yang menekan dari tubuh Han-Seol, sesuatu yang seharusnya tidak dimiliki oleh pemuda tanpa energi sihir.
Han-Seol melangkah keluar dari ruang bawah tanah, membawa Seol-Ah menuju paviliun pribadinya. Ia bersumpah, mulai hari ini, ia akan melindungi Seol-Ah dengan kekuatan yang telah diberikan gadis itu kepadanya, meski ia harus melawan seluruh dunia, termasuk ayahnya sendiri.
Di dalam dekapan Han-Seol, meskipun dalam keadaan tak sadar, tangan Seol-Ah seolah mencengkeram jubah Han-Seol dengan sangat halus.
Takdir mereka kini telah terikat erat oleh racun, darah, dan rahasia yang terkunci di balik gerbang Cheon-Gi Won.
****
Dua puluh tahun yang lalu, matahari siang berdiri tepat di puncaknya, memancarkan cahaya putih yang menyilaukan di atas Negeri Niskala.
Namun, meskipun langit begitu terang, suasana di aula utama Cheon-Gi Won terasa mencekam.
Han Gyeol berdiri di tengah altar batu, napasnya berat dan matanya berkilat penuh amarah, sementara di hadapannya terbaring bayi laki-laki yang baru saja lahir.
Dengan tangan yang gemetar bukan karena lemah, melainkan karena gejolak emosi yang menghancurkan hatinya, Han Gyeol merapal mantra kuno yang terlarang. Telapak tangan kanannya mulai berpendar, memancarkan cahaya biru safir yang dingin dan tajam.
Cahaya itu tidak menghangatkan, melainkan terasa seperti es yang membeku saat ia menekannya tepat di atas pusar sang bayi—pusat aliran meridian atau gerbang energi.
"Tersumbat-lah. Terkunci-lah. Jangan pernah bangkit!"
Suara desisan nyaring terdengar saat energi biru itu masuk secara paksa ke dalam tubuh mungil sang bayi.
Cahaya itu merambat seperti akar-akar es yang menjalar ke seluruh pembuluh darah, menyumbat setiap jalur energi dan mengunci pintu kekuatannya rapat-rapat.
Bayi itu tersentak hebat, kulitnya memucat sesaat sebelum akhirnya ia terdiam lemas dengan napas yang tersengal.
Tepat setelah segel biru itu menyatu sempurna dengan raga sang bayi, Han Gyeol mengangkat anak itu ke udara dengan satu tangan. Ia berdiri tegak di hadapan para penyihir agung yang menonton dengan napas tertahan. Sinar matahari siang yang terik menyinari wajah Han Gyeol yang kini sekeras batu.
"Dengarlah!" teriak Han Gyeol, suaranya menggelegar membelah keheningan siang itu.
"Mulai detik ini, aku telah menyegel nasib anak ini. Tidak ada satu pun orang di negeri ini yang boleh membuka pintu energi anak ini. Biarkan ia hidup tanpa sihir, atau ia akan mati di tanganku sendiri!"