Xu Natalia, wanita yang diam-diam mengangkat keluarga Li dari rakyat biasa menjadi bangsawan, justru dihina saat suaminya, Li Adrian, pulang dari perang membawa istri lain. Tanpa banyak kata, ia memilih bercerai dan pergi hanya dengan harga dirinya.
Tak ada yang tahu wanita yang mereka remehkan adalah putri kaisar dari negeri seberang sekaligus ahli pengobatan yang mampu mengubah takdir.
Bagaimanakah saat keluarga Li tahu identitas Natalia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemilik Asli
Pagi itu, Paviliun Mawar tampak tenang. Xu Natalia duduk di dekat jendela, merajut sapu tangan dengan gerakan perlahan. Wajahnya sudah kembali tenang, seolah tak ada lagi sisa tangis semalam.
Langkah kaki terdengar mendekat, diiringi suara kain bergesekan. Natalia mengangkat pandangannya saat Gu Lilith masuk bersama beberapa pelayan. Wajah wanita itu tampak angkuh, matanya menilai sekeliling paviliun.
“Aku ingin menempati paviliun ini,” ujar Lilith tanpa basa-basi. “Jadi, silakan kau cari tempat lain.”
Natalia meletakkan rajutannya dan berdiri perlahan. Tatapannya datar, tanpa emosi.
“Kau punya hak apa menyuruhku pergi?”
Lilith tersenyum tipis, penuh kemenangan. “Aku istri sah Andrian sekarang. Sedangkan kau hanya selir.”
Alis Natalia sedikit terangkat, ia tak tersinggung sama sekali. “Kalau aku tidak mau?” suaranya dingin. “Kenapa aku harus menuruti gundik sepertimu?”
Wajah Lilith langsung berubah. Amarah memenuhi matanya saat ia mengangkat tangan, berniat menampar Natalia.
“Kurang ajar!”
Tapi sebelum tangan itu mendarat, Natalia menangkap pergelangannya. Dengan satu gerakan tegas, ia menghempaskan tangan Lilith hingga terlepas.
Lilith mundur selangkah, mengepalkan tangan dengan wajah merah padam.
“Dasar yatim piatu! Kau benar-benar tidak tahu diri,” desisnya. “Pantas saja Andrian tidak pernah berselera menyentuhmu.”
Tatapan Natalia berubah tajam. “Lebih tidak tahu diri mana?” balasnya tenang. “Aku yang mempertahankan hakku atau seorang wanita yang melemparkan dirinya ke ranjang pria yang sudah beristri?”
Lilith semakin murka. Ia langsung melayangkan pukulan, namun kembali Natalia menahannya dengan mudah.
“Jangan pernah berani menyentuhku dengan tangan kotormu,” ucap Natalia dingin.
“Berani sekali kau—”
“Ada apa ini?”
Suara itu memotong pertikaian. Lilith dengan cepat melepaskan diri dan berpura-pura terhuyung. Tubuhnya condong ke belakang seolah terdorong.
“Andrian .…” lirihnya.
Li Andrian segera berlari dan menangkap tubuh Lilith sebelum jatuh. Wajahnya penuh kekhawatiran.
“Lilith! Kau tidak apa-apa?”
Lilith menggeleng lemah, berpura-pura tegar. “Aku baik-baik saja hanya saja, Kak Natalia sepertinya membenciku,” ucapnya lirih. “Aku hanya meminta paviliun ini dengan baik, tapi Natalia langsung mendorongku.”
Tatapan Andrian langsung berubah tajam ke arah Natalia.
“Beraninya kau menyakiti Lilith!” bentaknya. “Dia sedang mengandung anakku. Kau benar-benar jahat.”
Natalia tidak terkejut. Ia hanya tersenyum tipis. “Aku menyakitinya?” ujarnya santai. “Jenderal tingkat tiga bisa tertindas oleh wanita yang bahkan tak punya kemampuan bela diri?”
Ia melangkah mendekat, menatap Lilith lurus. “Aku yang kuat atau kau yang pura-pura lemah?”
Tangan Lilith kembali mengepal, namun Andrian langsung berdiri di depannya.
“Apa salahnya kau memberikan paviliun ini?” katanya dingin. “Lilith sedang hamil. Kau seharusnya mengalah.”
Belum sempat Natalia menjawab, langkah kaki lain terdengar mendekat. Li Anna, Karina, dan Lusi masuk dengan wajah tidak senang.
“Apa yang terjadi?” tanya Li Anna.
“Ibu .…” Lilith langsung mendekat dengan wajah sedih. “Aku hanya ingin paviliun ini, tapi Kak Natalia tak ingin memberikannya. Padahal aku sedang ngidam, dan sangat menyukai suasana paviliun ini,” ujarnya lagii sambil mengelus perutnya.
Natalia menatap tajam dan berkata, “Jangan mencoba membawa anak dalam—”
“Cukup!” potong Li Anna tajam, menatap Natalia penuh kebencian. “Kau ini benar-benar tidak tahu diri!”
Karina mendengus. “Dasar yatim piatu. Sudah dipungut, masih berani melawan.”
Lusi ikut menyahut sinis. “Jangan-jangan dia ingin menguasai semua yang dimiliki Andrian. Benar-benar tidak tahu diri, hanya menumpang bersikap seenaknya.”
Natalia yang semula diam, perlahan mengangkat kepalanya. Tatapannya kini dingin dan tajam.
“Aky ingin menguasai?” ulangnya pelan. Ia lalu menatap Andrian lurus. “Apa kau tidak ingin menjelaskan dari mana kediaman ini berasal?”
Andrian langsung terdiam. Wajahnya menegang.n“Kau ingin mengingkari lagi janjimu?” lanjut Natalia.
Li Anna mengerutkan kening.n“Apa maksudmu? Semua ini hasil kerja keras putraku!”
Natalia tersenyum tipis. “Oh, benarkah?” katanya santai. “Kalau begitu mari kita tanya langsung padanya.”
Semua mata langsung tertuju pada Andrian. Pria itu tampak gelisah, jelas tidak siap.
Selama ini, ia selalu mengaku sebagai pemilik segalanya, bahkan menjadi sarjana karena biaya sendiri. Padahal kenyataannya semua berasal dari Natalia. Bahkan surat kepemilikan kediaman ini atas nama wanita itu.
Dulu saat Andrian meminta pada keluarganya, keluarganya justru tidak memiliki biaya dan tentu lagi-lagi Natalia yang membantunya.
“Andrian?” desak Li Anna.
Andrian menarik napas, lalu berusaha tersenyum.
“Sudahlah, Bu. Tidak perlu dibahas,” katanya cepat. Ia menoleh ke Natalia. “Kau pindah saja ke paviliun lain. Tidak perlu memperbesar masalah.”
Natalia langsung menggeleng. “Aku tidak akan pergi.”
Wajah Li Anna langsung memerah. “Kurang ajar!” bentaknya. “Dasar wanita pembangkang!”
Karina dan Lusi ikut menyerang dengan kata-kata tajam.
“Lebih baik ceraikan saja wanita swperti ini, kak. Perempuan mandul,” ejek Karina.
“Benar! Hanya menjadi beban keluarga.”
Lilith berdiri di belakang Andrian, menatap Natalia dengan senyum tipis penuh kemenangan.
Nyonya Li Anna ikut kembali membuka mulutnya.
Namun tiba-tiba Andrian mengangkat tangan. “Ibu, sudah,” katanya cepat. “Mari kita pergi dulu. Natalia hanya sedang banyak pikiran.”
Li Anna menatapnya tak percaya. “Apa maksudmu? Wanita seperti ini harusnya langsung diceraikan!”
Andrian terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Jika ia menceraikan Natalia sekarang. Maka kediaman ini dan semua yang ada di dalamnya akan kembali pada pemilik aslinya, Xu Natalia.
Satu-satunya cara adalah mengambil kediaman ini lebih dulu. Baru setelahnya mendepak Natalia pergi.
Akhirnya mereka berbalik pergi dengan wajah masam begitu melihat wajah Andrian.
*
*
Setelah perdebatan itu, Xu Natalia memilih keluar dari kediaman keluarga Li. Langkahnya tenang, namun pikirannya penuh dengan gejolak yang tak ia tunjukkan. Wulan mengikuti di belakang, wajahnya masih dipenuhi amarah.
“Benar-benar keterlaluan!” gerutu Wulan tak henti-henti. “Mereka tidak tahu malu, Nyonya. Semua itu jelas milik Anda, tapi mereka malah bertingkah seolah-olah itu milik mereka!”
Natalia tidak langsung menjawab. Ia hanya terus berjalan hingga akhirnya berhenti di depan sebuah toko pakaian yang cukup besar. Tanpa banyak bicara, ia masuk ke dalam.
Di dalam toko, suasana jauh lebih tenang. Natalia mulai melihat-lihat deretan hanfu dengan berbagai warna dan corak. Sudah lama ia tidak memanjakan dirinya sendiri.
“Yang ini bagus,” gumamnya pelan sambil menyentuh kain lembut berwarna biru tua. “Dan yang itu bungkus juga.”
Wulan masih menggerutu pelan di sampingnya.
“Nyonya, kenapa kita yang harus pergi nanti?” katanya kesal. “Itu kediaman milik Nyonya. Seharusnya mereka yang keluar, bukan kita.”
Tangan Natalia yang sedang memilih kain tiba-tiba terhenti. Ia terdiam sejenak, mencerna kata-kata itu.
Benar. Kenapa harus dirinya yang pergi?
Perlahan, Natalia mengangkat wajahnya dan menatap Wulan. Ada sesuatu yang berubah dalam tatapannya semakim dingin.
“Kau benar, Wulan,” ucapnya pelan namun pasti.
Wulan tertegun, menatap nyonyanya dengan heran.
Natalia tersenyum tipis. Namun kali ini, senyumnya bukan lagi kelembutan seperti dulu.
“Yang seharusnya pergi bukan kita. Tapi mereka.”
itu siapa punya hak
hadeh dasar ya kko manusia serakah