.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BINGUNG
Rombongan Keluarga Wang telah lenyap di balik tikungan jalan, meninggalkan debu yang perlahan mengendap di halaman kediaman Keluarga Ji yang kini tak bergerbang. Suasana mendadak menjadi begitu hening, hingga suara tetesan sisa teh yang tumpah dari cangkir Ji Huang ke atas ubin batu terdengar seperti dentang lonceng yang nyaring.
Semua orang di halaman itu membatu.
Para pelayan, penjaga rumah biasa, hingga Xiao Cui yang masih memegang nampan kosong di koridor, semuanya menatap Ji Huang dengan pandangan yang kosong sekaligus penuh teror. Mereka seperti sedang melihat seekor naga kuno yang mendadak keluar dari dalam tempurung telur ayam.
Ji Zhen, sang ayah, adalah orang yang paling terpukul secara mental. Dia melangkah maju dengan sangat perlahan, seolah-olah tanah yang dia injak bisa meledak kapan saja. Sepasang matanya menatap tajam ke arah anak tunggalnya yang sedang asyik meneguk sisa teh dingin dengan wajah tanpa beban.
"Huang... Huang'er..." Suara Ji Zhen bergetar, parau dan penuh ketidakpercayaan. "Siapa... siapa kamu sebenarnya? Apa kamu benar-benar anakku?"
Sebagai seorang ayah, dia tahu betul kapasitas anaknya. Ji Huang yang dia besarkan adalah seorang pemuda manja yang bahkan akan menangis jika jarinya tergores pisau dapur. Tapi hari ini? Anak itu baru saja menghancurkan pedang baja dengan sebatang ranting pohon kering, lalu membuat seorang penatua sekte murni muntah darah dan bersujud memohon ampun hanya dengan satu tatapan mata. Ini bukan lagi sekadar peningkatan bakat; ini adalah pergantian jiwa!
Ji Huang menurunkan cangkir tehnya yang sudah kosong. Dia melihat ekspresi horor di wajah ayahnya, lalu menghela napas panjang di dalam hati.
Aduh, merepotkan sekali, batin Ji Huang kesal. Mengapa manusia fana selalu ingin tahu segalanya? Padahal kalau mereka tidak banyak bertanya, aku sudah bisa kembali ke kasur miringku dan melanjutkan mimpi yang terpotong tadi.
Ji Huang tahu dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Jika dia jujur dan berkata, "Aku adalah Dewa Pedang Primordial dari jutaan tahun lalu yang tidak sengaja menyegel diri sendiri karena kebodohanku, lalu menghancurkan fisikku demi bisa rebahan di dunia fana," ayahnya pasti akan langsung memanggil tabib jiwa atau mengurungnya di kuil kegilaan karena mengira otaknya sudah benar-benar rusak total akibat pukulan kemarin.
Ji Huang harus memikirkan sebuah alasan. Sebuah alasan yang sangat konyol, asal-asalan, tapi harus bisa menutup mulut mereka semua agar dia bisa segera tidur.
Ji Huang menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menampilkan wajah paling polos dan watados yang bisa dia buat.
"Ayah, kenapa menatapku begitu?" Ji Huang bertanya dengan nada suara yang sengaja dibuat terdengar bingung. "Tentu saja aku anakmu. Memangnya aku bisa jadi anak siapa lagi?"
"Lalu... lalu bagaimana kamu bisa melakukan semua itu tadi?!" Ji Zhen menunjuk ke arah pecahan ranting kering dan genangan darah di lantai dengan tangan yang masih gemetar. "Kamu mematahkan pedang kultivator dengan ranting! Kamu membuat Penatua Huo bersujud! Jangan coba-coba membohongi Ayah, Huang'er!"
Ji Huang menghela napas, lalu berjalan mendekati ayahnya dengan langkah kaki yang diseret malas.
"Ah, soal itu..." Ji Huang mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari, pura-pura berpikir keras. "Sebenarnya, itu semua terjadi secara tidak sengaja, Ayah."
"Tidak sengaja?!" Ji Zhen hampir berteriak.
"Iya, tidak sengaja," jawab Ji Huang dengan wajah super serius tanpa kedipan. "Kemarin, setelah aku dipukuli sampai pingsan oleh orang-orang Keluarga Wang, aku mendapati diriku tidak bisa bergerak di atas ranjang. Karena sangat bosan dan malas untuk bangun, aku hanya berbaring sambil melamun, menatap langit-langit kamar selama berjam-jam."
Ji Huang menjentikkan jarinya seolah-olah baru mengingat sesuatu yang hebat. "Saat melamun itulah, aku melihat seekor lalat yang sedang terbang. Lalat itu mendarat di sebatang ranting yang patah di luar jendela. Aku terus memperhatikan bagaimana sudut ranting itu bergeser saat tertiup angin. Tiba-tiba saja, di dalam kepalaku muncul sebuah pemikiran konyol: 'Ah, kalau ada orang yang menyerangku dari depan dengan kecepatan seperti itu, aku hanya perlu mengibaskan ranting dengan sudut yang pas seperti lalat tadi untuk membelokkan serangannya.'"
Ji Huang mengangkat bahunya dengan santai. "Tadi, saat pengawal itu menyerang, aku hanya mempraktikkan apa yang aku lamunkan di kasur. Aku hanya memukul pedangnya di titik yang paling rapuh dengan sudut yang pas. Siapa sangka pedangnya ternyata buatan bengkel murahan yang langsung hancur saat kena kayu? Pengawal itu pasti kaget dan terpental sendiri karena tenaganya memantul balik."
Ji Zhen melongo mendengar penjelasan yang sangat tidak masuk akal itu. "Lalu... lalu bagaimana dengan Penatua Huo?! Dia muntah darah hanya karena kamu melihatnya!"
"Oh, kalau orang tua berisik itu," Ji Huang terkekeh pelan, melambaikan tangannya seolah itu hal sepele. "Ayah tahu kan kalau mataku ini sangat menawan? Saat dia melompat ke arahku sambil berteriak-teriak pamer jurus harimau, aku hanya menatapnya dengan pandangan kosong karena aku sangat mengantuk. Mungkin... dia melihat bayangan wajah tampanku yang begitu luar biasa di mataku, lalu dia mendadak syok, terkena serangan jantung fana, dan merasa bersalah karena sudah mengganggu tidur siangku. Makanya dia langsung bersujud minta maaf. Kultivator sekte zaman sekarang sepertinya memang punya mental yang sangat lemah, Ayah. Kurang piknik mungkin."
Mendengar alasan bodoh dan narsistik yang keluar dari mulut anaknya, Ji Zhen memegangi kepalanya yang mendadak terasa pening seperti berputar seratus delapan puluh derajat. Alasan itu sama sekali tidak logis dalam dunia kultivasi, tetapi melihat ekspresi Ji Huang yang begitu konyol dan malas, Ji Zhen tidak tahu harus merespons apa lagi.
"Sudahlah, Ayah," Ji Huang menepuk pundak ayahnya yang masih mematung. "Urusan gerbang yang hancur ini, minta ganti rugi saja ke Keluarga Wang nanti. Aku benar-benar lelah setelah banyak bicara. Aku mau lanjut tidur siang."
Tanpa menunggu jawaban lagi, Ji Huang berbalik dan berjalan santai menuju kamarnya. "Xiao Cui! Jangan lupa bersihkan lantai halaman ya! Bau darahnya membuatku pusing!" serunya sambil melambaikan tangan tanpa menengok ke belakang.
Ji Zhen hanya bisa menatap punggung anaknya yang menjauh dengan perasaan campur aduk antara bingung, syok, dan pasrah. "Melamun di kasur bisa membuat orang mematahkan pedang..." gumam Ji Zhen lirih pada diri sendiri. "Apakah... apakah leluhur Keluarga Ji kita sebenarnya memiliki berkah tersembunyi yang mendadak bangkit pada anak malas ini?"
Sementara Ji Huang telah kembali ke kamarnya, merebahkan tubuhnya di atas kasur miring, dan tertidur pulas dalam hitungan detik, dampak dari kejadian sore itu mulai menyebar keluar dari kediaman Keluarga Ji seperti badai yang tidak terbendung.
Wang Jiao dan Penatua Huo yang melarikan diri dalam kondisi berantakan tidak bisa menyembunyikan kejadian itu dari publik. Berita tentang bagaimana seorang "Tuan Muda Sampah" dari keluarga pembantu logistik berhasil menghancurkan pedang seorang kultivator dan membuat tetua Sekte Harimau Barat berlutut hanya dengan sebatang ranting pohon langsung menyebar ke seluruh penjuru kota kekaisaran dalam waktu semalam.
Di kediaman Keluarga Lin, klan militer yang menjadi pusat dari persaingan perjodohan ini, suasananya juga gempar.
Di dalam sebuah aula yang megah, seorang gadis muda dengan gaun sutra putih salju yang sangat anggun sedang mendengarkan laporan dari pelayan pribadinya. Gadis itu memiliki paras yang luar biasa cantik, dengan sepasang mata yang jernih seperti air danau—dia adalah Lin Yue'er, Nona Muda Keluarga Lin yang menjadi rebutan.
"Apa kamu bilang?" Lin Yue'er mengerutkan keningnya yang indah, rasa terkejut tidak bisa disembunyikan dari wajahnya yang biasanya tenang. "Ji Huang... mengalahkan pengawal Keluarga Wang dan membuat Penatua Huo bersujud hanya dengan memegang sebatang ranting pohon kering? Dan dia melakukannya sambil mengeluh ingin tidur siang?"
"Benar, Nona Muda!" pelayan itu mengangguk dengan penuh semangat. "Seluruh kota sedang membicarakan hal ini! Mereka bilang Tuan Muda Ji selama ini hanya berpura-pura menjadi sampah untuk menyembunyikan kekuatannya yang mengerikan!"
Lin Yue'er terdiam, jemari lentiknya mengetuk meja kayu dengan perlahan. Dia mengingat kembali sosok Ji Huang yang dia kenal—seorang pemuda arogan yang selalu bertingkah bodoh dan menyebalkan demi menarik perhatiannya.
Apakah... selama ini aku yang salah menilainya? Lin Yue'er membatin, sepasang matanya memancarkan rasa penasaran yang amat mendalam yang belum pernah dia rasakan sebelumnya terhadap pria mana pun. Ji Huang... apa yang sebenarnya kamu sembunyikan dari dunia ini?
Di saat seluruh kekaisaran mulai gempar, mencari tahu, dan menyusun rencana untuk menyelidiki identitas aslinya, sang objek pembicaraan—Dewa Pedang Primordial Ji Huang—justru sedang mendengkur dengan sangat damai di bawah selimutnya, sama sekali tidak peduli bahwa kemalasannya yang konyol baru saja menyalakan api perselisihan yang jauh lebih besar di dunia fana ini.