Mengkisahkan seorang wanita yang bernama Aulia Az-Zahra yang hidup dalam dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan tipu daya orang-orang terdekatnya, dari suami yang berkhianat hingga keluarga yang ikut campur, ia belajar bahwa kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa diberikan begitu saja.
Dengan keberanian dan prinsip, Zahra memutuskan untuk membalas dengan bismillah, bukan dengan dendam, tapi dengan strategi, keteguhan, dan kejujuran...
Akan kah Zahra bisa membalaskan sakit hati nya? dan apakah Zahra juga bisa menemukan kebahagiaannya setelah ini?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar juga ya besty!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Bu Ratna Kalah
Bu Ratna duduk di ruang tamu sejak subuh, teh di cangkirnya telah dingin, tak tersentuh, pandangannya kosong, menatap jam dinding yang berdetak tanpa peduli..
Malam tanpa tidur meninggalkan lingkar hitam di bawah matanya, di kepalanya, satu per satu kejadian berputar: forum yang memalukan, bisik-bisik arisan, surat pemutusan kerja sama, dan sidang yang mematahkan wibawanya.
Untuk pertama kalinya, Bu Ratna merasa kecil, bukan karena kehilangan harta melainkan karena kehilangan muka karena Zahra..
Ponselnya bergetar, pesan dari kerabat dekat..
("Maaf, Rat, aku rasa kamu perlu istirahat dulu dari urusan luar, demi kebaikanmu")
Bu Ratna tersenyum pahit, istirahat adalah kata halus untuk disingkirkan..!
Ia menutup ponsel, memeluk lutut, dada terasa sesak, bukan marah melainkan takut..
Takut menghadapi dunia tanpa kuasa menekan..
Dini yang sejak tadi memperhatikan ibunya akhirnya melangkah mendekat, wajah Bu Ratna tampak muram, sorot matanya penuh amarah sekaligus luka yang tak mau ia akui.
"Mak…” panggil Dini pelan, berusaha menahan getar di dadanya..
"Sudahlah, jangan terus bersedih, mungkin sudah saatnya kita juga introspeksi diri, Mak. Banyak hal yang sudah terjadi… mungkin ini teguran buat kita semua.” ucap Dini
Kalimat itu justru membuat Bu Ratna mendongak tajam, wajahnya mengeras, nada suaranya berubah dingin dan menusuk.
“Introspeksi?” ulangnya ketus..
"Apa maksudmu bicara seperti itu? Yang seharusnya introspeksi itu Zahra! Dia sudah sangat jahat pada keluarga kita, semua musibah ini karena dia!” lanjut Bu Ratna
Bu Ratna menghela napas kasar, lalu menatap Dini dengan tatapan penuh kekecewaan.
“Dan sekarang kamu malah menyalahkan Mak? Setelah semua yang Mak lakukan demi keluarga ini?”
Dini terdiam, dadanya terasa sesak, namun tak ada kata yang keluar dari bibirnya, ia hanya menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri yang mulai goyah, dalam hati, ia tahu… ibunya tak akan pernah mau mengakui kesalahan sendiri.
Seberat apa pun kenyataan yang terhampar di depan mata, Bu Ratna tetap menutup diri dengan amarah dan pembenaran.
Dini hanya bisa menunduk pasrah, menyadari bahwa perubahan yang ia harapkan mungkin tak akan pernah datang, meski kejadian demi kejadian pahit terus menampar kehidupan mereka..!
***
Di ruang sidang kembali dipenuhi ketegangan, hari ini bukan soal bukti melainkan sikap..!
Genta datang bersama Bu Ratna dan mereka langsung masuk keruangan sidang disana sudah ada Zahra dan pengacaranya..!
Sidang pun di mulai dan Hakim mempersilakan Genta menyampaikan pernyataan terakhirnya..
Genta berdiri, bahunya turun, wajahnya lelah, tapi ada kejujuran yang belum pernah muncul sebelumnya..
“Yang Mulia, saya mengakui kesalahan saya sebagai suami, saya tidak melindungi istri saya dari tekanan keluarga, dan saya membiarkan itu berlangsung terlalu lama.” ucapnya, suaranya bergetar namun jelas
Bu Ratna yang duduk di bangku pengunjung menegang, ia ingin berdiri, ingin membantah namun kakinya tak bergerak..
"Saya tidak ingin mempertahankan pernikahan dengan cara menutup mata, jika pengadilan memutuskan cerai, saya menerimanya dan saya siap memenuhi kewajiban saya.” lanjut Genta karena tidak ingin bertele-tele
Ruangan hening, bukan hening kosong, melainkan hening yang penuh bobot..
Zahra menunduk pelan, ada rasa lega, tapi juga duka, bukan duka karena berpisah melainkan karena pengakuan ini datang terlambat..!
"Andaikan kamu bersikap tegas terhadap keluarga mu dan selalu membela ku mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi" batin Zahra
Hakim mengangguk perlahan.
"Pernyataan Anda dicatat dan diterima, untuk penentuan sidang akan dilanjutkan besok" ucap Hakim sambil mengetuk palu
Di luar ruang sidang, beberapa orang menyalami Zahra, nada mereka berubah lebih hormat, bahkan kagum..
"Kamu kuat sekali,” kata seseorang.
Zahra tersenyum tipis.
“Saya hanya bertahan.”
Fadhil mendekat, berbicara pelan.
“Ingat, Zahra... menang tidak berarti harus meninggi.”
Zahra mengangguk.
“Aku tahu.”
Bu Ratna dan Genta melihat kearah Zahra
"Lihat, Genta, kamu lihat sendiri kan kelakuan Zahra, kenapa kamu mengakuinya dan kenapa kamu gak mempersulit perceraian ini" ucap Bu Ratna
"Mak, aku sudah lelah, aku sengaja mengakuinya karena aku ingin secepatnya bebas dari Zahra, aku tidak ingin ada hubungannya apapun dengan wanita seperti Zahra, aku ingin hidup tenang Mak, terserah dia mau bawa selingkuhan nya itu hak nya, aku akan mencari wanita yang benar-benar mencintai ku" jawab Genta panjang lebar
Bu Ratna hanya terdiam membeku mendengar ucapan dari Genta..!
"Ayo kita pulang sekarang dan aku akan tinggal dirumah Mak lagi" ucap Genta membuyarkan lamunan Bu Ratna
Sore nya, Bu Ratna pulang dengan langkah gontai, rumahnya terasa terlalu besar, terlalu sunyi..
Ia masuk ke kamar, membuka lemari, menemukan map lama berisi sertifikat, surat-surat, dan foto keluarga.
Tangannya gemetar saat melihat foto pernikahan Genta dan Zahra, senyum Zahra di foto itu lembut tanpa perlawanan..!!
“Kenapa dulu aku tidak berhenti? Dan dulu ia begitu polos" gumam Bu Ratna lirih.
Untuk pertama kalinya, tidak ada yang ia salahkan, tidak Zahra dan tidak pula Genta, hanya dirinya sendiri.
Bu Ratna akhirnya menangis tanpa suara, tanpa saksi, isak itu tertahan di dadanya, seolah tak berhak keluar...
Tepat saat ia menunduk dalam keheningan, ponselnya tiba-tiba bergetar, sebuah pesan masuk dari Rena..
Getaran itu membuat Bu Ratna tersentak, dengan tangan sedikit gemetar, ia segera meraih ponselnya dan membuka pesan tersebut..
("Mak, bagaimana dengan perceraian Mas Genta? Apa semuanya berjalan dengan lancar? Dan… kapan aku akan benar-benar masuk dalam hidup Mas Genta?”) isi pesan Rena.
Bu Ratna terdiam cukup lama, tatapannya kosong menatap layar ponsel, pikirannya dipenuhi berbagai pertimbangan dan harapan yang saling bertabrakan...
Bu Ratna menghela napas panjang, air matanya belum benar-benar kering, namun jemarinya sudah bergerak di layar ponsel.
Wajahnya mengeras, seolah ia kembali mengenakan topeng ketegaran yang selama ini ia banggakan..!
Ia menatap pesan Rena lama sekali, lalu mengetik balasan dengan hati-hati sekali
("Tenang, Rena, semua sedang Mak usahakan, perceraian Genta hanya soal waktu, kamu jangan gegabah, Mak ingin semuanya terlihat wajar dan bersih, kalau saatnya tiba, kamu yang akan berdiri di samping Genta. Mak percaya kamu lebih bisa mengerti dan menurut daripada perempuan itu.”*
Pesan itu terkirim.
Bu Ratna bersandar di kursi, menutup mata sejenak, dalam pikirannya, Rena adalah harapan terakhirnya untuk membantu dirinya..!
perempuan yang ia yakini bisa ia kendalikan, bisa ia arahkan, dan bisa menjadi istri ideal untuk Genta sesuai versinya.
"Kalau Rena yang jadi istrinya… Genta pasti akan kembali seperti dulu" gumamnya lirih, nyaris seperti doa..!
Walaupun ia tahu Genta sudah kembali untuk tinggal bersama nya akan tetapi ia belum sepenuhnya untuk menguasai Genta lagi..!