Penerbangan dua belas jam menuju Kanada seharusnya menjadi awal hidup baru yang tenang bagi Aisya. Gadis sederhana yang hanya ingin mengejar mimpinya itu tidak pernah menyangka bahwa kursi economy class yang ia tempati akan membawanya masuk ke dalam pusaran hidup Cassian Noir.
Cassian, pria dengan aura mengintimidasi dan tatapan setajam silet, duduk di sana bukan untuk berlibur. Ia sedang melarikan diri dari pengkhianatan di organisasinya. Pertemuan singkat di atas Samudra Atlantik itu bermula dari sebuah ketidaksengajaan—sebuah bantuan kecil dari Aisya yang justru membuat Cassian melihat sesuatu yang berbeda di balik niqab gadis itu: Ketulusan tanpa rasa takut.
Namun, sebuah insiden di tengah penerbangan memaksa mereka untuk mendarat dalam situasi yang tidak terduga. Cassian yang terluka dan terpojok mengklaim Aisya sebagai "pengantinnya" demi menyelamatkan nyawa gadis itu dari musuh yang sudah menunggu di bandara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurproject, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Batas Kehangatan
Dua jam telah berlalu, namun deru angin badai di luar masih terdengar bagai raungan monster yang kelaparan. Di dalam kabin Rolls-Royce Ghost yang sunyi, jarum jam digital di dasbor menunjukkan pukul tujuh malam. Suhu di luar telah merosot tajam hingga menyentuh angka -18°C.
Aisya yang duduk meringkuk di pojok kiri kursi belakang semakin merapatkan selimut wol tebal ke tubuhnya. Hawa dingin mulai merayap masuk, menembus sasis mobil ultra-mewah itu karena sistem penghangat cadangan sengaja diturunkan dayanya oleh Pak Lukas demi menghemat bahan bakar. Tubuh mungil Aisya kembali menggigil halus.
Mata hitam pekat Aisya melirik ke arah luar jendela yang tertutup es tebal, lalu beralih ke arah depan. "Kak Kevin... Pak Lukas... apa ada kabar dari tim medis mengenai Paman Hamdan?"
Kevin yang duduk di kursi penumpang depan langsung menoleh ke belakang dengan senyum menenangkan. "Nona Aisya tidak perlu khawatir. Lewat telepon satelit tadi, tim darurat Noir Medical mengonfirmasi bahwa mereka sudah berhasil mengevakuasi Tuan Hamdan ke klinik terdekat di Scarborough. Beliau sudah mendapatkan perawatan inhaler dan kondisinya sekarang sudah stabil."
Aisya memejamkan mata sejenak, mengembuskan napas lega yang membentuk uap tipis di udara kabin. "Alhamdulillah... Terima kasih banyak, Kak Kevin, Pak Lukas."
"Pamanmu sudah aman, sekarang pikirkan dirimu sendiri," suara berat Cassian terdengar dari pojok kanan kursi belakang.
Pria itu masih duduk tegap, melipat tangan di dada dengan ekspresi datar yang sulit ditebak. Sebenarnya, sore itu Cassian sedang dalam perjalanan pulang dari kantor pusat menuju rumah pribadinya di kawasan North York—jalur utama yang kebetulan melintasi jalan raya depan kompleks apartemen Aisya. Sungguh sebuah kebetulan yang nyaris mustahil, namun takdir malam itu memaksa Cassian menyaksikan gadis ceroboh itu hampir pingsan dihantam badai saat nekat mencari obat.
Mata biru abu-abunya menatap tajam ke arah Aisya yang terus gemetar. "Lukas, nyalakan pemanas ke tingkat maksimal selama sepuluh menit. Suhu di belakang sudah terlalu rendah."
"Baik, Tuan Noir," Pak Lukas yang berada di kursi kemudi segera memutar knop kendali di dasbor. Hawa hangat kembali berembus, sedikit mengurangi rasa kaku di jemari Aisya.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Tiba-tiba, lampu indikator pada dasbor mobil berkedip merah secara konstan, diikuti oleh suara alarm peringatan yang halus dari sistem komputer Rolls-Royce.
Pak Lukas mengerutkan kening, jemarinya bergerak cepat memeriksa layar kemudi. Wajahnya berubah serius. "Tuan Noir, kita punya masalah baru. Salju yang membeku di kolong mobil menyumbat saluran pembuangan emisi sekunder. Sensor mendeteksi adanya risiko kebocoran gas karbon monoksida jika mesin terus dinyalakan dalam posisi diam tertimbun salju seperti ini."
Kevin langsung menoleh ke arah Pak Lukas dengan cemas. "Artinya kita harus mematikan mesin total, Lukas?"
"Ya, Kevin. Demi keselamatan, kita harus mematikan mesin sekarang juga. Jika tidak, gas beracun bisa merembes masuk ke dalam kabin."
Cassian terdiam sejenak, rahangnya mengeras. Situasi mendadak berubah menjadi kritis. Menghadapi badai salju Kanada tanpa pemanas mobil sama saja dengan menyerahkan diri pada pembekuan tubuh dalam hitungan jam.
"Matikan mesinnya, Lukas," perintah Cassian akhirnya, suaranya terdengar sangat tenang namun mutlak.
Klik.
Pak Lukas menekan tombol Engine Start/Stop. Seketika itu juga, suara desing halus mesin Rolls-Royce mati total. Lampu-lampu mewah di dalam kabin meredup, menyisakan pencahayaan darurat berwarna temaram yang minim. Keheningan yang mencekam langsung menyelimuti mereka berempat. Dan bersamaan dengan matinya mesin, hawa dingin yang ekstrem dari luar mulai menginvasi kabin dengan sangat cepat.
Aisya mencengkeram tas ranselnya yang diletakkan di atas konsol tengah mahoni yang tinggi—pembatas kokoh yang tetap menjaga jarak aman antara dirinya dan Cassian. Di tengah kegelapan dan suhu yang kian membeku, rasa bersalah kembali berkecamuk di dalam hati Aisya. Sifat nekatnya hari ini benar-benar telah menyeret tiga orang di dalam mobil ini ke dalam situasi yang berbahaya.
Hanya dalam waktu lima belas menit setelah mesin dimatikan, suhu di dalam kabin Rolls-Royce merosot drastis. Udara hangat yang tersisa menguap dengan cepat, digantikan oleh hawa sedingin es yang mulai menembus sela-sela pakaian tebal mereka. Napas yang mereka hembuskan kini membentuk kabut putih yang tebal di udara kabin.
Aisya menarik kedua kakinya ke atas kursi, menekuk lututnya untuk menghemat kehangatan tubuh yang tersisa. Giginya mulai gemertak halus karena rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Di kegelapan yang temaram, ia menundukkan kepala, terus merapalkan doa-doa keselamatan di balik kain niqabnya.
"Lukas, berapa lama lagi tim penyelamat kota bisa mencapai titik ini?" suara Cassian memecah keheningan, terdengar begitu berat dan dalam di tengah kabin yang sunyi.
Pak Lukas mencoba memeriksa ponsel dan sistem navigasi cadangan di dasbor. "Sinyal publik benar-benar lumpuh di area ini, Tuan Noir. Namun, berdasarkan estimasi terakhir sebelum jaringan terputus, setidaknya butuh dua setengah jam lagi bagi alat berat untuk membuka jalur."
"Dua jam setengah dalam kondisi tanpa pemanas?" Kevin menoleh dari kursi depan, wajahnya tampak sangat khawatir. "Suhu tubuh kita bisa drop ke tingkat berbahaya sebelum mereka sampai di sini."
Cassian terdiam. Tatapannya beralih ke sisi kiri kursi belakang. Melalui keremangan cahaya darurat, ia bisa melihat sosok mungil Aisya yang gemetar hebat di balik balutan selimut wol. Konsol kayu mewah di antara mereka menjadi batas yang tak tersentuh, namun Cassian tahu ia tidak bisa membiarkan gadis itu membeku di mobilnya.
Pria itu membuka ritsleting jaket tebalnya sendiri, lalu melepas mantel luar yang berbulu hangat. Tanpa melewati batas konsol tengah, Cassian mengulurkan mantel besarnya itu ke arah kursi Aisya.
"Pakai ini," perintah Cassian dengan nada datar yang tidak menerima bantahan.
Aisya mendongak sedikit, terkejut. "T-Tapi, Tuan... Anda sendiri nanti kedinginan..."
"Aku lebih terbiasa dengan musim dingin Kanada daripada kau yang baru datang dari daerah tropis," potong Cassian dingin. "Letakkan di atas selimutmu. Jangan sampai kau pingsan di mobilku dan membuat pamanmu menyalahkanku nanti."
Mendengar alasan yang terdengar angkuh namun sebenarnya berniat menyelamatkannya, Aisya tidak punya kekuatan lagi untuk berdebat. Dengan tangan yang kaku, ia meraih mantel besar milik Cassian dan menyelimutkannya di atas tubuhnya. Wangi parfum maskulin khas kayu cedar yang bercampur kehangatan tubuh Cassian seketika menyeruak, memberikan rasa hangat yang luar biasa yang perlahan menenangkan debar jantungnya.
"Terima kasih, Tuan Noir..." bisik Aisya lirih.
Tiba-tiba, Pak Lukas melihat sesuatu dari kaca spion depan. "Tuan Noir, lihat di sebelah kanan jalan. Itu papan nama milik St. Andrew's Community Hall. Bangunannya hanya berjarak sekitar dua puluh meter dari posisi kita."
Kevin langsung menegakkan tubuhnya. "Benar! Biasanya gedung komunitas seperti itu memiliki generator listrik mandiri dan dibuka sebagai posko bantuan darurat (warming centre) bagi warga yang terjebak badai di jalan."
Cassian melihat ke arah luar jendela yang buram. "Lukas, apakah jalurnya aman jika kita berjalan kaki ke sana?"
"Ada trotoar berbatu yang terlindung dari arah angin, Tuan. Jika kita bergerak bersama secara perlahan, kita bisa mencapainya dalam waktu lima menit," jawab Pak Lukas dengan sigap.
Cassian mengangguk sekali. "Bagus. Kita tidak bisa berdiam diri di sini sampai membeku. Bersiaplah." Pria itu kemudian menoleh ke arah Aisya. "Bisa berjalan, Aisya? Atau pergelangan kakimu masih sakit?"
Aisya mencoba menggerakkan kakinya di balik selimut. Rasa nyerinya sudah jauh berkurang, dan dorongan untuk keluar dari situasi mencekam ini memberinya kekuatan baru. "Bisa, Tuan. Saya bisa berjalan."
"Kevin, buka pintunya. Lukas, pimpin jalan di depan," perintah Cassian tegas.
Meskipun badai di luar masih mengamuk dengan hebat, secercah harapan kini terbuka. Mereka berempat bersiap membuka pintu mobil mewah itu, bersiap menerobos dinding salju demi mencapai kehangatan di gedung komunitas yang berada di balik badai.