NovelToon NovelToon
TELEKINESIS ASCENDANT: THE EDITOR'S GATE ODYSSEY

TELEKINESIS ASCENDANT: THE EDITOR'S GATE ODYSSEY

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Fantasi Timur / Fantasi Isekai
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: Karma Danum

Kang Ji-hoon, seorang editor webnovel yang hidupnya biasa-biasa saja, tewas dalam sebuah kecelakaan. Namun, alih-alih mati, ia terbangun di tubuh Kang Min-jae, seorang pemuda di dunia paralel di mana "Gerbang" ke dimensi lain telah muncul, dan "Hunter" dengan kekuatan khusus bertugas menghadapi monster di dalamnya.

Terjebak dalam identitas baru dengan misteri ayah yang hilang dan tekanan untuk menjadi Hunter, Ji-hoon harus beradaptasi dengan dunia yang berbahaya. Dibantu oleh "sistem" misterius di dalam benaknya dan kekuatan telekinesis yang mulai terbangun, ia memasuki Hunter Academy sebagai underdog. Dengan pengetahuan editornya yang memahami alur cerita dan karakter, Ji-hoon harus menguasai kekuatannya, mengungkap konspirasi di balik transmigrasinya, dan bertahan di dunia di mana setiap Gerbang menyimpan ancaman—dan rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karma Danum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Kesepakatan

Satu minggu telah berlalu sejak sesi subuh pertama Ji-hoon di Taman Batu. Tujuh pagi dengan mata berair karena kurang tidur, dengan lutut yang kaku dan kerikil yang jatuh lebih sering daripada melayang. Tapi ada kemajuan. Kini, dia bisa menjaga kerikil itu tetap stabil selama hampir dua menit sebelum pikiran-pikiran yang bertentangan mengganggu konsentrasinya.

Namun, pagi ini berbeda. Saat Ji-hoon tiba di taman, Guru Choi sudah menunggu, duduk di atas batu besar yang paling rata. Di hadapannya, di atas sehelai kain hitam, tergeletak dua benda: sebuah cawan teh keramik sederhana, dan sebilah pedang kayu pendek (*bokken*).

"Sudah seminggu," sapa Guru Choi tanpa basa-basi. "Apa yang telah kau pelajari?"

Ji-hoon duduk bersila di depannya. "Saya belajar bahwa pikiran saya lebih berisik daripada yang saya kira. Dan bahwa setiap pikiran, setiap emosi, memengaruhi kestabilan telekinesis saya, meskipun hanya sedikit."

"Baik," kata Guru Choi. Dia mengangkat cawan teh. "Angkat ini dengan telekinesismu. Jaga agar teh di dalamnya tidak bergoyang."

Itu lebih sulit. Cawan itu lebih berat, bentuknya tidak simetris, dan ada cairan di dalamnya yang bisa bergerak sendiri. Ji-hoon mengerahkan konsentrasi. Cawan itu terangkat perlahan, tetapi segera teh di dalamnya mulai berombak kecil.

"Perhatikan," bisik Guru Choi. "Setiap kali kau merasa tidak sabar—pikiran si editor yang ingin sempurna—teh itu bergoyang. Setiap kali kau merasa cemas—emosi si remaja yang takut gagal—cawan itu miring. Kau bukan hanya mengangkat sebuah benda, Nak. Kau mengangkat *keadaan pikiranmu*."

Ji-hoon menghela napas, memusatkan diri kembali. Dia mengamati aliran pikirannya. *Harus stabil. Ini penting.* Itu si editor. Dia mengakui, lalu melepaskannya. *Aduh, tangan Guru Choi pasti panas pegang cawan tadi.* Itu si remaja, mengalihkan perhatian. Dia mengakui, lalu kembali fokus.

Secara perlahan, ombak di permukaan teh mulai tenang. Cawan itu berdiri tegak di udara, stabil.

"Lima menit," ucap Guru Choi, memecah kesunyian. Ji-hoon menurunkan cawan dengan hati-hati, peluhnya sudah membasahi pelipisnya meski udara masih dingin. "Kemajuan yang memadai."

"Apakah ini berarti saya lulus ujian percobaan, Guru?"

"Percobaan baru saja dimulai," jawab Guru Choi, matanya tajam. "Kemampuanmu untuk menyatukan pikiran adalah fondasi. Tapi fondasi saja tidak membangun rumah. Sekarang, kita harus membangun teknik di atasnya."

Dia menyentuh pedang kayu di depannya. "Akademi akan mengajarkanmu cara bertarung dengan kekuatanmu. Mereka akan memberimu latihan fisik, teknik dasar, teori monster. Itu semua penting. Tapi mereka tidak akan mengajarkanmu cara *berpikir* seperti seorang telekinetik sejati. Itulah yang akan kuajarkan."

Ji-hoon mendengarkan dengan saksama, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ini yang dia tunggu-tunggu.

"Kekuatanmu unik," lanjut Guru Choi. "Kebanyakan hunter bertarung dengan mengubah energi internal menjadi serangan eksternal—pukulan api, tusukan es, penguatan tubuh. Tapi telekinesis… telekinesis adalah tentang memanipulasi realitas eksternal *langsung* dengan pikiran. Itu membuatmu rentan. Jika pikiranmu kacau, kekuatanmu kacau. Jika musuh bisa mengacaukan pikiranmu, mereka bisa melumpuhkanmu tanpa menyentuhmu."

"Jadi saya harus melatih ketahanan mental juga," simpul Ji-hoon.

"Lebih dari itu," bantah Guru Choi. "Kau harus belajar menggunakan kelemahan itu sebagai kekuatan. Karena kau memanipulasi dunia luar, itu berarti kau juga bisa memanipulasi *medan pertarungan*. Kau tidak harus bertarung langsung dengan musuh. Kau bisa mengubah tanah di bawah kaki mereka menjadi musuh. Kau bisa membuat angin menjadi sekutu. Kau bisa menggunakan setiap benda kecil di sekitar sebagai mata-mata atau perangkap."

Gambaran itu membuat Ji-hoon terpana. Selama ini, dia hanya memikirkan telekinesis sebagai alat untuk mengangkat dan mendorong. Tapi Guru Choi membicarakan sesuatu yang lebih luas, lebih… *editorial*. Mengedit lingkungan, bukan hanya mengedit gerakan lawan.

"Ini adalah pelatihan yang akan memakan waktu lama," kata Guru Choi, suaranya serius. "Dan itu harus dirahasiakan."

"Rahasia? Mengapa?"

"Karena keunggulan terbesarmu adalah ketidakpastian," jawab Guru Choi. "Jika musuh tahu apa yang bisa kau lakukan, mereka akan menyiapkan counter. Jika mereka tidak tahu… mereka akan meremehkanmu, atau salah mengira batasanmu. Di dunia hunter, informasi adalah senjata. Jangan berikan senjatamu kepada siapa pun sebelum waktunya."

Ji-hoon mengerti. Itu masuk akal. Dia ingat bagaimana Min-hyuk meremehkannya karena rank E-nya. Jika Min-hyuk tahu dia sedang dilatih khusus oleh mantan S-rank… sikapnya pasti akan berubah.

"Pelatihan kita akan berlangsung di sini, setelah jam akademi resmi berakhir. Setiap hari, kecuali jika ada keadaan darurat. Aku akan mengajarimu tiga hal: pertama, pengendalian diri dan kejelasan pikiran. Kedua, aplikasi telekinesis yang kreatif dan tak terduga. Ketiga… cara membaca dan 'mengedit' aliran energi di sekitar, termasuk energi lawan."

Ji-hoon merasa semangatnya membara. Ini jauh melampaui harapannya.

"Sebagai gantinya," lanjut Guru Choi, suaranya mengandung peringatan, "kau harus mematuhi dua aturan. Pertama: jangan pernah menggunakan teknik yang kuajarkan dalam latihan akademi atau di depan siswa lain, kecuali dalam situasi hidup dan mati. Kedua: jangan pernah menanyakan masa laluku, atau alasan mengapa aku pensiun. Ada hantu di sana yang lebih baik tidak dibangunkan."

Nada suaranya pada poin kedua begitu berat, begitu penuh dengan sesuatu yang gelap, sehingga Ji-hoon hanya bisa mengangguk patuh.

"Apakah kita memiliki kesepakatan, Kang Ji-hoon?" tanya Guru Choi, mengulurkan tangannya.

Ji-hoon memandang tangan tua yang penuh urat itu, lalu pada mata abu-abu yang penuh kebijaksanaan dan rahasia. Dia tahu ini adalah titik balik. Ini akan mencuri waktu luangnya, menambah beban di pundaknya yang sudah dipenuhi kelas remedial dan latihan dasar. Tapi ini juga adalah jalan untuk menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar "E-rank potential". Jalan untuk bertahan, dan mungkin, untuk pulang—entah ke mana "rumah" itu nantinya.

Dia menjabat tangan Guru Choi. Genggamannya kuat, sekuat tekad yang baru saja dikukuhkan di hati Ji-hoon.

"Kesepakatan, Guru. Saya akan belajar dengan sungguh-sungguh. Dan rahasia ini akan tetap bersama saya."

Guru Choi melepaskan jabatannya, dan untuk pertama kalinya, Ji-hoon melihat senyuman yang nyaris tidak terlihat di sudut bibirnya. "Bagus. Maka kita mulai sekarang juga."

Dia berdiri dan mengambil pedang kayu itu. "Pelajaran praktis pertama: presisi tanpa sentuhan." Dia melemparkan pedang kayu itu ke udara. Dengan gerakan tangan yang halus, pedang itu berhenti di tengah udara, melayang horizontal.

"Telekinesis kebanyakan orang seperti tinju buta. Kekuatan besar, area luas, tapi tidak tepat. Kau harus belajar menjadi seperti ahli bedah. Bukan seperti tukang pukul." Guru Choi memusatkan pandangannya pada pedang kayu itu. Perlahan, tanpa disentuh, pedang itu mulai berputar pada porosnya sendiri, kemudian ujungnya mulai menulis di udara—sebuah karakter Hanja yang rumit, terbentuk dari gerakan yang sangat halus dan terkontrol.

**靜** (*Jeong* - Ketenangan).

Karakter itu tergantung di udara selama beberapa saat sebelum memudar. Ji-hoon memandang takjub. Kontrol seperti itu… itu jauh di atas levelnya sekarang.

"Tugasmu untuk minggu depan," kata Guru Choi sambil membiarkan pedang kayu itu jatuh dan menangkapnya dengan tangan. "Bukan menulis karakter. Tapi membuat kerikil itu berputar dengan kecepatan konstan, di tempat yang sama, selama tiga menit penuh. Tidak lebih cepat, tidak lebih lambat, tidak bergeser satu milimeter pun."

Dia melemparkan sebuah kerikil baru ke arah Ji-hoon, yang menangkapnya dengan reflek. "Kontrol presisi adalah dasar dari segala teknik lanjutan. Jika kau tidak bisa mengendalikan satu kerikil dengan sempurna, jangan bermimpi mengendalikan seratus. Sekarang, coba."

Ji-hoon meletakkan kerikil di telapak tangannya, fokus. Dia membuatnya melayang, lalu mencoba memutarnya. Kerikil itu berputar, tetapi kecepatannya tidak konsisten—kadang cepat, kadang hampir berhenti—dan porosnya bergoyang.

"Pikiranmu masih berfluktuasi," komentar Guru Choi. "Tenangkan napas. Rasakan ritmenya. Biarkan kerikil itu berputar sesuai ritme napasmu. Satu putaran untuk satu tarikan napas. Mulai."

Ji-hoon mengikuti petunjuknya. Tarik napas, kerikil berputar satu kali. Buang napas, kerikil berputar satu kali. Perlahan, pola yang tidak beraturan mulai menemukan irama. Itu sulit. Sangat sulit. Tapi untuk pertama kalinya, Ji-hoon bisa *merasakan* hubungan antara keadaan internalnya dan manifestasi eksternal kekuatannya.

Matahari sekarang sudah sepenuhnya terbit, membanjiri taman dengan cahaya keemasan. Dari kejauhan, bel pertama akademi berbunyi, menandakan awal hari yang resmi.

"Waktumu di akademi telah dimulai," kata Guru Choi. "Ingat kesepakatan kita. Sembunyikan kemajuanmu. Tetaplah menjadi siswa E-rank yang biasa-biasa saja di mata mereka. Kita akan bertemu lagi di sini, setelah matahari terbenam."

Dia memberi isyarat agar Ji-hoon pergi. Ji-hoon membungkuk hormat, lalu bergegas meninggalkan taman, kerikil ajaib itu masih digenggamnya erat di tangan.

Saat berjalan menyusuri jalan setapak menuju gedung akademi utama, Ji-hoon merasakan sesuatu yang baru di dadanya: sebuah rahasia. Sebuah tujuan rahasia. Di siang hari, dia akan menjadi Kang Ji-hoon, siswa remedial dengan potensi E-rank. Tapi saat malam tiba, di bawah bimbingan guru misterius, dia akan mulai mengukir jalan menuju sesuatu yang lebih besar.

Dan untuk pertama kalinya sejak transmigrasi, masa depan tidak lagi terasa seperti labirin gelap. Sekarang, setidaknya ada seberkas cahaya—dan seorang pemandu yang tahu jalannya.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!