NovelToon NovelToon
Setelah 8 Tahun ( Ditinggal Nikah)

Setelah 8 Tahun ( Ditinggal Nikah)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:65.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

Setelah 8 tahun pacaran, Nisa yang menunggu dilamar di hari anniversary, justru merima kenyataan pahit jika ia diputuskan oleh Sandi dengan alasan tak setara.

Tapi takdir seperti sedang mengajak bercanda, sebulan kemudian Sandi datang ke rumahnya untuk melamar. Namun bukan ia yang dilamar, melainkan Naina, sang adik yang lulusan S1 dan bekerja sebagai teler di salah satu bank swasta.

Disaat ia terpuruk, ada sosok yang tak sengaja hadir dalam kehidupannya. Sosok yang begitu baik dan humoris, tapi kadang menyebalkan. Dia adalah Januar, seoarang driver ojol.

"Kalau jodoh memang harus setara, kamu nikah sama aku aja, Mbak." Ajakan nikah Januar alias Ojan, hanya disenyumin saja oleh Nisa.

Tapi Ojan, pantang menyerah, ia terus mendekati Nisa, hingga akhirnya wanita itu luluh. Tapi satu kenyataan pahit, membuat Nisa kembali terpuruk. Ternyata selain seorang ojol, Ojan juga merupakan mahasiswa S2. Apakah sekali lagi, ia harus patah hati karena alasan kesetaraan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

Semilir angin malam terasa begitu dingin menerpa kulit Nisa. Outer brukatnya tak mampu membuat tubuhnya merasa hangat karena terlalu tipis. Saat angin bertiup, atau kendaraan besar lewat, ia reflek memeluk diri sendiri untuk mengurangi rasa dingin. Mereka sudah berjalan lumayan jauh dari hotel.

Ojan menyesal malam ini tak pakai jas atau pun jaket. Ia jadi terlewat kesempatan besar untuk menjadi hero. Gak ada deh, momen romantis kayak di drakor, menyampirkan jas di bahu wanita pujaan hati.

Selain mereka, terlihat juga beberapa orang di trotoar, namanya juga tempat umum, malam minggu pula. Tak hanya mereka yang berkepentingan untuk melewati jalan tersebut, tampak juga beberapa anak muda seperti sengaja kesana hanya untuk bersantai, malam mingguan.

"Eh, Jan, kok kamu ada di acaranya Bu Intan? Kamu kenal sama Bu Intan?" Nisa menoleh ke arah Ojan.

"A, a, a, itu, anu, Tante Intan, dia masih saudara jauh Mamaku."

"Jadi kamu masih ada hubungan saudara dengan Bu Intan?" Nisa tampak kaget.

Ojan mengangguk sembari tersenyum tipis.

"Padahal kalau kamu kuliah, kamu bisa loh, dapat kerjaan yang lebih bagus, seperti kerja kantoran. Bu Intan itu baik, dia pasti mau bantuin kamu."

Ojan bingung bagaimana merespon, ia hanya tersenyum sambil mengusap tengkuk. Gak perlu dibantu Bu Intan, yang ada ia malah dipaksa kerja disana. "Mbak, kamu tadi sudah sempat makan belum?"

Ngomongin makanan, Nisa jadi teringat makanan yang tadi dia ambil tapi belum sempat dimakan. Kalau saja tak muncul Naina dan Sandi, pasti sekarang perutnya sudah kenyang. "Belum."

"Ya udah, kita cari makanan yuk!"

Nisa menggeleng.

"Gak lapar?"

Langkah kaki Nisa terhenti, gadis itu sedikit minggir, lalu berjongkok.

"Mbak?" Ojan bingung dengan apa yang dilakukan Nisa. Hobi banget sih jongkok. Ntar kalau sudah sah, pasti pinter gaya women... ah apaan sih, kok malah pikirannya travelling.

"Capek." Nisa mendongak, menatap Ojan dengan ekspresi minta dikasihani. Betisnya terasa pegal akibat heels 8 sentinya. Sejak tadi ia berharap melihat kursi, sayangnya kursi-kursi itu hanya ada di trotoar dekat hotel, semakin jauh melangkah, tak tampak kursi lagi.

"Perasaan baru jalan baru sebentar, belum jauh." Ojan maju, mendekati Nisa.

"Makanya jangan gunakan perasaan, gunakan meteran untuk mengukur. Kita udah jalan kira-kira 1 kilo loh. Dan apa kamu tahu, aku pakai hells." Nisa mewek, merutuki heels baru yang ternyata ada di pihak Sandi dan Naina, ikut-ikutan menyakitinya. Sumpah, kakinya pegal sekali.

Ojan menatap kaki Nisa, menahan tawa. Dasar cewek! Yang dipikirin cuma cantik doang. Demi terlihat cantik, kenyamanan diabaikan. "Bangun."

"Capek, Jan."

"Bangun!" Nada suara Ojan sedikit meningkat.

Nisa mendengus kesal, lalu bangun dengan muka ditekuk. Ia fikir Ojan akan mengajaknya lanjut jalan, tapi ternyata cowok itu malah gantian yang jongkok.

"Ojan!" Nisa kaget, nge freezer saat Ojan melepas tali sandalnya. Vibesnya kok kayak mendadak Cinderella gini. Baper.

Setelah kedua tali sandal Nisa terlepas, Ojan berdiri, melepas sepatu pantofelnya, hanya menyisakan kaos kaki. "Pakai ini." Meletakkan kedua sepatunya tepat di depan kaki Nisa.

"Tapi kamu?"

"Gak papa, aku pakai kaos kaki aja."

Dengan ragu-ragu, Nisa melepas heelsnya, ganti memakai pantofel milik Ojan yang ukurannya jelas kebesaran di kakinya. Ia hendak mengambil heelsnya, namun Ojan sudah mengambil lebih dulu.

"Biar akun aja yang bawain."

"Jangan Jan, biar aku bawa sendiri." Nisa berusaha mengambil, tapi Ojan malah menjauhkannya.

"Jalan yuk, nyari kursi atau tempat makan."

"Siniin sandalnya." Nisa merasa sungkan.

"Aku bawain."

Nisa tak lagi mendebat, ia mulai melangkah, pelan, karena agak susah memakai sepatu kebesaran. Ia terus menunduk, menatap sepatu hitam kinclong yang sebenarnya nyaman, hanya kebesaran saja. Jalannya jadi agak kaku, mirip robot.

"Ojan, lu...cu."

"Hahaha" Keduanya tertawa bersama.

Mereka kembali menyusuri trotoar dengan langkah pelan. Tak lagi diiringi isak tangis Nisa, melainkan senyuman dan sesekali tawa lepas. Beberapa orang yang tak sengaja berpapasan, menatap aneh, tak jarang juga yang menertawakan mereka, tapi bukannya malu, keduanya malah ikutan ketawa. Karena hingga jauh tak kunjung menemukan kedai makan, mereka istirahat di sebuah bangku trotoar. Ojan memesan makanan secara online, mungkin memang ada jatah rezeki ojol di makanan mereka malam ini.

"Dingin, Mbak?' Ojan menatap Nisa yang memeluk dirinya sendiri.

"Lumayan."

"Mau peluk gak?" Merentangkan dua lengan, mencondongkan badan ke arah Nisa.

"OJAN!" Nisa mendorong badan Ojan menjauh sambil melotot.

"Pura-pura gak mau, tadi aja meluk duluan," Ojan mencebik.

"Ya udah sini." Nisa merentangkan kedua lengan sambil tersenyum, namun saat Ojan hendak memeluk, ia langsung bergeser mundur lalu bangkit. "Tapi bohong, wek!" Menatap Ojan sambil tertawa cekikikan.

"Jahat kamu, Mbak!"

Beberapa saat kemudian, pesanan makanan mereka datang. Kopi hangat, air mineral, dan rice bowl chicken teriyaki. Rasa hangat seketika menjalari tubuh saat kopi yang masih sedikit mengepulkan asap diseruput.

Ojan mengarahkan kamera ponsel ke arah mereka berdua, mengambil foto tanpa sepengetahuan Nisa, saat gadis itu sibuk membuka penutup makanannya.

"Mbak, kamu cantik banget." Menatap foto candid Nisa.

"Ojan! Kamu moto aku?" Nisa menarik ponsel di tangan Ojan, melihat foto mereka berdua.

"Gak boleh ya?" Ojan nyengir.

"Gak boleh!" Nisa mendelik. "Kan aku belum siap."

Keduanya lalu tertawa bersama.

Ojan kembali mengambil foto, namun saat ini dalam kondisi Nisa yang menghadap kamera sambil pasang gaya.

"Mbak, sambil peluk dong..."

"Ogah!"

Ojan tertawa, kembali mengambil beberapa foto mereka berdua. Namun gangguan tiba, bukan satpol PP yang datang untuk mengusir orang pacaran, melainkan layar ponselnya berubah, muncul nama mamanya di layar, wanita itu menelepon.

"Bentar ya, Mbak." Ojan bangkit dari duduknya, sedikit menjauh dari Nisa. "Hallo, Iya Mah."

"Kamu dimana?"

"Em... aku." Ojan menoleh pada Nisa yang kembali mulai makananya.

"Jan, kamu dimana?" Bu Dewi kesal Ojan tak menjawab pertanyaannya.

"Ada apa sih, Ma?"

"Mau pulang, tapi kamu gak ada."

"Ya udah, pulang aja berdua, kunci mobil ada di petugas valet."

"Tiket parkirnya?"

"Pakai STNK aja Mah, bisa."

"Papa matanya rabun, gak berani nyetir malam."

Ojan tepuk jidat, merepotkan sekali, rutuknya dalam hati. Kalau memang masalahnya mata, kenapa pakai nanyain tiket parkir.

"Buruan kesini!"

"Pesen taksi aja ya, Mah."

"Ogah. Pokoknya kamu kesini!"

"Gak bisa Mah, Ojan lagi ngurusin masa depan." Menoleh ke arah Nisa.

"Maksudnya?"

"Dah Mamah." Ojan langsung memutus sambungan, pakai mode pesawat agar Mamanya tidak bisa menelepon lagi. Kembali ke kursi, mengambil makanannya yang tergeletak disana, lalu duduk.

"Dicariin Mama kamu, Jan?" Nisa menoleh pada Ojan.

"Enggak, cuma ditanya, besok mau dimasakin apa. Gak jelas bangetkan Mamaku." Ia tertawa receh.

"Bukan gak jelas, tapi sayang." Nisa lanjut menikmati makanannya yang hanya tinggal sedikit.

"Mbak, aku pengen dimasakin kamu deh."

"Kapan-kapan deh aku masakin."

"Gak mau kapan-kapan."

"Terus, maunya kapan? Besok?" Nisa masih asyik fokus dengan makanannya.

"Tiap hari."

"Hah!" Nisa menoleh, menatap Ojan.

"Mbak, nikah yuk!"

1
Nessa
asikkkk ngegass bgt jannnn mantep 😂😂😂😂😂
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
sweet bnget sih kalian. ga sabar liat kln jadian
Ari Atik
ngelamar niye.....?
🤣🤣🤣
Dew666
💝💝💝💝
olyv
diajak nikah sama ojan tu nis 🤣🤣🤣
Patrick Khan
aku suka😍😍
Patrick Khan
nyuk Jan nikah.. q mw kok😂😂asekkkkk
falea sezi
lanjut
Humaira
hayuuukk... 😂😂😂😂😂🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️
Humaira
😂😂😂😂😂
Humaira
suka drakor juga ya jan 😂😂😂😂
zhelfa_alfira
bagus
🌸 𝑥𝑢𝑎𝑛 🌸
durhakim kamu Jan ....😂😂😂
Rahmawati
tadi kirain ojan jongkok mau gendong nisa di punggung biar sweet gitu kayak drama Korea 😂
Yeni Fitriani
tp kelihatannya mama ojan orgnya baik hati gak bakalan terlalu menentang pilihan Ojan dia mh klihatan yg penting anakku senng dan bahagia.... lagiaan horang kaya harta berlimpah mah gak butuh menantu wanita karir yg mereka butuhkan tuh wanita yg bisa bikin nyaman adem tentrem....
Aidil Kenzie Zie
Ojan nggak tahan liat Nisa terus terpuruk karena masa lalunya dan dia mau membahagiakan Nisa
Mahendra Sari Anwar
mantappp jan..tp abis itu pusing dach jan🤣🤣🤣
Mahendra Sari Anwar
yg baca juga jan🤣🤣🤣🔥
Mahendra Sari Anwar
nyebut jan nyebutttt blm juga sah pacaran 🫢udh jauh kali tuch otak jln² nya jan🤣🤣🤣🤣🤣
Mahendra Sari Anwar
🤣🤣🤣🤣🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!