Dimas, pria berusia 42 tahun yang hidupnya hancur dan berakhir sebagai gelandangan setelah dikhianati. Saat segalanya tampak berakhir, ia terbangun kembali di tubuhnya yang berusia 18 tahun, ketika masih menjadi mahasiswa.
Di titik balik hidup itu, Dimas memperoleh anugerah misterius sebuah sistem yang memberinya kekuatan dan peluang finansial luar biasa. Berbekal ingatan pahit masa depan dan kekuatan baru, ia bertekad mengubah takdir, membalas para pengkhianat, serta membangun kembali kekayaan dan kekuasaannya dari nol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Dimas berjalan santai menuju ruang kuliah. Begitu ia duduk di bangkunya, tiba-tiba sebuah pop-up transparan berwarna biru muda muncul di depan matanya.
[Ding!! Misi: Ajukan satu pertanyaan kepada dosen. Hadiah minimum: Rp10.000.000]
Dimas tersenyum kecil melihat tampilan sistem itu dan mulai menantikan perkuliahan hari ini.
Beberapa jam kemudian, setelah kelas berakhir dan ia melangkah keluar dari gedung kampus, dua pop-up baru muncul di depannya. Yang pertama membuatnya tersenyum lebar, tapi yang kedua hampir membuat jantungnya berhenti berdetak.
[Misi Selesai. Peringkat: SS. Total pertanyaan diajukan: 31. Hadiah: Rp120.000.000]
[Ding!! Misi baru: Hadiri pertandingan Tinju. Hadiah minimum: Rp500.000]
“Pertandingan tinju?” gumamnya.
Ia tertawa kecil. “Nggak mungkin aku datang ke tempat itu. Tapi dengan Rp120 juta ini, total uangku sekarang sekitar Rp336 juta… Lumayan buat beli mobil baru sama ganti ponsel.”
Sambil berjalan menuju asrama mahasiswa, Dimas masih memikirkan uangnya, sampai akhirnya ia melihat sosok yang cukup dikenal pelatih voli kampusnya, Pak Henry, seorang pria bertubuh gemuk tapi penuh semangat, sedang berjalan ke arahnya sambil tersenyum lebar.
“Dimas, anak muda! Dua hari ini saya nggak nongol di kampus, kamu pasti kangen, ya?” ujar Pak Henry dengan tawa renyahnya.
“Eh… iya, Pak,” jawab Dimas agak kikuk, sambil menggaruk dagunya.
“Sudahlah, nggak usah canggung. Nih, lihat apa yang saya bawa,” kata Pak Henry sambil mengangkat tas olahraga besar di tangannya.
Dimas sedikit mengernyit, agak ragu. Ia tidak ingin berutang budi pada siapa pun. Tapi sebelum sempat berkata apa-apa, Pak Henry sudah menimpali,
“Tenang aja, ini cuma tanda terima kasih karena kamu rajin latihan.”
Ia kemudian mengeluarkan sepasang pelindung tangan voli profesional berwarna biru langit.
“Ini Mizuno Pro Volleyball Gloves. Ukurannya pas banget buat kamu, kualitasnya juga premium,” ujar Pak Henry bangga sambil menyerahkannya.
Dimas mencoba mengenakannya di tangan. Benar saja, ukurannya sempurna dan terasa nyaman. Ia mengangguk puas.
“Dimas, Minggu ini kamu bisa ikut saya? Saya udah bicara sama kakak ipar saya, dia pelatih voli nasional. Dia pengin lihat kamu main. Kalau dia cocok, bisa jadi kamu langsung dikontrak hari itu juga!” kata Pak Henry dengan nada bersemangat, nyaris berteriak di akhir kalimat.
Dimas berpikir sejenak, menatap pelindung tangan di tangannya, lalu mengangguk pelan. “Baik, Pak. Saya ikut.”
Melihat itu, Pak Henry tersenyum lebar. Dalam hati, ia yakin Dimas punya potensi besar mungkin saja karier profesionalnya di dunia voli baru saja dimulai.
“Pak,” ujar Dimas kemudian, “karena saya baru pindah ke Depok, saya rencana beli mobil. Bapak bisa bantu rekomendasi tempat yang bagus?”
“Mobil, ya?” gumam Pak Henry sambil berpikir. “Waduh, bank tutup sekarang, saya nggak bisa tarik uang buat bantu kamu.”
Dimas tertawa kecil. “Oh, nggak perlu, Pak. Saya udah ada uangnya. Cuma belum tahu di mana tempat yang bagus buat beli.”
“Ah, begitu. Kebetulan saya tahu showroom mobil bekas yang pemiliknya jujur dan barangnya bagus. Mau saya antar sekarang?” tanya Pak Henry dengan senyum ramah.
“Tentu saja, Pak. Tapi saya ambil uangnya dulu di kamar, ya. Belum saya bawa sekarang,” jawab Dimas sopan.
“Baik, Dimas. Setelah kamu ambil uangnya, temui saya di lapangan Voli, ya,” kata Pak Henry sambil menepuk bahunya.
Dimas mengangguk. “Siap, Pak. Saya ke kamar dulu.”
Pak Henry lalu berjalan menuju ke lapangan voli, sementara Dimas segera berlari kecil ke arah asrama. Begitu sampai di kamarnya, ia membuka tas ranselnya dan menghitung seluruh uang tunai hasil misinya sebelumnya.
“Rp332 juta di tangan… lumayan besar untuk beli mobil pertama,” gumamnya pelan.
Ia mengosongkan isi tasnya, menata uang ke dalam amplop tebal, lalu memasukkannya kembali ke ransel dengan hati-hati. Setelah memastikan semuanya siap, ia pun berjalan cepat menuju lapangan voli UI.
“Kamu udah datang?” tanya Pak Henry, yang tampak sedang bersandar santai di mobil miliknya.
“Sudah, Pak,” jawab Dimas sopan sambil sedikit membungkuk.
Pak Henry mengangguk, tersenyum lebar, lalu membuka pintu mobil. “Ayo, kita berangkat.”
Mereka pun melaju keluar dari area kampus, melewati gerbang UI Depok dan jalanan yang mulai padat. Untuk pertama kalinya sejak lama, Dimas duduk santai tanpa memikirkan tugas atau latihan.
Tiba-tiba, pop-up biru kembali muncul di depannya.
[Ding!! Misi: Beli Mobil. Hadiah minimum: Rp50.000.000]
Dimas tersenyum kecil. “Jadi beli mobil aja bisa dapat hadiah, ya? Baiklah, harus yang bagus berarti.”
Tak lama kemudian, mobil Pak Henry berhenti di sebuah dealer di pinggir Jalan Margonda. Sebuah papan besar bertuliskan “Margonda Auto Gallery Mobil Bekas Berkualitas” terpampang di depan gedung.
Dimas menatapnya sejenak dan berkata, “Pak, saya sebenarnya ingin beli mobil baru, bukan bekas.”
Pak Henry tertawa pendek. “Hah? Saya pikir kamu mau cari yang ekonomis. Mobil baru itu mahal, lho. Tapi ya sudah, lihat-lihat dulu aja. Pemilik dealer ini teman lama saya, orangnya jujur.”
Mereka pun turun dari mobil. Dealer itu terlihat bersih dan rapi; mobil-mobil di dalamnya tampak seperti baru. Dimas cukup terkesan dengan koleksinya ada sedan, SUV, bahkan beberapa mobil listrik. Dalam hati, ia sudah membayangkan Toyota Camry putih atau mungkin sedan hybrid.
Seorang pria paruh baya dengan kemeja putih keluar dari ruang kaca sambil tersenyum ramah.
“Wah, Pak Henry! Lama nggak kelihatan!” serunya sambil menjabat tangan pelatih itu.
“Pak Budi, sehat-sehat aja, kan?” balas Henry dengan senyum lebar.
“Alhamdulillah. Oh iya, anak-anak voli bimbingan Bapak makin hebat, tuh. Minggu lalu jadi pemain terbaik turnamen!” ujar Pak Budi bangga.
Dimas tersenyum tipis, bisa menebak bahwa pelatihnya pasti punya peran besar dalam prestasi itu.
“Wah, saya malah belum sempat nonton pertandingannya, sibuk ngurus kampus,” jawab Pak Henry dengan nada menyesal.
“Ah, nggak apa-apa. Yang penting semangat anak-anak tetap ada,” kata Pak Budi sambil tersenyum lagi. “Eh, ini siapa?” tanyanya, menatap Dimas.
“Oh, ini Dimas. Pemain voli andalan saya, calon bintang besar!” kata Pak Henry bangga. “Dimas, ini Pak Budi, pemilik dealer ini. Beliau orang baik, paham banget soal mobil.”
Pak Budi mengulurkan tangan. “Wah, calon atlet nasional, ya? Senang kenalan, Dimas.”
“Senang juga, Pak,” jawab Dimas sopan sambil menjabat tangan itu.
“Jadi, kamu sudah punya bayangan mau cari mobil apa? Atau kasih tahu kisaran anggarannya dulu aja, biar saya bantu carikan,” ujar Pak Budi.
“Sekitar tiga ratus juta, Pak,” jawab Dimas hati-hati. Ia ingin melihat seberapa jujur penjual itu.
Pak Budi mengangguk sambil tersenyum. “Wah, itu budget yang lumayan bagus. Kalau kamu percaya sama saya, saya bisa bantu carikan mobil yang hampir baru."