"Hubungan yang berawal dari reuni kecil itu tumbuh begitu cepat, seolah waktu ingin mengejar ketertinggalan mereka selama di SMA. Arman adalah sosok kekasih yang penuh perhatian. Dia tahu kapan Kanaya sedang lelah hanya dari nada suaranya, dan dia selalu punya cara untuk membuat Kanaya merasa dihargai.
Bagi Kanaya, Arman adalah pelabuhan yang aman. Begitu pula bagi Arman, ketulusan dan kemandirian Kanaya adalah hal yang tidak bisa ia temukan pada perempuan lain."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisa darah dan topeng yang utuh
Begitu gemercik air di dalam kamar mandi berhenti, Arman melangkah keluar dengan bahu yang kian merosot lesu. Tangannya masih basah, dan aroma anyir yang pekat seolah masih menempel di indra penciumannya. Namun, pemandangan di depan kasur seketika membuat langkahnya terhenti.
Kanaya sudah tidak lagi meringkuk di lantai.
Dengan daya yang entah datang dari mana, perempuan itu memaksakan dirinya untuk berdiri tegak. Tubuhnya masih tampak gemetar, dan wajahnya masih sepucat kapas, namun sorot matanya telah berubah—terlihat begitu dingin dan mengeras. Tanpa memedulikan keberadaan Arman yang baru saja keluar, Kanaya sibuk membersihkan sisa noda merah yang menempel di kaki dan pakaiannya menggunakan selembar kain basah dan beberapa lembar tisu.
Setiap gerakannya terlihat mekanis, seolah ia sedang menghapus noda biasa, bukan darah dagingnya yang baru saja luruh.
"Nay... biar aku bantu," ucap Arman lirih, melangkah maju setapak dengan tangan yang terulur ragu. Ia merasa sangat tidak tega, sekaligus didera rasa bersalah yang teramat masif melihat kemandirian yang dipaksakan itu.
"Jangan sentuh aku," potong Kanaya datar. Suaranya tidak tinggi, namun mengandung penekanan yang membuat Arman seketika mematung di tempatnya.
Kanaya bahkan tidak sudi melirik ke arah Arman. Ia terus mengusap kulitnya dengan tisu hingga bersih, lalu membuang gumpalan kertas bernoda itu ke dalam tempat sampah kecil di sudut kamar. Di dalam kesunyian kamar kos yang mencekam itu, tindakan Kanaya yang menolak bantuan menegaskan satu hal: bagi Kanaya, Arman sudah tidak ada lagi harganya. Laki-laki itu telah kehilangan haknya untuk menjadi pelindung, tepat sejak ia memilih menutup pintu kos ketimbang membawanya ke rumah sakit.
Pintu kamar mandi tertutup rapat, disusul suara selot yang berputar dua kali. Tak lama kemudian, bunyi gemercik air dari pancuran terdengar beradu dengan lantai porselen.
Di luar, Arman ambruk. Ia terduduk di tepi ranjang kos yang sempit, menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangan. Bahunya berguncang pelan, bukan lagi karena kepanikan yang menggebu, melainkan karena rasa hampa dan bersalah yang mulai mengendap ke dasar jiwanya.
Di dalam kesunyian kamar itu, Arman merenungi semua kejadian yang bergulir bak bola salju.
Hanya dalam waktu enam bulan, hidupnya berubah total. Ia mengingat kembali senyum manis Kanaya di kedai kopi sore itu, saat mereka pertama kali memutuskan untuk memulai segalanya. Enam bulan yang penuh tawa, janji-janji masa depan, dan pelarian manis dari tekanan rumah ayahnya yang dingin. Mengapa semua keindahan itu harus bermuara pada tragedi berdarah di lantai kamar mandi ini?
Pandangan Arman terjatuh pada tempat sampah kecil di sudut ruangan, tempat tisu dan kain bernoda merah menyembul dari sana. Dadanya terasa seperti dihantam godam besar.
Ia sadar, ketakutannya pada Pak Baskoro telah mengubahnya menjadi monster yang egois. Demi mempertahankan status sebagai "anak baik-baik" dan menantu yang tidak akan pernah dianggap oleh ayahnya, Arman justru tega mengorbankan nyawa anaknya sendiri, dan yang lebih buruk, mengorbankan kepercayaan wanita yang paling dicintainya.
Gemercik air di kamar mandi masih terus terdengar, terdengar begitu dingin di telinga Arman. Ia tahu, setelah pintu kamar mandi itu kembali terbuka, Kanaya yang keluar dari sana tidak akan pernah lagi menjadi Kanaya yang sama. Kanaya yang penuh kehangatan telah mati sore ini, dibunuh oleh kepengecutannya sendiri. Arman terduduk di sana, meratapi kenyataan bahwa ia telah memenangkan nama baiknya di mata keluarga, namun kehilangan seluruh dunianya.