NovelToon NovelToon
TAHTA YANG DICURI

TAHTA YANG DICURI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:99
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Menceritakan tentang Baskara, seorang cowok yang berencana merebut kembali perusahaan milik mendiang sang ibu.

Setelah sang ayah menikah lagi, perusahaan tersebut kini dikuasai oleh Sarah, ibu tiri Baskara. Tak terima dengan keputusan ayahnya, Baskara pun merencanakan balas dendam. Ia berusaha mendekati Sarah.

Di luar prediksi, Baskara justru terpikat pada Alea, anak yang dibesarkan oleh Sarah. Lantas, bagaimana akhir rencana balas dendam Baskara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sabotase yang Cantik

Di pusat kendali utama yang terletak di dek paling atas anjungan, suasana terasa begitu kontras dengan kegelapan lorong bawah. Ruangan ini dipenuhi dengan layar monitor LCD raksasa yang menampilkan grafik fluktuasi saham Mahardika Group, peta satelit, dan puluhan sudut pandang kamera pengawas. Udara di sini sangat dingin, disetel pada suhu rendah untuk menjaga performa ribuan server yang tertanam di dinding.

Sandi berdiri tegak di depan meja konsol utama. Tangannya yang mengenakan sarung tangan kulit hitam tampak tenang, namun di balik itu, jemarinya terasa kaku. Matanya tidak pernah lepas dari layar monitor nomor 12—sudut tersembunyi di dekat ventilasi lantai bawah. Ia melihat dua titik panas melalui sensor termal. Ia tahu itu adalah Baskara dan Alea.

"Sambungan satelit sedikit tidak stabil, Nyonya. Badai di luar sana mulai mengganggu frekuensi gelombang mikro kita," ujar Sandi tanpa menoleh.

Suara langkah sepatu hak tinggi yang beradu dengan lantai granit terdengar mendekat. Sarah Mahardika masuk dengan aura yang mampu menurunkan suhu ruangan dalam sekejap. Ia mengenakan jubah merah panjang yang menyapu lantai, rambutnya tersanggul rapi tanpa ada satu helai pun yang keluar dari tempatnya. Wajahnya adalah definisi dari ketenangan yang mematikan.

"Badai hanyalah alasan bagi mereka yang tidak siap, Sandi," sahut Sarah dingin. Ia berdiri di samping Sandi, matanya menatap tajam ke arah hamparan laut gelap di balik jendela kaca antipeluru. "Apakah semua protokol sudah berada di posisinya? Aku tidak datang jauh-jauh ke tengah laut ini hanya untuk melihat arsip lama yang berdebu."

"Semua siap, Nyonya. Proses enkripsi akhir untuk penghapusan permanen data digital akan dimulai dalam sepuluh menit. Setelah itu, protokol Self-Destruct untuk dokumen fisik di Brankas 00 bisa Anda aktifkan secara manual melalui kunci biometrik Anda," lapor Sandi.

Sarah mengangguk puas. Namun, matanya tiba-tiba terpaku pada layar monitor nomor 14 yang menunjukkan area koridor luar ruang server. Ia melihat bayangan yang bergerak cepat, lalu sebuah kilatan dari ledakan kecil di dek bawah yang baru saja terjadi.

"Apa itu?" tanya Sarah, suaranya berubah tajam seperti sembilu.

Sandi berpura-pura memeriksa data di tabletnya. "Sepertinya ada kegagalan fungsi pada sistem pendingin di dek bawah, Nyonya. Akibat tekanan gas yang tidak stabil karena badai. Saya sudah mengirim tim teknis ke sana."

Sarah menyipitkan mata. Instingnya sebagai pemangsa yang telah bertahan di puncak kekuasaan selama puluhan tahun mulai berteriak. "Tekanan gas? Di anjungan yang baru saja mendapatkan perawatan menyeluruh bulan lalu? Sandi, kau tahu aku benci kebetulan."

Sarah berjalan mendekat ke layar. Ia memperhatikan detail kecil di sudut monitor. Ada sesuatu yang tidak beres. "Perbesar layar 14. Sekarang."

Sandi menelan ludah. Ini adalah saat yang krusial. Jika ia menuruti perintah Sarah, wajah Baskara yang sedang bergulat dengan Linda mungkin akan terlihat jelas. Dengan gerakan cepat yang tersamar sebagai kesalahan teknis, Sandi menekan serangkaian perintah di keyboard.

"Maaf, Nyonya, sistemnya sedang glitch. Virus trojan yang menyerang server utama sepertinya mulai menyebar ke subsistem video," ujar Sandi sambil menampilkan layar yang penuh dengan kode-kode eror berwarna merah.

Ini adalah "Sabotase yang Cantik" yang direncanakan Reno. Sebuah virus yang tidak merusak data, tapi membuat penglihatan musuh menjadi buta di saat yang paling dibutuhkan.

"Virus?" Sarah berbalik, menatap Sandi dengan tatapan yang seolah bisa menembus tengkorak pria itu. "Siapa yang berani menyuntikkan virus ke dalam sistem mandiri Brankas 00?"

"Kami sedang melacak sumbernya, Nyonya. Tapi sepertinya serangan ini berasal dari dalam. Seseorang menggunakan kredensial tingkat tinggi," jawab Sandi, memberikan umpan agar Sarah mulai mencurigai orang-orang di sekitarnya sendiri.

Wajah Sarah memerah menahan amarah. "Linda? Tidak mungkin. Dia ada di bawah. Baskara? Dia seharusnya masih berada di luar negeri mengurus aset di Singapura." Sarah terdiam sejenak. Pikirannya berputar cepat. "Baskara... anak itu terlalu diam belakangan ini. Sandi, hubungi tim keamanan di pintu masuk utama. Aku ingin identifikasi wajah untuk setiap orang yang bergerak di dek bawah!"

"Sistem identifikasi sedang offline akibat virus tadi, Nyonya," balas Sandi dengan nada datar yang dibuat sedemikian rupa agar terdengar seperti robot yang patuh.

Sarah memukul meja konsol dengan keras. "Persetan dengan sistem! Aktifkan Protokol Pembersihan Lantai 3 sekarang juga! Siapa pun yang ada di sana—baik itu tikus pelabuhan atau pengkhianat—aku ingin mereka mati lemas oleh gas halon. Jangan biarkan satu jiwa pun keluar dari ruangan itu hidup-hidup!"

Sandi tertegun. "Tapi Nyonya, Linda masih ada di bawah bersama beberapa pengawal. Jika gas halon dilepaskan, mereka juga akan—"

"Linda adalah bidak yang bisa diganti, Sandi," potong Sarah dengan nada dingin yang tidak menyisakan ruang untuk debat. "Kesetiaannya diukur dari kesediaannya mati demi rahasia Mahardika. Lakukan sekarang, atau kau yang akan menemaninya di bawah!"

Sandi tidak punya pilihan selain menekan tombol perintah. Namun, secara diam-diam melalui jalur komunikasi pribadi yang terhubung ke earpiece Baskara, ia mengirimkan sinyal peringatan berupa kode morse pendek: G-A-S.

Sementara itu, di bawah sana, Baskara baru saja berhasil melumpuhkan Linda dengan kuncian leher yang membuatnya pingsan. Ia mendengar suara desisan dari lubang udara di atas. Aroma kimia yang tajam mulai memenuhi ruangan.

"Sial! Gas halon!" umpat Baskara.

Ia segera berlari menuju pintu ruang server yang terkunci dari dalam oleh Alea. Ia memukul pintu baja itu dengan keras. "Alea! Buka pintunya! Jangan biarkan sistem ventilasi menghisap udara luar! Ada gas beracun!"

Di dalam ruang server, Alea yang baru saja menemukan folder digital berjudul 'Phoenix' tersentak kaget. Ia melihat melalui celah kaca kecil di pintu. Wajah Baskara tampak panik, sesuatu yang jarang ia lihat. Alea dengan cepat memutar tuas manual pintu.

Begitu pintu terbuka sedikit, Baskara merangsek masuk dan langsung membanting pintu itu kembali hingga kedap udara. Ia jatuh terduduk di lantai, napasnya terengah-engah.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Alea cemas, berlutut di samping Baskara.

"Gas itu... akan menghisap seluruh oksigen di luar dalam hitungan detik," bisik Baskara sambil mencoba mengatur napasnya. "Sarah sudah tahu kita di sini. Dia lebih gila dari yang kubayangkan. Dia bahkan tidak peduli jika Linda ikut mati."

Alea menoleh ke arah monitor yang tadi ia operasikan. "Bas, aku sudah menemukan file-nya. Tapi ini terenkripsi dengan kunci ganda. Satu bagian ada di sini, dan bagian lainnya... sepertinya harus diunggah langsung dari komputer pusat milik Sarah di dek atas."

Baskara mendongak, menatap deretan server yang berkedip. "Jadi kita harus ke atas? Ke tempat Sarah berada?"

"Itu satu-satunya cara, Bas. Jika kita pergi sekarang melalui jalur pembuangan air, kita hanya akan membawa setengah dari kebenaran. Setengah kebenaran tidak akan cukup untuk menjatuhkannya di pengadilan internasional," ujar Alea dengan keyakinan yang baru.

Baskara menatap Alea dengan bangga sekaligus khawatir. Gadis yang tadinya hanya menjadi "target" manipulasi, kini justru menjadi rekan seperjuangan yang paling berani.

"Baiklah," Baskara berdiri, memeriksa sisa peluru di senjatanya. "Kita akan bermain sedikit lebih kasar. Reno, kau dengar aku?"

"Dengar, Bas! Tapi situasinya kacau! Sandi mengirim pesan bahwa Sarah memerintahkan penutupan seluruh akses keluar!" suara Reno terdengar panik dari radio.

"Reno, siapkan rencana cadangan. Kita tidak akan keluar lewat bawah. Kita akan mengambil alih helikopter di atas," perintah Baskara dengan nada yang tak terbantah.

"Apa?! Kau gila?! Itu bunuh diri!" seru Reno.

"Hanya jika kita gagal," jawab Baskara singkat. Ia menoleh pada Alea. "Siap untuk bertemu dengan 'ibu' angkatmu sekali lagi?"

Alea mencengkeram tas berisi dokumen fisik itu erat-erat. Matanya yang biasanya lembut kini tampak mengeras seperti baja. "Aku sudah menunggu saat ini selama dua puluh tahun, Baskara. Mari kita selesaikan apa yang dimulai orang tua kita."

Mereka berdua mulai bergerak menuju tangga darurat rahasia yang terhubung langsung ke bagian belakang ruang kendali pusat. Di luar, badai semakin mengamuk, seolah alam pun sedang bersiap untuk menyaksikan benturan terakhir antara dendam masa lalu dan kebenaran yang baru saja bangkit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!