NovelToon NovelToon
Pura-Pura Jadi Supir

Pura-Pura Jadi Supir

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Konglomerat berpura-pura miskin / Menyembunyikan Identitas / Perjodohan
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

Di usianya yang ke-33, Raditya Mahardika harus menerima perjodohan konyol dengan Bianca Adyatama, gadis 20 tahun yang masih kuliah dan merupakan putri rekan bisnis keluarganya. Ragu dan curiga, Raditya punya rencana gila: menyamar menjadi supir di rumah keluarga Adyatama.
Sebagai 'Rio', supir barunya, Radit menyaksikan realitas yang mengejutkan. Bianca bukan hanya manja, tapi juga arogan dan suka merendahkan orang.
Namun, di tengah kekecewaannya, mata Radit justru tertuju pada sosok lain: Kirana Adyatama. Kakak Bianca yang berusia 27 tahun. Di mata keluarganya, Kirana hanyalah barista kafe, bahkan sering diperlakukan seperti pelayan. Tapi, di balik seragam kafe dan senyum hangatnya, Kirana menyimpan rahasia besar.
Mana yang akan dipilih Radit? Calon istri yang dijodohkan, atau kakak yang menyimpan mutiara tersembunyi? Bagaimana jika rahasia penyamarannya terbongkar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Lorong VVIP Mahardika Medical Center (MMC) terasa begitu sunyi, hanya detak jantung Raditya yang terdengar berpacu tidak beraturan. Ia masih berdiri di depan pintu ruang perawatan tempat Kirana baru saja dipindahkan. Jas mahalnya sudah sedikit kusut di bagian lengan karena tadi ia mendekap Kirana begitu erat. Melalui jendela kaca kecil, ia melihat perawat sedang memasang monitor jantung. Garis hijau yang bergerak naik-turun itu adalah satu-satunya hal yang menahan kewarasan Raditya saat ini.

"Tuan Raditya, kondisi pasien sudah stabil. Ini murni kelelahan hebat dan dehidrasi, ditambah infeksi ringan pada tenggorokan yang memicu demam tinggi," ucap Dokter Gunawan dengan suara rendah, takut mengganggu ketenangan bos besarnya.

Raditya hanya mengangguk tanpa melepaskan pandangannya dari wajah pucat Kirana.

"Pastikan dia mendapatkan perawatan terbaik. Jangan biarkan siapapun masuk kecuali dengan izin saya dan ingat! jangan pernah bocorkan siapa saya."

“Baik, Tuan.”

Tepat saat Raditya hendak melangkah masuk ke dalam kamar untuk menggenggam tangan Kirana, ponsel di saku celananya bergetar hebat. Getaran itu terasa seperti sengatan listrik yang menyadarkannya kembali pada realita pahit.

Layar ponsel menunjukkan nama: BIANCA.

Raditya memejamkan mata, mengembuskan napas panjang yang sarat akan kekesalan. Ia menjauh dari pintu kamar dan mengangkat telepon itu dengan suara tertahan.

"Halo, Non Bianca?"

"RIO! Kamu ke mana saja sih? Telepon dari tadi tidak diangkat!" suara melengking Bianca meledak di seberang sana, membuat Raditya harus menjauhkan ponsel dari telinganya.

"Aku di kafe daerah Surabaya Barat sama teman-temanku. Aku baru sadar kalau dompetku ketinggalan di mobil! Cepat ke sini, bayarin pesananku sekarang juga! Teman-temanku sudah mau pindah tempat, aku malu kalau sampai tidak bisa bayar!"

Rahang Raditya mengeras. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Di dalam sana, kakak kandung gadis ini sedang berjuang untuk sadar dari pingsannya, sementara Bianca hanya memikirkan rasa malunya karena ketinggalan dompet.

"Non Bianca, saya sedang ada urusan mendesak. Bisakah Non meminta Mama Reva atau orang rumah untuk mengantar?" jawab Raditya, mencoba tetap berada dalam batas kesabaran seorang supir.

"Urusan apa?! Kamu itu supir, Rio! Tugasmu ya melayani aku! Aku tidak mau tahu, sepuluh menit lagi kamu harus sampai di sini atau aku bilang Ayah supaya kamu dipecat hari ini juga! Cepat!"

Klik. Sambungan diputus secara sepihak.

Raditya menatap ponselnya dengan tatapan yang bisa membunuh. Jika saja dia bukan sedang menyamar, Bianca sudah pasti akan masuk dalam daftar hitam seluruh unit bisnis Mahardika Group selamanya.

"Bram!" panggil Raditya kepada asistennya yang baru saja tiba di rumah sakit membawa laporan.

"Iya, Pak?"

"Jaga Kirana. Jangan sedetik pun kamu tinggalkan pintu ini. Kalau dia sadar, segera hubungi saya," perintah Raditya dengan nada otoritas penuh. "Dan satu lagi, hubungi Pak Tejo. Suruh dia ambil mobil sedan hitam keluarga Adytama yang tadi saya parkir di apartemen. Minta dia bawa mobil itu ke lokasi Bianca secepat mungkin. Saya akan menyusul ke sana."

Raditya segera berlari menuju lift khusus, menuju lantai parkir bawah tanah tempat mobil Lamborghini Urus miliknya terparkir. Begitu masuk ke dalam kabin mobil yang kedap suara, Raditya berteriak melepaskan kekesalannya.

"Gadis gila!" umpatnya.

Dengan gerakan kilat yang terlatih, Raditya mulai melakukan transformasi identitas. Di dalam mobil yang melaju membelah jalanan Surabaya, ia melepas jas mahalnya dan melemparkannya ke kursi penumpang. Ia menarik kaos polo gelap dari tas olahraga yang selalu ia siapkan di bagasi. Jam tangan Patek Philippe seharga miliaran rupiah ia lepas, digantikan dengan jam tangan kayu sederhana yang menjadi ciri khas Rio.

Ia mengacak-acak rambutnya yang tadi tertata rapi dengan pomade, membuatnya terlihat sedikit lebih berantakan seperti supir yang baru saja bekerja seharian. Dalam hitungan menit, CEO Mahardika Group yang berwibawa telah menghilang, berganti menjadi Rio yang tampak sederhana namun menyimpan ketajaman di matanya.

Raditya menghentikan mobil mewahnya di sebuah gang sepi tak jauh dari lokasi Bianca. Di sana, Pak Tejo sudah menunggu dengan mobil sedan keluarga Adytama yang biasa dibawa Rio.

"Ini kuncinya, Den Radit," ucap Pak Tejo sopan sambil menyerahkan kunci.

"Terima kasih, Pak Tejo. Tolong bawa mobil saya kembali ke kantor," sahut Raditya singkat. Ia segera berpindah ke kursi kemudi mobil sedan tersebut dan melaju menuju kafe tempat Bianca berada.

Sesampainya di sana, ia melihat Bianca berdiri di depan pintu kafe dengan wajah ditekuk, dikelilingi oleh dua orang temannya yang tampak menatap Bianca dengan tatapan kasihan sekaligus menghakimi.

Raditya turun dari mobil dengan wajah datar. "Maaf, Non Bianca. Ini dompetnya, tadi mobilnya sempat ada masalah," bohong Raditya sambil menyerahkan dompet yang tertinggal di mobil.

Bianca menyambar dompet itu dengan kasar. "Lama banget sih! Kamu tahu tidak, aku hampir dituduh mau kabur tidak bayar? Malu-maluin saja!"

"Maaf, Non."

Bianca memberikan beberapa lembar uang kepada kasir, lalu berbalik ke arah teman-temannya dengan senyum yang dipaksakan.

"Duh, maaf ya teman-teman. Supirku ini memang agak lelet kalau disuruh gerak cepat. Biasalah, orang kelas bawah."

Raditya hanya diam, menundukkan kepalanya. Namun di dalam hatinya, ia sedang menghitung mundur waktu sampai ia bisa membongkar semua ini. Ia muak melihat bagaimana Bianca merendahkan orang lain, terutama saat dia sendiri tidak tahu bahwa supir yang dia hina ini adalah pemilik rumah sakit tempat kakaknya sedang terbaring lemah.

"Ayo, Rio! Antar aku pulang, aku lelah," perintah Bianca sambil masuk ke mobil tanpa memedulikan keringat yang membasahi dahi Raditya akibat terburu-buru tadi.

Raditya masuk ke kursi kemudi. Sebelum menghidupkan mesin, ia melirik ponselnya yang diletakkan di dasbor. Sebuah pesan masuk dari Bram: 'Pak, Mbak Kirana mulai mengigau. Dia memanggil nama seseorang... dia memanggil Bunda Kanita.'

Tangan Raditya bergetar di atas kemudi. Ada rasa sakit yang menghujam jantungnya. Ia ingin sekali berputar arah, kembali ke rumah sakit, dan berada di samping Kirana. Namun, ia tahu ia harus bermain cantik.

"Rio! Kok malah bengong? Jalan sekarang!" bentak Bianca dari kursi belakang.

"Baik, Non," jawab Raditya pelan.

Sepanjang jalan, Raditya hanya bisa menahan geram. Suasana di dalam mobil terasa sangat menyesakkan bagi Raditya. Bianca terus sibuk berswafoto dan mengeluh tentang warna kuku kakinya, sementara pikiran Raditya terbang jauh ke ruang VVIP rumah sakit.

Tunggu saya, Kirana. Setelah urusan dengan bocah manja ini selesai, saya akan kembali menjadi Rio yang akan menjagamu, batin Raditya sambil menatap jalanan Surabaya dengan mata yang berkilat penuh emosi.

**

Di koridor lantai VVIP yang tenang dan beraroma pinus segar, Raditya melangkah cepat. Ia baru saja kembali dari drama melelahkan bersama Bianca. Kaos gelapnya sedikit lembap oleh keringat, dan ia sempat merapikan rambutnya agar tidak terlihat terlalu "berantakan" sebelum mendekati kamar rawat Kirana.

Di depan pintu kayu jati yang kokoh, Bram sudah berdiri menunggunya dengan ekspresi tenang. Melihat kedatangan tuannya, Bram segera membungkuk hormat, namun dengan gerakan yang sangat halus agar tidak menarik perhatian perawat yang lewat.

"Bagaimana meeting tadi, Bram?" tanya Raditya dengan suara rendah, matanya sesekali melirik ke arah pintu kamar yang masih tertutup rapat.

"Semua berjalan lancar sesuai rencana, Pak. Meskipun Bapak pergi mendadak, draf yang Bapak siapkan sudah sangat matang. Klien dari Jakarta itu sudah menandatangani kontrak akuisisi lahan Surabaya Barat. Mereka justru sangat terkesan dengan efisiensi kita," jawab Bram mantap.

Raditya mengembuskan napas panjang, sebuah beban berat seolah terangkat dari bahunya. Kelegaan terpancar dari wajahnya yang letih.

"Syukurlah. Aku sempat khawatir kepergianku yang tiba-tiba akan membuat mereka ragu. Tapi keselamatan Kirana jauh lebih penting dari kontrak mana pun."

Bram tersenyum tipis, memahami betapa berartinya wanita di dalam kamar itu bagi atasannya.

"Kalau begitu, saya mohon pamit kembali ke kantor untuk mengurus administrasi kontraknya, Pak. Jika ada sesuatu, segera hubungi saya."

"Terima kasih, Bram. Hati-hati di jalan," ucap Raditya singkat. Setelah memastikan Bram menjauh, Raditya berdiri diam di depan pintu. Ia menarik napas dalam-dalam, menata emosinya, dan kembali memasang topeng sebagai Rio, sang supir pribadi.

Di dalam kamar luas yang lebih mirip suite hotel bintang lima daripada kamar rumah sakit itu, Kirana perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah pening yang masih berdenyut di belakang kepalanya, diikuti oleh aroma terapi lavender yang menenangkan.

Ia mengerjapkan mata, menatap langit-langit kamar yang tinggi dengan lampu kristal minimalis. Ia mencoba menggerakkan tangannya, dan merasakan selang infus menempel di punggung tangannya yang pucat.

"Aku... di mana?" gumamnya lirih.

Ia melihat sekeliling. Dinding kamar dilapisi wallpaper mewah, ada sofa kulit besar di sudut ruangan, dan jendela besar yang memperlihatkan siluet gedung-gedung tinggi di Surabaya. Ini jelas bukan rumah sakit biasa. Ini adalah kamar VVIP yang tarif per malamnya mungkin setara dengan gaji manajer menengah.

Pintu kamar terbuka pelan. Dokter Gunawan masuk dengan senyum ramah, diikuti oleh seorang perawat yang membawa nampan berisi obat.

"Selamat sore, Mbak Kirana. Sudah merasa lebih baik?" tanya Dokter Gunawan sambil memeriksa denyut nadi Kirana.

"Dokter... kenapa saya bisa ada di sini? Siapa yang membawa saya?" Kirana bertanya dengan suara serak, masih berusaha mengumpulkan ingatannya yang terputus saat berada di restoran hotel tadi siang.

Dokter Gunawan mencatat sesuatu di papan klipnya. "Tadi siang Anda pingsan di Sky Lounge. Beruntung sekali, Anda dibawa ke sini oleh pemilik rumah sakit ini sendiri, Tuan Raditya Mahardika. Beliau sangat khawatir dan berpesan agar kami memberikan perawatan paling maksimal untuk Anda."

Kirana tertegun. Matanya membelalak tak percaya. "Tuan... Raditya Mahardika? Pewaris Mahardika Group itu?"

"Benar, Mbak. Sepertinya beliau sedang ada di lokasi yang sama saat Anda pingsan tadi. Beliau sendiri yang menggendong Anda sampai ke IGD. Sekarang, saya sarankan Mbak jangan terlalu banyak berpikir dulu. Tubuh Mbak sangat lelah dan dehidrasi parah. Mbak harus istirahat total setidaknya sampai besok pagi," jelas Dokter Gunawan.

Setelah memberikan instruksi pada perawat, Dokter Gunawan pamit keluar. Kirana terdiam, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Namanya tentu tidak asing bagi siapapun di dunia bisnis Surabaya, namun bagaimana mungkin seorang pria setingkat Raditya Mahardika mau bersusah payah menolongnya, bahkan membawanya ke kamar semewah ini?

Belum sempat Kirana memecahkan teka-teki itu, pintu kamar kembali terbuka. Sosok pria dengan kaos gelap dan celana kargo masuk dengan langkah ragu.

"Mas Rio?" seru Kirana, ada nada lega sekaligus bingung dalam suaranya.

Raditya berjalan mendekat ke sisi tempat tidur, menatap Kirana dengan tatapan penuh perhatian yang berusaha ia sembunyikan di balik sikap formal.

"Mbak Kirana... Syukurlah Mbak sudah sadar. Bagaimana rasanya? Ada yang sakit?"

"Mas Rio kok bisa tahu saya di sini? Dan... katanya tadi Tuan Raditya Mahardika yang menolong saya?" tanya Kirana beruntun.

Raditya sudah menyiapkan jawaban ini sejak di perjalanan tadi. Ia memasang wajah yang tampak sedikit canggung.

"Tadi Tuan Raditya menelepon saya menggunakan ponsel Mbak Kirana. Beliau menemukan nomor saya di riwayat panggilan terakhir. Beliau mengabarkan kalau Mbak pingsan dan dibawa ke rumah sakit ini. Saya langsung buru-buru ke sini setelah mengantar Non Bianca."

Kirana mengangguk-angguk pelan, meski masih ada rasa heran yang mengganjal. "Apa Mas Rio tahu bagaimana ceritanya Tuan Raditya bisa sampai menolong saya? Saya bahkan tidak kenal beliau secara pribadi."

Raditya berdehem kecil. "Dari cerita staf di depan tadi, katanya Tuan Raditya memang sedang meeting di restoran yang sama dengan Mbak Kirana. Saat Mbak tiba-tiba limpung, beliau yang paling dekat dan langsung menangkap Mbak. Mungkin itu hanya bentuk kemanusiaan beliau, Mbak. Beliau juga berpesan agar saya menjaga Mbak di sini sampai benar-benar pulih."

Kirana menghela napas panjang, menyandarkan kepalanya di bantal yang empuk. "Luar biasa sekali... saya tidak menyangka orang sehebat beliau mau peduli pada orang asing seperti saya. Padahal saya hanya sedang rapat bisnis kecil tadi."

"Tuan Raditya memang dikenal sangat sigap, Mbak," sahut Raditya dengan senyum tipis yang penuh arti.

"Mas Rio, saya benar-benar harus mengucapkan terima kasih kepada beliau. Apa beliau meninggalkan kartu nama atau nomor telepon yang bisa saya hubungi nanti?" tanya Kirana sungguh-sungguh.

Raditya merogoh saku celana kargonya, mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna hitam elegan dengan tulisan emas yang ia ambil dari laci kantornya tadi. Ia menyerahkannya pada Kirana.

"Ini, Mbak. Beliau menitipkannya pada perawat untuk diberikan kepada Mbak Kirana."

Kirana menerima kartu itu. Di sana tertulis jelas: Raditya Mahardika - CEO Mahardika Group. Kirana mengusap kartu itu, merasa ada sesuatu yang aneh namun menenangkan dari nama tersebut.

"Terima kasih ya, Mas Rio. Mas sudah repot-repot ke sini, padahal pasti capek mengurus Bianca yang... yah, Mas tahu sendiri bagaimana dia," ucap Kirana dengan tawa kecil yang lemah.

Raditya menggeleng pelan, matanya menatap Kirana dengan intensitas yang membuat jantung wanita itu berdesir tanpa alasan yang jelas.

"Tidak perlu berterima kasih, Mbak Kirana. Sudah tugas saya menjaga Mbak. Bagi saya, kesehatan Mbak jauh lebih penting dari urusan apapun di rumah itu."

Suasana di dalam kamar itu mendadak hening. Hanya ada suara pendingin ruangan yang berdesir halus. Kirana merasakan ketulusan dalam suara Rio, sesuatu yang jarang ia dapatkan dari orang-orang di sekitarnya, kecuali mungkin dari almarhumah ibunya.

"Mas Rio sangat baik," bisik Kirana sambil tersenyum tulus.

Raditya membalas senyuman itu. Di dalam hatinya, ia berjanji bahwa ini adalah langkah awal baginya untuk lebih dekat dengan Kirana. Penyamarannya mungkin membuatnya harus berbohong, namun rasa ingin melindunginya adalah hal paling jujur yang pernah ia rasakan selama hidupnya.

"Istirahatlah, Mbak Kirana. Saya akan berjaga di sini. Tidak akan ada yang berani mengganggu Mbak selama ada saya," ucap Raditya tegas.

Kirana perlahan memejamkan matanya, melepaskan rasa lelah dalam tubuhnya.

***

1
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Ma Em
Raditya sdh terpikat dgn pesona Kirana , Raditya lbh baik sudahi penyamaran mu dan terus terang saja bahwa kamu sdh menyukai Kirana .
shabiru Al
masa gak nyadar sama perasaan nya sendiri,, raditya sudah jatuh cinta sama kirana
Nda
novelmu luar biasa thor
merry
Kirana cinta mu dit 😄😄😄 mky kmu melakukan hal. plg gila yg blm kmu lakukan,, klien triliunann kmu abaikn demi Kirana
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
🤗
Desi Santiani
double up thor seruuu bgttt
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up trs
shabiru Al
nah lho kayaknya kirana bakalan tau siapa rio sebenarnya
Reni Anjarwani
lanjut thor
Reni Anjarwani
bagus bgt ceritanya , doubel up thor
shabiru Al
waaahhh pertemuan apa ya,, sama siapa ya,, bianca kah ? atau kirana ?
shabiru Al
benar2 tipe perempuan yang merepotkan bianca itu
shabiru Al
jangan lama2 dong nyamar nya,, dah tau kan gimana bianca dan kirana spt apa
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
✦͙͙͙*͙*ᴍs.ʀ͠ᴇɴᴀ✨: up setiap jam 8 pagi, kak 😊
total 1 replies
shabiru Al
cocok banget visualnya
shabiru Al
udah mulai condong ke kirana nih
shabiru Al
buseeett holang kaya mah bebas ya...🤭
Ma Em
Semoga yg pertama Rio adalah Raditya bkn Bianca tapi Kirana , Bianca biar dia kerja magang di perusahaan nya Raditya tanpa tau Raditya adalah Rio agar Bianca TDK cari perhatian pada Rio .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!