Mengkisahkan seorang wanita yang bernama Aulia Az-Zahra yang hidup dalam dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan tipu daya orang-orang terdekatnya, dari suami yang berkhianat hingga keluarga yang ikut campur, ia belajar bahwa kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa diberikan begitu saja.
Dengan keberanian dan prinsip, Zahra memutuskan untuk membalas dengan bismillah, bukan dengan dendam, tapi dengan strategi, keteguhan, dan kejujuran...
Akan kah Zahra bisa membalaskan sakit hati nya? dan apakah Zahra juga bisa menemukan kebahagiaannya setelah ini?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar juga ya besty!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Masa Lalu Zahra
Tidak semua luka berasal dari masa kini, sebagian justru bangkit dari masa lalu yang kita kubur rapat-rapat bukan karena kita belum sembuh, melainkan karena ada orang yang sengaja menggalinya kembali.
Zahra duduk di ruang tamu rumah, televisi menyala tanpa suara, hanya menampilkan gambar-gambar yang lewat tanpa makna..
Ayahnya membaca koran di sudut ruangan, sementara ibunya sibuk merapikan bunga di meja kecil dekat jendela, semuanya tampak biasa, terlalu biasa.
Hingga ponsel ku bergetar pelan di pangkuan ku
Nomor tak dikenal.
Aku sempat ragu untuk membuka pesan itu, ada firasat aneh yang merayap, seperti udara sebelum hujan besar turun..
Tapi rasa penasaran mengalahkan naluri menghindar, aku membuka pesan itu.
Sebuah foto, bukan foto sembarang foto, itu diri ku
Lebih muda, rambut ku lebih panjang, senyum ku lebih lepas...
Duduk di sebuah kafe kecil, berhadapan dengan seorang laki-laki, wajah mereka saling mendekat, tertawa..
Tidak berpelukan, tidak mesra berlebihan, tapi cukup akrab untuk memancing tafsir, foto lama. Sangat lama.
Di bawahnya, satu kalimat pendek tanpa nama, tanpa tanda tangan:
. (“Istri yang suci?”)
Dunia seakan berhenti berputar, tangan ku gemetar hebat, jari-jari ku terasa dingin, sementara dada ku seperti dihantam sesuatu yang berat..
Napas ku tercekat di tenggorokan, aku tidak merasa bersalah tapi aku tahu, rasa tidak bersalah sering kali tidak ada artinya di hadapan penghakiman massal.
"Zahra, kamu kenapa sayang" suara ibu terdengar samar.
Aku tidak menjawab, aku berdiri perlahan, melangkah ke kamar ku, dengan langkah goyah...
Pintu aku tutup rapat, baru setelah itu, aku bersandar di baliknya dan menghembuskan napas panjang yang tertahan.
Aku tahu, Bu Ratna akhirnya menggunakan masa lalu ku
Tak lama kemudian, ponsel ku berdering lagi, nama Wulan muncul di layar.
("Zahra, kamu sudah melihat photo nya ya") suara sahabatnya terdengar panik, nyaris bergetar..
Aku memejamkan mata.
("Sudah.”)
("Ini sudah mulai beredar ke luar ke relasi-relasi lama.”) lanjut Wulan cepat
Aku duduk di tepi ranjang, kepala ku menunduk, rambut ku jatuh menutupi wajah.
("Itu masa laluku, dan aku tidak pernah berbohong tentang diriku.”) ucap ku lirih
("Aku tahu, aku tahu kamu tidak salah, tapi orang-orang...") Ucap Wulan
("Akan menilai, tanpa bertanya tanpa memahami.”) potong ku pelan
Aku tersenyum pahit, dunia tidak pernah benar-benar peduli pada kebenaran utuh, yang dicari hanyalah potongan cerita yang cukup sensasional untuk dijadikan senjata.
Di sisi lain, Bu Ratna duduk di ruang kerjanya, lampu meja menyinari wajahnya yang dingin..
Ponsel di tangannya menampilkan pesan-pesan masuk tanda bahwa umpan yang ia lempar mulai bekerja.
Senyum tipis terukir di bibirnya.
“Sekarang kita lihat, seberapa kuat perempuan itu bertahan.” gumamnya pelan
Baginya, ini bukan sekadar serangan, ini adalah pembuktian, bahwa kekuasaan, jika digunakan dengan tepat, selalu bisa menundukkan siapa pun.
***
Akibat ulah Bu Ratna, Genta pun turut menerima sindiran dari seorang paman nya yang mengirimkan nya pesan panjang Isinya berputar-putar, penuh sindiran, tapi intinya jelas.
("Hati-hati, Genta, jangan-jangan dari awal kamu ditipu, masa lalu perempuan itu tidak sebersih yang kamu kira.”)
Genta duduk lama, menatap layar ponselnya tanpa berkedip, dadanya terasa sesak, bukan karena ia terkejut, ia tahu Zahra punya masa lalu, semua orang punya..
Tapi ia tahu persis bagaimana dunia akan memelintir cerita itu, dan yang paling ia benci ibunya selalu ada di balik semua ini.
Tanpa banyak berpikir, Genta mengambil kunci mobil dan pergi..
Malam mulai turun ketika ia tiba di rumah Zahra, lampu kamar Zahra masih menyala..
Genta mengetuk pintu pelan, lalu masuk setelah dipersilakan.
Zahra duduk di dekat jendela, memandangi gelap di luar sana, wajahnya pucat, tapi matanya jernih..
Tidak ada kepanikan, tidak ada drama, hanya kelelahan yang dalam..
"Mas, kalau kamu mau bertanya… aku siap.” ucap nya saat Genta mendekat
Kalimat itu menusuk Genta lebih dalam dari tudingan mana pun..
Genta duduk di hadapannya, menatap wajah yang selama ini ia kenal, wajah perempuan yang tetap berdiri meski terus dihantam badai.
"Itu masa lalu kamu?” tanya Genta pelan.
“Iya, sebelum aku mengenalmu, sebelum aku mengenal siapa pun di keluargamu.” jawab Zahra ragu
Genta mengangguk.
“Dan tidak ada yang kamu sembunyikan dariku?”
Zahra menggeleng perlahan.
“Tidak, aku pernah cerita, kamu hanya… tidak bertanya sedalam ini.”
Genta terdiam, ingatannya berputar, ia memang pernah mendengar cerita itu sekilas, tapi saat itu, egonya terlalu besar, ia merasa tidak perlu tahu lebih jauh..
“Aku tidak menilai masa lalu mu, aku menilai siapa kamu sekarang.” ucap Genta akhirnya suaranya mantap
Air mata Zahra jatuh pelan, satu lalu satu lagi bukan karena sedih, melainkan karena lega..
Beban yang menekan dadanya sejak pesan itu datang, perlahan mengendur..
“Terima kasih,” bisik nya..
Namun ketenangan itu hanya milik mereka berdua, dunia di luar kamar tidak sebijak itu..
"Mulai sekarang, aku akan tinggal bersama mu, untuk melindungi diri mu dari ego orang tua ku" ucap Genta mantap, Zahra hanya mengangguk lemah
Keesokan harinya, Bu Ratna kembali mengundang keluarga besar, kali ini dengan dalih menjaga nama baik keluarga, Genta pun ikut datang kerumah ibunya
Ruang tamu rumah besar itu dipenuhi wajah-wajah tegang dan bisik-bisik penuh prasangka.
“Kita harus jujur, Zahra bukan perempuan yang baik-baik sejak awal.” ucap Bu Ratna lantang, kalimat itu meluncur tajam, tanpa empati.
Genta berdiri sebelum siapa pun sempat menimpali..
“Cukup, masa lalu seseorang bukan alat untuk menghancurkannya.” ucapnya tegas, suara Genta menggema di ruangan
Bu Ratna menatapnya dengan mata menyala.
“Kamu sudah buta, Genta, kalau memang istri mu itu tidak bersalah kenapa ia tidak ikut datang bersama mu" ucap Bu Ratna tajam
“Tidak, aku baru belajar melihat Mak, selama ini aku sudah buta, dibutakan oleh Mak ku sendiri dan Zahra tidak ikut karena dia tahu kalau dia datang akan terjadi kekacauan disini" jawab Genta
Hening..
Tidak ada yang berani bicara, tidak ada yang berani menentang, untuk pertama kalinya, Genta berdiri di hadapan ibunya bukan sebagai anak yang patuh, melainkan sebagai laki-laki yang memilih kebenaran..
***
Di tempat lain, Zahra membuat keputusan penting..
Ia duduk di depan laptopnya, mengetik perlahan, bukan pembelaan, bukan serangan balik, melainkan pernyataan yang jujur dan bermartabat..
<"Saya punya masa lalu, seperti manusia lainnya, saya tidak sempurna, tapi saya jujur dan bertanggung jawab dan selama ini saya tidak pernah mengkhianati pernikahan saya">
Ia tidak mengirimkannya ke publik luas, hanya kepada orang-orang yang penting, kepada mereka yang layak mendengar kebenaran langsung darinya..
Zahra memilih tidak melawan dengan membuka aib siapa pun, ia melawan dengan kejujuran yang utuh..!
Malam itu, Zahra kembali bersujud, lebih lama dari biasanya, air matanya jatuh ke sajadah, membasahi kain dengan doa-doa yang tak terucap..!
Di rumahnya, Bu Ratna duduk termenung, senyum puas yang ia harapkan tidak datang, yang ada justru rasa asing, seperti kehilangan kendali atas sesuatu yang selama ini ia kuasai..
Karena ia melihat satu hal yang tidak ia perhitungkan..
Zahra tidak runtuh malah semakin kuat karena Genta sekarang berada di pihak Zahra..!!
"Semua karena kamu Zahra, yang sudah mempengaruhi anak ku Genta" tangan Bu Ratna mengepal kuat