Rumah tangga Puann hancur seketika saat wanita dari masa lalu suaminya datang membawa kabar kehamilan, ditambah lagi fitnah bertubi-tubi yang membuatnya dikucilkan bahkan oleh keluarganya sendiri.
Di saat kepercayaannya sudah habis dan ia mulai bersandar pada laki-laki lain yang jauh lebih tulus, Bahlil, suaminya berjuang membuktikan bahwa semua itu hanyalah jebakan. Namun, kebenaran tentang masa lalu dan trauma besar yang disembunyikan Bahlil justru membuka luka yang jauh lebih dalam.
Di ambang perceraian dan di tengah pengakuan yang hampir menyatukan mereka kembali, sebuah skandal video pun muncul dan mematikan segala harapan.
Apakah cinta yang penuh kebohongan dan rasa sakit ini layak diperjuangkan, atau lebih baik diakhiri selamanya sebelum hati mereka benar-benar hancur lebur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perempuan Itu Mengaku Hamil
Puann kembali meneteskan air mata. Kali ini, air mata itu bukan karena sedih atau marah, melainkan karena rasa haru yang meluap.
Kata-kata Bahlil langsung menyentuh hatinya. Penjelasan itu perlahan menghapus keraguan yang masih tersisa di benaknya.
"Terus Arifatul gimana? Dia nggak bakal diam aja, Mas. Dia bilang urusan kalian belum selesai. Dia punya saham, dia punya hak bicara di perusahaan kamu, dan dia jelas-jelas pengen balikan sama kamu," tanya Puann pelan, mengungkapkan kekhawatiran terbesarnya.
Wajah Bahlil berubah sedikit kaku saat mendengar nama itu disebut. Ia menghela napas panjang, lalu menatap Puann dengan pandangan yang penuh kepastian.
"Arifatul itu bagian dari masa lalu, Puann. Dulu kami memang bertunangan karena kesepakatan keluarga dan kesamaan latar belakang. Tapi aku putus sama dia bukan tanpa alasan. Sifat dia yang mau menang sendiri, yang menganggap segala sesuatu bisa dibeli dan dimiliki, itu yang nggak cocok sama aku. Dulu aku pergi dan menghilang karena aku mau lepas dari ikatan yang salah itu, dan aku mau cari wanita yang sayang sama aku apa adanya."
Bahlil memegang kedua bahu Puann, menatap lurus ke manik matanya agar istrinya percaya sepenuhnya.
"Aku ketemu kamu, aku nikah sama kamu, dan aku bertahan sama kamu bukan karena kebetulan. Kamu yang aku cari, Puann. Kamu yang tulus, yang sederhana, yang walaupun sering nangis dan marah, tapi tetap ada buat aku pas aku lagi di posisi terendah sekalipun. Arifatul cuma mau apa yang aku punya, tapi kamu... kamu mau siapa aku sebenarnya."
Penjelasan itu membuat hati Puann terasa makin tenang. Meski rasa aman belum sepenuhnya kembali, setidaknya posisinya kini jelas dan Bahlil sudah berusaha menegaskan batasan.
"Jadi kamu bakal jauhin dia? Kamu bakal kasih dia batasan yang tegas, biar dia nggak sembarangan lagi ganggu rumah tangga kita?" tanya Puann lagi, memastikan keputusan itu.
"Iya, aku bakal urus semuanya. Aku bakal bicara sama dia secara profesional maupun pribadi. Aku bakal pastikan dia tahu kalau tempat dia cuma di kantor, dan hidup pribadi aku mutlak milik kamu. Aku nggak bakal biarin siapa pun, mau dia mantan tunangan, mau dia orang berpengaruh, atau siapa aja, masuk dan rusak apa yang sudah kita bangun susah payah," janji Bahlil dengan tegas.
Ia kembali menarik Puann masuk ke dalam pelukannya. Ia memeluk wanita itu lebih erat dari sebelumnya, seolah takut Puann akan menghilang lagi.
"Dan satu hal lagi, Puann... tolong jangan pergi lagi. Waktu kamu ninggalin aku dulu, rasanya dunia aku runtuh. Rasanya harta dan jabatan yang aku bangun bertahun-tahun itu jadi sampah semua. Aku nggak kuat kalau harus ngerasain itu lagi. Jadi apa pun masalahnya, seberat apa pun ujiannya, hadapin semuanya bareng aku ya? Jangan pernah lari lagi."
Puann memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya lebih nyaman di dada suaminya. Ia mengangguk pelan, lalu perlahan melingkarkan tangannya membalas pelukan itu.
"Iya, Mas. Aku nggak bakal pergi lagi... selagi kamu masih ada di sini dan masih anggep aku istri kamu. Aku bakal bertahan, kita bakal selesaikan masalah Arifatul sama-sama, dan kita perbaiki semuanya pelan-pelan," jawab Puann lembut.
Suasana hening dan damai kembali menyelimuti ruangan itu. Hubungan mereka belum pulih sepenuhnya, masih ada luka lama yang harus disembuhkan dan kepercayaan yang harus dibangun kembali.
Malam itu, keduanya sepakat untuk saling menggenggam tangan. Mereka berjanji untuk tidak melepaskan lagi.
...***...
Keesokan harinya, suasana pagi terasa lebih cerah. Bahlil bersiap berangkat kerja dengan semangat baru.
Ia berjanji akan menyelesaikan urusan dengan Arifatul hari itu juga. Puann mengantarnya sampai di depan pintu dengan senyum tipis dan tatapan mendukung.
"Semangat ya, Mas. Hati-hati di jalan. Ingat janji kamu ya," ucap Puann pelan, matanya menatap suaminya lekat-lekat.
"Iya, tenang aja. Aku pulang nanti bawa kabar baik, dan bawa hati aku yang utuh cuma buat kamu," jawab Bahlil sambil tersenyum, lalu mencium kening istrinya sekilas sebelum melangkah pergi.
Sepanjang hari itu, Puann merasakan perasaan yang campur aduk. Ia berusaha menyibukkan diri sambil menunggu kabar dari Bahlil dengan sabar.
Menjelang sore, ponselnya berdering. Itu telepon dari nomor yang tidak dikenal, bukan nomor Bahlil.
Puann mengangkatnya dengan ragu. Di seberang sana, terdengar suara wanita yang sangat ia kenal, yaitu suara Arifatul.
"Halo, Puann? Kamu harus denger ini baik-baik. Kamu pikir kamu menang? Kamu pikir Mas Bahlil bakal bisa pertahanin kamu selamanya?" nada bicara Arifatul terdengar dingin namun penuh kemenangan.
"Maksud kamu apa? Jangan ganggu kami lagi, Arifatul. Mas Bahlil udah jelasin semuanya sama kamu kan?" jawab Puann tegas, meski hatinya mulai berdebar lagi.
Arifatul tertawa kecil, tawa yang terdengar menyakitkan dan penuh rencana jahat.
"Jelaskan? Penjelasan itu belum apa-apa dibanding fakta yang aku punya. Kamu mau tahu kenapa aku bilang urusan kami belum selesai? Kamu mau tahu kenapa aku yakin banget aku bakal tetap ada di sisi dia?"
Suara Arifatul berhenti sejenak,
"Dengerin ya baik-baik, Puann... Aku nggak bakal mundur, dan aku punya hak yang nggak bisa dilepas sama sekali. Aku hamil, Puann. Aku hamil anak Mas Bahlil."
Kalimat itu meledak bagai bom besar di telinga Puann. Tubuhnya seketika lemas dan ponsel di tangannya hampir terlepas.
Dunia seakan menjadi gelap seketika. Kabar yang seharusnya membawa kebahagiaan justru datang dari wanita yang paling ditakutinya, serta menjadi ancaman terbesar yang bisa menghancurkan segalanya dalam sekejap.
...***...
Menjelang Isya, ketika Bahlil baru pulang, disusul Arifatul yang sengaja membuntutinya dari belakang, perang dunia pun pecah di jalanan seberang kontrakan mereka.
"Kamu ngomong apa sih, asal bunyi aja! Itu mustahil banget! Aku udah putusin hubungan sama kamu dan nggak pernah nyentuh kamu lagi sama sekali!" seru Bahlil cepat, wajahnya memerah bercampur marah dan kaget.
"Mas Bahlil, nggak usah pura-pura amnesia deh. Kita pernah tidur bareng, dan hubungan kita waktu itu kan belum resmi putus? Sekarang buktinya nyata nih, aku bawa calon pewarismu," jawab Arifatul santai sambil mengelus pelan perutnya.
Puann menggeleng pelan. Ia menatap suaminya berharap ada penjelasan masuk akal, namun keyakinan Arifatul justru membuat rasa percayanya hancur seketika.
"Kamu bilang urusan sama dia udah kelar. Kamu bilang nggak ada apa-apa lagi. Terus ini kabar apa, Mas? Jawab aku, ini beneran terjadi atau apa?" tanya Puann dengan suara bergetar, matanya berkaca-kaca menahan air mata.
"Aku sumpah deh sama kamu, Puann! Aku nggak tahu apa-apa soal anak itu. Dia cuma mau jebak aku dan rusak hubungan kita. Kamu harus percaya aku, aku sama sekali nggak tahu," jawab Bahlil sambil berusaha mendekat, wajahnya penuh kepanikan.
"Ada buktinya nggak kalau kamu nggak ngelakuin itu? Kalau emang bersih, kenapa dia bisa seyakin itu ngomong gitu?" potong Puann tajam, lalu mundur selangkah saat tangan Bahlil mau menyentuhnya.