NovelToon NovelToon
Kembaranku Penggantiku

Kembaranku Penggantiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Bullying dan Balas Dendam / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Nadira selalu hidup dalam bayang-bayang saudara kembarnya, Nayla. Wajah mereka identik, tetapi nasib mereka sangat berbeda. Nayla adalah anak kebanggaan keluarga—cantik, pintar, dan selalu diprioritaskan. Sementara Nadira dianggap cadangan, seseorang yang hanya dipanggil saat keluarga membutuhkan “pengganti.”
Semua berubah ketika Nayla mengalami kecelakaan misterius sehari sebelum pertunangannya dengan Arsen Wijaya, pewaris keluarga kaya yang dingin dan sulit ditebak. Demi menjaga nama baik keluarga dan kontrak bisnis miliaran rupiah, Nadira dipaksa menyamar menjadi Nayla sampai kondisi saudara kembarnya pulih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 — Aku Memilih Dia

“…atau dia mati di sini.”

Hujan turun makin deras.

Suara air menghantam aspal.

Lampu jalan berkedip samar.

Dan Nayra merasa dunia di sekitarnya mengecil.

Cuma ada dirinya.

Zavian.

Dan pistol yang diarahkan ke kepala cowok itu.

“Jangan dengerin mereka.”

Suara Zavian tetap tenang.

Terlalu tenang.

Padahal darah terus menetes dari lengannya.

Cowok itu bahkan tidak terlihat takut untuk dirinya sendiri.

Dan justru itu yang membuat dada Nayra terasa hancur.

Pria bertudung hitam tertawa kecil.

“Romantis.”

Tatapannya pindah ke Nayra.

“Aku kasih kamu sepuluh detik.”

Pistolnya makin menekan pelipis Zavian.

“Setelah itu…”

Senyumnya dingin.

“…aku mulai nembak.”

Deg.

Napas Nayra langsung kacau.

“SATU.”

Hujan terasa makin dingin.

“DUA.”

Zavian tetap menatap Nayra.

Tatapan itu berkata satu hal jelas—

lari.

Namun Nayra sudah capek lari.

“TIGA.”

Arsen dan Reina masih tertahan di ujung gang.

Terlalu jauh.

Terlalu banyak musuh.

Mereka tidak bisa masuk tanpa membuat semuanya lebih buruk.

“EMPAT.”

Suara kecil muncul lagi di kepala Nayra.

“Kamu tahu jawabannya.”

Deg.

Tangannya gemetar.

Ia takut.

Sangat takut.

Namun kali ini…

bukan takut mati.

Ia takut kehilangan seseorang lagi.

“LIMA.”

Nayra melangkah maju.

“Nayra jangan!” bentak Zavian.

Namun gadis itu terus berjalan pelan di tengah hujan.

Tatapannya lurus ke pria bertudung hitam.

“Aku ikut kalian.”

Deg.

Semua langsung membeku.

“NAYRA!” suara Zavian langsung pecah marah.

Untuk pertama kalinya…

cowok itu benar-benar kehilangan ketenangannya.

Dan itu menyakitkan.

Karena Nayra tahu—

ia sedang panik.

Pria bertudung hitam tersenyum puas.

“Pilihan bagus.”

“Tapi—”

Tatapan Nayra berubah tajam.

“…lepasin dia dulu.”

Sunyi sebentar.

Lalu pria itu tertawa kecil.

“Kamu pikir kamu bisa negosiasi?”

“Aku pikir kalian butuh aku hidup.”

Deg.

Pria itu diam dua detik.

Dan Nayra tahu ia benar.

Karena kalau mereka hanya ingin membunuhnya…

mereka tidak akan repot-repot datang seperti ini.

“Pinter juga.”

Pria itu memberi kode kecil.

Dua orang langsung menarik Zavian mundur sedikit.

Namun pistol masih diarahkan padanya.

Dan Nayra langsung sadar—

mereka tidak berniat bermain adil.

“Nayra.”

Suara Zavian lebih rendah sekarang.

Bahaya.

“Jangan lakukan ini.”

Tatapan cowok itu penuh sesuatu yang jarang Nayra lihat

takut.

Bukan takut mati.

Takut kehilangan dirinya.

Dan itu membuat keputusan Nayra makin sakit.

“Maaf.”

Suara Nayra hampir pecah.

“Tapi aku nggak bisa lihat kamu mati.”

Deg.

Hening beberapa detik.

Lalu sesuatu di ekspresi Zavian benar-benar retak.

Pria bertudung hitam mulai berjalan mendekat.

“Pintar.”

Tangannya terulur ke arah Nayra.

Namun sebelum sempat menyentuh—

DUAK!

Tembakan mendadak pecah.

Pria itu langsung mundur cepat.

Bahunya berdarah.

Semua orang langsung panik.

Dan Nayra membeku saat melihat siapa yang menembak.

Reina.

“Sentuh adikku…”

Tatapan perempuan itu tajam sekali sekarang.

“…dan aku bunuh kalian.”

Deg.

Untuk beberapa detik—

semua orang diam.

Karena aura Reina berubah total.

Mematikan.

“KAKAK?!”

“Aku lagi mood buruk,” jawab Reina tanpa melepas bidikan.

Arsen langsung muncul dari samping sambil membalas tembakan lain.

“OKE INI BAGIAN YANG KACAU!”

Dan neraka resmi dimulai.

DUAK! DUAK! DUAK!

Suara tembakan memenuhi gang sempit.

Orang-orang berteriak.

Kaca pecah.

Lampu jalan mati satu per satu.

Dan Nayra refleks menarik Zavian saat cowok itu berhasil melepaskan diri dari penjagaan.

Mereka jatuh bersamaan ke balik mobil tua.

“Nayra!”

Zavian langsung memegang wajah gadis itu.

“Kamu gila?!”

“Halo juga.”

“Kamu hampir nyerahin diri!”

“Aku panik!”

“Itu bukan keputusan panik normal!”

Nayra langsung membalas—

“DAN KAMU MAU MATI SENDIRIAN DI SINI?!”

Sunyi.

Hanya suara hujan dan tembakan di sekitar mereka.

Dan Zavian mendadak diam.

Karena ia tidak bisa membantah.

“Bodoh.”

Suara cowok itu melemah sedikit.

Tangannya masih memegang pipi Nayra.

“Aku lebih milih mati daripada kehilangan kamu.”

Deg.

Jantung Nayra langsung berhenti fungsi.

DI TENGAH BAKU TEMBAK PUN ORANG INI MASIH BISA BIKIN DIA SALAH NAPAS.

“AKU BENCI TIMING KALIAN!”

Arsen berteriak sambil menembak dari belakang tong sampah.

“ROMANTIS NANTI AJA!”

“DIAM!” bentak Nayra refleks.

Pria bertudung hitam kembali berdiri.

Bahunya berdarah.

Namun senyumnya malah makin lebar sekarang.

“Menarik.”

Tatapannya ke Nayra.

“Pantas mereka gagal ninggalin kamu.”

Deg.

Kata “mereka” langsung terasa aneh.

“Apa maksudmu?”

Pria itu memiringkan kepala sedikit.

“Founder terlalu emosional.”

Tatapannya dingin.

“Dan Subject 07…”

Ia tersenyum kecil.

“…lebih gagal lagi.”

Dada Nayra langsung dingin.

“Kamu kenal mereka?”

“Tentu.”

Tatapannya penuh sesuatu yang membuat Nayra muak.

“Kami yang membangun Project Lazarus bersama.”

Deg.

“Founder cuma wajah depan.”

Pria itu berjalan pelan di tengah hujan.

“Masih ada orang-orang lain yang meneruskan proyek ini.”

Tatapannya tajam.

“Dan kamu…”

Senyumnya perlahan melebar.

“…adalah kunci semuanya.”

Sunyi.

Lalu Nayra tertawa kecil.

Dan itu membuat semua orang bingung.

“Apa lucunya?”

Nayra menatap pria itu lurus.

“Serius?”

Ia berdiri perlahan.

Basah kuyup.

Napas masih gemetar.

Namun matanya sekarang berbeda.

“Aku capek banget jadi rebutan orang psikopat.”

Arsen langsung berbisik kecil—

“Oke dia mulai ngamuk.”

“Nayra duduk,” kata Zavian cepat.

“Enggak.”

“Nayra.”

“Aku capek.”

Tatapannya tetap ke pria bertudung.

“Semua orang terus bilang aku spesial.”

Suara Nayra mulai pecah oleh emosi.

“Padahal aku cuma pengen hidup normal.”

Hujan turun makin deras.

Air mata bercampur air hujan di wajahnya.

“Aku cuma pengen punya rumah.”

Tatapannya bergetar.

“Punya keluarga.”

Lalu matanya perlahan mengeras.

“…dan kalian terus nyoba ngambil itu dari aku.”

Deg.

Untuk pertama kalinya—

pria bertudung itu kehilangan senyumnya sedikit.

Tiba-tiba—

kepala Nayra terasa sakit.

Sangat sakit.

Ia langsung memegang kepalanya.

Dan suara kecil itu muncul lagi.

“Jangan takut.”

Hangat memenuhi dadanya.

Aneh.

Namun kuat.

“Nayra?” Zavian langsung panik.

Namun sebelum siapa pun bergerak—

lampu jalan di sekitar mereka mendadak berkedip brutal.

BZZZT.

Semua perangkat elektronik di gang mulai error.

Mobil berbunyi sendiri.

Lampu pecah.

Dan semua orang langsung membeku.

“Apa-apaan ini…” gumam Arsen.

Pria bertudung hitam justru terlihat kaget.

Benar-benar kaget.

“Itu nggak mungkin…”

Tatapannya ke Nayra berubah.

Bukan kagum.

Takut.

Nayra sendiri tidak mengerti apa yang terjadi.

Namun ia bisa merasakan sesuatu di dalam tubuhnya.

Energi hangat.

Berdenyut.

Dan suara kecil itu terdengar lagi—

“Kita nggak sendiri.”

Deg.

Tiba-tiba—

SEMUA lampu di gang mati total.

Gelap.

Pekat.

Dan suara jeritan langsung terdengar dari para penyerang.

“Apa yang terjadi?!”

“Senjataku mati!”

“Perangkatnya error!”

“NOW!” bentak Arsen.

Zavian langsung menarik tangan Nayra.

“Lari!”

Dan mereka semua sprint keluar gang di tengah kekacauan total.

Nayra masih setengah linglung.

Namun ia terus berlari.

Tangan Zavian menggenggam tangannya erat.

Hangat.

Nyata.

Dan itu satu-satunya hal yang membuatnya tetap fokus.

Mereka akhirnya berhenti beberapa blok jauhnya.

Masuk ke bangunan parkir kosong.

Napas semuanya kacau.

Basah kuyup.

Dan suasana masih penuh adrenalin.

“Apa itu tadi?” tanya Arsen cepat.

Semua langsung menoleh ke Nayra.

Dan gadis itu cuma bisa menggeleng pelan.

“Aku… nggak tahu.”

Namun di dalam hati—

ia tahu itu berhubungan dengan Subject 07.

Dengan transfer itu.

Dengan sesuatu yang belum selesai.

Reina mendekat pelan.

Tatapannya khawatir.

“Kamu sakit?”

“Sedikit.”

“Kepalamu?”

Nayra mengangguk kecil.

Dan Zavian langsung memegang bahu gadis itu.

Tatapannya penuh kekhawatiran sekarang.

“Mulai sekarang…”

Suara cowok itu rendah.

“…aku nggak bakal biarin kamu jauh dari aku.”

Deg.

Arsen langsung mendecih.

“Kalimat possessive banget.”

“Diam.”

“Tapi romantis sih.”

“ARSEN.”

Namun di tengah kekacauan kecil itu—

ponsel Arsen tiba-tiba berbunyi lagi.

Cowok itu melihat layar.

Lalu wajahnya langsung berubah pucat.

Dan itu buruk.

Sangat buruk.

“Apa lagi?” tanya Nayra lelah.

Arsen perlahan mengangkat pandangan.

“Mereka baru aja nyerang fasilitas penahanan.”

Sunyi.

Nayra langsung merasa dingin.

Karena ia tahu siapa yang ada di sana.

“Hyren…”

Suara Zavian langsung berubah kosong.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!