Satu pria menghancurkannya hingga tak bersisa. Pria lain datang untuk memungut kepingannya.
Hati Alina Oktavia remuk redam ketika kekasihnya memilih perjodohan demi harta. Ia merasa dunianya kiamat di usia 25 tahun. Namun, semesta bekerja dengan cara yang misterius. Di puncak keputusasaannya, takdir mempertemukannya dengan Wisnu Abraham duda dingin pengusaha tekstil yang telah lama menutup hatinya.
Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama terluka ini menjadi awal penyembuhan, atau justru bencana baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 : Debu Kapas dan Rasa Syukur
Jam dinding digital di pos satpam menunjukkan pukul 16.55 WIB. Lima menit lagi sirine panjang tanda berakhirnya shift satu akan berbunyi.
Di dalam gudang logistik yang luas dan beratap tinggi itu, Alina masih berdiri di depan rak besi setinggi empat meter. Tangannya memegang papan jalan (clipboard) berisi daftar inventaris, sementara tangannya yang lain sibuk menghitung tumpukan gulungan kain polyester yang baru saja diturunkan dari truk kontainer.
Keringat mengalir deras di punggungnya, membasahi kemeja putih yang ia kenakan. Masker medis yang menutupi separuh wajahnya terasa lembap dan sesak, tapi ia tidak berani membukanya. Debu kapas halus beterbangan di udara seperti salju mikroskopis, siap menempel di paru-paru siapa saja yang lengah.
"Lima puluh dua... lima puluh tiga... oke, pas," gumam Alina di balik maskernya. Ia mencentang kolom di kertasnya dengan pulpen.
Ini jauh berbeda dari pekerjaannya dulu.
Dulu, di bank, jam segini ia sedang duduk manis di kursi ergonomis yang empuk, menikmati hembusan AC sentral yang sejuk, dan merapikan berkas-berkas nasabah yang bersih. Tangannya hanya berbau hand sanitizer atau parfum mahal.
Sekarang? Kakinya terasa berdenyut nyeri karena sudah berdiri dan berjalan mondar-mandir selama hampir delapan jam. Betisnya kencang, telapak kakinya panas. Rambutnya yang dicepol rapi kini terasa lepek oleh keringat dan debu. Aroma tubuhnya bercampur antara bau matahari, keringat, dan bau khas bahan kimia tekstil.
Teet! Teet! Teet!
Sirine panjang akhirnya berbunyi, memecah kebisingan aktivitas gudang. Para pekerja serentak bersorak lega, suara mesin forklift dimatikan satu per satu.
"Mbak Alina, sudah jam lima. Ayo balik, besok lagi!" teriak Mas Yudi, salah satu operator forklift yang sejak tadi membantunya memindahkan barang.
Alina menoleh dan mengangguk sopan. "Iya, Mas. Saya rapikan laporan sebentar."
Ia berjalan menuju meja kerjanya—sebuah meja kayu tua di sudut gudang yang dikelilingi tumpukan kardus. Ia menyalin data dari kertas ke komputer tabung yang layarnya sudah sedikit berkedip. Jari-jemarinya menari lincah di atas keyboard. Keahlian mengetik cepat yang ia dapatkan dari bank ternyata sangat berguna di sini. Dalam sepuluh menit, laporan stok harian sudah terinput rapi.
"Wah, cepat juga kerjamu," suara berat Pak Heru terdengar dari belakang.
Alina tersentak sedikit, lalu berdiri. "Sudah selesai, Pak. Data barang masuk hari ini sudah sinkron sama surat jalan."
Pak Heru mengambil laporan yang disodorkan Alina, menelitinya sekilas sambil menghisap rokok kreteknya. Pria paruh baya itu mengangguk-angguk puas.
"Biasanya admin baru butuh dua hari buat paham kode-kode kain ini. Kamu sehari langsung hafal," puji Pak Heru, meski wajahnya tetap datar. "Bagus. Besok kamu bantu saya cek stok opname di Gudang B. Lebih panas di sana, siap-siap aja."
"Siap, Pak," jawab Alina mantap.
"Ya sudah, sana pulang. Cuci muka dulu, mukamu kayak habis guling-guling di tepung," canda Pak Heru kasar, tapi Alina tahu itu bentuk penerimaan.
Alina tersenyum kecil di balik maskernya. "Terima kasih, Pak. Saya pamit."
Alina berjalan keluar dari area gudang menuju gerbang utama. Langit Surabaya sudah mulai meredup, menyisakan semburat jingga keunguan di ufuk barat. Angin sore menerpa wajahnya yang lengket, memberikan sedikit kesejukan.
Saat ia berjalan menyusuri trotoar berdebu menuju halte angkot, Alina merasakan sensasi aneh di dadanya.
Ia lelah. Sangat lelah. Tulang punggungnya terasa mau patah, dan ia yakin besok pagi kakinya akan bengkak. Pekerjaan ini kasar, kotor, dan bayarannya mungkin hanya sepertiga dari gajinya dulu.
Tapi... ia bersyukur.
Ia bersyukur karena hari ini otaknya terlalu sibuk menghitung gulungan kain sehingga tidak sempat memikirkan Rendy. Ia bersyukur karena rasa lelah fisik ini membuatnya lupa pada rasa sakit di rahimnya. Ia bersyukur karena tidak ada drama, tidak ada cemoohan, dan tidak ada yang bertanya tentang masa lalunya.
Di sini, ia hanyalah Alina si Admin Gudang. Bukan Alina si korban yang dicampakkan.
Alina berhenti di depan gerobak penjual es teh di pinggir jalan. Ia membeli sebungkus es teh plastik seharga tiga ribu rupiah. Sensasi dingin air teh murahan itu mengalir di tenggorokannya, terasa lebih nikmat daripada latte mahal yang dulu sering ia minum di kafe.
"Alhamdulillah," bisiknya lirih.
Ia menatap gerbang PT. Abraham Textile yang kokoh. Tempat ini mungkin neraka bagi sebagian orang yang tidak tahan debu dan panas, tapi bagi Alina, tempat ini adalah benteng perlindungannya.
Hari pertama berhasil ia lewati tanpa menangis. Tanpa kesalahan fatal. Tanpa hambatan berarti.
Alina merogoh saku celananya, menggenggam lembaran uang dua puluh ribu sisa ongkos hari ini. Uang yang ia peroleh dengan keringatnya sendiri, tanpa bantuan siapapun.
"Aku bisa," ucapnya pada diri sendiri, meyakinkan jiwanya yang masih rapuh. "Aku akan bertahan. Demi anakku yang hilang... aku akan terus hidup sampai aku cukup kuat untuk membalas semuanya."
Alina melangkah naik ke angkot biru yang berhenti di depannya, berdesakan dengan buruh-buruh pabrik lainnya yang berbau keringat. Ia menyandarkan kepalanya di jendela angkot, membiarkan getaran mesin tua itu membuai tubuhnya yang remuk.
Malam ini, ia yakin ia akan tidur nyenyak. Bukan karena hatinya sudah sembuh, tapi karena tubuhnya terlalu lelah untuk bermimpi buruk. Dan baginya saat ini, tidur tanpa mimpi adalah kemewahan tertinggi.