Lilian Zetiana Beatrixia. Seorang mahasiswi cantik semester 7 yang baru saja menyelesaikan proposal penelitiannya tepat pada pukul 02.00 dini hari. Ia sedang terbaring lelah di ranjangnya setelah berkutat di depan laptopnya selama 3 hari dengan beberapa piring kotor yang tak sempat ia bersihkan selama itu.
Namun bagaimana reaksinya ketika keesokan harinya ia terbangun di sebuah ruangan asing serta tubuh seorang wanita yang bahkan sama sekali tak ia kenali.
Baca setiap babnya jika penasaran, yuhuuuu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ImShio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Bersama
Kini semua makanan telah siap, tersaji dengan rapi dan penuh kehangatan di ruang tengah kediaman sederhana itu. Nasi putih mengepul hangat di dalam panci tanah liat, uapnya perlahan naik, membawa aroma beras yang bersih dan menenangkan. Setiap butirnya tampak pulen dan mengilap, seolah memantulkan cahaya lampu minyak yang menggantung di sudut ruangan. Di sampingnya, tumisan sawi dan labu siam berwarna hijau cerah berpadu dalam kuah bening yang ringan. Potongan labu siam tampak empuk namun masih mempertahankan bentuknya, sementara sawi yang hijau segar memberi kesan masakan rumahan yang sederhana tetapi penuh perhatian. Aroma bawang merah dan bawang putih yang ditumis hingga harum menyebar perlahan.
Namun, pusat perhatian mereka malam itu jelas tertuju pada satu hidangan. Piring terbesar di antara semuanya berisi ayam krispi keemasan. Lapisan tepungnya tampak renyah, bertekstur indah dengan lipatan-lipatan kecil yang terbentuk sempurna. Warna emas kecokelatannya menggoda mata, seolah berbisik lembut kepada siapa pun yang melihatnya untuk segera mencicipi. Bahkan sebelum disantap, aroma gurihnya sudah cukup untuk membuat perut bergejolak.
Wu Zetian dan Ningning membawa satu per satu hidangan itu ke ruang tengah. Gerakan mereka selaras, seolah tanpa perlu banyak kata mereka sudah memahami apa yang harus dilakukan. Ningning membentangkan tikar anyaman di lantai dengan hati-hati, memastikan tidak ada lipatan yang mengganggu. Wu Zetian menata makanan di atas tikar itu dengan penuh perhatian, memastikan setiap piring berada pada tempatnya, tidak terlalu dekat namun tetap mudah dijangkau. Tangannya bergerak pelan, teratur, seolah ia sedang mempersiapkan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar makan malam biasa.
Ningning memperhatikan dari samping dengan senyum kecil yang tak ia sadari. Ada kehangatan aneh yang menyelinap ke dadanya melihat kesungguhan Wu Zetian. Cara wanita itu memperlakukan makanan, cara ia menghargai proses dan orang-orang yang akan menikmatinya, membuat Ningning merasa seolah ia sedang menyaksikan sesuatu yang berharga.
“Kelihatannya seperti jamuan besar,” gumam Ningning sambil merapikan sendok kayu dan mangkuk.
Wu Zetian menoleh dan menanggapinya dengan terkekeh pelan.
Setelah semuanya tertata rapi, Wu Zetian berdiri dan berjalan menuju arah kamar Kakek Zhou. Langkahnya terdengar pelan di lantai kayu. Ia berhenti di depan pintu, lalu mengetuk dengan sopan.
“Kek, makanannya sudah siap,” ucapnya lembut, suaranya penuh hormat.
Tak lama kemudian, pintu terbuka. Kakek Zhou keluar dengan langkah pelan namun mantap, tongkat kayunya ia tinggalkan di dalam kamar. Kini matanya perlahan mengarah kepada makanan yang telah tersusun rapi.
"Kelihatannya kalian sudah bekerja dengan sangat keras malam ini" ucap kakek Zhou
“Iya, Kek,” jawab Ningning cepat, sedikit bangga. “Tapi koki utama malam ini adalah Wu Zetian".
Wu Zetian hanya tersenyum kecil, sedikit menundukkan kepala.
Mereka bertiga lalu duduk melingkar di atas tikar. Untuk sesaat, tidak ada yang langsung menyentuh makanan. Seolah tanpa kesepakatan, ketiganya memilih menikmati pemandangan itu lebih dulu.
Wu Zetian mempersilakan lebih dulu. “Silakan, Kek.”
Kakek Zhou mengangguk. Ia mengambil sedikit nasi, menambahkan tumisan sawi dan labu siam, lalu memilih sepotong ayam krispi. Tangannya yang berkerut namun masih kuat membawa makanan itu ke mulutnya. Begitu gigitan pertama masuk, ekspresinya berubah. Alisnya terangkat, matanya sedikit membesar, lalu ia terdiam beberapa detik, seolah sedang mencerna bukan hanya rasa, tetapi juga perasaan yang menyertainya.
Ningning, yang sudah mencicipi lebih dulu, spontan menutup mulutnya. Matanya berbinar penuh kegembiraan. “Ini… enak sekali.”
Kakek Zhou akhirnya tertawa kecil. Suaranya rendah, penuh rasa kagum.
“Bukan hanya enak,” katanya jujur. “Ini luar biasa.”
Wu Zetian sedikit terkejut. Ia tidak menyangka pujian setulus itu. “Benarkah? Syukurlah.”
“Kau tahu, Nak,” lanjut Kakek Zhou sambil mengunyah perlahan, suaranya menjadi lebih hangat, “selama hidup Kakek, jarang sekali mencicipi masakan seenak ini. Ayamnya renyah, bumbunya meresap sampai ke daging, dan tumisannya ringan, tidak berlebihan. Semuanya pas.”
Ningning mengangguk kuat. “Aku setuju, Kek. Wu Zetian, kau benar-benar jenius. Aku bahkan tidak tahu makanan bisa dibuat seperti ini.” pujinya dengan antusias.
Wu Zetian menggaruk pipinya yang terasa hangat karena malu. “Ah, tidak juga. Ini bukan sesuatu yang besar.”
“Tetap saja,” ujar Ningning tulus. “Terima kasih sudah memasak untuk kami.”
“Iya,” sambung Kakek Zhou, menatap Wu Zetian dengan mata penuh penghargaan. “Terima kasih, Nak. Kau sudah memberi kami makan malam yang sangat berharga malam ini.”
Wu Zetian tersenyum lembut. “Aku senang bisa berbagi makanan dengan kalian. Itu saja sudah cukup membuatku bahagia.”
Mereka kembali menyantap makanan dengan suasana hangat. Bunyi sendok bertemu piring bercampur dengan tawa kecil dan percakapan ringan. Lampu minyak bergoyang pelan tertiup angin malam yang menyusup dari jendela terbuka.
Namun, di tengah-tengah makan malam itu, tiba-tiba terdengar suara aneh.
Grrr…
Suaranya pelan, tetapi cukup jelas di ruangan yang tiba-tiba hening.
Wu Zetian dan Ningning terdiam bersamaan. Mereka saling berpandangan.
“Suara apa itu?” Ningning bertanya ragu.
Seketika, ekspresi Kakek Zhou berubah. Senyum hangat di wajahnya menghilang, digantikan tatapan tajam penuh kewaspadaan. Ia perlahan menoleh ke arah jendela yang terbuka, tempat angin malam masuk membawa udara dingin dan bau dedaunan basah.
Tanpa berkata apa pun, Kakek Zhou berdiri. Langkahnya ringan namun penuh kehati-hatian saat ia mendekati jendela. Ia sedikit mencondongkan tubuh, matanya menyapu gelapnya halaman luar.
Di antara bayangan pepohonan, ia melihat dua siluet hitam bergerak cepat. Sekejap saja, lalu menghilang di balik kegelapan hutan.
Alis Kakek Zhou berkerut.
“…Aku seperti mengenal bayangan itu,” gumamnya dalam hati.
Ia menarik napas dalam-dalam, menenangkan diri, lalu kembali menutup ekspresinya sebelum berbalik.
Ningning menatapnya dengan cemas. “Kek? Ada apa?”
Kakek Zhou tersenyum tipis, terlalu cepat, terlalu dibuat-buat. “Tidak apa-apa. Hanya… seekor kucing kecil yang kelaparan.”
“Kucing?” Wu Zetian langsung bereaksi. Matanya berbinar, refleks bangkit sambil mengambil potongan kecil ayam krispi yang tersisa. “Di mana? Aku akan memberinya sedikit ayam ini.”
Ia melangkah ke arah jendela, menengok ke luar dengan penuh harap, tangan kecilnya menenteng ayam.
“Kucingnya sudah pergi tadi,” ucap Kakek Zhou cepat, sedikit menaikkan nada agar terdengar meyakinkan.
Wu Zetian menunduk kecewa. “Yah… padahal aku ingin memberinya makan.”
Kakek Zhou menepuk bahunya pelan. “Tidak apa-apa. Besok dia pasti akan kembali.” ucapnya untuk menenangkan.
Wu Zetian tersenyum kecil, meski masih sedikit cemberut. “Semoga saja.”
Mereka pun kembali duduk dan melanjutkan makan malam yang sempat tertunda. Suasana hangat perlahan kembali, meski di dalam hati Kakek Zhou, kegelisahan belum sepenuhnya pergi.
___________________
Di sisi lain, di sebuah kediaman yang tenteram, seorang pria berperawakan tinggi, tampan, dan gagah bersandar pada kursi besarnya. Napasnya terengah, dadanya naik turun cukup cepat. Wajahnya memerah, bukan karena kelelahan semata, melainkan karena rasa malu setelah hampir ketahuan menguntit.
“Ceroboh sekali…” gumamnya pelan.
Ia baru saja nyaris ketahuan.
Flashback on.
Saat prajurit bayangan bernama Hao telah kembali, ia langsung berlutut di hadapan tuannya.
“Lapor, Tuan,” ucapnya tegas. “Dua wanita tadi telah kembali ke kediamannya tuan. Yang anehnya ialah tempat itu terpencil dan berada di dalam hutan barat kekaisaran. Saya perkirakan itu adalah kediaman keluarga Perdana Menteri Wu Zheng.”
“Menteri Wu Zheng?” ulang pria itu.
Pangeran Tang Ming
Ia menyipitkan mata. “Ada hubungan apa kedua wanita itu dengan Menteri Wu Zheng?”
“Untuk saat ini, saya belum tahu, Tuan,” jawab Hao jujur. “Namun, saya mengenali salah satu dari mereka.”
“Siapa?”
“*Dia adalah s*eorang kepala pelayan di istana tuan. Jika saya tidak salah, namanya Ningning.”
Tang Ming terdiam. Perasaan janggal menyelinap ke dadanya dan perlahan mengikat rasa penasarannya.
Didorong rasa ingin tahu yang tak terjelaskan, Tang Ming memutuskan pergi ke tempat itu dan diikuti oleh Hao di belakangnya. Dari balik jendela, ia mengintip, menyaksikan mereka berkumpul, tertawa, dan menikmati makan malam sederhana yang entah mengapa terasa begitu nikmat.
Namun saat aroma masakan yang lezat menyusup keluar, perut mereka berbunyi tanpa kompromi.
Menyadari bahwa mereka telah menarik perhatian, Tang Ming panik dan segera pergi, meninggalkan tempat itu dengan rasa malu yang jarang ia rasakan sepanjang hidupnya.
Flashback off.
Tang Ming menghela napas panjang, menutup wajahnya sebentar dengan telapak tangan.
“Benar-benar memalukan…”
_______________________
Yuhuuuuuu~💖
Ini chapter kedua untuk hari ini.
Terima kasih telah membaca.
Jangan lupa dukung dengan cara like, komen, subscribe dan vote karya-karya Author.
See you~💓