Zafira adalah perempuan sederhana yang hidup tenang—sampai satu malam mengubah segalanya. Ia dituduh mengandung anak Atharv, pewaris keluarga terpandang.
Bukti palsu, kesaksian yang direkayasa, dan tekanan keluarga membuat kebenaran terkubur.
Demi menjaga nama baik keluarga, pernikahan diputuskan sepihak.
Atharv menikahi Zahira bukan sebagai istri, melainkan hukuman.
Tidak ada resepsi hangat, tidak ada malam pertama—hanya dingin, jarak, dan luka yang terus bertambah.
Setiap hari Zahira hidup sebagai istri yang tak diinginkan.
Setiap malam Atharv tidur dengan amarah dan keyakinan bahwa ia dikhianati.
Namun perlahan, Atharv melihat hal-hal yang tidak seharusnya ada pada perempuan licik:
Ketulusan yang tak dibuat-buat
Air mata yang disembunyikan.
Kesabaran yang tak wajar.
Kebenaran akhirnya mulai retak.
Dan orang yang sebenarnya bersalah masih bersembunyi di balik fitnah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suasana Baru
Zafira berdiri di tengah ruang tamu yang luas, matanya menelusuri setiap sudut yang masih terasa asing. Langit-langit tinggi, lukisan-lukisan yang mahal, sofa besar yang tampak empuk tapi dingin—semua membuatnya merasa kecil dan tidak pada tempatnya.
Pelan-pelan, ia melangkah ke koridor panjang yang mengarah ke berbagai ruangan. Ia membuka pintu kamar tidur, menyentuh meja rias, memeriksa lemari pakaian yang penuh dengan setelan dan jas Atharv. Semuanya rapi, teratur, dan terlalu sempurna.
Tiba-tiba terdengar suara di belakangnya.
“Nona Zafira?” seorang asisten muda muncul dari dapur. “Apakah Nona ingin aku tunjukkan kamar-kamar lain atau cara menggunakan peralatan rumah?”
Zafira menoleh, sedikit terkejut.
“Oh iya, boleh. Terima kasih.” Suaranya pelan, hampir berbisik.
Asisten itu tersenyum ramah, sedikit kikuk melihat Zafira yang tampak gelisah.
“Nama saya Sari. Saya akan membantu anda menyesuaikan diri di sini. Jangan sungkan jika butuh apa pun.”
Zafira menatapnya sebentar, ragu.
“Baik Sari. Terima kasih.”
Mereka mulai berjalan, melewati dapur yang besar dan terang, menuju ruang baca yang dipenuhi rak-rak tinggi.
Zafira mengamati buku-buku dan foto-foto keluarga Atharv. Ia menyadari, rumah ini penuh dengan aturan tak tertulis—tentang tempat duduk, cara berjalan, bahkan cara menatap perabot.
Sari membuka pintu ruang kerja Atharv.
“Ini ruang kerja Tuan Atharv. Anda tidak perlu masuk jika tidak ada keperluan, tapi saya ingin anda tahu letaknya.”
Zafira mengangguk, hatinya berdebar.
“Aku mengerti. Terima kasih, Sari.”
Beberapa menit kemudian, mereka memasuki kamar mandi utama.
Zafira menatap wastafel dan bathtub yang besar, merasa kecil di tengah kemewahan yang ia tak pernah punya sebelumnya.
“Apakah biasanya air hangatnya sudah siap setiap pagi?” tanya Zafira dengan suara ragu.
Sari tersenyum lembut.
“Ya, Nona. Semua sudah diatur otomatis. Nona hanya perlu menyalakan saklar.”
Zafira mengangguk lagi, menelan rasa canggung yang makin menumpuk. Ia sadar, setiap kata yang ia ucapkan terasa terlalu keras di rumah ini.
Setiap langkahnya harus diperhitungkan, seolah ia selalu diperhatikan, meski Atharv tidak berada di ruangan yang sama.
Di akhir tur, Sari menatap Zafira dengan lembut.
“Jika Nona ingin sesuatu atau merasa bingung, jangan ragu memanggil saya ya. Saya hanya ingin anda merasa sedikit lebih nyaman di sini.”
Zafira tersenyum tipis, pertama kali sejak pagi itu.
“Terima kasih, Sari. Aku akan mencoba menyesuaikan diri.”
Setelah Sari pergi, Zafira duduk di tepi sofa besar. Ia menarik napas panjang. Rumah ini besar, dingin, dan asing, tapi perlahan, dengan bantuan Sari, ia merasa ada sedikit ruang untuk bernapas. Sedikit, tapi cukup untuk mulai belajar menjalani kehidupan barunya walaupun jarak dengan Atharv masih terasa membeku di udara.
Kini Zafira berdiri di dapur, menatap teko teh yang baru saja ia isi. Tangan kecilnya menggenggam gagang dengan canggung, ragu apakah ia melakukan semuanya dengan benar.
Suara air mendidih dan uap panas yang naik terasa terlalu keras di ruang yang sunyi ini.
Tiba-tiba telepon rumah berbunyi, suaranya memecah kesunyian. Zafira menatap alat itu, jari-jarinya gemetar sebelum mengangkatnya.
“Halo?” suaranya pelan.
“Zafira, ini aku. Sarapan sudah selesai?” suara Atharv terdengar dari ujung telepon, datar dan cepat.
“Ya,sudah Tuan,” jawab Zafira, menunduk. “Aku, aku hanya menyiapkan teh sedikit untukku sendiri.”
Ada jeda sejenak di ujung sana, sebelum Atharv berkata lagi.
“Baik. Jangan lupa, aku akan pulang larut. Fokus saja pada hal-hal yang perlu kau lakukan di rumah.”
Zafira mengangguk meskipun ia tahu Atharv tidak bisa melihatnya.
“Baik… Tuan.”
Telepon ditutup, dan keheningan kembali mengisi dapur.
Zafira menatap teko di depannya, perlahan menuangkan air panas ke cangkir, dan untuk pertama kalinya sejak pagi, ia membiarkan dirinya tersenyum tipis.
Sedikit, tapi cukup—karena meskipun rumah ini masih terasa asing, dan Atharv tetap dingin, ia menemukan ruang kecil untuk merasa… sedikit lebih manusia.
Zafira menaruh cangkir teh di meja kecil dekat jendela, menatap cahaya matahari yang menembus tirai tipis.
Udara hangat pagi menyentuh wajahnya, namun hatinya tetap berat. Ia meneguk teh, perlahan, mencoba menenangkan diri.
Beberapa saat kemudian, terdengar langkah kaki ringan di lorong. Sari muncul lagi, membawa nampan berisi roti dan selai.
“Nona Zafira, saya menyiapkan sarapan tambahan.
Mungkin Nona ingin mencoba sebelum pergi ke mana pun,” kata Sari dengan senyum lembut.
Zafira menoleh, sedikit tersipu.
“Oh, terima kasih, Sari. A-aku belum pernah makan roti di pagi hari seperti ini.”
Sari mengangguk, duduk di kursi kecil di samping meja.
“Kalau begitu, nikmati saja. Jangan terlalu kaku, Nona. Rumah ini walau besar, tapi tempat ini juga bisa terasa hangat kalau Nona mau mencoba.”
Zafira tersenyum tipis, menatap cangkir di tangannya.
“Aku akan mencoba. Terima kasih
sudah membantuku, Sari.”
Beberapa menit berlalu dengan hening yang nyaman.
Zafira mulai merasakan sedikit ketenangan.
Mungkin, meskipun Atharv tetap dingin, dan rumah ini terasa asing, ia bisa menemukan sedikit ruang untuk diri sendiri tempat untuk bernapas, untuk memulai hari, dan perlahan belajar menyesuaikan diri dengan hidup barunya.