Alea Winslow (22th), melanjutkan pendidikan S2-nya di salah satu kampus ternama di Belanda.
Hidupnya yang awalnya dia pikir akan bebas, malah hancur lebur karena harus berhadapan dengan Damon Alvaro. Dokter tampan 39 tahun, kadang hangat kadang dingin, yang tiba-tiba mulai terlibat dalam hidupnya.
Damon selalu menjadi saksi Alea melakukan hal-hal konyol. Bahkan mencuri di salah satu pertokoan di Belanda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Enak om? Mau lagi?
Jari-jari Alea makin lincah bergerak, memainkan dan memijat bagian paling sensitif itu dengan kecepatan yang membuat akal sehat Damon hampir hancur lebur. Kulitnya yang tipis terasa sangat sensitif di tangan mungil itu, membuat pria itu menggeram rendah, suaranya terdengar seperti binatang buas yang tertahan.
"Dasar... iblis kecil... kau tahu apa yang kau lakukan?" desis Damon antara napas yang memburu.
"Kalau kau begini aku terus aku ... Ahh..."
Belum sempat Damon melanjutkan kalimatnya, Alea sudah mendekatkan wajahnya. Dengan keberanian luar biasa, lidah kecilnya menjulur menjilat kepala benda panjang yang sudah basah dan membesar itu, lalu bibir mungilnya melumat dan mulai memasukkannya ke dalam mulut.
"SHIT!! ARGHH!!" Damon mengumpat keras, tangannya mencengkeram sandaran kursi hingga buku-buku jarinya memutih.
Rasa nikmat yang luar biasa meledak di seluruh tubuhnya. Sensasi dari lidah hangat dan bibir lembut Alea yang mulai melumat dalam-dalam itu membuat kepalanya terasa pening dan dunia seakan berputar.
"Glek... glek..." suara basah dan erotis itu terdengar jelas di ruangan yang sunyi.
Damon menatap ke bawah, melihat pemandangan paling indah dan paling berbahaya dalam hidupnya untuk pertama kalinya. Gadis mungil itu terlihat begitu polos namun bertindak sangat nakal dan liar. Cara dia melayani, cara dia menatapnya dengan mata berbinar sambil mengisi mulutnya dengan miliknya ... itu semua adalah kombinasi mematikan yang membuat Damon kehilangan kendali total.
"Ya Tuhan ... Alea... kau membuatku gila ..." gumam Damon serak, tangannya perlahan turun, menyentuh rambut lembut gadis itu. Awalnya ingin menghentikan, tapi justru berubah menjadi memegang kepala itu, membimbing gerakan mulut manja itu dengan gemetar hebat.
Rasa nikmat itu semakin memuncak. Perutnya terasa panas, dan ia tahu ia tidak akan bertahan lama lagi menghadapi serangan gadis iblis ini.
"Aku... aku akan keluar... Alea... lepaskan... cepat!!" peringat Damon dengan napas tersengal, tubuhnya menegang kaku siap meledak.
Tapi bukannya melepaskan, Alea justru menatapnya tajam, mengeratkan isapannya, dan menelan lebih dalam hingga batas tenggorokannya!
Dan itu adalah sentuhan terakhir.
"ARGHHHH!!! ALEA!!!"
Damon mengerang panjang dan keras, tubuhnya bergetar hebat saat ia melepaskan segalanya tepat di dalam mulut gadis itu. Pria itu menunduk lemas, napasnya memburu tak beraturan, jantungnya berdegup seakan ingin copot. Tubuhnya lemas seketika, keringat dingin membasahi seluruh punggungnya.
Di hadapannya, Alea melepaskan mulutnya pelan, wajahnya sedikit memerah, ia tersenyum manis ke arah Damon.
"Enak kan om? Mau lagi gak?"
Damon belum sempat bernapas lega atau memulihkan diri. Gadis nakal itu tidak berniat memberinya waktu istirahat, tangannya sudah kembali meraih kejantanan Damon. Benda yang baru saja lemas dan lelah itu, kembali digenggam erat oleh tangan kecil itu. Alea mulai mengocoknya lagi dengan cepat dan kasar.
"AKH!! SAKIT!! ALEA!!" Damon berteriak kaget dan kesakitan.
Tubuhnya masih sensitif sekali, saraf-sarafnya masih terasa perih dan ngilu setelah orgasme pertama tadi. Diulangi lagi saat kondisi masih mentah seperti ini rasanya luar biasa perih, campuran antara nikmat dan sakit yang menyiksa.
"AMPUN!! ALEA BERHENTI!! NGILU SEKALI!!" Damon memohon ampun, tangannya mencoba menahan pergelangan tangan gadis itu, tapi kekuatannya hilang entah ke mana. Tubuhnya gemetar hebat, kakinya menendang-nendang udara karena tidak tahan.
"Jangan. Masih keras lagi kan om? Masih bisa main lagi kan?" goda Alea dengan nada jahil, tangannya makin cepat mengocok dan memeras benda itu tanpa ampun.
"AKU TIDAK KUAT!! AMPUN BOCAH NAKAL!! ARGHHHH!!!"
Damon berteriak lagi, kali ini lebih panjang dan putus asa. Tubuhnya dipaksa meledak untuk kedua kalinya dalam waktu yang sangat singkat. Cairan putih memancur lagi, menyembur ke mana-mana, membasahi tangan dan perut Damon sendiri.
Pria itu terkulai lemas di kursi, tubuhnya bergetar hebat, napasnya tersengal-sengal seperti habis lari maraton. Matanya berkunang-kunang, kepalanya kosong melompong. Ia benar-benar habis dimakan oleh si iblis kecil itu.
"ARGHHHH!!!"
Mata Damon terbuka lebar seketika. Napasnya memburu kencang, jantungnya berdegup seakan mau meledak, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
Ia terengah-engah, menatap kosong ke depan. Ruangan itu masih remang-remang dan sunyi. Ternyata, semua itu ...
"Cuma mimpi?" gumamnya pelan, suaranya serak dan berat. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya yang masih gemetar.
"Sialan ... mimpi apa itu..."
Ia baru saja merasa lega karena sadar itu semua tidak nyata, ketika tiba-tiba...
Klik... Klik...
Suara kamera ponsel terdengar jelas di telinganya.
Damon menoleh kaget ke samping.
Dan di sana, tepat di tepi ranjang, Alea sudah duduk bersandar pada kepala ranjang. Gadis itu sudah bangun sepenuhnya! Wajahnya penuh ekspresi geli, matanya menyipit menahan tawa, dan tangannya sedang memegang ponsel yang diarahkan tepat ke wajah Damon. Merekam ekspresi laki-laki itu saat ia terbangun dan melihat laki-laki itu tertidur dengan wajah anehnya.
"Ciee... Om Damon mimpi anehhh..." ledek Alea panjang lebar, suaranya terdengar sangat ceria dan jahil.
"Pasti mimpiin cewek cakep kaaan... cieee... cieee..."
Damon terpaku. Wajahnya yang tadinya pucat kini berubah menjadi merah padam seketika.
"K-Kau... kau sudah bangun sejak kapan?!" tanya Damon panik, tangannya refleks menutupi mulutnya dan mencoba merapikan penampilannya yang berantakan karena keringat dan napas yang masih memburu.
"Dari tadi dong!" jawab Alea tak tahu malu, masih terus merekam dengan wajah paling menggoda.
"Tadi ngomongnya aneh-aneh lho... Jangan... akh... sakit... ampun...' ihihihih! Om ngapain sih di mimpi? Kok sampai minta ampun gitu?"
Damon rasanya ingin menenggelamkan kepalanya ke tanah saat itu juga.
Sial! Jadi semua erangannya, semua rengekan minta ampunnya, didengar oleh gadis ini?!
"Ti-Tidak ada apa-apa!" sanggah Damon cepat, berusaha memasang wajah galak meskipun suaranya masih terdengar lemas dan wajahnya memerah.
"Itu... itu mimpi buruk! Aku bermimpi digigit ular besar! Itu saja!"
"Yeehh ... bohong banget!" Alea memonyongkan bibirnya, tidak percaya sama sekali. "Kalau mimpi digigit ular kok bilang-bilang jangan... Ahh... Ampuun... Sakiit..." Alea mengulang erangan Damon tadi dengan nada yang mirip tapi penuh ledekan nakal.
"Om mau lihat mimpi om kayak gimana tadi nggak? Nih aku rekam di hape aku." Alea mengangkat ponselnya tinggi-tinggi.
Wajah Damon memerah luar biasa. Ia menutup matanya dalam-dalam lalu berdiri, menatap Alea tajam.
"Hapus,"
"Nggak. Aku mau simpen buat jadi bahan ledekan."
"Alea, hapus. Satu ..." Damon mulai menghitung dan mengambil ancang-ancang. Melihat itu, Alea berdiri dari kasur, siap-siap kabur. Begitu Damon maju, Alea langsung melompat dari kasur berlari mengitari kamar besar itu.
"Monster Damon marah, kaburr..."
Serunya sambil terus berlari.