NovelToon NovelToon
Arumi Gadis Pemetik Teh

Arumi Gadis Pemetik Teh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: feby_mb

Arumi Kurnia Ningsih seorang gadis berusia dua puluh tahun. Dia bercita-cita ingin menjadi desainer terkenal. Namun harapan itu pupus ketika sang ayah menjodohkannya dengan anak juragan teh.

Bagaimanakah hari-hari yang dijalani Arumi setelah menikah, akankah bahagia atau menderita. Yuk segera baca🤗🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon feby_mb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Selesai menjahit Arumi membereskan potong-potongan kain yang sedikit berserak. Ia memasukkan potongan kain itu ke dalam karung kecil.

Baju istri mandornya akan ia berikan besok saat kerja. Sedangkan baju untuk anak mbak pemilik warung sembako akan ia antarkan nanti pas mau berjualan bersama Rani.

Ibunya Rani sudah meminta izin pada pak kades. Jadi Arumi dan Rani sudah bisa berjualan sore ini.

" Bapak tau darimana informasinya"

Arumi menghentikan pekerjaannya saat mendengar suara mbaknya.

" Dari anaknya Karso, coba kamu daftar dulu ke sana"

" Bapak yakin posisinya jadi sekretaris"

" Yakin, makanya bapak bilang kamu coba dulu. Toh kerjaannya nggak berat"

" Nanti Nita coba temui pak kades"

" Kalau bisa sore ini kamu temui pak kades, biar tidak keduluan sama orang lain"

" Iya Pak"

Arumi sedikit lega mendengar obrolan bapak dan mbaknya. Arumi berdoa semoga mbaknya diterima kerja di kantor desa. Jadi nanti ada yang membantu keuangan untuk rumah.

" Rumi, kamu sudah masak untuk mbak kamu"

" Sudah Buk"

" Setelah ini tolong bersihkan bak mandi"

" Maaf Buk, aku mau pergi sama Rani. Setelah itu baru aku bersihkan "

" Ibuk maunya sekarang, masa kamu membiarkan ibuk mandi dengan air kotor "

Daripada berdebat lagi, Arumi pun segera membersihkan mbak mandi. Ukuran mbak mandi Arumi tidak besar. Hanya setinggi pinggang, jadi membersihkannya tidak akan memakan waktu yang lama.

Arumi mulai menyikat bak mandi. Semua dinding dan juga sudut bak mandi di sikat. Untungnya bak mandi itu sering dibersihkan, jadi tidak terlalu kotor.

Selesai membersihkan bak mandi, Arumi mengisi bak mandi dengan air bersih. Sekalian ia mandi karena tubuhnya juga sudah basah karena membersihkan bak mandi tadi.

Akhirnya semua pekerjaan Arumi selesai. Ia juga sudah selesai mandi. Sekarang ia menunggu sahabatnya di depan rumahnya. Semoga rezeki mereka lancar hari ini.

" Rum, udah lama ya nunggunya"

" Nggak, baru kok"

" Yuk berangkat menjemput rezeki"

" Yuk"

Kedua sahabat itu segera pergi ke lapangan bola. Kebetulan hari ini ada pertandingan bola antara kampungnya dengan kampung sebelah. Jadi sudah pasti nanti akan rame sama pengunjung.

" Sebentar Ran, aku mau ngasih baju ini dulu"

Arumi mampir ke warung sembako dekat rumahnya.

" Assalamualaikum, permisi mba"

" Eh Rumi, masuk Rum"

" Makasih mbak, cuma mau ngantar baju yang kemarin"

" Udah selesai ya"

" Sudah mba"

Pemilik warung sembako itupun melihat baju yang sudah dijahit Arumi.

" Masyaallah bagus banget Rum. Anak mbak pasti suka "

" Syukur Alhamdulillah kalau anak mbak senang "

" Berapa Rum"

" Dua ratus ribu aja mbak"

" Sebentar ya"

Pemilik warung pergi ke dalam rumah untuk mengambil uang.

" Ini Rum"

" Lho mbak ini kebanyakan"

" Nggak apa-apa, itu bonus untuk kamu karena sudah membuatkan baju yang bagus untuk anak mbak. Jangan ditolak, itu rezeki kamu"

" Makasih ya mbak"

" Sama-sama "

" Pamit dulu ya mbak, soalnya Rani udah nungguin "

" Iya Rum"

" Assalamualaikum "

" Wa'alaikumsalam"

Setelah berpamitan Arumi menghampiri Rani.

" Sudah selesai "

" Sudah Ran, si mbaknya ngasih duit lebih lagi"

" Dikasih berapa?"

" Lima puluh ribu"

" Alhamdulillah, yuk lanjut jalan lagi"

Sampai di lapangan bola Arumi mencari meja tempat jualan mereka. Tadi pagi ibuk Rani minta tolong orang untuk pasang meja dan juga kursi. Jadi mereka berdua tinggal nempatin mejanya.

Arumi dan Rani segera menyiapkan dagangan mereka. Hari ini dagangan mereka bertambah satu. Ya mereka akan coba jualan bakwan.

Tadi Rani sudah membuat adonan bakwannya di rumah. Jadi Arumi tinggal menggorengnya.

" Rum aku gantung minuman ini dulu"

" Iya Ran"

Mereka juga menjual minuman dingin. Jadi nanti kalau pengunjung haus mereka bisa pilih ingin minuman dingin rasa apa.

Pertandingannya belum mulai, tapi pengunjung sudah banyak yang datang. Kebanyakan yang nonton bola laki-laki. Sedangkan yang perempuan bisa dihitung dengan jari. Mungkin perempuan di kampungnya tidak terlalu tertarik dengan sepak bola.

Yang berjualan di lapangan itu bukan cuma Arumi dan Rani. Tapi juga ibu-ibu yang tinggal di dekat lapangan bola.

" Kak beli bakwan lima, sosisnya tiga"

" Sebentar ya"

Arumi memasukkan bakwan lima dan sosis tiga kedalam plastik.

" Berapa Kak "

" Delapan ribu"

Anak muda itupun memberikan uang kertas sepuluh ribu pada Arumi.

" Ini kembaliannya dua ribu, makasih"

" Sama-sama"

Alhamdulillah Arumi dapat pembeli pertama. Semoga nanti akan datang lebih banyak lagi pembelinya.

Penonton bola yang datang semakin ramai. Mereka ingin memberikan dukungan untuk para pemain. Supaya lebih enak menonton pertandingan bola, mereka mendatangi setiap tenda penjual untuk membeli camilan.

Rani dan Arumi mulai sibuk melayani pembeli. Para pembeli tidak hanya orang kampung mereka saja. Tapi banyak juga yang dari kampung sebelah. Mereka tertarik dengan bakwan sayur yang digoreng sama Arumi.

" Kak, saya mau beli bakwannya lima"

" Saya tiga Kak"

Untung saja Arumi menggorengnya banyak. Jadi pembeli tidak menunggu lama untuk bisa mencicipi bakwannya.

Suara MC mulai memenuhi lapangan bola. Sebentar lagi pertandingan bola akan dimulai. Para penonton segera mencari tempat duduk. Setiap penonton membawa camilan dan juga minuman ditangan mereka.

Wasit segera membunyikan peluit, pertandingan pun dimulai. Kedua tim pun mulai memperebutkan bola, dan siap mencetak gol kemenangan untuk kampung mereka.

Sorak-sorai terdengar memenuhi lapangan saat para pemain berhasil mencetak gol. Suara sorak Sorai penonton menambah semangat para pemain.

Arumi dan Rani juga tidak ketinggalan bersorak saat pemain dari kampung mereka berhasil mencetak gol. Untuk sementara skor pemain dari kampung mereka unggul 2-1.

" Ternyata para pemain kita jago juga ya"

" Iya Ran, jadi latihan mereka selama ini nggak sia-sia"

Semakin sore, pertandingan semakin seru. Kedua tim sama-sama kuat. Mereka tidak ingin memberikan celah sedikitpun untuk lawan mereka.

Bunyi peluit panjang dari wasit, menandakan pertandingan berakhir dengan skor 3-1. Warga pun bersorak gembira karena tim mereka menang.

Para pemain pun berkumpul untuk menerima hadiah dari pak bupati.

" Selamat untuk tim yang sudah menang. Dan untuk tim yang kalah jangan berkecil hati. Jadikan kekalahan ini cambuk untuk meraih kesuksesan. Kalian sudah memberikan yang terbaik untuk semua.

Pak bupati memberikan hadiah sebesar lima belas juta untuk pemenang. Hadiah itu diberikan secara simbolis. Yang kalah pun mendapatkan hadiah sebesar tujuh juta lima ratus ribu rupiah.

" Terima kasih Pak "

" Kedepannya semoga tim sepak bola semakin maju"

" Aamiin "

Sebelum pergi, pak bupati berfoto dengan semua pemain. Foto ini akan menjadi kenang-kenangan untuk para pemain. Setelah selesai, pak bupati pamit undur diri.

Satu persatu warga juga pergi meninggalkan lapangan bola. Karena sebentar lagi sudah mau magrib.

Setelah semua orang sudah pulang, sampah-sampah plastik mulai berserakan dimana-mana. Sepertinya kesadaran warga kasih kurang untuk membuang sampah pada tempatnya.

Arumi dan Rani membersihkan sampah yang berserakan di lapangan. Walaupun tidak semuanya sampah jualan mereka, tapi mereka dan ibu-ibu pedagang lainnya tetap membersihkannya.

Semua sampah di kumpulkan di tempat sampah. Sampah-sampah itu nanti akan di bakar. Sekarang lapangan bola sudah bersih dari sampah plastik.

" Akhirnya lapangannya jadi bersih lagi"

" Iya Ran, jadi enak lagi mata memandangnya"

" Kenapa ya orang-orang susah banget buang sampah pada tempatnya. Padahal tong sampahnya ada, gede lagi"

" Namanya juga malas Ran"

" Kalau udah malas ya susah"

Rani memasukan minyak sisa menggoreng bakwan tadi ke dalam kaleng. Minyak itu sudah dingin, jadi tidak masalah di masukkan ke dalam kaleng. Nanti minyak itu bisa digunakan untuk memasak atau untuk keperluan lainnya.

Sedangkan Arumi meletakkan kompor dan juga wajan penggorengan ke atas gerobak. Semua barang-barang jualan di susun rapi di atas gerobak.

Setelah memastikan tidak ada barang yang ketinggalan, kedua gadis cantik itu pun pulang. Nanti malam mereka akan menghitung uang hasil penjualan hari ini.

To be continued.

Jangan lupa tinggalkan jejak sayang kalian teman-teman.

Happy reading guys 🤗 🤗

1
Harniati Rifqy
Lanjut lagi
Sari Supriyanti
Semangat thooor up nya...cerita bagus,no typo typo...👍👍semangat...semangaaaaat 💪💪💪
AsLan 🦁
jadi ke mantu wae, terus sekolah ke ben si Usman kambi bojoe nyesel
Sulastri Mawardi.87
kk feby sy setuju jika Arumi di jadikan anak angkat sm tuan kusuma..
AsLan 🦁
semoga yang denger pak Kusuma,
Sulastri Mawardi.87
pasti Arumi ini bukan anak kandung nya mungkin...yg sllu di pedulikan hanya si nita aja..
Marie Louis AK
dasar ibu tdk punya akhlak. karma baru tahu rasa. kasihan Arumi.
sunshine wings
Sialan.. ups kelepasan makinya..
ibuk macam apa itu pilih kasih..
Arumi diruh itu ini diambik lagi gajinya..
sunshine wings
Tinggalkan mereka Arumi biar tau rasa..
Memeras aja kerjanya.. huh..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!