Arabelle Vasillo kabur dari rumah demi membuktikan bahwa dirinya bisa hidup mandiri tanpa bantuan keluarga. Dengan waktu satu tahun sebagai taruhan, ia membuka warung sarapan sederhana dan berusaha menjalani hidup biasa.
Namun, hidup tenangnya berakhir saat tanpa sengaja memecahkan kaca mobil Nathan Pradipta Anderson, seorang duda kaya dan berpengaruh yang memiliki tiga anak super nakal, Elang, Theo, dan Alya.
Dari satu kesalahan kecil, Arabelle justru terjebak dalam kehidupan keluarga Anderson yang penuh kekacauan, rahasia, dan konflik. Bisakah Arabelle bertahan menghadapi duda dingin dan tiga anak nakalnya, atau justru mereka akan mengubah hidupnya selamanya?
"Menikah denganku dan jadi ibu tiri dari ketiga anakku, maka hutangmu ku anggap lunas,"
Arabelle, hanya tersenyum menanggapi ucapan Nathan, tetapi Arabelle justru tak punya pilihan lain, semenjak hidup mandiri semua kartunya dan fasilitasnya telah dia serahkan pada keluarganya.
"Oke, deal! Setahun tidak lebih!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
09
Nathan dan Mohan memilih duduk di salah satu meja yang berada di pojok warung. Meski hanya warung sederhana di pinggir jalan, tempat itu cukup bersih dan nyaman. Beberapa pelanggan diam-diam melirik ke arah mereka. Penampilan Nathan terlalu mencolok.
Sementara Mohan duduk dengan tenang sambil sesekali memeriksa tabletnya. Tidak lama kemudian. Arabelle menghampiri meja mereka sambil membawa buku pesanan kecil.
Ekspresinya datar seolah pria yang duduk di hadapannya bukan calon suaminya.
Melainkan pelanggan biasa.
"Mau pesan apa?"
Nathan menatapnya. "Kamu tidak menyapa calon suamimu?"
Arabelle langsung menjawab tanpa berpikir.
"Tidak ada diskon untuk calon suami."
Mohan langsung batuk.
"Huk!"
Nathan hanya menghela napas.
"Baiklah."
Arabelle mengetuk buku pesanannya.
"Jadi?"
Nathan akhirnya melihat daftar menu yang tertempel di meja. "Apa yang paling laris?"
"Nasi kuning."
"Satu..."
"Dua," sahut Mohan cepat.
Arabelle menulis pesanannya.
"Minum?"
"Kopi hitam." Nathan menjawab singkat.
"Teh hangat."
Arabelle kembali mencatat. Lalu menutup buku pesanannya.
"Selesai,"
Namun, saat hendak pergi, Nathan kembali bersuara.
"Kapan kamu pindah?"
Arabelle berhenti, beberapa pelanggan yang duduk tidak jauh dari sana langsung memasang telinga. Tentu saja tanpa terlihat mencolok.
Arabelle menoleh. "Nanti."
"Nanti kapan?"
"Iya nanti."
Nathan memijat pelipis. Jawaban itu sama sekali tidak membantu.
Mohan yang sudah terbiasa melihat atasannya bernegosiasi dengan direksi perusahaan bernilai miliaran rupiah justru merasa lucu. Nathan terlihat jauh lebih kesulitan menghadapi satu orang Arabelle.
"Tuan," bisik Mohan pelan.
Nathan menoleh.
"Sabar..." Bisik Mohan pada Nathan.
Nathan langsung menatapnya datar. Mohan buru-buru pura-pura sibuk dengan tablet.
Arabelle terlihat puas. "Aku buatkan pesanannya."
Lalu gadis itu pergi menuju dapur kecil di belakang warung. Nathan memperhatikannya beberapa saat. Melihat bagaimana Arabelle melayani pelanggan lain. Bercanda dengan beberapa langganan. Menegur siswa yang membuang sampah sembarangan. Dan sesekali memarahi anak-anak yang berlari terlalu dekat dengan warung. Semua dilakukan dengan sangat alami. Mohan ikut memperhatikan.
Kemudian berkata pelan, "sejujurnya saya masih tidak menyangka."
Nathan tidak menoleh.
"Mengenai apa?"
"Tuan benar-benar menikah."
Nathan mengangkat alis. "Kamu keberatan?"
"Bukan begitu!" Mohan tersenyum kecil.
"Hanya saja, selama bertahun-tahun saya pikir Tuan akan tetap sendiri."
Nathan terdiam sesaat. Lalu tanpa sadar kembali melihat ke arah Arabelle. Wanita itu sedang berdebat dengan seorang pelanggan yang meminta kerupuk tambahan gratis.
Nathan menggeleng kecil. "Saya juga tidak menyangka."
Mohan hampir tersedak mendengar pengakuan jujur itu. Nathan Anderson mengakui bahwa ada sesuatu yang terjadi di luar rencananya.
Tepat pukul dua siang.
Warung Arabelle sudah jauh lebih sepi dibanding pagi hari. Beberapa meja bahkan sudah kosong. Arabelle sedang menghitung hasil penjualan sambil menikmati es teh dingin.
Hari yang cukup tenang, sampai sebuah mobil hitam yang sangat dikenalnya berhenti di depan warung.
Arabelle langsung mendongak. "Oh, Tuhan dia lagi,"
Pintu mobil terbuka. Namun, yang turun bukan Nathan melainkan Mohan. Pria itu berjalan santai menuju warung sambil membawa sebuah map hitam. Melihat Nathan tidak ikut, Arabelle langsung menyapanya.
"Siang, Pak Mohan." Sapa Ara gugup.
"Siang, Nona Ara."
Ara mengernyit. "Kok sendirian?"
Mohan tersenyum sopan.
"Tuan sedang rapat."
"Oh..." Ara mengangguk. "Kirain mau makan siang lagi."
Mohan terkekeh kecil.
"Kalau Tuan mendengar itu, mungkin beliau akan senang."
Ara memutar bola matanya.
"Jangan bilang begitu."
Mohan justru semakin geli. Kemudian ia duduk di salah satu kursi. Lalu, meletakkan map hitam yang dibawanya di atas meja.
"Ada sesuatu yang perlu saya berikan."
Ara mengangkat alis. "Apa?"
Mohan membuka map tersebut. Lalu mengeluarkan sebuah buku berwarna cokelat. Begitu melihat benda itu Ara membeku. Kedua matanya membulat, mulutnya sedikit terbuka. Kemudian menunjuk benda itu.
"Itu..."
Mohan mengangguk santai.
"Buku nikah."
Ara menatap buku itu, lalu menatap Mohan. Lalu kembali menatap buku itu. Otaknya seperti berhenti bekerja beberapa detik.
"Apa?"
Mohan tersenyum ramah.
"Saya sudah mendaftarkan pernikahan Nona dan Tuan Nathan."
Ara langsung berdiri.
"Apa?!"
Beberapa pelanggan yang masih ada langsung menoleh. Ara buru-buru mengecilkan suaranya.
Wajahnya masih tetap terlihat syok.
"Tunggu!"
Mohan masih tenang.
"Nona sudah menikah sekarang."
Ara menunjuk dirinya sendiri.
"Aku?"
"Iya."
"Menikah?"
"Iya."
"Dengan Tuan Nathan?"
"Iya."
Ara hampir ingin pingsan. Padahal kemarin ia hanya setuju karena terdesak.
"Apa nggak bisa dibatalkan?" Tanya Ara penuh harap.
Mohan tersenyum, senyum yang sangat sopan dan sangat menyebalkan.
"Sudah final, Nyo ... nya muda,"
Senyum Ara langsung hilang.
"Pak Mohan."
"Iya?"
"Aku ingin menangis."
"Saya mengerti."
"Tapi aku serius."
"Saya juga serius."
Ara langsung menjatuhkan tubuhnya ke kursi. Merasa hidupnya berubah terlalu cepat. Hari ini sudah menjadi istri seorang duda kaya raya.
Mohan kembali membuka tablet miliknya.
"Baik."
Ara langsung curiga.
"Baik apa?"
"Nona punya waktu sekitar dua jam."
"Dua jam untuk apa?"
Mohan menatapnya.
"Membereskan barang."
Ara berkedip.
"Barang?"
"Iya."
Mohan menutup tabletnya.
"Karena saya akan mengantar Nona ke rumah Anderson sore ini."
Ara langsung menegakkan badan.
"Tunggu!"
"Tidak bisa."
"Aku belum siap!"
"Tuan juga belum siap waktu menjadi Suami."
Ara terdiam. "Itu beda kasus."
Mohan mengangguk.
"Benar."
"Nah kan."
"Tapi hasilnya sama."
"Apa?"
"Sama-sama tidak bisa dibatalkan."
Ara menatap langit-langit warung.
Beberapa jam kemudian.
Warung sederhana milik Arabelle akhirnya tutup lebih awal. Tirai besi sudah diturunkan.
Meja dan kursi telah dirapikan, peralatan memasak dibersihkan.
Di belakangnya, Mohan sedang mengawasi beberapa orang yang membantu memindahkan barang-barang Ara ke dalam mobil.
Hanya beberapa koper, kardus berisi pakaian, laptop, buku-buku, dan barang pribadi lainnya.
Yang paling menarik perhatian tentu saja sepeda listrik kesayangan Arabelle. Kini kendaraan mungil itu sudah masuk ke bagian belakang mobil khusus yang disiapkan Mohan.
Ara sempat memandangi sepeda listriknya dengan ekspresi haru.
"Tenang." Bisiknya. "Kita tetap bersama."
Mohan yang mendengar itu hampir tertawa.
Beberapa menit kemudian semuanya selesai.
Ara masuk ke mobil. Duduk di kursi penumpang depan. Sementara Mohan menempati kursi kemudi.
Pintu mobil tertutup.
Suasana mendadak terasa sunyi.
Ara langsung memejamkan mata.
"Aku masih bisa kabur nggak?"
Mohan yang sedang memasang sabuk pengaman langsung menjawab tanpa menoleh.
"Tidak."
Mobil mulai bergerak perlahan meninggalkan area warung. Ara menoleh ke luar jendela, melihat warungnya semakin jauh.
Mobil memasuki jalan utama kota.
Mohan melirik Arabelle sekilas.
"Nona."
"Hm?"
"Kita akan segera sampai di rumah Anderson."
Ara mengangkat alis.
"Rumah?"
Mohan mengangguk. Sementara Arabelle menyandarkan kepalanya ke kursi.
Di kediaman keluarga Anderson. Suasana rumah terlihat tenang dari luar.
Namun, kenyataannya sebuah operasi rahasia sedang berlangsung. Elang berdiri di depan jendela ruang keluarga lantai bawah. Tangannya terlipat di dada, tatapannya mengarah ke gerbang utama. Menunggu kedatangan mobil Mohan.
Di belakangnya, Theo sedang berdiri di atas kursi sambil membawa sebuah ember besar.
Dengan susah payah ia meletakkannya tepat di atas pintu utama. Ember itu berisi air penuh, sedikit saja pintu terbuka orang pertama yang masuk akan langsung mandi gratis.
"Nah!" Theo turun dari kursi sambil mengusap kedua tangannya.
"Sempurna..." Ujarnya.
Alya yang berdiri tidak jauh darinya mengangguk puas. Di tangannya ada satu kantong besar tepung terigu. Rencananya sederhana, setelah korban terkena air, tepung akan menjadi serangan kedua.
"Jenius..." Puji Alya.
"Tentu saja." Theo membusungkan dada.
"Aku ini paling bisa diandalkan..."
Dari depan jendela, Elang langsung menoleh.
"Tidak!"
Theo melotot. "Kenapa semua orang selalu menyangkal fakta?"
"Bukan! Maksud aku mobil sudah tiba," Kata Elang.
Beberapa pelayan yang melihat semua itu mulai panik.
"Nona Alya ... jangan lakukan itu."
Alya tersenyum manis. "Tidak apa-apa. Ini hanya sambutan kecil."
Para pelayan langsung pucat. Sambutan kecil versi keluarga Anderson biasanya berakhir menjadi masalah besar. Pelayan lain menoleh kepada Theo.
"Tuan muda Theo..."
"Apa?!" Bentak Theo, mereka langsung diam.
"Itu berbahaya."
Theo menggeleng. "Tidak! Itu hanya air."
"Tapi kalau Tuan Nathan yang kena..." Pelayan itu menatap mereka semua.
Theo langsung membeku. Semua orang ikut membeku. Bahkan, Alya ikut membeku. Beberapa detik kemudian Theo menunjuk ember itu.
"Tenang ... Ayah tidak akan pulang sekarang."
Para pelayan tidak terlihat tenang sama sekali. Sementara Elang masih berdiri di depan jendela. Jujur saja, ia tidak terlalu setuju dengan rencana ini. Namun, ia juga tidak menghentikannya.
Salah satu pelayan berlari dari arah dapur.
"Tuan Elang!"
Elang menoleh.
"Ada apa?"
"Mobil Pak Mohan sudah masuk gerbang utama."
Theo langsung bersemangat, Alya ikut berdiri tegak. Elang kembali melihat keluar jendela.
Dan benar saja, di kejauhan sebuah mobil hitam perlahan memasuki halaman rumah.
Theo langsung mengambil posisi. Alya memegang kantong tepung erat-erat.
Sementara para pelayan hanya bisa saling pandang dengan wajah pasrah.
Di dalam mobil, Ara menatap rumah itu memang lebih besar dari penthouse milik Daddynya, hanya saja rumah di London lebih besar punya Kakeknya.
"Nyonya, kita sudah sampai. Mungkin, anak-anak juga sudah berada di rumah," ujar Mohan. Ara menurunkan kaca mobil, menatap rumah itu tanpa merespon ucapan Mohan.
Dr bab pertama ngakak mulu bacanya 🤣🤣🤣