"Singkirkan tatapan menantangmu itu, Mahasiswa Baru. Kau terlalu sombong hanya karena dari Harvard," desis Amieyara Walker, matanya menghujam sedingin es di koridor sepi.
Maximilian Valerio hanya menyunggingkan seringai tipis yang sarat akan provokasi. "Dan kau? Merasa bisa mengaturku karena memegang gelar Asisten profesor, Nyonya Janda Satu Malam?"
"Jaga mulutmu, Valerio! Jangan menguji batas kesabaranku jika kau tidak ingin hancur di kampus ini!"
"Oh, silakan coba, Yara. Aku tidak takut dengan ancaman kosong dari wanita yang bahkan tidak bisa mempertahankan suaminya sendiri."
Dua jiwa angkuh yang sama-sama terluka, terjebak dalam lingkaran makian dan harga diri yang tinggi.
Tidak ada ruang untuk romansa lembut di antara mereka; yang ada hanyalah benturan ego, dendam, dan obrolan penuh permusuhan yang justru mengikat mereka dalam ketertarikan yang berbahaya dan mematikan.
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#14
Langkah Amieyara Walker yang terburu-buru meninggalkan pelataran parkir Fakultas Bisnis menyisakan keheningan yang janggal di antara Maximilian, Demon, dan Carter.
Beberapa mahasiswa masih berbisik-bisik, menatap Max dengan tatapan yang sulit diartikan setelah menyaksikan sang genius Harvard membukakan pintu mobil dengan begitu ksatria untuk asisten dosen yang terkenal angkuh itu.
Namun, Max tidak memedulikan distorsi kasak-kusuk di sekitarnya. Dia hanya membetulkan posisi tali tas ranselnya, menyunggingkan seringai tipis, lalu berjalan beriringan bersama dua sahabatnya memasuki gedung utama menuju ruang kuliah bisnis mereka.
Suasana koridor lantai dua tampak sedikit lengang karena sebagian besar mahasiswa sudah berada di dalam kelas masing-masing.
Begitu mereka bertiga mengambil tempat duduk di barisan belakang—posisi favorit yang selalu mereka amankan—Carter langsung mencondongkan tubuhnya ke depan meja Max, melipat tangannya dengan raut wajah yang mendadak berubah serius. Sisi jenaka yang biasa dia pamerkan menguap begitu saja.
Kali ini, bukan nama Yara yang keluar dari belahan bibirnya. Bukan pula tentang kehebohan di parkiran tadi.
"Max, gue mau nanya satu hal penting sama lo," bisik Carter, matanya melirik ke arah pintu kelas sebelum kembali menatap Max intens. "Lo... apa lo janjian sama Bella Moon untuk pindah ke kampus ini?"
Deg.
Gerakan tangan Max yang hendak mengeluarkan buku catatan dari dalam tasnya seketika terhenti di udara.
Nama itu—sebuah nama yang sudah dia kubur dalam-dalam di bawah tumpukan memorabilia busuk di Boston—mendadak ditarik paksa ke permukaan, menghantam rongga dadanya dengan hantaman yang tak kasat mata.
"Bella?" Maximilian mengulang nama itu dengan nada suara yang mendadak dingin, datar, dan kehilangan seluruh riak keisengan yang dia tunjukkan pada Yara pagi tadi.
Demon yang duduk di sisi lain Max ikut mengangguk pelan, mengembuskan napas pendek seolah ikut memikul beban dari nama tersebut. "Iya, Max. Bella Moon. Kemarin sore gue nggk sengaja lihat nama dia terdaftar di papan pengumuman administrasi mahasiswa pindahan Fakultas Bisnis. Dia mengambil kelas makroekonomi yang sama dengan kita."
Walaupun dulu semasa di high school Demon dan Carter tidak pernah benar-benar akrab dalam lingkaran pertemanan intim Bella, mereka tahu betul siapa gadis itu.
Satu angkatan di sekolah menengah atas yang sama membuat mereka menjadi saksi hidup bagaimana seorang Maximilian Valerio dan Bella Moon adalah definisi dari couple terbaik yang pernah ada.
Mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana Max—pemuda yang saat itu dikenal sebagai anak baik-baik, penurut, dan penuh masa depan—memperlakukan Bella dengan seluruh curahan cinta yang paling tulus dan murni.
Namun, ketulusan itu berakhir dengan pengkhianatan yang paling brutal yang pernah dialami oleh seorang pria.
Malam kelulusan high school yang seharusnya menjadi perayaan kemenangan justru menjelma menjadi malam pembantaian bagi mental Maximilian.
Max yang berniat memberikan kejutan di kamar hotel tempat perayaan kelulusan justru menyaksikan sebuah pemandangan yang menghancurkan seluruh warasnya.
Di dalam kamar yang temaram itu, dia mendapati Theodore—sahabat karibnya sendiri—bersama Bella Moon, dan satu orang pria asing yang tidak dikenal Max saat itu.
Tiga orang di dalam satu kamar yang sama, melakukan tindakan yang teramat sangat menjijikkan di atas ranjang yang seprai-nya berantakan.
Sejak malam terkutuk itulah, Maximilian yang dikenal sebagai anak penurut dan Baik, memilih melarikan diri ke Boston.
Di sana, di bawah tekanan rasa sakit dan pengkhianatan, dia mengubah total identitas dirinya. Dia mulai merajah tubuhnya dengan tato, bergaul di lingkungan keras, ikut dalam perbincangan-perbincangan vulgar, dan Memacari banyak gadis tanpa pernah melibatkan perasaan lagi. Semua itu dia lakukan hanya untuk membunuh bayangan murni tentang cinta yang pernah dihancurkan oleh Bella.
Dan demi Tuhan, selama masa berpacaran dulu, Max tidak pernah sekali pun menyentuh Bella Moon hingga ke ranah hal-hal yang intim.
Dia terlampau memuja gadis itu, menjaganya laksana sebutir kristal berharga yang tidak boleh cacat sedikit pun karena dia sangat menghormati ibunya, Audrey, yang selalu mengajarkannya untuk memuliakan wanita yang dicintai.
Namun, melihat kekasih yang dia puja dan dia jaga kesuciannya justru bersenang-senang dengan dua orang pria sekaligus di malam kelulusan, telah meremukkan jiwanya hingga menjadi serpihan tak berbentuk. Itu adalah alasan mendasar di balik keliaran tabiatnya saat ini.
"Gue nggk ada urusan lagi dengan wanita itu," desis Max, suaranya terdengar serak dan berat, menatap lurus ke depan dengan rahang yang mengencang sempurna. Buku jari-jarinya mengepal erat di atas meja kayu.
Namun, takdir tampaknya sedang senang bermain-main dengan emosi Maximilian hari ini.
Belum sempat Carter membalas ucapan Max, pintu ruang kuliah bisnis kembali terdorong terbuka dari luar.
Suasana kelas yang semula bising oleh obrolan mahasiswa mendadak senyap saat sesosok gadis dengan rambut pirang bergelombang dan gaun rajut putih yang pas di tubuh melangkah masuk.
Parasnya cantik, dengan riasan wajah yang natural namun memancarkan aura manipulatif yang sangat Max kenali.
Dia adalah Bella Moon.
Gadis itu berdiri di ambang pintu sejenak, mengedarkan pandangan matanya ke seluruh penjuru ruangan, hingga akhirnya sepasang manik mata birunya terkunci tepat pada sosok Maximilian Valerio yang duduk di barisan belakang.
Sebuah senyuman manis yang tampak tak berdosa terkembang di bibir Bella, seolah-olah luka sedalam lautan yang dia torehkan dua tahun lalu sama sekali tidak pernah berbekas.
Melihat kehadiran Bella yang mendadak di depannya, tepat setelah namanya dibahas, Maximilian merasakan sebuah hantaman hebat yang mendadak menyerang fisiknya.
Cairan lambungnya bergejolak hebat, merayap naik menembus kerongkongan dengan rasa asam yang menyiksa.
Itu bukan karena rasa takut. Bukan pula karena trauma psikologis seorang pengecut.
Itu adalah rasa mual yang teramat sangat hebat karena rasa jijik yang luar biasa mendalam. Ingatan otaknya secara otomatis memutar kembali visualisasi menjijikkan tentang Bella yang berada di dalam kamar hotel bersama dua pria sekaligus.
Setiap kali Max menatap wajah cantik Bella, perutnya berputar, seakan-akan dia baru saja dipaksa menelan sesuatu yang paling busuk di dunia ini. Wajah tegap Max seketika berubah pias, pucat pasi laksana mayat, dan keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.
Max membekap mulutnya sendiri dengan sebelah tangan, tubuhnya membungkuk ke depan menahan dorongan muntah yang sudah berada di ujung tenggorokan.
"Max! Lo kenapa, Bro?!" Carter panik melihat perubahan drastis pada sahabatnya.
Demon yang tanggap langsung berdiri, menyampirkan lengan Max di bahunya. "Carter, lo amankan tas Max. Gue bawa dia ke toilet sekarang juga sebelum dosen masuk," perintah Demon dengan cepat.
Dia setengah menyeret tubuh tegap Max yang mendadak kehilangan tenaganya keluar dari ruang kelas, melewati Bella Moon begitu saja tanpa memberikan kesempatan bagi gadis itu untuk menyapa.
Di dalam toilet lantai dua yang sunyi, Max langsung menerobos ke depan salah satu wastafel marmer. Dia bertumpu pada pinggiran wastafel dengan kedua tangannya, lalu memuntahkan seluruh isi lambungnya yang hanya berupa cairan asam karena dia belum sempat menyantap makanan padat pagi ini.
"Huekk... Uhuk!" Max terbatuk-batuk, napasnya memburu berantakan. Wajah tampannya yang biasa memancarkan keangkuhan kini tampak begitu layu dan pucat, dengan urat-urat biru yang menyembul di sekitar leher dan dahinya.
Demon memijat tengkuk leher Max dengan pelan, mencoba membantu meredakan rasa mual sahabatnya. "Tenang, Max... Tenang. Tarik napas dalam-dalam. Bajingan itu nggk layak buat bikin lo kayak gini," ucap Demon dengan nada penuh kekhawatiran.
Setelah beberapa menit membiarkan cairan asam itu keluar, Max memutar keran air, membasuh mulut dan seluruh wajahnya dengan air dingin yang mengalir deras, mencoba mengusir rasa pening gila yang mendera kepalanya.
Dia mendongak, menatap bayangan dirinya sendiri di cermin wastafel dengan napas yang masih tersengal-sengal.
"Gue... gue nggk apa-apa, Dem," suara Max terdengar serak dan lemah. Dia menyeka sisa air di wajahnya dengan punggung tangan. "Lo balik aja ke kelas. Jangan sampai lo absen di jam pertama karena gue."
Demon menatap Max dengan ragu. "Tapi kondisi lo bener-bener berantakan, Max. Muka lo pucat banget."
"Gue bilang balik, Demon. Gue cuma butuh waktu sebentar di sini sendirian," tekan Max dengan sisa-sisa otoritas baritonnya yang lemah namun tidak bisa dibantah.
Demon akhirnya mengembuskan napas pasrah. "Baiklah. Gue balik ke kelas dulu. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi gue atau Carter," ucap Demon sebelum akhirnya berbalik dan melangkah keluar dari toilet, meninggalkan Max dalam kesunyian ruangan yang dingin.
Max kembali menundukkan kepalanya, membiarkan beberapa tetes air menetes dari ujung rambutnya yang basah ke dalam lubang wastafel. Rasa mualnya sudah mereda, namun rasa pening di kepalanya justru semakin menjadi-jadi, membuat pandangan matanya sedikit kabur.
Di saat yang bersamaan, pintu toilet utama kembali terdorong terbuka. Seseorang melangkah masuk dengan ritme kaki yang tegas dan teratur. Itu adalah Amieyara Walker.
Yara sebenarnya berniat menuju ruang dosen di lantai dua untuk mengambil beberapa silabus hukum, namun langkahnya terhenti saat matanya menangkap siluet tubuh tegap yang sangat dia kenali sedang membungkuk lemas di depan wastafel.
Yara menghentikan langkah kakinya sejenak, menyipitkan mata untuk memastikan penglihatannya.
"Maximilian?" panggil Yara, suaranya yang biasa terdengar ketus kini menyimpan nada heran yang amat nyata.
Max menolehkan kepalanya lambat ke arah sumber suara. Saat matanya menangkap sosok Yara yang berdiri di dekat pintu dengan kemeja sutra biru mudanya, Max mencoba memaksakan sebuah senyuman tipis yang terkesan dipaksakan di wajah pucatnya.
"Oh... Nona Yara... Ada apa? Apa kau merindukanku hingga mengikutiku ke toilet pria?" goda Max lemah, mencoba mempertahankan sisa-sisa tabiat tengilnya demi menutupi kerapuhannya.
Yara melangkah mendekat tanpa memedulikan gurauan konyol pemuda itu.
Begitu jarak di antara mereka mengikis, Yara tertegun melihat kondisi fisik Max yang sebenarnya. Wajah pemuda itu benar-benar putih pucat tanpa aliran darah, bibirnya yang biasa kemerahan kini tampak kering, dan sepasang matanya yang tajam terlihat sayu menahan sakit.
Rasa jengkel Yara akibat panggilan Baby bocah birahi tadi pagi mendadak lenyap, digantikan oleh sebuah desakan aneh di dalam dadanya—sebuah naluri kewajiban dari seorang wanita dewasa dan pengajar untuk menolong mahasiswanya yang sedang dalam kondisi darurat.
Mengingat bagaimana Max telah menariknya dari tepi jembatan semalam dan memberinya tempat berteduh, Yara tidak bisa membiarkan hati nuraninya mati untuk mengabaikan pemuda ini sekarang.
Yara melangkah maju, tanpa ragu dia mendaratkan telapak tangan lentiknya di atas dahi Max, memeriksa suhu tubuh pemuda itu.
"Tubuhmu dingin, dan keringatmu bercucuran terlalu banyak, Max. Apa yang terjadi padamu? Apa karena makanan tadi?" tanya Yara, suaranya kini sepenuhnya melembut, dipenuhi oleh rasa khawatir yang tulus.
Max tertegun merasakan sentuhan tangan Yara yang hangat di dahinya. Sentuhan itu terasa begitu menenangkan, perlahan mengusir sisa-sisa racun memori busuk
tentang Bella Moon dari dalam kepalanya.
"Aku... aku hanya sedikit pusing, Yara. Bukan masalah besar," bohong Max, mencoba menurunkan tangan Yara dari wajahnya, namun cengkeramannya terlalu lemah.
Yara mendengus pelan, menolak keras bantahan pemuda keras kepala ini. Dia menggeser tubuhnya, menyisipkan lengan kekar Max di atas bahu kecilnya yang terbalut kemeja sutra, lalu melingkarkan tangan kirinya di sekeliling pinggang kokoh Max untuk menopang berat tubuh pemuda itu yang mulai goyah.
"Jangan banyak membantah, Bocah," perintah Yara dengan nada tegas yang tidak menerima penolakan. "Kondisimu saat ini benar-benar berantakan. Aku memiliki kewajiban untuk memastikan mahasiswaku tidak mati di lingkungan kampus. Aku akan membawamu ke ruang Unit Kesehatan Sekolah sekarang juga. Ikuti langkahku dan jangan mencoba untuk pingsan di atas tubuhku jika kau tidak ingin kuhancurkan nilai bisnismu."
Max hanya bisa pasrah, mengembuskan napas pendek sembari membiarkan separuh berat tubuhnya ditopang oleh Yara.
Di dalam koridor kampus yang sunyi, di bawah bimbingan langkah kaki Yara yang tegas namun hati-hati, Maximilian membiarkan dirinya dituntun menuju tempat perlindungan sementara—menyadari bahwa di balik dinding es pertahanan Yara, ada sebuah kehangatan tulus yang perlahan mulai menyembuhkan luka-luka lama di hatinya.