NovelToon NovelToon
Merawat Anak Dari Calon Suamiku

Merawat Anak Dari Calon Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Single Mom / Anak Genius / Duda / Cintapertama
Popularitas:758
Nilai: 5
Nama Author: Ega Sanjana

Bagaimana jika kita tiba-tiba menjadi ibu dari anak calon suami kita sendiri ,apa yang akan kita lakukan ?Memutuskan hubungan begitu saja ?atau tetap lanjut . Aku akan berusaha menjadi ibu yang baik untuk nya ,Rara Aletta Bimantara . Akan ku usahakan semua nya untuk mu ,Terimakasih Sudah mau menjadi istri dan ibu dari anak Ku _Rama Alexandra Gottardo.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ega Sanjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Yang Semua Orang Tunggu

Empat hari setelah kedatangan Rama dan Rara, hari peluncuran buku akhirnya tiba. Pukul 07.00 pagi, langit di atas sekolah masih berwarna kebiruan muda dengan seberkas matahari yang baru muncul. Lila dan Siti sudah berada di ruang klab sastra, memeriksa sekali lagi naskah, sampul buku, dan semua perlengkapan yang akan dibawa ke panggung.

"Kak Lila, aku nervous banget," ujar Siti sambil memegang sampul buku yang bertuliskan "Hati yang Bersama: Cerita Seorang Kakak dan Adik". Tangan dia sedikit gemetar, tapi matanya menyala dengan harapan.

Lila memeluknya lembut. "Aku juga nervous, tapi ingat—semua orang di sini datang untuk mendukung kita. Ayah Rama, Ibu Rara, Bu Rina, Pak Anton, Dina, Rian, dan semua teman—mereka semua ada di sini karena percaya pada cerita kita."

Tiba-tiba, pintu ruang klab terbuka. Rama dan Rara masuk dengan tangan penuh makanan dan minuman. "Kita bawa sarapan—nasi goreng spesial dan jus jeruk segar! Kalian butuh tenaga untuk hari ini yang sibuk," kata Rara dengan senyum ceria.

Selama sarapan, Dina dan Rian datang. Dina membawa bunga mawar merah yang dibuat dari kertas—sama seperti yang mereka buat bersama Rara beberapa hari lalu. "Ini untuk kamu berdua. Buat acara hari ini lebih cantik," ujarnya dengan malu tapi tulus.

Rian membawa kamera yang dipinjam dari ayahnya. "Aku akan merekam semua momennya—mulai dari persiapan sampai akhir acara. Nanti kita buat album untuk kenangan," katanya dengan semangat.

Setelah sarapan, mereka semua bergerak ke lapangan sekolah yang sudah dihiasi rapi. Panggung yang dibangun Rama beberapa hari lalu sudah dipasang spanduk besar dengan gambar sampul buku. Di sekeliling panggung, ada bunga kertas yang dibuat Siti dan Rara, serta poster yang dibuat Siti. Murid-murid lain mulai tiba, membawa bunga dan hadiah kecil. Bahkan beberapa warga sekitar yang mendengar kabar acara juga datang.

Pukul 09.00 pagi, acara dimulai. Pak Anton naik ke panggung sebagai pembuka acara. "Selamat pagi kepada semua tamu yang terhormat, guru, dan murid. Hari ini adalah hari yang spesial bagi sekolah kita—kita akan meluncurkan buku yang ditulis oleh dua siswa kita yang luar biasa, Lila dan Siti. Buku ini menceritakan cerita kasih sayang, persahabatan, dan keluarga yang dibangun di tengah sekolah kita. Tanpa basa-basi lagi, mari kita sambut tamu kehormat kita, Rama dan Rara!"

Rama dan Rara naik ke panggung, disambut tepukan meriah. Rama mengambil mikrofon. "Kita ingin berterima kasih pada sekolah yang telah memberi tempat bagi Lila dan Siti untuk tumbuh. Ketika kita pertama kali mempercayakan Siti dan Lila, kita tidak menyangka bahwa mereka akan membuat hal hebat seperti ini. Siti bukan cuma anak dari calon suamiku—dia adalah bagian dari keluarga kita, dan Lila adalah putri yang kita cintai. Cerita mereka adalah bukti bahwa kasih sayang tidak terbatas pada darah."

Setelah itu, Bu Rina naik ke panggung. "Sebagai pembimbing klab sastra, aku sangat bangga dengan Lila dan Siti. Mereka telah bekerja keras selama berbulan-bulan, mengumpulkan cerita, menulis, dan menyunting. Dan teman-teman mereka—Dina dan Rian—telah memberikan dukungan yang luar biasa. Ini adalah contoh bagaimana persahabatan bisa mengubah segala sesuatu."

Pukul 09.30 pagi, saatnya Lila dan Siti naik ke panggung. Tepukan meriah menggema di seluruh lapangan. Siti memegang mikrofon dengan kedua tangan, melihat ke arah Rama, Rara, dan teman-temannya. "Aku ingin berterima kasih pada Ayah Rama dan Ibu Rara yang selalu merawat aku. Dan pada Kak Lila yang tidak pernah meninggalkanku, meskipun aku kadang menyebalkan. Tanpa kalian, aku tidak akan punya keberanian untuk menulis cerita ini."

Lila menyentuh bahu Siti. "Dan aku ingin berterima kasih pada Siti yang telah membuat hidupku lebih berwarna. Dia mengajarkanku bahwa keluarga bisa dibuat, bukan cuma lahir dengan. Dan pada teman-teman yang selalu ada di sisi kita—terima kasih sudah menerima kita apa adanya."

Setelah pidato mereka, acara peluncuran dimulai. Rama dan Rara bersama Pak Anton dan Bu Rina membuka sampul buku yang pertama, disambut teriakan kegembiraan dari murid-murid. Kemudian, Lila dan Siti mulai menandatangani buku untuk yang mau membelinya. Banyak murid, guru, dan warga membeli buku, dan mereka semua memberikan pujian yang tulus.

Selama acara, Dina membantu mengatur antrian, sedangkan Rian terus merekam semua momen—mulai dari saat Lila dan Siti menandatangani buku sampai saat mereka berfoto bersama dengan semua orang. Pukul 12.00 siang, mereka semua beristirahat di bawah pohon di tepi lapangan, makan makanan yang disiapkan oleh orang tua murid dan warung favorit mereka.

Rara melihat Lila dan Siti yang sedang dikelilingi teman-teman, tertawa dan bercanda. "Kita sangat bangga, kan?" tanya dia kepada Rama.

Rama mengangguk, matanya penuh kebahagiaan. "Sangat bangga. Mereka telah membuktikan bahwa di tengah sekolah yang sibuk, hati yang penuh kasih bisa tumbuh dan berkembang. Cerita mereka akan menginspirasi banyak orang."

Sore hari, ketika acara hampir berakhir, semua orang berkumpul di depan panggung untuk berfoto bersama. Lila dan Siti berdiri di tengah, dipeluk oleh Rama, Rara, Bu Rina, Pak Anton, Dina, dan Rian. Matahari mulai terbenam, menyinari lapangan dengan cahaya kemerahan yang indah.

Siti memegang tangan Lila, Rama, dan Rara. "Aku senang banget hari ini. Sekolah ini adalah rumahku, dan kalian semua adalah keluargaku," ujarnya.

Lila tersenyum, matanya sedikit merah. "Ya, rumah kita bersama. Dan ini baru awal cerita kita."

Mereka semua tersenyum dan berfoto, menangkap momen kebahagiaan yang akan dikenang selamanya. Meskipun acara sudah berakhir, kebahagiaan yang tercipta di tengah sekolah itu akan tetap ada di hati mereka semua—bukti bahwa kasih sayang, persahabatan, dan keluarga bisa ditemukan di mana saja, bahkan di tengah halaman sekolah yang biasa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!