NovelToon NovelToon
Pita Hitam Kala Senja

Pita Hitam Kala Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Persahabatan / Trauma masa lalu
Popularitas:106
Nilai: 5
Nama Author: Shourizzz BP

Semua sudah berakhir. Aku yang sulit dalam bergaul, pasti akan mudah dilupakan oleh orang – orang. Tidak dekat dengan siapapun, mau itu teman atau bahkan keluarga, pasti membuat kematianku sama seperti angin yang berlalu. Tidak dikenang oleh siapapun. Hanya kesendirianan yang tersisa. Akhir yang pantas bagi orang sepertiku. Seharusnya begitu, tapi …,
Kenapa aku bisa merasakan tetesan air mata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shourizzz BP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEBENCIAN PADA DIRI SENDIRI

Seseorang sepertinya mengangkatku. Aku mendengar suara berisik. Terasa hentakan mobil yang menabrak polisi tidur. Suara pertengkaran. Ada orang yang sedang berselisih. Aku melihat sedikit pemandangan yang tidak asing. Mereka terlihat khawatir. Aku tidak tau apa yang mereka bicarakan. Salah satu dari mereka mulai menjauh. Siluet – siluet hitam mulai menghilang. Sekarang sunyi. Aku tidak mendengar atau melihat apapun. Aku hanya merasakan sakit yang begitu kuat. Seluruh tubuhku dipenuhi luka dan memar. Selanjutnya apa yang akan terjadi padaku? Eh! Ada satu siluet yang kembali. Dia berjalan mendekat kearahku. Dia terlihat sedih. Aku bisa merasakannya. Perasaan yang tidak asing.

“Bangun!” Dimas mengguyurku dengan air menggunakan ember. Serentak aku terbangun dari lamunan. Aku terbangun dalam kondisi terikat dengan pakaianku yang dilepas. Aku dipindahkan ke tempat yang berbeda. Tidak ada lagi bangunan usang yang ditinggalkan, sekarang aku berada disebuah ruangan yang bisa dibilang sangat bersih. Rasanya seperti berada di ruang interogasi. Atau, memang begitu? Entahlah. “Akhirnya kamu bangun! Aku perlu bantuanmu.” Dia terlihat gelisah. Kemungkinan ada sesuatu yang terjadi. “Kamu harus – Ada apa itu?” Perhatiannya teralihkan pada suara berisik yang terdengar diluar ruangan. Dia segera meninggalkanku dan mengeceknya.

Hanya ada satu pintu yang terkunci untuk keluar dari ruangan. Tidak ada apapun disekitar selain aku dan bangku di dalam ruangan. Tidak ada yang bisa kulakukan. Aku bahkan tidak tau waktu sekarang. Entah matahari masih ada, atau sudah digantikan oleh bulan. Sama sekali tidak bisa melakukan interaksi dengan dunia luar. Aku benar – benar terkurung. Rasa sakit yang Dimas berikan setelah mengamuk, membuat keadaan semakin buruk. Ditambah, rasa dingin setelah diguyur air tanpa pakaian, rasanya sangat tidak enak.

Dimas kembali. Ekpresinya tidak berubah. Dia masih saja terlihat gelisah. Dia berkeliling ruangan tanpa mengatakan apapun dalam waktu yang cukup lama, sampai pada akhirnya dia berhenti didepanku. Sekarang dia memegang pundakku dengan kedua tangannya. “Kamu harus bela aku.” Aku menanyakan maksud perkataannya. “Ayah Clarissa mungkin akan datang kesini. Kamu harus bilang kalau gak ada yang terjadi. Semua cuman salah paham.” Dimas melanjutkan penjelasannya, tetapi aku tidak menyimak lebih jauh. Aku sedikit paham dengan situasi yang terjadi. Kemungkinan Clarissa melaporkan apa yang terjadi kepada Ayahnya. Meskipun Ayah Dimas memiliki kuasa yang besar, Ayah Clarissa tidak takut karena hal tersebut melibatkan anaknya. Beliau pasti akan percaya dengan kata – kata yang disampaikan Clarissa dan segera memeriksa lokasi. Sayangnya ketika mereka sampai, tidak ada yang ditemukan termasuk aku yang terikat. Aku sudah dipindahkan ke tempat lain yang kemungkinan adalah rumah Dimas. Hanya itu informasi yang bisa aku dapatkan dari ingatanku dan kata -kata yang Dimas sampaikan.

Berikutnya adalah kemungkinan yang terjadi, atau bisa dibilang sikap positifku pada Clarissa. Dia mungkin saja memaksa ayahnya untuk terus mencariku. Dia sadar kalau aku tidak bisa ditemukan dimanapun, bahkan tidak bisa dihubungi. Dia akan berusaha sekeras mungkin untuk menemukanku. Tapi, tidak ada jejak yang Dimas tinggalkan, hingga satu – satunya pilihan yang bisa Clarissa lakukan adalah mendatangi rumah Dimas secara langsung bersama ayahnya. Disaat itulah peranku dibutuhkan. Ketika aku tidak sengaja ditemukan atau Dimas dengan sengaja memperlihatkanku didepan mereka, pasti akan muncul pertanyaan. Cukup dengan berkata aku baik – baik saja, semua tindakan yang Dimas lakukan padaku dan Clarissa akan dianggap tidak pernah ada.

“Kamu pasti bisa melakukannya, kan?” Aku tidak menjawab ketika Dimas melemparkan pertanyaan. Dia memperkuat genggaman tangannya di pundakku. “Kita kan teman?” Aku menggelengkan kepala. Dia sama sekali tidak mengerti maksud dari kata yang dia ucapkan. “Ayolah! Kamu cuma perlu bantu aku sekali aja, terus aku gak bakalan ganggu kamu lagi. Atau, kamu mau uang? Aku bisa kasih. Berapa? Sejuta? Sepuluh juta? Atau motor? Bilang aja!”

Aku bisa saja melakukannya. Lagipula penawarannya menarik jika Dimas menepati janjinya. Hanya saja perasaan apa ini? Aku merasa harus menolaknya. Aku merasa bersalah jika aku menuruti kemauannya. Perasaan yang sama ketika aku menyesal menolak mengakuinya sebagai temanku dihadapan Clarissa dulu. Sikap yang harus aku lakukan jika memang benar – benar peduli padanya bukanlah menuruti keinginannya, tapi justru sebaliknya. “Nggak! Kamu harus tanggung jawab.”

“Aku sebenarnya gak mau pakai kekerasan, tapi aku terpaksa.” Dimas melepaskan tangannya dari pundakku. “Biar aku tanya sekali lagi. Apa kamu mau bantu aku?” Pertanyaan yang sama dilontarkan, aku menolaknya sekali lagi dengan tegas. Sesi tawar menawar berakhir, ekspresinya menunjukkan hal itu.  Seketika tangan kanan Dimas melayang kearahku. “Apa kamu berubah pikiran, bangsat?” Aku tetap menggelengkan kepala. Dimas kembali melayangkan pukulan dengan tangan kirinya. Beberapa kali dia menanyakan hal yang sama, sebanyak itu juga aku menolak tawaran darinya. Setiap aku menolak, dia akan memukulku. Kanan. Kiri. Kanan. Aku tidak bisa menghitung berapa banyak pukulan yang dia berikan padaku. Aku juga tidak berniat menghitungnya. Aku hanya berharap dia segera menyerah. Hanya saja itu tidak pernah terjadi. Tidak ada henti – hentinya dia berusaha membujukku dengan kekerasan. Meski begitu, akhirnya dia meninggalkanku sendiri. Dia tidak menyerah, dia hanya beristirahat dan akan kembali.

Lampu penerangan dimatikan. Aku tidak bisa melihat apapun selain kegelapan. Tidak bisa mendengar apapun karena tidak ada suara yang masuk. Hanya tersisa rasa sakit. Sakit yang benar – benar tidak tertahankan. Sekali lagi aku terjebak dalam duniaku sendiri. Dalam keadaan seperti sekarang, berat rasanya untuk tidak memikirkan hal – hal buruk. Pikiranku dipenuhi oleh hal negatif. Aku tidak bisa menahannya.

Kenapa Clarissa tidak juga datang? Apa dia melupakanku? Aku sudah mengorbankan diri untuk menyelamatkannya. Aku sudah merelakan diriku agar bisa membuatnya berhasil kabur. Tapi apa? Apa balasan untukku? Dia tidak segera mencariku. Dia mungkin berpikir akan lebih baik kalau tidak terlibat. Ya, dia pasti sudah tidak memperdulikan diriku lagi. Selama dia selamat, dia tidak akan melakukan sesuatu yang merugikan dirinya. Aku tau kalau seharusnya aku tidak berharap padanya.

“Dia satu – satunya sahabat terbaikku.” Kata – kata manis yang Awan katakan terlintas begitu saja dalam pikiranku. Kalimat tidak berguna yang hanya berupa pemanis. Dia mengatakannya hanya karena itu menguntungkan baginya. Jika tidak, dia pasti sudah menyelamatkanku sekarang. Apa yang dia lakukan kalau tau aku menghilang? Apa dia akan peduli? Apa dia akan berusaha menolongku? Atau dia hanya akan lari seperti sebelumnya? Dia takut terlibat jika itu membahayakan dirinya – Apa mungkin dia sudah terlibat sejak awal? Dia sengaja meninggalkanku dan Clarissa berdua agar bisa membuat Dimas datang menangkapku? Dia menjualku karena dia diancam? Dia memilih menyelamatkan dirinya sendiri dibandingkan keselamatan orang lain? Ya, aku tau itu. Dia hanya pengecut yang bisa bersembunyi dibalik bayangan. Hanya seorang manusia yang peduli pada dirinya sendiri.

“AAA!!!” berteriak sekalipun tidak menghilangkan perasaan buruk dalam hatiku. Ruangan ini sepertinya kedap suara. Dimas tidak datang meskipun aku berteriak kencang. “BRENGSEK! BANGSAT! BAJINGAN!”

Ada yang bilang kalau sifat seseorang akan keluar jika dalam keadaan tertekan. Mungkin beginilah sifat asliku. Menyalahkan orang lain atas setiap tindakan yang terjadi. Sebenarnya bukan salah Clarissa ataupun Awan aku bisa terjebak sekarang. Semua adalah akibat dari pilihan yang aku buat. Bukan salah Clarissa jika dia tidak menolongku. Bukannya sejak awal aku tidak mengharapkan balasan darinya? Aku menolongnya hanya untuk keuntunganku sendiri. Begitu juga dengan Awan. Bukan salahnya jika dia tidak terlibat. Aku sendiri yang mengatakan padanya kalau lebih baik tidak terlibat denganku. Tidak ada yang salah dengan mereka berdua. Hanya aku saja yang selalu menyalahkan orang lain. Bahkan, terlepas dari kejadian sekarang, dalam lingkup yang lebih luas, aku juga selalu menyalahkan orang lain.

Aku menyalahkan orang – orang ketika tidak ada yang mau berteman denganku. Padahal aku sendiri yang menolak pembahasan dari mereka. Aku yang tidak mau berjuang untuk menyesuaikan pembahasan. Padahal bisa saja pelan – pelan aku mencari tau tentang apa yang mereka bahas. Pelan – pelan juga aku bisa menjelaskan apa yang perlu mereka cari tau. Selalu ada timbal balik dalam sebuah hubungan yang baik. Hal tersebut juga berlaku dalam keluarga. Kalau saja aku lebih aktif untuk berinteraksi dengan orang tuaku. Pasti hubunganku tidak akan seperti sekarang. Aku pasti tidak akan merasa asing. Tapi, semua sudah terlambat. Aku sudah tidak punya waktu untuk memperbaikinya. Padahal begitu banyak kesempatan yang bisa dilakukan, tapi aku tidak pernah berusaha untuk menjadi lebih baik. Aku tetaplah diriku yang selalu memikirkan dirinya sendiri. Aku benci diriku yang selalu menyalahkan orang lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!