Di kehidupan sebelumnya, Li Hua adalah wanita yang dihina, dikucilkan, dan dianggap "buruk rupa" oleh dunia. Ia mati dalam kesunyian tanpa pernah merasakan cinta. Namun, takdir berkata lain. Ia terbangun di tubuh seorang Ratu agung yang terkenal kejam namun memiliki kecantikan luar biasa, mengenakan jubah merah darah yang melambangkan kekuasaan mutlak.
Kini, dengan jiwa wanita yang pernah merasakan pahitnya dunia, ia harus menavigasi intrik istana yang mematikan. Ia bukan lagi wanita lemah yang bisa diinjak. Di balik kecantikan barunya, tersimpan kecerdasan dan tekad baja untuk membalas mereka yang pernah merendahkannya. Apakah merah jubahnya akan menjadi lambang kemuliaan, ataukah lambang pertumpahan darah di istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitrika Shanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benih Pemberontakan dan Rahasia yang Terusik
Kabar tentang "Permaisuri yang berlutut di debu" menyebar seperti api di musim kering. Di dalam tembok istana yang dingin, berita itu tidak disambut dengan pujian, melainkan dengan kecurigaan. Bagi para bangsawan, tindakan Li Hua adalah penghinaan terhadap martabat kekaisaran.
Li Hua kembali ke paviliunnya dengan ujung gaun yang masih meninggalkan noda tanah. Mei Lin, pelayannya, tampak sangat cemas.
"Yang Mulia, Anda harus segera berganti pakaian. Para tetua istana dan Selir Agung sedang berkumpul di aula samping. Mereka mengatakan Anda telah merusak citra suci Permaisuri," bisik Mei Lin sambil menyiapkan air mawar.
Li Hua hanya menatap tangannya yang tadi menyentuh wajah anak kecil itu. "Citra suci? Citra yang dibangun di atas penderitaan orang lain bukanlah kesucian, Mei Lin. Itu hanya kemunafikan yang dipoles emas."
Aula Pertemuan: Pengadilan Tak Tertulis
Saat Li Hua memasuki aula, suasana mendadak senyap. Di sana duduk Selir Agung, ibu suri yang memiliki pengaruh besar, bersama beberapa menteri senior. Di sisi lain, Selir Yue tampak menyeringai tipis, merasa di atas angin.
"Permaisuri Xuan," suara Ibu Suri terdengar berat dan penuh wibawa. "Kami mendengar kau melakukan pertunjukan di pasar. Berlutut di depan pengemis buruk rupa? Apakah kau sudah kehilangan akal sehatmu karena racun itu?"
Li Hua melangkah ke tengah ruangan, tidak membungkuk terlalu rendah. Ia berdiri tegak, membiarkan jubah merahnya menyapu lantai dengan gagah.
"Saya tidak kehilangan akal, Ibu Suri. Saya justru baru saja menemukannya," jawab Li Hua tenang. "Rakyat adalah akar dari pohon kekaisaran ini. Jika akar itu busuk karena kita biarkan kelaparan dan terhina, maka mahkota emas yang kita pakai ini tidak akan ada gunanya saat pohon itu tumbang."
Seorang menteri tua berdiri sambil menggebrak meja. "Lancang! Kau ingin mengubah hukum yang sudah ada sejak ribuan tahun? Mereka yang cacat adalah orang-orang yang dikutuk oleh langit! Menyentuh mereka hanya akan membawa sial bagi Kaisar!"
Li Hua menoleh tajam ke arah menteri itu. Matanya berkilat dengan amarah yang dingin. "Dikutuk oleh langit? Atau dikutuk oleh ketidakpedulian manusia seperti Anda? Jika kecantikan adalah ukuran keberuntungan, maka mengapa Permaisuri Xuan yang asli—yang cantik jelita—bisa diracuni di istananya sendiri?"
Selir Yue tersedak mendengar kalimat itu. Suasana menjadi sangat tegang. Li Hua secara tidak langsung menantang seluruh sistem yang ada.
"Cukup!" Ibu Suri berdiri. "Sebagai hukuman atas tindakanmu yang merendahkan martabat, kau dilarang keluar dari paviliunmu selama tujuh hari. Renungkan kesalahanmu!"
Malam di Paviliun Sunyi
Li Hua duduk di balkon, menatap bulan yang bersinar pucat. Hukuman itu tidak berarti baginya. Ia sudah terbiasa terkurung seumur hidup saat menjadi si buruk rupa. Namun, ia tahu ia butuh kekuatan lebih jika ingin benar-benar mengubah takdir.
Tiba-tiba, sebuah bayangan melompat dari atap. Dengan gerakan cepat, sesosok pria berpakaian hitam berdiri di hadapannya. Li Hua hampir berteriak, namun pria itu segera berlutut.
"Jangan takut, Yang Mulia. Saya datang untuk memberikan ini," ucap pria itu dengan suara rendah.
Ia menyerahkan sebuah bungkusan kecil berisi obat-obatan langka dan sebuah surat. Li Hua mengenali lambang pada surat itu—itu adalah lambang rahasia milik Kaisar Tian Long.
Li Hua membuka surat itu. Isinya singkat:
"Lanjutkan apa yang kau mulai. Aku akan menahan para menteri, tapi kau harus membuktikan bahwa 'akar' yang kau sebutkan itu layak untuk diselamatkan. Hati-hati, ada mata yang mengawasi dari balik bayangan."
Li Hua tertegun. Kaisar mendukungnya? Namun, di balik rasa lega itu, ada kegelisahan baru. Mengapa Kaisar yang terkenal dingin tiba-tiba berubah pikiran?
Saat Li Hua hendak bertanya pada sang utusan, pria itu sudah menghilang. Di saat yang sama, Li Hua merasakan sensasi aneh di kakinya. Rasa sakit yang tajam, seperti ditusuk ribuan jarum—rasa sakit yang sangat ia kenal di kehidupan lamanya.
Ia menyingkap gaunnya dan terbelalak. Di betisnya yang mulus, mulai muncul memar keunguan yang membentuk pola yang sangat familiar. Penyakit lamanya... penyakit yang membuatnya lumpuh di kehidupan pertama, kini mulai muncul di tubuh sang Ratu yang sempurna ini.
"Tidak..." bisik Li Hua, tubuhnya gemetar. "Tuhan, jangan sekarang. Aku belum menyelesaikan balas dendam ini."
Ternyata, takdir tidak memberikan tubuh ini secara gratis. Ada harga yang harus ia bayar untuk sebuah kecantikan dan kekuasaan.