Persahabatan yang solid dari masa sekolah akhirnya harus berkumpul pada satu Batalyon di sebuah daerah perbatasan karena suatu hal. Situasi semakin kompleks karena mereka harus membawa calon istri masing-masing karena permasalahan yang mereka buat sebelumnya.
Parah semakin parah karena mereka membawa gadis mereka yang sebenarnya jauh dari harapan dan tak pernah ada dalam kriteria pasangan impian. Nona manja, bidadari terdepak dari surga + putri sok tau semakin mengisi warna hidup para Letnan muda.
KONFLIK TINGKAT TINGGI. Harap SKIP bila tidak mampu masuk ke dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Gelisah mempertahankanmu.
Dinda masih belum mau bicara dengan Bang Rama, rasanya hari yang di laluinya begitu berat. Namun ternyata ada hal yang lebih berat dari semua.
Kelengkapan dokumen Dinda masih ada yang kurang dan itu tentang keterangan status dirinya yang memang seorang yatim piatu dan hidup sebatang kara.
"Dimana ya?? Saya yakin sudah melampirkannya pada data digital." Gumamnya sambil terus mencari data pada laptop di ruangan intelnya. "Oya, data fisiknya ada dimana, dek?" Tanya Bang Rama.
"Dibawa Bang Ardi." Jawab Dinda pelan.
"Kenapa masih di bawa Ardi????"
Dinda menunduk, suaranya sudah tidak setinggi tadi. "Karena Bang Ardi yang membayar biaya sekolah Dinda untuk bisa jadi pramugari, apapun yang Dinda punya, semua atas bantuan Bang Ardi, jadi data diri itu, ada di tangan Bang Ardi."
"Astaghfirullah..!!!! Kenapa kamu tidak bilang dari awal?????" Bang Rama mumet sampai meremas rambutnya.
"Dinda pikir sudah cukup pakai data digital."
Melihat emosi Bang Rama mulai naik, Bang Arben langsung menenangkannya. Selain agar situasi tidak semakin panas, Bang Ardi tetaplah saudara satu letting mereka.
"Tahan sedikit emosimu, Ram..!!" Kata Bang Arben mengingatkan.
"Iya Ram. Ini di kantor, nggak enak juga kalau terdengar di telinga yang lain..!!" Bang Sanca ikut membantu meredam emosi Bang Rama.
"Saya mau bicara dulu sama Ardi." Bang Rama melangkah keluar ruangan.
Dinda ingin mengikutinya tapi Bang Arben menahannya. "Jangan, Din. Biar suamimu yang mengurusnya, ini urusan laki-laki."
~
Bang Rama melangkah cepat menuju ruangan Ardi, ia mengetuk pintu lalu membukanya tanpa menunggu ijin dari pemilik ruangan.
Disana Vania terlihat sedang menggoda Bang Ardi yang masih saja menatap wajah datar.
"Tak bisa menunggu di rumah??" Tegur Bang Rama.
"Ada apa??? Pengen??? Kau punya sopan santun atau tidak?" tanya Ardi santai.
"Dimana dokumen status Dinda?" jawab Bang Rama langsung ke inti, matanya menyipit, sejenak melirik Vania yang kemudian memunggunginya, mungkin membenahi kancing baju.
Ardi mengangkat alis. "Dokumen itu? Maaf saya lupa meletakkannya dimana."
"Saya butuh dokumen itu sebagai kelengkapan persyaratan nikah." suara Babg Rama masih berusaha menekan amarah.
Bang Ardi berdiri, ia mendekati Bang Rama. "Santai, Ram. Saya sudah menyimpannya baik-baik. Hanya lupa meletakkannya dimana. Nanti kalau sudah ada waktu luang, akan saya cari lagi."
"Kau jangan main-main, Ar..!!!"
"Saya serius, nanti saya cari. Percuma juga kalau kau mau obrak-abrik ruangan ini, dokumen itu tidak ada disini." Jawab Bang Ardi.
Bang Rama keluar dengan wajah kesal, jika saja posisinya tidak di kantor, mungkin dirinya akan mengajak Bang Ardi untuk baku hantam.
:
Bang Rama mencoba bernegosiasi dengan pihak terkait mengenai permasalahan dokumen Dinda, namun kantor menolak karena data diri adalah salah satu hal utama dalam pengajuan nikah.
"Di pending dulu ya, Ram..!! Nggak terburu-buru juga, kan?? Batas enam bulan sejak terbit surat sah ijin kawin dari Batalyon. Naahh.. selama masa itu, kamu masih bisa urus surat yang kurang lengkap." Kata senior.
Dinda yang mendengarnya hanya bisa menunduk sedangkan Bang Rama jelas pusing tujuh keliling.
"Ijin, Bang. Apa tidak ada kebijakan lagi yang lebih meringankan?? Resikonya juga besar kalau Dinda tetap disini tapi statusnya belum sah jadi istri saya dalam hukum militer." Bang Rama masih tetap mencari cara terbaik agar Dinda pun aman bersamanya.
"Ya sabar, Ram. Itu tadi saya bilang, nggak sampai satu tahun juga."
...
Malamnya Bang Rama kembali menemui Bang Ardi. Dengan sikap ksatria, membuang rasa gengsi dan ego dalam diri, Bang Rama membahas tentang seluruh pengorbanan sahabatnya itu untuk Dinda.
Cacian dan makian Bang Ardi untuknya, ia terima, hinaan pun ia telan demi bisa 'menghalalkan' Dinda secara militer.
"Biar saya ganti seluruhnya, semua pengeluaran Dinda selama kamu bersamanya."
"Saya tidak butuh uangmu. Sampai kapan pun saya tidak meridhoi kamu menikah dengan Dinda. Kamu dan Dinda sudah mematahkan hati saya." Kini ucap itu terdengar kepedihan yang dalam. "Terserah apa dan bagaimana caramu, tapi saya tidak mau tau lagi. Ibu saya memang kurang paham aturan militer, tapi beliau sampai meminta saya menikahi Dinda juga karena beliau sayang sama Dinda."
"Sayang??? Begitu kau bilang sayang???? Sebaiknya kau selidiki ibumu sebelum banyak bicara tentang Dinda." Hati Bang Rama terlanjur panas, ia meninggalkan Bang Ardi yang masih merokok sendirian di sisi kamar messnya.
\=\=\=
Beberapa hari berlalu, kesal segala usahanya 'mandeg', Bang Rama membanting laptopnya, Bang Ardi pun semakin hari kian mempersulitnya.
~
Hari itu hujan turun dengan derasnya di luar kantor. Bang Rama pulang dengan wajah yang lebih gelap dari awan mendung di langit, tangannya menggenggam kertas surat yang baru saja dia terima, pemberitahuan bahwa proses nikah akan tetap pending sampai dokumen Dinda lengkap, tanpa pengecualian apapun.
Dinda sudah menunggu di rumah dinas, sendirian. Kedua rekannya pergi entah kemana bersama pasangan masing-masing. Ia sedang mempersiapkan makan malam.
Dinda terbawa tidak nyaman melihat wajah Bang Rama, jantungnya serasa berdebar kencang. "Bang, sudah makan atau belum? Dinda masak soto ayam."
Bang Rama tidak menjawab, malah meletakan kertas itu di atas meja. "Baca sendiri..!!"
Dinda membaca perlahan, wajahnya makin pucat. "Tetap tunda lagi ya Bang?? Dinda pikir data digital sudah cukup. Atau sebaiknya kita batalkan saja nikahnya???"
Mata Bang Rama menatap tajam wajah Dinda. Kepalanya yang sudah terasa panas di tambah hatinya yang berantakan semakin memperburuk keadaan.
"Batal nikah, pisah, pengen kabur.. Apalagi yang ada dalam pikiranmu????? Abang mati-matiaan mempertahankanmu tapi kamu pengen lari dari Abang. Rengekan lelahmu Abang terima, takutmu Abang dengarkan, Abang redakan. Bahkan sampai dua puluh lima jam sehari, Abang ada untukmu. Abang jaga kamu, Dindaa..!!! Apa yang kamu mau??? Kembali sama Ardi???? Karena hutang budi????"
"Iyaa...... Dan Dinda memang capek. Semua terlalu melelahkan, terlalu banyak aturan. Kenapa harus memaksa kalau memang tidak bisa????" Dinda meninggikan suaranya.
Bang Rama begitu kesal mendengar nada tinggi dari Dinda. Tanpa kata, ia menghindar agar amarahnya tidak melukai hati Dinda.
Di bawah hujan deras, Bang Rama kembali berjalan menuju mess.
Dinda pun duduk dan menangis, semua ini membuatnya bingung. Tak punya orang tua, tidak ada yang membantu mengarahkan, tidak juga ada yang membimbingnya.
.
.
.
.
tetap💪💪🙏
Aduuh...piye to bang Ric....🥹
lanjut mba Nara