NovelToon NovelToon
Rebith: Menjadi Istri Protagonis

Rebith: Menjadi Istri Protagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Time Travel / Mafia / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: raintara

"Tidak perlu kasar padaku! Jika kau memang tidak menyukai pernikahan ini, ceraikan saja aku!"

Kanaya kira, transmigrasi jiwa hanyalah ilusi belaka.

Karangan penulis yang tidak akan pernah menjadi nyata.

Namun siapa sangka, perempuan itu mengalami hal yang dia kira hanyalah ilusi itu?

Terjebak di dalam raga istri sang protagonis pria yang takdirnya dituliskan akan mati bunuh diri, karena frustasi suaminya ingin menceraikannya.

Nama figuran itu.... Kanaya Wilson. Perempuan yang begitu menggilai Kalendra Wijaya, sang protagonis pria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Menjadi Istri Yang Baik

Kalendra pulang ke rumah dengan suasana hati yang begitu buruk. Auranya terlihat begitu menyeramkan dengan wajahnya yang keruh dan kaku. Bahkan, para penjaga yang berjaga di luar rumah pun tampak menunduk ketakutan.

Pintu utama terbuka, membawa langkah Kalendra semakin masuk ke dalam. Bohong jika kata-kata Pram tadi siang tidak mengganggu pikirannya. Nyatanya, ucapan-ucapan itu tak berhenti terngiang-ngiang di kepalanya.

Bagaimana jika Kanaya kembali Membencinya. Bagaimana jika Kanaya meninggalkannya setelah mengetahui sisi lain dari dirinya. Bagaimana jika---

"Kalendra!!"

Suara yang selalu Kalendra rindukan itu terdengar menggema. Lalu, terlihat Kanaya berlari menghampirinya. Melompat masuk ke dalam gendongannya. Kaki mungil perempuan itu melingkar manis pada pinggangnya.

Kalendra sempat terkejut, sebelum akhirnya ia memeluk punggung sang istri agar tidak terjatuh. Erat dan penuh kepemilikan. Memang seharusnya seperti ini. Kanaya--- dia hanya ditakdirkan untuk Kalendra.

"Aku merindukanmu..." suara Kanaya terdengar seperti rengekan. Kali ini, Kalendra dibuat membatu kala bibir mungil istrinya mengecup lehernya. Sampai akhirnya perempuan itu menatapnya dengan menyunggingkan senyum manisnya.

"Kau juga merindukanku?"

Mata Kalendra berkedip dua kali. Lantas, laki-laki itu berdehem, membalas Kanaya dengan memberi kecupan singkat pada bibir perempuan itu.

Walaupun sedikit heran, namun tak bisa dipungkiri bahwa Kalendra sangat senang mendapati sikap manja Kanaya. Membuat suasana buruk hatinya membaik.

"Ishh, jawab pakai kata-kata! Apa kau juga merindukanku?" ulang Kanaya cemberut.

Bibir Kalendra berkedut. Dengan gemas, dia kembali mengecup bibir Kanaya. Kali ini lebih lama dan diakhiri olehlumatan basah.

"I miss you so bad." ujar laki-laki itu yang mulai melangkahkan kaki naik ke atas menuju kamar mereka.

"Ehh, tunggu, tunggu. Turunkan aku." cegah Kanaya yang mencoba lepas dari gendongan sang suami.

"Kenapa?" bingung Kalendra.

"Emm, aku sudah memasakkanmu makan malam. Ayo makan malam dulu, cicipi hasil masakanku!" seru Kanaya tampak bersemangat.

Kalendra terkekeh. Lalu, tanpa melepas gendongannya, ia memba langkahnya menuju ruang makan. Kemudian, dengan hati-hati ia dudukkan Kanaya pada salah satu kursi dengan perlahan.

Kalendra pandangi meja makan yang penuh dengan masakan.

"Semua ini kau yang masak?"

Kanaya mengangguk antusias. "Diajari Bi Ami, sih. Tapi dia hanya memberikan instruksi."

"Aku ambilkan ya?"

Kalendra mengusap rambut Kanaya, sebelum akhirnya mengiyakan tawaran istrinya itu.

Ahh, lihatlah. Begitu sempurnanya rumah tangganya dengan Kanaya. Kalendra tidak akan membiarkan siapapun menghancurkan kebahagiaan ini. Tidak akan pernah.

"Silahkan dinikmati, Tuan Kalendra..." seru Kanaya layaknya pramusaji. Kalendra terkekeh melihatnya. Malam ini, Kanaya menjadi lebih menggemaskan.

"Kau suka?" tanya Kanaya setelah Kalendra menyuapkan sepotong daging steik buatannya.

Kalendra tersenyum di sela-sela kunyahannya.

"Apapun yang istriku masak, aku Menyukainya." ujarnya setelah menelan makanannya.

Pipi Kanaya merona, dan itu membuat Kalendra bertambah gemas. Dengan satu kali tarikan, laki-laki itu membawa kursi yang Kanaya duduki agar lebih mendekat kepadanya.

"Kemari, suapi aku." pintanya dengan menyodorkan piring ke hadapan Kanaya.

Perempuan itu tidak menolak. Ia mulai menusukkan garpu pada daging steik yang sudah Kalendra potong menjadi beberapa bagian.

"Kau ingin mandi pakai air hangat? Biar aku siapkan."

Kalendra menghentikan kunyahannya. Kanaya memang aneh malam ini. Sebenarnya, apa yang istri kecilnya itu rencanakan.

"Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri." balas Kalendra sembari jemarinya mengusap pipi sang istri yang sedikit bersemu.

Kanaya tampak mengerucutkan bibirnya. "Aku hanya ingin menjadi istri yang baik! Aku ingin menyiapkan semua keperluanmu. Melayani segala kebutuhanmu." keluhnya cemberut.

Ahh, jadi ini masalahnya. Kalendra menggenggam tangan Kanaya yang menganggur dan mengusapnya lembut.

"Tanpa melakukan hal itu semua, bagiku kau adalah istri yang paling baik. Dengan kau berada di sisiku, itu sudah lebih dari cukup untukku." jelas Kalendra.

"Tapi---

"Kanaya, aku hanya tidak mau kau kelelahan. Boleh memasak, boleh melakukan apapun yang kau mau asalkan jangan sampai karena kegiatan itu kau jadi kelelahan dan sakit."

"Ini tidak melelahkan Kalendra. Aku senang bisa mengurisimu. Aku istrimu, bukan? Aku akan lebih tidak rela jika orang lain yang melayanimu." balas Kanaya tampak sedikit kesal.

Oh, ayolah. Dirinya sedang berusaha menjalankan kewajiban sebagai seorang istri, kenapa Kalendra tidak mau mendukungnya, sih.

Kalendra tak tahan untuk tidak tersenyum. Ia dekatkan wajahnya pada Kanaya.

"Kau...cemburu?"

"Ck, iyalah! Itu posisiku, tidak ada yang boleh merenggutnya dariku." seru Kanaya, tanpa tahu jika kalimatnya membuat Kalendra ingin sekali menciumnya hingga kehabisan nafas.

"Bahkan setelah bertahun-tahun, hatiku tetap milikmu. Apalagi yang kau takutkan?" karena seharusnya, aku yang takut di sini. Aku takut kau membenciku setelah tahu kebenarannya.

"Ahh, tapi jika kau memang sangat ingin melayaniku--- aku punya ide yang bagus."

"Apa?"

Kalendra tersenyum penuh arti. Lantas, ia dekatkan bibirnya pada telinga Kanaya untuk membisikan sesuatu.

"Layani aku diranjang. Berikan pelayanan yang terbaik untuk suamimu ini."

Kanaya menegang. Bahkan setelah Kalendra meniup telinganya, perempuan itu belum memberikan reaksi. Baru saat, jemari suaminya mengapit dagunya, membawanya agar menatap wajah tampan itu, Kanaya menelan salivanya, dengan rona merah yang menjalar dari telinga hingga leher.

"Keberatan, hm?"

"Si--siapa yang keberatan!" elak Kanaya tak mau mengaku.

Satu sudut bibir Kalendra menaik. Ia dekatkan wajahnya hingga ujung hidungnya menyentuh pipi Kanaya yang terasa panas.

"Jika begitu, buktikan. Malam ini...aku siap."

Sialan. Untuk sejenak, Kanaya lupa bagaimana caranya bernafas.

.

.

Mata yang semula terpejam itu, perlahan terbuka. Mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk pada netranya yang satu. Lantas, sang empu mencoba menggerakkan tangannya yang terasa kaku.

"A--air..." lirihnya terdengar serak.

"Ohh, dia sudah sadar. Cepat, berikan dia air!" terdengar suara khas laki-laki yang memerintah.

Kemudian, seseorang datang mendekat menyodorkan gelas yang sudah diberikan sedotan, agar lebih mudah untuk meminum isinya.

"Kau pergilah."

Tak lama, terdengar pintu terbuka sebelum kemudian menutup kembali.

Zana--- dia tidak tahu suara siapa itu. Tetapi, dia seperti pernah mendengarkan. Mendesah berat, perempuan itu tak menyangka masih bisa melihat dunia luar.

Zana pikir, setelah Kalendra menyekap dan meminta orang-orang psikopat itu untuk menyiksanya, dia tidak akan pernah lagi merasakan angin luar.

"Kau sudah bisa bicara?"

Zana menoleh lemah, lalu ia berusaha bangun. Dan bersandar pada bangkar.

"Kau-- yang sudah menyelamatkanku?" tanya perempuan itu pada laki-laki bertato yang mengajaknya berbicara.

Ya. Tubuh laki-laki itu dipenuhi tato. Mulai dari lengan hingga leher, semuanya penuh dengan gambar-gambar yang tidak bisa Zana mengerti.

Laki-laki itu tersenyum miring. "Menurutmu?"

Zana memegangi kepalanya yang terasa pusing saat mencoba mengingat kejadian terakhir yang menimpanya.

"Am--ampun. Jangan siksa aku lagi..." saat itu, tenaga Zana sudah habis untuk sekedar melawan. 

"Aku datang bukan untuk menyiksamu, sebaliknya, aku ingin menawarkan kerja sama. 

"Kau ingin bebas dari sini?" tawar orang misterius itu yang langsung membuat Zana menatapnya penuh harap. 

"Aku bisa membawamu pergi dari sini. Bahkan, aku bisa membantumu membalaskan dendam pada orang yang menyebabkan dirimu seperti ini, hanya dengan satu syarat."

"Jadilah anjingku. Apa kau mau?"

Ahhh, ya. Sekarang Zana ingat. Ada seseorang misterius yang bersedia membebaskannya dengan jaminan ia harus menjadi budak dari orang itu.

Mengingat hanya ada laki-laki bertato di sini, Zana menduga bahwa dialah orang misterius itu.

"Kau orang itu. Orang yang bersedia membantuku membalaskan dendam asalkan aku mau menjadi anjingmu. Benarkan?"

Laki-laki itu menyeringai. "Pintar. Sepertinya aku tepat dalam mencari peliharaan."

Zana termenung. Sebenarnya ada banyak pertanyaan di benaknya. Hanya saja, tenaganya masih terlalu lemah.

"Kenapa aku? Kenapa kau repot-repot menyelamatkanku dan ingin membantuku membalaskan dendam."

Laki-laki yang tengah duduk pada sofa itu, mengeluarkan rokoknya dari saku celana. Mengapitnya di sela-sela telunjuk dan jari tengahnya, kemudian, mematik gulungan kecil berisi tembakau itu menggunakan api dari koreknya. Tidak peduli jika dia sedang berada di dekat orang sakit.

Menyesap rokok itu dalam, laki-laki itu mendongak, menghembuskan asap yang begitu memekakkan.

"Karena kita memilih musuh yang sama. Bukankah musuh dari musuhmu adalah teman?" ujar laki-laki bertato itu membalas pertanyaan Zana. Menerbitkan senyum penuh arti yang tak bisa Zana mengerti.

1
Resti Rahmayani
kenapa harus berbohong, padahal untuk memulai sesuatu harus jujur walaupun sakit dan lagi pula suaminya tau walaupun hasil nguping sih ..
Ahrarara17
Lagi kak, up lagi
wwww
novel se seru ini ko sepi bgt sih 🤔 padahal bagus loh guys 👍🏻 semangat buat author nya 🫶🏻
raintara06: terhura bgt bacanya 🤧🤧tengkyu yaa🩵
total 1 replies
Ahrarara17
Ceritanya keren
Ahrarara17
Yuk, kak. Lanjut yuk, ceritanya. Ditunggu upnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!