NovelToon NovelToon
Memorable Love

Memorable Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Selingkuh / Nikah Kontrak / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Obsesi / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: Eva Hyungsik

Siapa yang sanggup menjalani sebuah hubungan tanpa cinta? Apalagi pasangan kalian masih belum usai dengan masa lalunya. Dua tahun Janice menjalani hubungan dengan seorang pria yang sangat ia cintai, dan hidup bersama dengan pria tersebut tanpa ikatan pernikahan. Selama dua tahun itu Stendy tidak pernah membalas cinta Janice. Bahkan Stendy sering bersikap dingin dan acuh pada Janice. Sampai akhirnya wanita di masa lalu Stendy kembali, hingga membuat Janice terpaksa mengakhiri hubungannya dan melepaskan pria yang selama ini sangat ia cintai. Semua Janice lakukan, hanya untuk membuat Stendy bahagia bersama wanita yang dicintainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Hyungsik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CYTB 10

Stendy terus menarik tubuh Janice menuju mobilnya, dan wanita itu pun tidak berhenti memberontak. 

“Berhenti!” 

“Lepaskan Janice, Tuan!” 

Dua suara berhasil menghentikan langkah Stendy. Pria itu pun menghentikan langkahnya dan memicingkan matanya. Sementara Janice dapat bernafas lega setelah melihat dua orang yang ditunggu olehnya. 

Stendy mengerutkan dahinya dan matanya memicing. “Mengapa kalian ada disini?” tanya Stendy menatap Rodez dan Briant. 

Briant maju selangkah mendekati Stendy dan Janice. Dibelakangnya ada Rodez. “Aku datang untuk menjemput Janice,” jawab Briant terlihat tidak takut dengan Stendy. 

Stendy menyeringai sinis, kemudian menatap Janice. “Tidak perlu. Karena Janice akan pulang bersamaku,” kata Stendy yang kembali menarik lengan Janice. 

“Hentikan, Tuan. Kau menyakiti Janice!” sentak Briant seraya mencoba untuk melepaskan cekakak tangan Stendy dari lengan Janice. 

“Diam kau!” Stendy mendorong tubuh Briant sampai pria itu sedikit terhuyung. 

Namun, dengan cepat Briant kembali mendekat. “Janice sudah mengakhiri hubungan kalian berdua. Jadi kau tidak berhak untuk memaksanya,” bentak Briant. 

Stendy yang mendengar itu pun merasa begitu kesal. Dengan kasar ia menghempaskan lengan Janice. Tatapannya dingin dengan senyum menyeringai ke arah Briant. Rodez yang sejak tadi menyimak pun, mendekat. 

“Tuan, tolong tenangkan diri anda,” Rodez berkata begitu formal. Mengingat disana masih ada Briant. 

Stendy berdecak kesal, dan menatap Janice yang kini sudah berdiri di belakang Briant. Stendy, pun tertawa dingin sambil bertepuk tangan. 

“Wah, kau hebat Janice. Kau minta mengakhiri hubungan ini, lalu dengan  cepat berpaling dan memilih pria ingusan ini,” Stendy masih menatap sinis pada Janice, sambil menunjuk ke arah Briant.

Janice yang mendengar itu pun merasa kesal, dia menggeser tubuhnya ke samping Briant. 

“Tidak perlu kamu berbalik menyalahkan diriku, Stendy. Aku minta mengakhiri hubungan kita, bukan karena aku menyukai orang lain. Tapi, karena kamu…. Kamu yang sudah mengkhianati aku.” Janice terlihat marah sekali pada ucapan  Stendy, bahkan kini tangannya sudah mengepal kuat. 

“Selama dua tahun aku bersamamu, apakah kau pernah mencintaiku? Bahkan kau tidak pernah menganggapku ada di sisimu,” Janice sengaja menyinggung perasaan Stendy terhadapnya selama ini. 

Mendengar itu Stendy pun bungkam, ia bingung harus berkata apa. Jujur pun ia tidak mau, sebab ia tahu Janice akan tersakiti. Janice tersenyum kecut melihat Stendy hanya diam. 

“Mengapa diam? Apa yang aku katakan itu benar ‘kan? Memang kamu tidak pernah mencintaiku, Stendy,” Janice menghela nafasnya dengan kasar. 

Kemudian ia  kembali berbicara. “Aku menerima semua perlakuanmu terhadapku selama ini. Tapi, bukan artinya aku akan selalu diam atas semua hal yang menyakitkan hatiku.  Aku sadar  diri, dan tidak ingin memaksakan perasaanmu untuk mencintaiku. Kejarlah kebahagiaanmu bersama wanita yang kamu cintai. Maafkan aku karena sudah membuatmu tertekan selama dua tahun ini. Kini saatnya aku mundur dan mengakhiri semuanya,” kata Janice yang membuat Stendy tertohok. 

Stendy menggeleng pelan, hatinya merasa tidak rela jika hubungannya dengan Janice harus berakhir. Egois memang, tapi bisakah mereka tetap bersama. Walaupun dalam hati Stendy masih tertanam nama Harisa. 

Stendy menarik kembali tangan Janice. “Tidak, Janice. Aku tidak ingin hubungan kita berakhir!” Stendy menolak mentah-mentah keinginan Janice untuk berpisah dengannya. 

Janice menatap tangannya yang dipegang oleh Stendy. Lalu, melepaskannya dengan kasar. 

“Sudah cukup, Stendy. Aku juga lelah, jika harus mencintai tanpa dicintai,” Janice menatap penuh kekecewaan pada Stendy. 

Janice mundur beberapa langkah, dengan sigap Briant berdiri di depan Janice. 

Briant menatap datar ke arah Stendy dan berkata. “Biarkan Janice pergi, dan tolong hargai keputusannya.” 

Setelahnya Briant segera mengajak Janice masuk ke dalam mobilnya. Meninggalkan Stendy yang terdiam menatap kepergian Janice. Rodez yang sejak tadi berdiri pun segera mendekat ke arah Stendy. Lalu menepuk pundak sahabat sekaligus atasannya itu. 

Stendy menoleh menatap Rodez, tatapan dingin dipenuhi rasa kesal dan benci menjadi satu. Stendy mengepalkan kedua tangannya, lalu berjalan meninggalkan Rodez sendirian. Stendy menaiki mobilnya dan meninggalkan pelataran villa utama keluarga Canet. Rodez hanya bisa mendesah pelan, dari balkon lantai dua Irene dan Fandy menatap kecewa pada putranya itu. 

“Aku benar-benar tidak menyangka, kalau Stendy akan kembali ke lubang yang sama.” 

Fandy mengusap punggung istrinya dengan lembut. Irene mendongak dan menatap wajah suaminya, lalu berkata. 

“Apakah kita sebaiknya menemui Jason dan Naomi? Aku tidak ingin Janice pergi dari keluarga kita. Aku hanya menginginkan Janice yang  menjadi menantu di keluarga kita,” ujar Irene dengan mata berkaca-kaca. 

Fandy mendesah pelan, ia tahu mereka tidak mungkin bisa  menemui kedua orang tua Janice. Mengingat betapa Jason begitu menentang keinginan mendiang kakek Stendy  yang sangat ingin menjadikan Janice menantu di keluarga Canet. Sampai akhirnya Jason mengusir Janice, karena nyatanya Janice begitu mencintai Stendy saat itu. Jason cukup kecewa pada Janice. Namun, sebagai orang tua Jason tidak begitu benar-benar membenci Janice. Terbukti untuk saat ini Jason masih menerima Janice dan bahkan akan mengajak putrinya itu untuk tinggal jauh dari keluarga Canet. 

Akan tetapi, Fandy dan Irene masih belum mengetahui hal itu. Irene menatap wajah suaminya yang terlihat muram. Ia tahu apa yang sedang dipikirkan Fandy, dan Irene pun tersenyum lirih. 

“Kita coba, ya. Aku mohon!" pinta Irene yang masih memohon pada sang suami. 

Fandy kembali mendesah, dan mengangguk pasrah. “Baiklah. Kita akan coba kembali membujuk Janice dan juga Jason,” jawab Fandy dengan perasaan yang masih diselipkan keraguan. 

Di sebuah bar Stendy sudah beberapa kali menenggak minuman beralkohol. Di sana ada Yohan yang menemaninya, tidak lama Rodez pun datang setelah Yohan menghubunginya. 

“Berhentilah minum, Stendy!” 

Rodez merebut gelas milik Stendy, namun segera ditepis kasar oleh pria itu. Stendy mendengus dengan tatapan tajam ke arah Rodez. 

Prang… 

Stendy melempar gelar tersebut hingga pecah. Matanya sudah mulai memerah, kemudian ia kembali melihat ke arah Rodez. 

“Kau!” Stendy mencengkram kerah kemeja Rodez. 

“Pasti kau yang sudah membocorkan rekaman CCTV ruanganku kepada Janice!” tuduh Stendy dengan suara membentak. 

Yohan terlihat bingung dan belum paham apa yang dikatakan Stendy. Sementara Rodez masih terlihat begitu tenang. Rodez mencengkram kedua tangan Stendy dan menyingkirkannya dengan sekali hentakan. 

“Iya, memang aku yang telah memberikan rekaman itu pada Janice. Apa kau keberatan?” jawab Rodez seolah menantang Stendy. 

Stendy mengeraskan rahangnya, tangannya pun terkepal kuat. “Dasar brengsek!” maki Stendy.

Lalu sebuah pukulan pun melayang ke wajah Rodez. Yohan segera bangkit dari posisi duduknya saat melihat Stendy memukul Rodez. 

“Stendy, hentikan!” Yohan sudah menahan tubuh Stendy yang hendak memukul Rodez lagi. 

“Lepaskan! Biar aku memukulnya.” Stendy berteriak dan memberontak. 

Rodez tersenyum sinis sambil mengusap bibirnya yang berdarah. Ia pun tertawa meremeh, dan membenarkan kembali jas yang dikenakannya. 

“Aku lakukan itu juga untuk membantumu lepas dari Janice. Bukankah itu yang kau inginkan, bukankah kau sangat ingin kembali dengan Harisa.” 

Stendy diam mendengar ucapan Rodez. Akan tetapi, entah mengapa hatinya tidak rela jika Janice benar-benar meninggalkannya. Lagi pula itu adalah urusannya, bukan urusan Rodez atau yang lainnya. Stendy menatap Rodez kembali dengan tatapan tajam. Dengan kasar ia menepis tangan Yohan yang masih memegangi lengannya. 

“Tapi, bukan seperti ini caranya!” bentak Stendy. 

“Kau sudah terlalu jauh ikut campur urusanku, Rodez.” Stendy menunjuk wajah Rodez dengan emosinya. 

Yohan yang sejak tadi bingung pun perlahan mulai mencerna apa yang terjadi antara kedua sahabatnya ini. Ia pun memilih berdiri di antara kedua pria yang sedang bersitegang tersebut. 

“Coba tenangkan diri kalian dahulu, aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian berdua. Tapi aku harap kalian berdua jangan saling menyerang satu sama lain. Ingat persahabatan kita sudah berjalan cukup lama. Jadi aku mohon apapun masalahnya kita selesaikan secara baik-baik dan profesionalisme,” Yohan mencoba untuk menengahi keduanya. 

Stendy berdecak kesal, sementara Rodez hanya bisa mendesah pelan dan tetap tenang. Bagi Rodez masalah kali ini dirinya tidak salah. Sebab baginya ia hanya membantu meringankan beban Stendy. Akan tetapi, sepertinya Stendy tidak terima dengan apa yang dilakukan Rodez. 

Rodez mengibaskan lengan jas-nya yang terlihat sedikit kusut. “Yang menyerang hanya dia, bukan aku.” Tegas Rodez seraya menatap tajam dan dingin ke arah Yohan. 

“Iya, aku tahu. Aku hanya ingin kalian tetap tenang,” pasrah Yohan yang masih ingin menengahi kedua sahabatnya. 

Stendy menatap tajam Rodez, dan kembali menunjuk ke arah pria itu. “Ini semua gara-gara kamu!” Stendy kembali membentak dan  menyalahkan Rodez. 

Rodez tertawa kecut. “Jangan playing victim disini, Stendy. Sudah jelas ini semua karena kamu masih mengharapkan kembali bersama Harisa. Sekarang coba kau pikir saja, mana ada wanita yang masih ingin bertahan dengan pria yang belum selesai dengan masa lalunya. Jangankan Janice, jika itu aku yang merasakannya. Aku juga akan memilih cara seperti yang Janice lakukan. Yaitu, memilih mengakhiri dan pergi jauh!” 

“Harusnya kau sadar diri dan introspeksi selama ini, apakah kau pernah menghargainya, memberi cintamu pada Janice? Apakah selagi dia bersamamu, kamu pernah membahagiakannya?” Rodez menggeleng dengan tawa sinisnya. 

Lalu ia menunjuk wajah Stendy dan berkata, “Kamu tidak pernah melakukan itu. Kamu hanya mementingkan dirimu sendiri, dan tidak pernah peduli apa yang Janice rasakan selama ini. Kau malah sibuk dengan wanita masa lalumu,” dengan perasaan cukup emosi Rodez pun pergi meninggalkan ruang VIP di bar tersebut. 

Stendy mematung dengan ekspresi wajah penuh penyesalan. Mendengar semua ucapan Rodez, seakan kembali mengingatkan dirinya telah tidak peduli pada Janice. Bayangan dimana Janice sering menanyakan apakah dirinya mencintai wanita itu? Namun, Stendy tidak bisa menjawabnya dan malah mengalihkan topik pembicaraan mereka. Bahkan Stendy sadar selama ini dirinya juga selalu bersikap acuh dan dingin pada Janice. 

Yohan menatap Stendy yang masih terdiam, ia pun menepuk pundak Stendy. “Stendy, kamu baik-baik saja?” tanya pria itu dengan wajah terlihat khawatir. 

Stendy tersadar, ia seperti pria linglung. Membuat Yohan segera menuntunnya untuk duduk di sofa dan memberikan sebotol air putih untuk Stendy. 

“Minumlah,” Yohan menjulurkan sebotol air mineral dan Stendy segera mengambilnya. 

Namun, botol itu hanya dibiarkan saja berada di tangan Stendy. Yohan kembali mengerutkan dahinya, dan berkata kembali. 

“Mengapa tidak kamu minum airnya?” tanya Yohan yang bingung. 

Stendy tidak menjawab, ia malah menaruh botol tersebut dan mengambil gelas miliknya yang masih ada sisa minuman beralkohol tersebut. Yohan membelalakkan matanya, ingin sekali ia mencegah Stendy akan tetapi dirinya takut pria itu kembali mengamuk. 

“Mengapa kamu malah minum itu?” Yohan bertanya dengan sangat hati-hati. Takut Stendy akan tersinggung dengan pertanyaannya. 

Yohan mengambil gelas bekas Stendy dan sedikit menyingkirkannya. Pria itu menggeleng melihat tingkah Stendy yang hanya diam dan menundukkan kepala. 

“Sebenarnya apa yang terjadi antara kau dan Rodez? Video apa yang kalian ributkan?” tanya Yohan perlahan. 

Stendy mendongakkan kepalanya setelah cukup lama menunduk. “Janice minta mengakhiri hubungan kami,” jawab Stendy lirih. 

Yohan menaikkan satu alisnya, terdiam sejenak mencerna ucapan Stendy. Kemudian pria itu pun tertawa. 

“Maksudmu membatalkan pertunangan kalian?” Stendy mengangguk menjawab pertanyaan Yohan. 

“Itu tidak mungkin. Mana mungkin Janice mengakhiri hubungan kalian,” masih dengan tawanya Yohan berkata seolah dirinya tidak percaya begitu saja. 

“Dia serius. Bahkan dia sudah mengatakan hal ini pada kedua orang tuaku,” 

Yohan menghentikan tawanya, melihat Stendy begitu serius. Membuatnya Yohan merapatkan duduknya dan kembali bertanya dengan nada serius. 

“Jadi ini beneran? Janice beneran minta putus darimu?” Pertanyaan Yohan di alas anggukan kepala oleh Stendy. 

Yohan menutup mulutnya dengan satu tangan. Dia tidak menyangka Janice benar-benar mengakhiri hubungannya dengan sahabatnya itu. Lalu ia menggeleng, karena masih tetap tidak percaya. Dia pun mendekatkan tubuhnya sambil merangkul Stendy. 

“Hei, kita tahu Janice seperti apa. Ini pasti hanya rekayasa dirinya untuk mendapatkan perhatian lebih darimu. Aku yakin pasti besok atau lusa Janice akan memohon kembali padamu. Sudah, kau tenang saja. Janice pasti akan kembali dan meminta hubungan kalian terjalin lagi,” ucap Yohan sambil tersenyum. 

Stendy yang mendengar itupun mengangguk. Ya, apa yang dikatakan Yohan ada benarnya. Pasti Janice akan kembali memohon dalam waktu dekat ini. Stendy sangat tahu Janice yang begitu mencintainya. Jadi, bagaimana bisa wanita itu jauh dari dirinya. Stendy tersenyum menyeringai, ia akan menunggu Janice untuk memohon  kembali berhubungan dengannya. 

Sementara itu di rumah Jason. Janice sedang memeluk erat sang ibu. Setelah dari villa utama keluarga Canet, Briant membawa Janice kembali ke rumah kedua orang tua wanita itu. 

Kedatangan Janice disambut hangat oleh kedua orangtuanya. Isak tangis tak luput dari pertemuan haru diantara mereka. Briant yang menyaksikan keluarga itu pun terharu dan sempat meneteskan air matanya. Setelah berbincang-bincang ringan bersama kedua orang tua Janice, Briant akhirnya izin pulang. Kini hanya tinggal Janice dan kedua orang tuanya saja. 

Jason kembali duduk di dekat dua wanita yang dia cintai. Lalu tangannya terulur mengusap kepala sang putri. Janice tersenyum dan melepaskan pelukannya pada Naomi, dan beralih memeluk Jason. 

“Aku sayang, Ayah.” 

Jason tersenyum mendengar ucapan putrinya, “Ayah pun juga begitu,” jawabnya. 

Naomi pun tidak kalah ikut menimpali, ia berkata. “Kami semua sayang sama kamu, Nak.” Naomi mengusap kepala Janice. 

“Lusa kita sudah bisa  berangkat ke negara S,” celetuk Jason. 

Janice langsung melepaskan pelukannya dari tubuh sang ayah. “Kita?” Beo Janice setelah mencerna ucapan Jason. 

Jason dan Naomi tetap tersenyum, memang niat mereka belum tersampaikan ke Janice. Kalau mereka ingin ikut pindah ke negara S dan membuka usaha di negara tersebut. Janice menatap kedua orang tuanya dengan tatapan bingung. 

“Iya, kita bertiga akan menetap di sana,” 

Janice terkejut mendengar ucapan sang ibu. Lalu ia beralih menatap ke arah sang ayah. 

“Apa ini? Bukankah hanya aku yang akan ke negara S, dan itu pun untuk melanjutkan studiku,” 

Naomi menggenggam tangan Janice dan mengusapnya dengan lembut. “Maafkan kami yang tidak memberitahukan kamu sebelumnya. Ibu dan Ayah, sudah memutuskan untuk tinggal di negara itu. Kami tidak ingin jauh lagi dengan putri kami ini,” ucap Naomi seraya mengusap pipi Janice. 

Janice tersenyum haru, hatinya benar-benar mencelos mendengar ucapan sang ibu. Dengan mata berkaca-kaca, ia pun kembali bertanya. 

“Kalau Ibu dan Ayah ikut pindah ke negara itu. Bagaimana dengan restoran keluarga kita?” tanya Janice. 

Jason tersenyum, “Kamu tenang saja. Ada Calvin yang akan mengurusnya,” jawab Jason. 

“Kak Calvin?” tanya Janice dengan mata berbinar. 

Jason mengangguk. “Iya, sudah hampir dua tahun ini dia membantu usaha Ayah dan menjadi asisten Ayah.” 

Janice tidak menyangka kalau Calvin akan membantu keluarga untuk mengurus restoran milik ayahnya. Karena setahu Janice, Calvin sudah memiliki pekerjaan tetap saat Janice memutuskan untuk keluar dari rumah dan memilih untuk tinggal bersama Stendy. 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!