NovelToon NovelToon
Kupu-Kupu Malam Sang Ceo

Kupu-Kupu Malam Sang Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zenaaa

Di siang hari, Renata adalah seorang gadis biasa yang bekerja sebagai pustakawati polos berkacamata tebal. Namun, saat malam tiba dan lampu kota Jakarta mulai menyala, ia berubah menjadi "Papillon" (Kupu-Kupu)—gadis hostess paling misterius dan mahal di Kupu-Kupu Bar, sebuah kelab malam eksklusif rahasia para konglomerat.
​Renata tidak mencari uang demi kemewahan. Ia menjebak dirinya di dunia malam demi mengungkap misteri kematian kakak perempuannya yang tewas mengenaskan setelah melayani seorang pria berkuasa dari Dirgantara Group.
​Rencananya berjalan mulus hingga malam itu tiba. Adrian Dirgantara, CEO dingin dan pewaris tunggal Dirgantara Group, masuk ke bar dan langsung memilih Papillon. Adrian tidak mencari hiburan, melainkan seorang "istri sewaan" untuk memenuhi wasiat kakeknya demi mempertahankan takhta perusahaan.
​Satu kesepakatan di bawah lampu remang-remang bar mengubah segalanya. Renata melangkah masuk ke sarang musuh sebagai istri Adrian, sementara Adrian tidak pernah t

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zenaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Aliansi Dua Singa

Keheningan malam yang larut menyelimuti perjalanan kembali ke penthouse. Di dalam mobil, tidak ada lagi jarak dingin yang biasanya membentang di antara mereka. Renata duduk dengan jemari yang masih sedikit gemetar namun kehangatan dari jas tuksedo milik Adrian yang tersampir di bahunya perlahan mengusir rasa dingin yang sempat mencengkeram jiwanya di Ruang VIP 3 tadi.

​Adrian fokus menyetir rahangnya yang tegas sesekali mengeras saat melirik spion tengah memastikan tidak ada mobil utusan Arsen yang membuntuti mereka.

​Begitu mereka melangkah masuk ke dalam penthouse, Adrian langsung mengunci pintu utama secara berlapis. Ia berbalik melepas kancing teratas kemejanya lalu menatap Renata yang sedang meletakkan topeng rendanya di atas meja konsol.

​"Duduklah," perintah Adrian, nadanya tidak lagi sedingin biasanya melainkan dipenuhi ketegasan seorang pemimpin yang sedang menyusun strategi perang.

​Renata menurut lalu ia duduk di sofa kulit panjang, melipat kedua tangannya di atas pangkuan untuk menyembunyikan memar kemerahan di pergelangan tangannya. Namun, gerakan itu tidak luput dari mata elang Adrian. Pria itu berjalan ke dapur dan kembali dengan sebuah mangkuk kecil berisi es batu yang dibalut kain handuk bersih.

​Tanpa suara, Adrian duduk di sebelah Renata. Ia meraih pergelangan tangan gadis itu dengan sangat lembut sangat kontras dengan kekasaran Arsen beberapa jam lalu dan mulai mengompres memar tersebut. Sentuhan es yang dingin bercampur dengan kehangatan tangan Adrian membuat jantung Renata berdegup dengan ritme yang aneh.

​"Terima kasih, Tuan Adrian," bisik Renata, mencoba menarik tangannya karena merasa canggung.

​"Diamlah, tetap di posisimu," sahut Adrian pelan namun tidak terbantahkan. "Jika besok pagi para pelayan atau kakek melihat memar ini, mereka akan mulai bertanya-tanya. Kita tidak boleh membiarkan ada satu pun celah yang mencurigakan."

​Adrian menyelesaikan kompresannya lalu menaruh handuk itu ke atas meja. Ia menyandarkan tubuhnya menatap Renata dengan pandangan yang sangat dalam. "Sekarang, katakan padaku semua yang kamu tahu tentang keterlibatan Arsen dengan kakakmu, Maya. Jangan ada satu detail pun yang terlewat."

​Renata menarik napas panjang, menata kembali kepingan memori kelam di kepalanya. "Satu tahun lalu, Kak Maya bekerja paruh waktu di Kupu-Kupu Bar sebagai salah satu hostess VIP untuk membiayai kuliah saya. Suatu malam, dia pulang dalam keadaan hancur secara fisik dan mental. Dia terus mengigau ketakutan tentang seorang pria berkuasa yang menyiksanya di Ruang VIP. Beberapa hari kemudian... saya menemukannya sudah tidak bernyawa di kamar mandi."

​Renata mengepalkan tangannya matanya berkilat penuh amarah. "Polisi langsung menutup kasusnya karena ada intervensi dari petinggi Dirgantara Group. Satu-satunya bukti fisik yang saya temukan di kamar Kak Maya adalah sepasang manset emas berlambang elang. Dan malam ini, Mami Sandra mengonfirmasi bahwa pada malam kejadian, asisten pribadi Arsen-lah yang berjaga di depan pintu kamar tempat Kak Maya disiksa."

​Adrian mendengarkan setiap kata dengan saksama. Ekspresi wajahnya mengeras. Sebagai CEO, ia tahu betul seberapa kotor cara-cara yang digunakan paman dan sepupunya untuk menutupi skandal mereka demi menjaga citra di depan dewan komisaris.

​"Arsen memang bajingan yang tidak punya otak," desis Adrian, suaranya terdengar sangat berbahaya. "Dia sering menggunakan kekuasaan perusahaan untuk memuaskan nafsu bejatnya dan ayah serta kakekku selalu membersihkan kekacauan yang dia buat demi menjaga nama baik saham Dirgantara Group. Tapi kali ini... dia sudah keterlaluan."

​Adrian berdiri lalu berjalan mondar-mandir di ruang tamu yang luas itu. "Kamu harus tahu satu hal, Renata. Hubunganku dengan Arsen dan pamanku Bram sudah lama berada di titik kritis. Mereka telah menggelapkan dana investasi dari proyek pembangunan pelabuhan di Surabaya sebesar ratusan miliar dan mereka mencoba melimpahkan kesalahan itu kepadaku agar Kakek mencopot jabatanku sebagai CEO."

​Renata mendongak, mulai memahami arah pembicaraan Adrian. "Jadi... Anda juga butuh sesuatu untuk menjatuhkan mereka secara mutlak?"

​"Tepat sekali," Adrian berbalik menatap Renata dengan binar mata seorang predator yang telah menemukan sekutu terbaiknya. "Kasus kematian kakakmu bukan hanya tentang keadilan, Renata. Jika kita bisa mengungkap bukti otentik bahwa Arsen terlibat dalam pembunuhan dan penggunaan kekuasaan perusahaan untuk menutupi kasus kriminal, dewan komisaris tidak akan punya pilihan selain mendepak Arsen dan ayahnya dari seluruh jajaran direksi. Mereka akan kehilangan segalanya, bahkan bisa membusuk di penjara."

​Renata berdiri dari sofa menatap Adrian dengan keyakinan yang baru. "Apa yang harus saya lakukan? Saya akan melakukan apa saja untuk memastikan hal itu terjadi."

​Adrian berjalan mendekati Renata, mengikis jarak di antara mereka hingga Renata bisa mencium aroma maskulin bercampur wangi wiski tipis dari tubuh sang CEO. Adrian mengulurkan tangan kanannya ke depan wajah Renata.

​"Mulai besok, sandiwara kita naik ke tingkat berikutnya. Kamu bukan lagi sekadar pustakawati miskin yang beruntung kunikahi karena takdir. Kamu adalah wanita yang cerdas, tajam, dan manipulatif. Aku akan membawamu masuk ke dalam kantor pusat Dirgantara Group sebagai asisten pribadiku yang baru."

​Sudut bibir Adrian terangkat membentuk seringai tipis yang penuh intrik. "Di siang hari, kamu akan membantuku mengawasi pergerakan Arsen di kantor dan mencari dokumen penggelapan dana yang dia sembunyikan. Di malam hari... jika diperlukan, kamu akan kembali menjadi 'Papillon' untuk memancing asisten pribadi Arsen di bar agar dia membuka mulutnya tentang malam kematian kakakmu."

​Renata menatap telapak tangan Adrian yang terbuka di depannya. Ini bukan lagi sekadar pernikahan kontrak untuk menyelamatkan takhta sewa. Ini adalah aliansi dua singa yang siap mencabik-cabik serigala yang telah mengusik wilayah mereka.

​Dengan mantap, Renata mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Adrian dengan erat. "Kesepakatan tercapai, Tuan Adrian. Mari kita hancurkan Arsen Dirgantara bersama-sama."

​Adrian menarik tangan Renata sedikit lebih dekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Tatapan matanya yang semula penuh perhitungan bisnis tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang lebih intens dan membakar.

​"Dan satu hal lagi, Nona Renata..." bisik Adrian, suaranya terdengar rendah dan serak di dekat telinga gadis itu. "Mulai malam ini... jangan pernah berpikir untuk kabur dariku setelah semua ini selesai. Karena setelah badai ini berlalu, aku tidak akan membiarkan kupu-kupuku terbang menjauh lagi."

​Jantung Renata berdegup kencang mendengar bisikan bernada posesif tersebut. Sebelum ia sempat mencerna arti dari kata-kata itu, Adrian telah melepaskan jabatannya dan berbalik menuju kamarnya menyisakan Renata yang berdiri terpaku dengan pipi yang mendadak merona merah di tengah keheningan malam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!