Di dunia tempat takdir manusia tercatat dalam sebuah Arsip, seorang pemuda terbangun tanpa data apa pun tentang dirinya.
Saat rahasia dunia mulai terbuka, ia menjadi satu-satunya orang yang tidak seharusnya ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 — Pertempuran di Sumber Kehidupan
Archive Zero
Bab 23 — Pertempuran di Sumber Kehidupan
Suasana di ruangan raksasa itu berubah seketika dari damai dan suci menjadi mencekam dan penuh ketegangan. Udara yang tadinya murni dan menyehatkan kini dipenuhi tekanan berat yang membuat napas terasa sesak. Cahaya warna-warni yang memancar dari Jantung Dunia semakin redup, seolah makhluk raksasa itu sendiri sedang ketakutan di hadapan sosok Morgrath yang memancarkan energi kegelapan pekat.
Teral melangkah cepat berdiri di samping Ren, Anya, dan Kai, wajahnya penuh kewaspadaan namun juga kesedihan mendalam. Ia menatap tajam ke arah sosok saudaranya yang telah berkhianat ribuan tahun lalu itu.
"Kau salah, Morgrath," ucap Teral lantang, suaranya bergema menembus keheningan yang menegangkan. "Dunia tidak dibangun di atas kekuasaan. Kekuatan mutlak hanya akan melahirkan kehancuran, persis seperti yang terjadi ribuan tahun lalu. Kau belum juga mengerti? Bahwa keseimbangan adalah hukum alam yang tak bisa dilawan oleh siapa pun, bahkan oleh kita para Penjaga Asal sekalipun?"
Morgrath tertawa dingin, suara tawa itu berputar di seluruh penjuru ruangan, membuat dinding kristal bergetar dan retakan halus mulai menjalar. Ia mengangkat tongkat panjangnya, dan ujung tongkat itu memancarkan asap hitam yang berputar liar, menyerap sisa-sisa cahaya di sekitarnya.
"Keseimbangan?" cemooh Morgrath tajam. "Keseimbangan hanya kata-kata manis bagi mereka yang lemah dan takut berkuasa! Alam sendiri yang membuktikan bahwa yang kuatlah yang bertahan, yang lemahlah yang musnah! Ribuan tahun aku bersembunyi, ribuan tahun aku melihat penderitaan, kekacauan, dan kebodohan makhluk hidup... semakin aku yakin, satu-satunya cara menyelamatkan dunia dari kehancuran diri sendiri adalah dengan memegang kendali mutlak atas segalanya!"
Ia menunjuk tongkatnya ke arah Jantung Dunia yang berdenyut cemas.
"Dan hari ini, kendali itu akan menjadi milikku. Tidak ada yang bisa menghentikanku. Bukan kau, Teral... dan apalagi anak-anak manusia yang lemah ini!"
Tanpa peringatan lagi, Morgrath mengayunkan tongkatnya ke depan. Gelombang kegelapan raksasa meluncur cepat, berwujud seperti ombak hitam yang siap menelan segalanya, menghantam mereka dengan kekuatan yang cukup untuk meratakan gunung tertinggi sekalipun.
"MENYINGKIR!" teriak Teral. Ia menghentakkan kakinya ke lantai, dan seketika itu juga, dinding akar dan tanaman raksasa tumbuh dengan kecepatan kilat dari lantai dan dinding ruangan, membentuk perisai tebal di depan mereka.
DUARRR!!
Gelombang kegelapan itu menghantam perisai akar itu dengan dahsyat. Suara benturan itu memekakkan telinga, dan seluruh ruangan berguncang hebat seolah akan runtuh. Akar-akar yang kokoh dan abadi itu langsung menghitam, layu, dan hancur menjadi debu saat tersentuh energi jahat milik Morgrath. Namun, serangan itu sempat tertahan sejenak, cukup waktu bagi mereka bertiga untuk mundur dan bersiap.
"Kalian dengar aku baik-baik!" seru Teral di tengah suara gemuruh yang masih bergema, matanya tetap terpaku pada sosok Morgrath yang mulai berjalan mendekat dengan langkah santai namun mengerikan. "Kekuatannya jauh melebihi apa yang pernah kalian hadapi. Dia telah menyerap energi negatif dari seluruh dunia selama ribuan tahun. Jangan coba bertarung kekuatan fisik dengannya, kalian tidak akan sanggup! Ren, kau harus mendekati Jantung Dunia itu! Hanya dengan menyatukan dirimu sepenuhnya dengan sumber kekuatan itu, kau bisa melawannya!"
Ren mengangguk cepat, matanya tajam dan penuh tekad. Ia menoleh ke sahabat-sahabatnya.
"Anya, Kai... tahan dia. Berikan aku waktu. Aku butuh waktu untuk menyatu sepenuhnya dengan kekuatan ini."
"Pergilah!" seru Anya tegas. Ia sudah melesat maju, kedua tangannya terangkat tinggi. Uap dingin yang luar biasa menyebar dari tubuhnya, mengubah udara di sekitarnya menjadi butiran-butiran es tajam yang berkilauan. "Aku akan buat dia sibuk sampai kau selesai!"
Kai sudah bergerak ke samping, jari-jarinya bergerak cepat di perangkat di lengannya, matanya memindai setiap pergerakan Morgrath dengan kecepatan tinggi. "Aku sudah memetakan pola energinya! Kekuatannya besar, tapi tidak stabil! Dia terlalu rakus menyerap segala hal negatif, jadi intinya penuh celah dan kekacauan! Aku akan cari cara mengacaukannya!"
Ren melesat berlari menembus celah di antara Anya dan Teral, bergerak menuju ke tengah ruangan tempat Jantung Dunia melayang. Cahaya warna-warni dari sumber itu seolah menyambut kedatangannya, memancarkan sinar yang lebih terang ke arahnya, seolah tahu bahwa inilah saat penentuan.
Melihat Ren mendekati tujuannya, wajah Morgrath berubah marah.
"BERANI KALIAN!" raungnya mengerikan. Ia mengayunkan tongkatnya ke arah Anya yang sedang meluncurkan serangan es raksasa berupa tombak-tombak tajam ke arahnya. "Minggirlah, serangga kecil!"
Dengan satu gerakan tangan saja, gelombang kegelapan yang tak terlihat mendorong Anya ke samping dengan kekuatan dahsyat. Gadis itu terlempar menabrak dinding kristal keras, jatuh ke tanah dengan susah payah, napasnya tersengal tertahan rasa sakit.
Namun, di saat perhatian Morgrath teralihkan, Teral melompat maju, tubuhnya memanjang dan berubah menjadi ranting-ranting kuat yang melilit kaki dan tubuh musuhnya.
"Kau tidak akan lewat begitu saja, saudaraku!" seru Teral. Akar-akar tebal menjalar dari segala penjuru ruangan, membelit tubuh Morgrath, menahannya agar tidak bergerak maju. "Aku mungkin tidak sekuat dulu, tapi aku masih punya sisa tenaga yang cukup untuk mengganggumu!"
Morgrath mendengus kesal. Ia memutar tubuhnya, dan energi hitam keluar dari poros tubuhnya, membakar dan memotong akar-akar yang membelitnya satu per satu. Darah hijau mengalir dari luka di lengan Teral saat ia berusaha menahan saudaranya itu, tapi ia tidak melepaskan cengkeramannya.
"Kau selalu saja begitu, Teral... terlalu lembut, terlalu terikat pada aturan dan keseimbangan," cibir Morgrath dingin. Ia mengangkat tangan bebasnya, dan bayangan tajam berwujud cakar raksasa meluncur keluar, menyambar ke arah dada Teral. "Dan kelembutan itulah yang akan menjadi akhir hidupmu!"
"TERAL!" teriak Anya ngeri, melihat serangan mematikan itu melesat cepat.
Namun, sebelum bayangan itu menghantam sasaran, puluhan sinar cahaya terang dan berwarna-warni meluncur dari arah samping, menghantam tubuh Morgrath dan membelokkan arah serangannya. Kai berdiri agak jauh, tangannya bergerak cepat mengendalikan perangkat yang kini memancarkan berkas-berkas energi yang ia salurkan langsung dari dinding kristal ruangan itu.
"Jangan remehkan aku, Penjaga Tua!" seru Kai lantang. "Kau punya kekuatan besar, tapi aku punya pengetahuan tentang bagaimana kekuatan itu bekerja! Dan aku baru saja menemukan satu hal menarik... energi kacau di dalam tubuhmu itu... sebenarnya dia tidak suka disatukan!"
Kai menekan tombol terakhir di perangkatnya.
"AKAN KU PECAHKAN FOKUSMU!"
Seketika itu juga, berkas-berkas cahaya yang menghantam Morgrath berubah frekuensinya, menciptakan gangguan hebat di dalam tubuh makhluk itu. Morgrath meringis kesakitan, tubuhnya mengguncang-guncang, dan aura kegelapan di sekelilingnya berkedip-kedip tidak teratur. Tenaga di dalam dirinya yang terdiri dari ribuan rasa sakit, amarah, dan kehancuran itu mulai berontak satu sama lain, menciptakan kekacauan di dalam diri sendiri.
"KECIL BIADAB!" raung Morgrath marah luar biasa. Ia melepaskan seluruh tenaganya sekaligus, meledakkan segala sesuatu di sekelilingnya. Teral terpental jauh jatuh ke tanah, terluka parah. Perangkat di tangan Kai meledak berkeping-keping, dan pemuda itu terlempar terguling-guling.
Namun, gangguan singkat itu sudah cukup memberi waktu bagi Ren.
Di tengah ruangan, Ren sudah sampai tepat di bawah Jantung Dunia. Ia berdiri tegak, mengangkat kedua tangannya ke atas, matanya tertutup rapat, dan mulutnya mengucapkan kata-kata kunci yang ia pelajari dari ingatan para leluhur.
"Sumber segala, asal mula segala... aku, wadah keseimbangan, memohon penyatuan. Biarkan aku menjadi saluran, biarkan aku menjadi pelindung, biarkan aku menjadi pedang dan perisai bagi dunia ini!"
Seketika itu juga, Jantung Dunia berdenyut hebat, memancarkan kilatan cahaya putih yang begitu terang hingga menutupi seluruh kegelapan di ruangan itu. Cahaya itu turun memeluk tubuh Ren, masuk ke dalam setiap pori-pori kulitnya, menyatu dengan inti kekuatan ungu di dalam dadanya.
Ren merasakan dirinya melebur. Ia bukan lagi sekadar manusia, bukan lagi sekadar pewaris kekuatan. Ia menjadi satu dengan tanah, satu dengan air, satu dengan angin, satu dengan api, satu dengan cahaya, dan satu dengan keseimbangan itu sendiri. Pengetahuan ribuan tahun, kekuatan ribuan tahun, kehidupan ribuan tahun... semuanya mengalir masuk ke dalam kesadarannya dalam sekejap mata.
Ia membuka matanya.
Kini matanya tidak lagi berwarna cokelat biasa. Di sana, terpantul seluruh warna pelangi, berdenyut selaras dengan detak jantung bumi itu sendiri. Tubuhnya dikelilingi aura cahaya murni yang tak tersentuh oleh kegelapan apa pun. Di tangannya, terbentuklah sebilah pedang panjang yang terbuat dari energi padat, berkilau indah namun mematikan, dihiasi simbol lingkaran keseimbangan di gagangnya.
Ren melayang perlahan turun kembali ke lantai, menginjak tanah dengan tenang dan penuh wibawa. Tekadnya kini kokoh tak tergoyahkan, pemahamannya kini utuh sempurna.
Morgrath yang tadinya siap menghabisi Anya dan Kai, tiba-tiba berhenti. Ia menoleh perlahan ke arah Ren, dan untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun hidupnya, rasa takut menyentuh hatinya. Ia merasakan kekuatan yang berdiri di hadapannya itu... bukan lagi sekadar kekuatan besar. Itu adalah kekuatan mutlak yang seimbang, kekuatan yang menjadi hukum alam itu sendiri.
"Kau..." gumam Morgrath tak percaya, mundur selangkah tanpa sadar. "Kau benar-benar menyatu dengan Jantung itu... mustahil! Tidak ada manusia yang sanggup menampung kekuatan sebanyak itu tanpa hancur!"
Ren mengangkat pedangnya perlahan, ujungnya menunjuk lurus ke arah Morgrath. Suaranya tidak lagi terdengar seperti suara pemuda biasa, tapi terdengar seperti gabungan ribuan suara, tenang, dalam, dan tak terbantahkan.
"Karena aku tidak menampungnya untuk diriku sendiri, Morgrath," jawab Ren tegas. "Aku menampungnya untuk dunia ini. Kau bilang kekuasaan adalah segalanya? Kau bilang yang kuat berhak mengatur yang lemah? Kau salah besar. Kekuatan sejati bukanlah untuk dikuasai, tapi untuk dijaga dan dibagi. Dan kau... kau telah menyalahgunakan kekuatanmu terlalu lama. Sekarang, saatnya keseimbangan kembali menuntut haknya."
Ren melangkah maju satu langkah. Dan dengan langkah itu, seluruh ruangan berguncang, dan energi di sekeliling Morgrath terbelenggu seketika, membuatnya tak bisa bergerak sedikit pun. Kekuatan kegelapannya yang tadinya liar dan mengerikan kini menjadi tenang, tertata, dan terkendali di bawah pengaruh kekuatan keseimbangan milik Ren.
"Tidakkkk... aku yang paling kuat... aku yang berkuasa... aku yang akan mengubah dunia!" teriak Morgrath berusaha memberontak, mengerahkan sisa tenaga jahatnya yang masih melawan, memancarkan gelombang kegelapan terakhir yang mengerikan.
"Dunia tidak butuh perubahan paksa, Morgrath. Dunia hanya butuh ketenangan," ucap Ren pelan namun pasti. Ia mengayunkan pedangnya ke depan satu kali saja.
Gerakan itu tidak cepat, tidak kasar, tapi gerakan yang sempurna dan tepat sasaran. Cahaya dari pedang itu membelah udara, membelah kegelapan, dan menghantam tepat ke inti energi di dada Morgrath.
"KEMBALILAH KE ASALMU. MENJADILAH SATU DENGAN KESEIMBANGAN."
Seketika itu juga, kegelapan di tubuh Morgrath mulai memudar, berubah warna menjadi abu-abu, lalu menjadi putih bersih. Wujud raksasanya menyusut, topengnya hancur, dan terlihatlah wajah aslinya—wajah seorang pemuda tampan namun penuh rasa lelah dan kesepian, wajah yang sama persis dengan wajah Teral, namun matanya kini perlahan kehilangan cahaya amarahnya.
"Aku... aku hanya ingin... mencegah rasa sakit..." bisik Morgrath pelan, tubuhnya perlahan melayang naik, melebur menjadi cahaya halus yang indah, menyatu kembali dengan udara, dengan tanah, dan dengan Jantung Dunia di atas sana. "Maafkan aku... saudaraku..."
Dan akhirnya, sosok itu lenyap sepenuhnya. Tidak ada ledakan, tidak ada kehancuran. Hanya kedamaian yang mendalam dan keheningan yang suci. Kekacauan ribuan tahun itu akhirnya berakhir. Pengkhianatan yang terjadi di masa lalu akhirnya terselesaikan dengan damai.
Tekanan berat yang menindih ruangan itu hilang seketika. Cahaya cerah dan hangat kembali memancar dari segala penjuru. Dinding-dinding kristal yang retak perlahan memulihkan diri sendiri. Jantung Dunia berdenyut riang, bahagia, dan damai, seolah sedang bernapas lega setelah sekian lama tersiksa.
Ren merasakan kekuatan besar itu perlahan meninggalkan tubuhnya, kembali ke sumbernya, namun pemahaman dan kebijaksanaannya tetap tinggal selamanya di dalam hatinya. Ia berbalik, melihat Teral yang tersenyum bangga sambil berlutut di tanah, melihat Anya dan Kai yang berdiri tertatih namun bersinar bahagia di wajah mereka.
Ren berjalan menghampiri mereka, dan dalam sekejap ia sudah berada di sisi mereka, membantu mereka berdiri.
"Selesai sudah," ucap Ren lembut, senyum lebar terukir di wajahnya. "Semuanya sudah selesai."
Teral berjalan mendekat dengan mata berkaca-kaca, menatap ketiga pemuda itu dengan penuh rasa hormat dan kasih sayang persaudaraan. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, memberi penghormatan tertinggi.
"Terima kasih... terima kasih telah menyelamatkan dunia, terima kasih telah menyelamatkan saudaraku dari kegelapan yang membutakannya. Kalian bukan hanya penyelamat, kalian adalah Penjaga sejati yang sesungguhnya. Warisan Aran, warisan kami... berada di tangan yang tepat."
Teral mengangkat tangan mereka bertiga tinggi-tinggi.
"Kini, keseimbangan telah pulih. Jantung Dunia aman. Dan tugas kalian yang berat telah selesai. Kembalilah ke dunia luar, bawalah kabar damai ini. Ingatlah, ke mana pun kalian pergi, apa pun yang terjadi... kalian akan selalu menjadi bagian dari dunia ini, dan dunia ini akan selalu melindungi kalian."
Perlahan, ruangan luas itu mulai bersinar terang, membentuk pintu gerbang baru yang besar dan indah, yang langsung menuju ke permukaan tanah, menuju jalan pulang.
"Pergilah sekarang," ucap Teral sebagai perpisahan terakhir. "Pintu ini akan tetap terbuka untuk kalian selamanya. Kapan pun dunia butuh.
jangan lupa berkunjung ke novelku mas judulnya "Ovrien"