"Selamat, Ibu Alana. Bayinya laki-laki, sehat, dan tampan sekali," ucap sang dokter tersenyum hangat.
Alana mencium kening putranya dengan air mata yang terus mengalir. "Hai, sayang... Ini Ibu. Mulai hari ini, cuma ada kita berdua. Ibu berjanji akan menjagamu dengan seluruh hidup Ibu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TITIK MERAH YANG BERGERAK
Setelah dua jam berlalu, kelas privat itu pun berakhir. Anak-anak pulang dengan riang setelah berpamitan dengan sopan. Ruang tengah kembali sunyi, membuat Alana mendesah pelan. Mencoba mengusir rasa sepi yang kembali merayap, ia memutuskan untuk menyibukkan diri. Ia membuka pintu kulkasnya dan mendapati isinya sudah hampir kosong.
"Lebih baik aku belanja bulanan sekarang. Stok bahan makanan untuk sebulan ke depan harus diisi," gumam Alana pada diri sendiri.
Ia segera menyambar tas selempang dan ponselnya, lalu memesan taksi online menuju supermarket terbesar di pusat kota. Alana sengaja mengabaikan tumpukan uang tunai dan kartu kredit hitam dari Samudera yang masih tergeletak di meja rias. Ia memilih menggunakan uang dari dompetnya sendiri—simbol kecil bahwa ia masih ingin berdiri di atas kakinya sendiri.
Beberapa menit kemudian, sebuah mobil putih berhenti di depan pagar rumah sewanya. Alana langsung masuk dan duduk di kursi belakang, menyapa sang sopir dengan ramah sebelum mobil melaju membelah jalanan sore yang mulai padat.
Namun, Alana sama sekali tidak menyadari situasi di sekitarnya.
Tepat di seberang jalan, di bawah pohon rindang yang agak gelap, berdiri sesosok wanita dengan penampilan yang berantakan. Tatapannya menatap tajam dan penuh kebencian ke arah rumah sewa Alana. Wanita itu adalah Ibu Yeni.
Sejak menerima telepon pemecatan dan daftar hitam yang menghancurkan kariernya jam sebelas siang tadi, Yeni seperti orang kesetanan. Rasa malunya berubah menjadi dendam yang membara. Ia tahu ia tidak akan bisa menyentuh pria berkuasa sekelas Samudera Wijaya, maka sasarannya beralih pada Alana—wanita yang ia anggap sebagai dalang di balik kehancurannya.
Yeni sudah mengintai di depan rumah sewa itu sejak satu jam yang lalu. Begitu melihat Alana keluar dan naik ke dalam taksi online, seringai licik sekaligus penuh amarah terbit di wajahnya yang kuyu.
"Kamu menghancurkan hidupku, Alana... Kamu dan anak harammu itu membuatku kehilangan segalanya!" desis Yeni dengan suara parau yang sarat akan racun. "Jangan harap kamu bisa hidup tenang setelah membuatku menderita!"
Tanpa membuang waktu, Yeni segera berlari ke arah sepeda motor matik miliknya yang terparkir tak jauh dari sana. Ia menyalakan mesin, mengenakan helm hitamnya dengan tergesa-gesa, lalu memutar gas untuk membuntuti taksi online yang membawa Alana dari jarak aman.
Sakit hati dan dendam telah membutakan akal sehat mantan guru itu. Di tengah ramainya jalanan sore menuju supermarket, sepasang mata Yeni yang penuh amarah terus mengunci bagian belakang mobil putih yang ditumpangi Alana, siap mencari celah untuk meluapkan kekecewaannya.
Taktik Samudera ternyata jauh lebih matang dan berlapis dari yang bisa dibayangkan siapa pun. Sebagai seorang pria yang biasa menghadapi berbagai macam ancaman di dunia bisnis, Samudera tidak pernah meremehkan musuh—sekecil apa pun wujudnya.
Beberapa jam yang lalu, tepat setelah Randy melaporkan bahwa Yeni telah resmi dipecat dan masuk daftar hitam, Samudera tidak langsung menganggap masalah itu selesai. Ia tahu persis tipe orang seperti Yeni: picik, sombong, dan egois. Orang seperti itu tidak akan pernah menyalahkan diri sendiri atas kesalahan yang diperbuat, melainkan akan melimpahkan dendamnya pada orang lain.
"Randy," ucap Samudera dengan nada dingin yang mencekam saat ia masih berada di ruang kerjanya siang tadi. "Suruh tim IT kita untuk melacak dan memasang mata pada nomor ponsel serta pergerakan wanita bernama Yeni itu. Monitor setiap koordinatnya."
"Maaf, Pak, apakah ada kekhawatiran tertentu?" tanya Randy memastikan.
"Orang bodoh yang kehilangan segalanya bisa bertindak nekat," jawab Samudera datar, namun tatapannya berkilat tajam. "Dia tidak akan berani menyentuhku atau keluargaku. Kemungkinan besar, dia akan melimpahkan rasa sakit hatinya kepada Alana. Pantau dia 24 jam. Jika dia mendekati radius rumah Alana, kabari aku detik itu juga."
Instruksi itu terbukti menjadi keputusan paling tepat yang diambil Samudera hari ini.
Saat ini, di dalam ruang monitor keamanan Wijaya Group, seorang anak buah kepercayaannya tiba-tiba menegakkan posisi duduknya. Di layar komputer besar hadapannya, sebuah titik merah yang melambangkan posisi GPS ponsel Yeni tampak bergerak statis selama satu jam di area pemukiman Alana, sebelum akhirnya bergerak maju menyusuri jalan protokol kota.
Anak buah tersebut segera memeriksa data pergerakan titik merah itu dan mencocokkannya dengan peta digital. "Gawat, posisi target bergerak searah dengan rute taksi yang ditumpangi Ibu Alana."
Tanpa membuang waktu satu detik pun, sang anak buah langsung menekan tombol panggilan khusus yang terhubung langsung ke ponsel pribadi Samudera.