“Mereka tidak ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia. Mereka ditakdirkan untuk menguasainya.”
Di depan publik, Kael Arden adalah Perdana Menteri termuda yang sempurna—dingin, klimis, dan jenius politik yang tak tersentuh. Namun, reputasi itu hancur saat Aurelia Vane, CEO Vane Group sekaligus Ratu dunia bawah tanah, mempermalukannya di panggung internasional. Bagi Kael, Aurelia adalah ancaman negara yang harus dihancurkan. Bagi Aurelia, Kael hanyalah pria sombong yang perlu diajari cara berlutut.
Perang ego di depan kamera berubah menjadi obsesi gelap di balik pintu tertutup. Dari ruang kerja yang sunyi hingga pesta pelelangan rahasia, setiap konfrontasi verbal mereka selalu berakhir dengan ketegangan sensual yang menyesakkan napas. Kael yang terbiasa mengendalikan negara justru kehilangan kendali atas dirinya sendiri, sementara Aurelia dengan manipulatif memanfaatkan hasrat pria itu untuk menghancurkan pemerintahannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Black Ocean Party
Malam itu, samudra tidak hanya berwarna hitam; ia terlihat seperti cairan tinta yang menelan seluruh cahaya peradaban. Di dermaga pribadi Vane Group, The Sovereign bersandar dengan keangkuhan sebuah leviathan besi. Kapal pesiar sepanjang seratus meter itu bukan sekadar kendaraan, ia adalah sebuah teritori tanpa hukum, sebuah monumen bagi ego Aurelia Vane yang tak bertepi. Lambung kapalnya yang hitam legam memantulkan kerlip lampu pelabuhan seperti sisik naga yang sedang beristirahat.
Kael Arden keluar dari mobil perdana menteri tanpa suara sirine. Malam ini, ia tidak datang sebagai pemimpin negara yang dibatasi oleh protokol. Ia datang sebagai seorang pria yang jiwanya sedang disandera. Ia mengenakan setelan jas hitam vicuña yang dipesan khusus, sebuah mahakarya penjahit Savile Row yang dirancang untuk menyerap cahaya, bukan memantulkannya. Rambutnya, seperti biasa, tertata dengan presisi militer, klimis, kaku, dan tanpa cela. Namun, di balik topeng pualam itu, detak jantungnya berdenyut dengan frekuensi yang tidak beraturan.
Setiap langkah kakinya di atas gangway kayu jati kapal terasa seperti langkah menuju tiang gantungan yang ia bangun sendiri.
Begitu ia melangkah masuk ke dek utama, atmosfer dekadensi langsung menghantamnya.
Sesuai instruksi Aurelia, tema malam itu adalah Black & Gold. Cahaya dari lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit dek memancarkan rona keemasan yang tajam, memantul pada gaun-gaun sutra hitam dan perhiasan emas murni para tamu. Musik techno melodic dengan dentuman bass yang rendah dan konstan menggetarkan udara, menciptakan ritme yang seolah-olah mengatur detak jantung setiap pendosa di sana.
Ini adalah simposium para penguasa bayangan. Kael melihat menteri-menteri senior dari negara tetangga sedang tertawa bersama gembong mafia yang identitasnya telah dihapus dari catatan Interpol. Para konglomerat teknologi berbincang akrab dengan investor gelap yang mencuci uang melalui pasar kripto. Di sini, di perairan internasional yang akan mereka tuju, moralitas hanyalah sebuah pilihan opsional yang tidak populer.
"Tuan Perdana Menteri, saya tidak menyangka Anda akan benar-benar muncul di sarang penyamun ini," sebuah suara serak menyapa dari samping.
Kael menoleh sedikit, hanya cukup untuk melihat Silas Vane, paman Aurelia yang dikenal sebagai arsitek di balik banyak kudeta gagal di Afrika. Kael tidak membalas sapaan itu. Matanya terus memindai kerumunan, mencari satu titik pusat yang ia tahu sedang menunggunya.
Ia menemukannya di dek observasi lantai dua.
Aurelia Vane berdiri di sana, memegang gelas vintage champagne dengan keanggunan seorang dewi yang sedang mengamati kehancuran dunianya. Ia mengenakan gaun backless berwarna emas murni yang seolah-olah ditenun dari cahaya matahari yang membeku. Gaun itu memeluk setiap lekuk tubuhnya dengan provokasi yang eksplisit, memperlihatkan garis tulang belakangnya yang sempurna hingga ke batas pinggang. Kalung mawar hitam melingkar di lehernya, kontras dengan kulitnya yang putih pucat dan bibir merah darahnya yang menyunggingkan senyum kemenangan.
Kael menaiki tangga melingkar, setiap langkahnya memicu keheningan yang menjalar di antara para tamu yang ia lewati. Kehadirannya adalah sebuah anomali, seorang penjaga hukum di tengah pesta para pelanggar hukum. Saat ia sampai di puncak, ia berdiri di belakang Aurelia, cukup dekat untuk mencium aroma black rose dan amber yang kini telah menjadi candu baginya.
"Kau terlambat lima menit, Kael," ujar Aurelia tanpa berbalik. Suaranya yang serak-serak basah bersaing dengan deru angin laut yang mulai kencang saat kapal mulai bergerak meninggalkan dermaga. "Aku hampir berpikir kau memutuskan untuk menjadi pahlawan yang setia pada negaranya malam ini."
"Negara ini sedang tidur, Aurelia," balas Kael, suaranya rendah dan parau. "Dan aku tidak datang untuk menjadi pahlawan."
Aurelia berbalik, matanya yang gelap dan liar memantulkan cahaya emas dari lampu-lampu pesta. Ia melangkah mendekat, jemarinya yang mengenakan cincin zamrud besar menyentuh kerah jas Kael, merapikannya dengan gerakan yang lambat dan menghina. Jari jemari Aurellia yang ramping menyentuh leher Kael secara tidak sengaja. Seketika Kael merasakan sensai dingin yang menggelitik walaupun suhu udara saat itu menunjukkan 28 derajat.
a
"Lihat mereka, Kael," Aurelia menunjuk ke arah kerumunan di bawah dengan gelasnya. "Semua pria itu berpikir mereka memegang kendali. Mereka berpikir emas dan senjata bisa membeli keabadian. Tapi mereka tidak tahu bahwa kapal ini sedang berlayar menuju ketiadaan. Di laut hitam ini, tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka kecuali aku."
Kael mencengkeram pergelangan tangan Aurelia, menghentikan gerakannya. "Dan siapa yang akan menyelamatkanmu dariku?"
Aurelia tertawa, sebuah tawa beludru yang tertelan oleh suara ombak yang menghantam lambung The Sovereign. "Aku tidak butuh diselamatkan, Kael. Aku hanya butuh seorang mitra untuk menyaksikan bagaimana dunia ini terbakar. Dan kau... kau memiliki bakat untuk itu."
Kapal semakin menjauh dari daratan, membelah ombak dengan kecepatan yang konstan. Cahaya kota di kejauhan mulai memudar, digantikan oleh kegelapan total samudra yang luas. Di dalam kapal, pesta semakin liar. Alkohol mengalir tanpa batas, dan transaksi-transaksi gelap ditandatangani di atas meja-meja kristal.
Aurelia menarik tangan Kael, menuntunnya menuju bar pribadi yang terletak di bagian buritan. Di sana, suasana sedikit lebih tenang, namun ketegangan di antara mereka justru semakin memadat.
"Minumlah," Aurelia menyodorkan sebuah gelas berisi cairan berwarna biru gelap. "Ini disebut The Black Ocean. Satu tegukan, dan kau akan melupakan bahwa kau pernah memiliki nurani."
Kael menerima gelas itu, namun ia tidak meminumnya. Matanya terus menatap Aurelia dengan intensitas penuh. Ia merasa seperti seorang ilmuwan yang sedang mengamati reaksi kimia yang paling berbahaya dalam sejarah.
Ia berdiri di ambang kehancuran, dan ironisnya, ia belum pernah merasa sehidup ini. Di bawah kaki mereka, mesin turbin kapal bergetar, mengirimkan resonansi hingga ke tulang belakang Kael, sebuah pengingat bahwa tidak ada jalan kembali begitu kapal ini mencapai perairan internasional.
Pesta ini baru saja dimulai, namun bagi Kael, perang yang sesungguhnya sedang berkecamuk di dalam dadanya sendiri. Ia menatap laut yang hitam di luar jendela, menyadari bahwa mulai detik ini, hukum manusia tidak lagi berlaku baginya. Hanya ada satu hukum yang tersisa, hukum kepemilikan mutlak atas wanita di depannya.