Di usianya yang ke-33, Raditya Mahardika harus menerima perjodohan konyol dengan Bianca Adyatama, gadis 20 tahun yang masih kuliah dan merupakan putri rekan bisnis keluarganya. Ragu dan curiga, Raditya punya rencana gila: menyamar menjadi supir di rumah keluarga Adyatama.
Sebagai 'Rio', supir barunya, Radit menyaksikan realitas yang mengejutkan. Bianca bukan hanya manja, tapi juga arogan dan suka merendahkan orang.
Namun, di tengah kekecewaannya, mata Radit justru tertuju pada sosok lain: Kirana Adyatama. Kakak Bianca yang berusia 27 tahun. Di mata keluarganya, Kirana hanyalah barista kafe, bahkan sering diperlakukan seperti pelayan. Tapi, di balik seragam kafe dan senyum hangatnya, Kirana menyimpan rahasia besar.
Mana yang akan dipilih Radit? Calon istri yang dijodohkan, atau kakak yang menyimpan mutiara tersembunyi? Bagaimana jika rahasia penyamarannya terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Sinar matahari pagi Surabaya yang terik mulai menyengat, namun di dalam kamar sederhana itu, hawa dingin justru terasa menusuk tulang. Kirana Adytama mengeratkan selimutnya sejenak sebelum memaksa tubuhnya untuk bangkit. Kepalanya terasa berdenyut hebat, setiap denyutannya seperti hantaman palu yang membuat pandangannya sedikit kabur.
Ia menyentuh keningnya sendiri. Panas. Suhu tubuhnya pasti sedang naik drastis akibat kelelahan luar biasa setelah pertemuan dengan investor Jepang kemarin, ditambah lagi ia belum sempat beristirahat cukup karena harus memikirkan laporan riset laboratorium KiraPharma.
"Aku tidak boleh tumbang sekarang," bisik Kirana pada dirinya sendiri, suaranya parau.
Ia melangkah gontai menuju kamar mandi, menyalakan pancuran air hangat. Uap air yang mengepul sedikit membantu melegakan pernapasannya yang terasa berat. Setelah mandi dan memaksakan diri mengenakan kemeja berbahan jatuh yang terlihat profesional namun tetap santai, Kirana duduk di tepi ranjang untuk memakai jam tangannya.
Tiba-tiba, ponselnya yang tergeletak di atas tumpukan jurnal medis bergetar. Sebuah panggilan dari Dani, manajer operasional di Kafe Teras Senja.
"Halo, Dani? Ada apa pagi-pagi telepon?" tanya Kirana, berusaha menormalkan suaranya agar tidak terdengar sakit.
"Pagi, Mbak Kirana. Maaf mengganggu, Mbak. Ini... baru saja ada kurir khusus yang mengantarkan paket besar ke kafe. Isinya suplemen vitamin dan obat-obatan penguat imun, Mbak. Mereknya dari Jerman, Advanced Bio-Cell. Ini merek langka yang sangat mahal, Mbak. Saya cek di internet, harganya bisa jutaan per botol," suara Dani terdengar antusias sekaligus bingung.
Kirana mengernyitkan dahi. Sebagai pemilik perusahaan farmasi, ia tahu persis merek itu. Itu adalah suplemen kualitas premium yang biasanya hanya digunakan oleh kalangan elit atau atlet profesional.
"Dari siapa, Dan? Ada kartu ucapannya?"
"Itu dia masalahnya, Mbak. Tidak ada nama pengirim. Hanya tertulis 'Untuk Mbak Kirana, agar segera pulih'. Saya pikir ini dari relasi bisnis Mbak atau mungkin dari keluarga?"
Kirana terdiam. Keluarga? Rasanya mustahil. Ayah Haris mungkin peduli, tapi dia tidak akan tahu merek suplemen se-spesifik itu. Mama Reva atau Bianca? Mengirimkan obat mahal untuknya sama mustahilnya dengan melihat salju turun di Surabaya.
Pikirannya mendadak melayang pada sosok Rio. Supir barunya yang kemarin secara ajaib bisa bahasa Jepang bisnis dan melihatnya hampir pingsan semalam.
Tidak mungkin Rio, kan? Dia hanya seorang supir, batin Kirana menyanggah pikirannya sendiri.
"Simpan dulu saja, Dan. Saya akan ke kafe sekarang untuk mengeceknya. Terima kasih informasinya," Kirana menutup telepon dengan seribu tanya di kepalanya.
Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, memakai sedikit bedak untuk menutupi wajahnya yang pucat pasi, lalu melangkah keluar kamar. Saat melewati ruang tengah yang megah, langkahnya terhenti.
Mama Reva sedang duduk santai di sofa beludru sambil menikmati teh pagi dan membaca majalah mode. Begitu melihat Kirana, ia menurunkan majalahnya dan menatap Kirana dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan meremehkan.
"Oh, jadi sakitnya sudah sembuh?" tanya Mama Reva dengan nada nyinyir yang sangat kentara. "Tadi kata Bi Tuti kamu tidak bisa bangun. Drama sekali ya, seperti artis opera sabun."
Kirana menarik napas panjang, mencoba tetap tenang meski kepalanya kembali berdenyut.
"Saya memang sedang tidak enak badan, Ma. Tapi ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan."
Mama Reva tersenyum sinis, sebuah senyuman yang tidak pernah mencapai matanya. "Baguslah kalau sadar diri. Sakit itu jangan dijadikan alasan untuk bermalas-malasan. Kamu di rumah ini sudah menumpang, jadi ya harus kerja keras biar tahu diri. Jangan cuma bisa menyusahkan Ayahmu."
Kirana hanya menatap datar ibu tirinya. Kata 'menumpang' itu selalu diselipkan Mama Reva dalam setiap percakapan selama bertahun-tahun, seolah-olah Kirana bukan anak kandung di rumah ini. Kirana tidak tersinggung—ia sudah kebal. Ia justru merasa kasihan karena Mama Reva tidak tahu bahwa sebagian besar aset yang ia nikmati saat ini disokong secara tidak langsung oleh kesuksesan KiraPharma yang Kirana kelola secara rahasia.
"Saya pergi dulu, Ma," ucap Kirana singkat tanpa ingin memperpanjang perdebatan.
"Ya sudah, sana pergi! Merusak pemandangan saja melihat wajah pucatmu itu di sini," seru Mama Reva sambil kembali membuka majalahnya, sama sekali tidak peduli apakah anaknya itu kuat menyetir atau tidak.
Kirana tidak menjawab. Ia terus melangkah menuju garasi. Ia merasa tubuhnya sangat ringan, hampir melayang karena demam, namun tekadnya lebih besar. Ia harus sampai di kafe, melihat suplemen misterius itu, dan menyelesaikan laporan untuk kantor pusatnya.
Saat ia menghidupkan mesin mobil Mercedes-Benz Fintail klasiknya, Kirana sempat melihat ke arah mess karyawan. Ia mencari sosok Rio. Ada sesuatu dalam dirinya yang ingin memastikan apakah pria misterius itu ada di sana, atau sedang sibuk meladeni permintaan manja Bianca.
Namun, garasi itu sepi. Rio tidak terlihat.
Kirana menginjak pedal gas, membawa mobilnya membelah jalanan Surabaya yang mulai padat. Mobil itu melaju menjauh, meninggalkan kediaman Adytama yang dingin, menuju Kafe Teras Senja di mana sebuah rahasia dari "Rio" telah menantinya.
**
Mobil Mercedes-Benz Fintail klasik milik Kirana membelah kemacetan pagi Surabaya yang mulai memanas. Di balik kemudi, Kirana mencoba menahan denyut di pelipisnya. Tubuhnya masih terasa ringan akibat demam semalam, namun rasa penasarannya jauh lebih besar daripada rasa sakitnya. Ia memarkir mobilnya di area khusus karyawan Kafe Teras Senja—sebuah oase tenang di tengah hiruk-pikuk kota yang dipenuhi tanaman rambat dan aroma biji kopi yang baru dipanggang.
Begitu melangkah masuk, aroma espresso yang tajam menyambutnya, memberikan sedikit energi tambahan. Dani, manajer kafenya yang cekatan, langsung menyadari kedatangan sang pemilik.
"Mbak Kirana? Wajah Mbak pucat sekali," tegur Dani dengan nada cemas sambil membukakan pintu ruangan manajer di lantai dua.
"Hanya kurang tidur, Dan. Mana paket yang kamu ceritakan di telepon tadi?" tanya Kirana langsung, tak ingin membuang waktu.
Di atas meja kerja Dani, terdapat sebuah kotak kayu kecil dengan ukiran halus. Di dalamnya, berderet botol-botol kaca gelap dengan label minimalis namun elegan.
Kirana mengambil satu botol dan membaca labelnya: Regen-X Gold, Berlin. Merk Advanced Bio-Cell. Sebagai seorang CEO perusahaan farmasi, jantung Kirana berdegup kencang. Ini bukan sekadar suplemen yang bisa dibeli di apotek mana pun di Indonesia. Ini adalah produk premium yang biasanya hanya tersedia melalui jalur distribusi medis eksklusif di Eropa, khusus untuk pemulihan imun pasca-operasi atau kelelahan kronis bagi para petinggi korporasi.
"Kurirnya tidak meninggalkan nama, Mbak. Dia hanya bilang ini amanah untuk Mbak Kirana agar lekas sembuh. Saya sudah cek segelnya, semuanya masih utuh," lapor Dani.
Kirana mengusap botol dingin itu. Pikirannya melayang pada Rio. Supir barunya yang pendiam itu memiliki terlalu banyak sisi misterius. Fasih bahasa Jepang, sikapnya sangat sigap, dan tatapan matanya... tatapan mata Rio semalam saat menangkap tubuhnya yang hampir ambruk bukan seperti tatapan supir pada majikannya. Itu adalah tatapan seorang pria yang sangat protektif.
Apakah Rio yang mengirim ini? Tapi dari mana dia dapat uang dan akses ke suplemen Jerman semahal ini? batin Kirana sangsi.
"Simpan sisanya di sini, Dan. Aku ambil satu botol," ucap Kirana mencoba bersikap normal. "Bagaimana laporan bulan ini?"
Dani segera membuka laptopnya, beralih ke mode profesional. "Semuanya stabil, Mbak. Penjualan cold brew kita naik dua puluh persen karena cuaca Surabaya lagi terik-teriknya. Stok biji kopi Gayo juga baru masuk pagi tadi, kualitasnya kelas satu. Tidak ada komplain dari pelanggan, dan jadwal barista minggu ini sudah saya atur agar tidak ada yang lembur berlebihan."
Kirana memeriksa grafik di layar laptop Dani. Matanya yang cerdas dengan cepat memindai angka-angka itu. Meskipun kepalanya masih sedikit berdenyut, ketelitiannya tidak berkurang.
"Bagus, Dan. Pastikan mesin espresso yang di pojok itu diservis akhir pekan ini. Suaranya mulai tidak stabil. Aku tidak mau rasa kopi kita berubah."
"Siap, Mbak," jawab Dani kagum. Ia selalu heran bagaimana Kirana bisa sangat detail padahal dia jarang berada di bar akhir-akhir ini.
"Aku harus pergi ke... kantor yang satu lagi," ucap Kirana bangkit berdiri. Ia menggunakan kata 'kantor yang satu lagi' sebagai kode untuk KiraPharma, rahasia yang bahkan Dani tidak tahu sepenuhnya. Ia hanya mengira Kirana memiliki pekerjaan konsultan di tempat lain.
Setelah berpamitan, Kirana kembali ke mobilnya. Namun kali ini tujuannya bukan pulang, melainkan menuju sebuah gedung tinggi di kawasan industri yang lebih modern. Di sepanjang jalan, ia terus melirik botol suplemen Jerman di kursi penumpang. Ada sesuatu yang janggal. Di bawah label botol itu, ia menemukan sebuah kode produksi kecil yang dicetak timbul.
Sepuluh menit kemudian, Kirana tiba di gedung KiraPharma. Suasananya sangat kontras dengan Kafe Teras Senja. Jika kafe adalah tempat yang hangat dan santai, KiraPharma adalah dunia kaca dan baja yang steril dan penuh wibawa. Begitu ia masuk melewati lobi utama, staf keamanan dan resepsionis langsung berdiri tegak.
"Selamat pagi, Ibu Kirana," sapa mereka serempak.
Kirana mengangguk singkat, langkahnya yang tadi lunglai kini kembali tegas. Ia berjalan menuju ruang kantornya di lantai paling atas. Di sana, Rika, asisten pribadinya di KiraPharma, sudah menunggu dengan tumpukan dokumen.
"Rika, ambil botol ini," Kirana menyerahkan suplemen misterius itu. "Bawa ke laboratorium riset. Minta tim analisis untuk melacak nomor seri distribusinya. Aku ingin tahu siapa pembayar paket ini dan melalui distributor mana barang ini masuk ke Indonesia. Ini produk eksklusif Jerman, seharusnya tidak sulit melacak siapa yang memiliki aksesnya."
Rika menerima botol itu dengan ekspresi bingung namun patuh. "Baik, Bu. Ada lagi?"
"Dan tolong, carikan aku profil lengkap mengenai supir-supir di bawah naungan agensi yang Ayah gunakan. Khususnya untuk orang bernama Rio. Aku ingin riwayat kerjanya yang asli, bukan yang tertulis di CV agensi."
Rika mencatat semuanya. "Saya kerjakan sekarang, Bu. Oh, sore ini ada pertemuan dengan departemen produksi untuk membahas bahan baku dari India yang tertahan di bea cukai."
"Atur saja. Sekarang biarkan aku sendiri sebentar."
Setelah Rika keluar, Kirana menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya. Ia menatap pemandangan kota Surabaya dari dinding kaca yang luas. Pikirannya tidak bisa lepas dari Rio. Semakin ia mencoba mengabaikan kecurigaannya, semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa supirnya itu bukan orang sembarangan.
Jika benar Rio yang mengirim ini, siapa dia sebenarnya? Dan kenapa pria seperti dia mau menyamar menjadi supir di rumah Ayah?
Kirana memejamkan mata, memijat pelipisnya. Di rumah, ia harus berpura-pura menjadi putri yang lemah dan 'menumpang' di mata Mama Reva dan Bianca. Di kafe, ia adalah Kirana yang ramah. Di sini, ia adalah CEO yang ditakuti lawan bisnisnya. Namun di depan Rio, ia merasa seperti dirinya sendiri yang sedang diperhatikan dengan cara yang berbeda.
Ia tidak tahu bahwa saat ini, di Mahardika Tower yang letaknya hanya beberapa kilometer dari sana, Raditya Mahardika juga sedang memikirkan hal yang sama—menunggu laporan dari Bram apakah suplemen itu sudah sampai ke tangan Kirana dengan selamat atau tidak.
***