NovelToon NovelToon
Hng Sih Kian Li

Hng Sih Kian Li

Status: tamat
Genre:Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:62
Nilai: 5
Nama Author: The Bwee Lan

Dia pangeran yang selamat dari eksekusi bertemu arwah artis figuran yang mati di rel kereta. Wajah mereka sama. Arwahnya minta tolong pada Pangeran. Pangeran itu mau—karena dia ingin hidup abadi. Tapi kemudian dia bertemu gadis yang tak ingin hidup sama sekali. Namun Sang Takdir membiarkan Pangeran membentur fakta: gadis ini belahan jiwamu.

Hng Sih Kian Li — bertemu dirimu di masa yang jauh.


oleh The Bwee Lan (Anggrek cantik dari Marga The)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

IDENTITAS PANGERAN YANG TERANCAM

Sudah satu jam.

Ya, satu jam di dalam Perpustakaan Negara Bun Long, Eng Sok mencari buku tentang elixir panjang umur. Ia bolak-balik dari katalog digital ke rak, dari rak ke katalog digital. Matanya mulai perih. Pinggangnya linu. Lehernya pegal karena terlalu sering menengadah membaca judul-judul buku di rak atas.

Sementara Ah Ti? Anak itu sudah duduk manis di meja baca sejak awal. Di depannya, kertas kaligrafi berceceran. Kuasnya sudah dicelup tinta puluhan kali. Hasilnya? Luar biasa.

Ah Ti menulis satu per satu aksara. Thian (Langit). Ti (Bumi). Hok (Keberuntungan). Coretannya rapi. Teratur. Bahkan petugas perpustakaan yang kebetulan lewat sampai berhenti, menatap, lalu berjalan cepat — seolah mau minta satu hasil karya Ah Ti, tapi gengsi.

Eng Sok tidak melihat semua itu.

Ia sedang frustasi.

Tidak ada resep elixir panjang umur. Tidak ada ramuan keabadian. Tidak ada mantra atau doa khusus yang bisa membuat seseorang hidup selamanya.

Yang ada: buku tentang gaya hidup sehat. Tentang olahraga teratur. Tentang makanan bergizi. Dan satu rak penuh tentang kanker — pengobatan, pencegahan, harapan hidup.

Eng Sok duduk di kursi dekat jendela. Di tangannya, dua buku:

Komik Series Pendekar Bun — edisi terbaru, sampulnya bergambar pendekar dengan rambut panjang bertebangan.

Resep Obat Kanker Sembilan Region — tebal, sampul hijau tua, berbau kertas lama.

"Jadi, elixir keabadian emang gak ada," bisiknya dalam hati. "Tapi ada cara-cara menjaga kesehatan. Contohnya... latihan otot dengan bobot tubuh sendiri. Kalistenik."

Ia membuka buku catatannya — buku hitam kecil yang selalu ia bawa sejak beli di toko alat tulis. Lalu, tanpa sadar, ia mengambil kuas Ah Ti dari meja.

Sret. Sret. Sret.

Ia mulai menulis. Catatan tentang gerakan kalistenik. Tentang pola makan. Tentang ramuan herbal yang bisa memperpanjang usia — meskipun tidak abadi.

"Ko, itu kuas gua!" rengek Ah Ti dari samping.

Eng Sok tersadar. Ia menatap kuas di tangannya, lalu ke Ah Ti yang memasang wajah cemberut.

"He'eh," katanya datar. Ia mengembalikan kuas itu — tapi setelah menyelesaikan satu kalimat terakhir.

"Lu masih mau di sini apa gimana?" tanya Eng Sok.

"Mau di sini, Ko. Bentar lagi ya..." Ah Ti sudah kembali fokus ke kertas kaligrafinya.

Eng Sok mengangguk. Dari saku celananya, ia mengeluarkan ponsel candybar — model lama, tidak bisa internetan, tidak bisa medsos. Cuma bisa telepon dan SMS. Ah Me bilang itu memang punya Ah Ti, biar anak itu tidak kecanduan medsos. Ponselnya sudah terhubung ke ponsel Ah Me.

"Ini. Kalau ada apa-apa, telepon."

Ah Ti menerima ponsel itu tanpa banyak komentar.

---

Eng Sok berjalan ke arah lift.

Ada plang di dekat pintu keluar lantai dua: "Rooftop — Lantai 8. Area Makan dan Pemandangan Kota."

Ia dengan hati-hati membaca petunjuk. Mengikuti panah. Tapi ternyata ada aksara yang memiliki makna berbeda. Iya, karena Cia Agung sudah modern. Akhirnya Pangeran ini jadi kesasar. Sioh Bu tidak peduli, ia memang jarang mengeksplorasi atau makan di sini. Di sini dia antar Ah Ti, dia baca komik atau pinjam koran cari lowongan lalu… pulang.

Perut Eng Sok keroncongan. Lagi.

Ia tekan tombol lift. Tunggu. Masuk. Tekan angka 8.

Ding.

Lift terbuka di lantai 8. Tapi koridornya sepi. Terlalu sepi. Tidak ada petunjuk arah ke rooftop. Eng Sok berjalan mengikuti lorong — belok kiri, belok kanan, melewati pintu darurat, melewati ruangan penuh debu.

Renovasi.

Ia tersesat.

Tapi di ujung lorong, ada pintu setengah terbuka. Cahaya matahari masuk dari celah itu. Eng Sok mendekat.

Di balik pintu, sebuah balkon kecil. Belum selesai direnovasi — ubin berserakan, pagar besi masih longgar di beberapa titik.

Dan di sana, berdiri sesosok perempuan.

Rambut panjang terurai. Pakaian sederhana — kaos putih, celana jeans. Ia berdiri di tepi balkon, menghadap ke luar, ke arah kota yang terbentang di bawah. Rambutnya sebahu acak-acakan tertiup angin.

"Nona Ah Chio!" panggil Eng Sok ramah. Ia mengira Nona Chio juga cari makan di sini.

Perempuan itu tidak bergerak. Tidak pula menoleh.

"Nona Ah Chio?" panggilnya lagi. Perasaan Eng Sok mulai gak enak. Di barak militer, pasukan yang begini ini biasanya antara sakit atau… Tidak! Ia harus bergerak. Ia mempercepat langkahnya.

Diam.

Dan tiba-tiba, perempuan itu memanjat pagar.

Satu kaki di atas. Lalu kaki kedua. Ia berdiri di sisi luar pagar, hanya berpegangan pada besi longgar yang berkarat.

Mau lompat.

Eng Sok tidak berpikir.

Ia berlari — sekencang mungkin, menggunakan jurus meringankan tubuh. Agar langkahnya ringan tapi secepat angin.

Tapi Ah Chio sudah panik. Ia melihat Eng Sok dari sudut mata. Wajahnya pucat. Matanya kosong. Tangannya mulai melepas pegangan.

"JANGAN!"

Eng Sok menerjang. Kedua tangannya meraih pinggang Ah Chio — menariknya ke belakang, menjauh dari pagar. Tapi gadis itu mengamuk. Sikunya menghantam dada Eng Sok. Tumitnya menginjak jemari kaki pangeran.

"Lepas! Lepas aku!" teriak Ah Chio. Suaranya serak, seperti orang yang sudah menangis berjam-jam.

"TIDAK!"

Mereka bergulat di tepi balkon. Tubuh Eng Sok sudah lelah. Tangannya masih sakit karena habis memegang buku dan menulis. Ah Chio — meskipun kurus — memiliki tenaga orang yang tidak peduli lagi pada rasa sakit.

Dorongan terakhir.

Kaki Eng Sok tergelincir di atas ubin berdebu. Tubuhnya jatuh ke belakang — dan Ah Chio jatuh bersamanya.

Mereka terpental melewati pagar.

Udara berdesing di telinga Eng Sok. Lantai 8. Jatuh bebas.

Tapi dia pangeran. Dia sudah puluhan tahun berlatih bela diri. Tangannya — yang sedari tadi memegang Ah Chio — dengan refleks mencari titik di tubuh gadis itu.

Meridian.

Di istana dulu, ada teknik untuk melumpuhkan lawan tanpa menyakiti. Tekan titik tertentu di leher. Atau di ketiak. Atau di pinggang.

Jari-jari Eng Sok menekan satu titik di pinggang Ah Chio.

Gadis itu langsung lemas — matanya terpejam, tubuhnya lunglai.

Dan tepat pada saat itu, balkon lantai 7 — yang sudah selesai direnovasi, dengan atap kanvas tebal dan tumpukan pasir — menahan jatuh mereka.

BUMP!

Eng Sok membantingkan punggungnya ke kanvas. Kanvas itu melar, merobek sedikit, tapi menahan. Ah Chio jatuh di atas dadanya.

Keduanya tergeletak di atas kanvas balkon lantai 7.

Pintu kaca di lantai itu terbuka. Beberapa pegawai perpustakaan berlari keluar.

"ADA ORANG JATUH!"

"CEPAT PANGGIL AMBULANS!"

"MASIH HIDUP, MASIH HIDUP!"

Eng Sok tidak bisa bergerak. Lengan kanannya — yang menahan benturan — terasa salah. Bukan patah. Tapi terkilir berat. Ligamennya mungkin robek. Ia masih bisa menggerakkan jari-jarinya. Aman. Pikirnya. Tapi tubuhnya terlalu nyeri. Ia memaksakan mengambil HP dan menelpon Ah Ti minta adiknya itu ke lokasi dia. Lalu ia lemas. Masih sadar tapi tidak lagi sanggup bergerak bebas.

Ah Chio masih tidak sadar. Dadanya naik turun. Masih hidup.

"Koko... Koko!" Suara Ah Ti dari jauh. Anak itu berlari menembus kerumunan. Matanya basah. Tangannya meraih Eng Sok yang terbaring di atas kanvas.

"Koko jangan mati, Koko!"

Eng Sok membuka mata. Wajahnya pucat. Tapi ia masih tersenyum tipis.

"Gak mati, Ti. Cuma... AAAARGH.", Jawab Eng Sok. Tubuhnya terlalu nyeri untuk menjelaskan. Ah Ti di sebelahnya di Ambulans itu. Anak laki-laki ini mendadak tanya alamat RS ke petugas. Ia telpon Ah Me dan memberikan alamatnya. Lalu anak ini SMS alamat ke Ah Me. Petugas memujinya cerdas, tapi anak laki-laki itu seolah-olah tidak bertelinga. Ia memandangi kakaknya yang jatuh. Dan segera mengecek tas kecil kakaknya. “Dompet isi KTP, uang dikit, HP! Lengkap? Ga tau pokonya yang ini ada buat masuk RS”, pikir Ah Ti.

---

Ambulans datang sepuluh menit kemudian.

Eng Sok ditandu. Ah Chio ditandu terpisah — dia masih tidak sadar, tapi pernapasannya stabil. Ah Ti naik ke ambulans yang sama dengan Eng Sok, menggenggam tangan kakaknya yang tidak terkilir.

Di Rumah Sakit Umum Chhai Lian Hoe Po, mereka dipisahkan. Ah Chio dibawa ke ruang observasi. Eng Sok ke ruang IGD untuk lengan kanannya.

"Kami perlu data pasien," kata perawat di meja pendaftaran. "KTP, kartu asuransi, atau identitas lain."

Ah Ti menggigil.

Ia mengeluarkan dompet Sioh Bu dari tas kecil yang selalu ia bawa. KTP Sioh Bu. Kartu asuransi Sioh Bu. Tangannya gemetar.

"KTP-nya ini, Ci," kata Ah Ti pelan.

Perawat itu menerima. Mengetik. Mengecek.

"Baik, kami akan proses. Tapi untuk klaim asuransi, diperlukan sidik jari. Silakan pasien mengikuti petunjuk di mesin."

Ah Ti menggigil. Ia beberapa kali diajak Sioh Bu mengantar Ah Me. Pasti diminta sidik jari. Pikirannya kacau. “Di majalah sekolah, sidik jari unik, sidik mata juga…. Koko lewat gak dari alat itu?”, pikirnya. Ia menangis sesenggukan dan meraung-raung. Petugas mengira ia menangisi luka kakaknya. Padahal, ia takut Eng Sok ditangkap polisi dan dipukuli.

Eng Sok dibimbing ke mesin kecil di sudut ruangan. Layarnya menyala. Instruksi: Tempelkan jari ke sensor.

Eng Sok menempelkan jari — yang terkilir. Tangannya masih bengkak, tapi sidik jarinya (milik Sioh Bu) seharusnya masih bisa terbaca.

Gagal.

Coba lagi.

Gagal.

Petugas ruangan mendekat. "Coba jari lain, Koh."

Eng Sok mencoba jari tengah. Jari manis. Jari kelingking. Bahkan beralih ke tangan kiri yang sehat.

Gagal. Gagal. Gagal.

Sudah delapan kali percobaan. Tidak ada satu pun yang cocok dengan data KTP.

Ah Ti deg-degan. Tangannya menggenggam ujung baju Eng Sok. Dalam hati, ia berdoa — tanpa suara, tanpa gerakan bibir:

"Thien... jangan masukkan Koko Eng Sok ke dalam penjara. Dia orang baik, sudah obati Ah Me. Sudah bayar Uang Sekolah aku 3 bulan. Tolong... tolong...", doanya dalam hati yang hanya terdengar “Hik hueeeeee!”, di mulutnya.

Air matanya jatuh.

Petugas ruangan mulai mengernyit. "Sensor sidik jari bengsut (iblis)! Kalo ada musibah malah nyusahin!"

"Dahlah, coba scan iris," kata petugas yang lebih senior "Kalau masih tidak masuk, anda kami rujuk ke RS Polisi untuk verifikasi dan mempermudah penanganan"

Eng Sok memejamkan mata. Ah Ti membisikkan sesuatu. Eng Sok terkulai. Sisa Chi di badannya hilang, sisa matanya yang sayu dan badannya gemetar dan ditahan petugas di sampingnya.

Duduk di kursi ruang IGD yang dingin, dengan lengan kanan yang berdenyut-denyut sakit, ia mencoba memproses informasi itu.

Scan iris.

Mata.

Dulu, di istana, tidak ada yang namanya scan iris. Tidak ada yang namanya sidik jari digital. Identitas seseorang cukup dengan wajah — dan pengakuan lisan.

Tapi sekarang?

Tubuh ini bukan tubuh Sioh Bu. Tubuh ini miliknya — Koh Eng Sok — yang entah bagaimana berubah menjadi mirip Sioh Bu setelah melewati portal api biru.

Mata ini... milik siapa?

Milik Sioh Bu? Atau milik Eng Sok?

Ia tidak tahu.

Ia menelan ludah.

Sioh Bu pusing. Tidak bisa komentar apapun selain memegang rambutnya dan mengacak-acaknya.

"Baik," katanya akhirnya. Suaranya datar — tapi Ah Ti, yang memegang tangannya, tidak bisa merasakan getaran di jari-jari pangeran itu. Hanya dingin yang menusuk-nusuk tulang dan hati Ah Ti. "Saya siap."

---

BERSAMBUNG

---

Jatuh dari lantai 8. Selamat.

Tapi sidik jari tidak cocok.

Dan di ruang IGD yang dingin, Eng Sok dan Ah Ti menunggu nasib mereka.

Akankah mata Eng Sok — mata Sioh Bu — menyelamatkan mereka?

Atau justru membuka kotak Pandora yang selama ini mereka sembunyikan?

🪷👩‍❤️‍👨💐

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!